Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Sumpah Dokter

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Sumpah Dokter   Sun Jan 18, 2009 2:37 pm

SUMPAH DOKTER
Sumpah dokter di Indonesia telah diakui dalam PP No. 26 Tahun 1960. Lafal ini terus disempurnakan sesuai dengan dinamika perkembangan internal dan eksternal profesi kedokteran baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Penyempurnaan dilakukan pada Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran II, tahun l98l, pada Rapat Kerja Nasional Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) dan Majelis Pembinaan dan Pembelaan Anggota (MP2A), tahun 1993, dan pada Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran III, tahun 2001. diputuskan tetap memakai
lafal sumpah sebagaimana yang tertera dibawah ini:

DEMI ALLAH SAYA BERSUMPAH BAHWA:
1.Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
2.Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
3.Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.
4.Saya akan merahasiakan segala sessuatu yang saya ketahui karena keprofesiaan saya.
5.Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan dokter saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
6.Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
7.Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
8.Saya akan berikhtiar dengan sungguh sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.
9.Saya akan memberi kepada guru guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
10.Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara sekandung.
11.Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
12.Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya..

Pengambilan Sumpah Dokter :
Pengambilan sumpah dokter merupakan saat yang sangat penting artinya bagi seorang dokter, karena pada kesempatan ini ia berikrar bahwa dalam mengamalkan profesinya, ia akan selalu mendasarmnya dengan kesanggupan yang telah diucapkannya sebagai sumpah. Oleh karena itu upacara pengambilan sumpah hendaknya dilaksanakan dalam suasana yang hikmat.

Suasana hikmat dapat diwujudkan bila upacara pengambilan sumpah dilaksanakan secara khusus, mendahului acara pelantikan dokter.

Untuk yang beragama Islam, "Demi Allah saya bersumpah". Untuk penganut agama lain mengucapkan lafal yang diharuskan sesuai yang ditentukan oleh agama masing-masing. Sesudah itu lafal sumpah di ucapkan secara bersam asama dan semua peserta pengambilan sumpah.

Bagi mereka yang tidak mengucapkan sumpah, perkataan sumpah di ganti dengan janji.

Yang wajib mengambil sumpah.
-Semua dokter Indonesia. Lulusan pendidikan dalam negeri maupun luar negeri wajib mengambil sumpah dokter.
-Mahasiswa asing yang belajar di Perguruan Tinggi Kedokteran Indonesia juga diharuskan mengambil sumpah dokter Indonesia.
-Dokter asing tidak harus diambil sumpahnya karena tamu, ia menjadi tanggung jawab instansi yang memperkerjakannya. Dokter asing yang memberi pelayanan langsung kepada masyarakat Indonesia, harus tunduk pada KODEKI.

Penjelasan beberapa hal yang berkaitan dengan lafal sumpah dokter
Beberapa kata dalam sumpah dokter, yang memerlukan penjelasan antara lain :
1. Dalam pengertian "Guru-guru saya", termasuk juga mereka yang pernah menjadi guru / dosennya.
2. Dalam ikrar sumpah yang keempat, dikemukakan bahwa dalam menjalankan tugas seorang dokter akan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Dalam pengertian inl tak berarti bahwa kepentingan individu pasien dikorbankan demi kepentingan masyarakat tetapi harus ada keseimbangan pertimbangan antara keduanya.

Contoh ekses yang dapat timbul :
Seorang dokter melakukan eksperimen pada pasiennya tanpa memperhatikan keselamatan pasien tersebut demi kepentingan masyarakat (Neurenberg trial).
Pelayanan KB massal kadang-kadang menyampingkan kepentingan individu demi kepentingan masyarakat luas.
Dalam perang dibenarkan adanya korban prajurit demi kepentingan negara.

Sumber: Kode Etik Kedokteran Indonesia


Last edited by gitahafas on Thu Jun 03, 2010 5:42 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Sumpah Dokter   Sat Mar 13, 2010 11:36 am

PASAL 1 PEDOMAN PELAKSANAAN KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.

Penjelasan dan pedoman pelaksanaan Pasal 1
Sebagai hasil Muktamar Ikatan Dokter Sedunia (WMA) di Geneva pada bulan September 1948, dikeluarkan suatu pernyataan yang kemudian diamandir di Sydney bulan Agustus 1968.

Pernyataan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Sya’ra Departemen Kesehatan RI dan Panitia Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Indonesia, kemudian dikukuhkan oleh Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1960 dan disempurnakan pada Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran II yang diselengarakan pada tanggal 14-16 Desember 1981 di Jakarta dan diterima sebagai lafal Sumpah Dokter Indonesia. Lafal ini disempurnakan lagi pada Rapat Kerja Nasional Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) dan Majelis Pertimbangan dan Pembelaan Anggota (MP2A), 20-22 Mei 1993.

Perkembangan mendasar terjadi pada WMA General Assembly di Stockholm yang ke 46, September 1994, terutama yang berkaitan dengan butir sumpah yang menyatakan Saya akan menjaga, memelihara dan menghormati setiap hidup insani mulai dan (saat pembuahan atau awal kehidupan). Lokakarya Ratifikasi Amandemen Deklarasi Geneva tentang sumpah dokter ini untuk dokter di Indonesia telah dilakukan oleh MKEK pada bulan Oktober 2000, dengan merekomendasikan mengganti kalimat saat pembuahan yang selama ini dipergunakan dalam angkat sumpah dokter Indonesia, menjadi awal kehidupan. Pertentangan tentang penggantian kalimat pada butir ini muncul pada saat Muktamar IDI XXIV Tahun 2000, sehingga mengamanatkan PB IDI periode kepengurusan 2000-2003, untuk menyelenggarakan pertemuan Khusus untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Melalui Mukernas Etika Kedokteran III, Mei 2001, permasalahan ini masih belum dapat diselesaikan, sehingga diputuskan tetap memakai lafal sumpah sebagaimana yang tertera di bawah ini (sambil menunggu hasil referendum dan anggota IDI untuk memilih a). apakah pasal ini dihapuskan saja; b). Saya akan menjaga, memelihara dan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan; c). Saya akan menjaga, memelihara dan menghormati setiap kehidupan insani ...; d). Saya akan menjaga, memelihara dan menghormati setiap hidup insani ... mulai dan awal kehidupan).
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Sumpah Dokter   Sat Mar 27, 2010 11:25 am

DECLARATION OF GENEVA
Medical vow adopted by the General Assembly of the World Medical Association at Geneva, Switzerland, September 1948, and amended by the 22nd World Medical Assembly, Sydney, Australia, August 1968. At the Time of Being Admitted as a Member of the Medical Profession:

I solemnly pledge to consecrate my life to the service of humanity;
I will give to my teachers the respect and gratitude which is their due;
I will practise my profession with conscience and dignity;
The health of my patient will be my patient my first consideration;
I will respect the secrets which are confided in me, even after the patient has died;
I will maintain by all the means in my power, the honour and the noble traditions of the medical profession;
My colleagues will be my brothers;
I will not permit considerations of religion, natinality, race, party politics or social standing to intervene between my duty and my patient;
I will maintain the utmost respect for human life, from the time of conception;
even under threat, I will not use my medical knowledge contrary to the laws of humanity;
I make these promises solemnly, freely and upon my honour."

INTERNATIONAL CODE OF MEDICAL ETHICS
Duties of physicians in general
A PHYSICIAN SHALL always maintain the highest standards of professional conduct.
A PHYSICIAN SHALL not permit motives of profit to influence the free and independent exercise of professional judgment on behalf of patients.
A PHYSICIAN SHALL, in all types of medical practice, be dedicated providing competent medical service in full technical and moral independence, with compassion and respect for human dignity.
A PHYSICIAN SHALL deal honestly with patients and colleagues, and strive to expose those physicians deficient in character or competence, or who engage in fraud or deception. The following practices are deemed to be unethical conduct:
(a) Self advertising by physicians, unless permitted by the laws of the country and the Code of Ethics of the National Medical Association.
(b) Paying or receiving any fee or any other consideration solely to procure the referral of a patient or for prescribing or referring patient to any source.
A PHYSICIAN SHALL respect the rights of patients, of colleagues, and other health professionals, and shall safeguard patient confidences.
A PHYSICIAN SHALL act only in the patient's interest when providing medical care which might have the effect of weakening the physical and mental condition of the patient.
A PHYSICIAN SHALL use great caution in divulging discoveries or new techniques or treatment through non-professional channels.
A PHYSICIAN SHALL certify only that which he has personally verified.

Duties of physicians to the sick
A PHYSICIAN SHALL always bear in mind the obligation of preserving human life.
A PHYSICIAN SHALL owe his patients complete loyalty and all the resources of his science. Whenever an examination or treatment is beyond the physician's capacity he should summon another physician who has the necessary ability.
A PHYSICIAN SHALL preserve absolute confidentiality on all he knows about his patient even after the patient has died.
A PHYSICIAN SHALL give emergency care as a humanitarian duty unless he is assured that others are willing and able to give such care.

Duties of physicians to each other
A PHYSICIAN SHALL behave towards his colleagues as he would others behave towards him.
A PHYSICIAN SHALL NOT entice patients from his colleagues.
A PHYSICIAN SHALL observe the principles of 'The Declaration of Geneva' approved by the World Medical Association.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Sumpah Dokter   Sat Mar 27, 2010 12:42 pm

TORTURE AND OTHER CRUEL, INHUMAN OR DEGRADING TREATMENT OR PUNISHMENT (DECLARATION OF TOKYO)
Preamble
It is the privilege of the medical doctor to practise medicine in the service of humanity, to preserve and restore bodily and mental health without distinction as to persons, to comfort and to ease the suffering of his or her patients. The utmost respect for human life is to be maintained even under threat, and no use made of any medical knowledge contrary to the laws of humanity.
For the purpose of this Declaration, torture is defined as the deliberate, systematic or wanton infliction of physical or mental suffering by one or more persons acting alone or on the orders of any authority, to force another person to yield information, to make a confession, or for any other reason.

Declaration
1. The doctor shall not countenance, condone or participate in the practice of torture or other forms of cruel, inhuman or degrading procedures, whatever the offence of which the victim of such procedures is suspected, accused or guilty, and whatever the victim's belief or motives, and in all situations, Including armed conflict and civil strife.
2. The doctor shall not provide any premises, instruments, substances or knowledge to facilitate the practice of torture or other forms of cruel, inhuman or degrading treatment or to diminish the ability of the victim to resist such treatment.
3. The doctor shall not be present during any procedure during which torture or other forms of cruel, inhuman or degrading treatment used or threatened.
4. A doctor must have complete clinical independence in deciding upon the care of a person for whom he or she is medically responsible. The doctor's fundamental role is to alleviate distress of his or her fellow men, and no motive, whether personal, collective or political, shall prevail against this higher purpose.
5. Where a prisoner refuses nourishment and is considered by doctor as capable of forming an unimpaired and rational judgment concerning the consequences of such a voluntary refusal nourishment, he or she shall not be fed artificially. The decision as to the capacity of the prisoner to form such a judgment should confirmed by at least one other independent doctor. The consequences or the refusal of nourishment shall be explained by doctor or the prisoner.
6. The World Medical Association will support, and should encourage the international community, the national medical association and fellow doctors, to support the doctor and his or her family in the face of threats or reprisals resulting from a refusal to condone the use of torture or other forms of cruel, inhuman degrading treatment.
Back to top Go down
 
Sumpah Dokter
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Kisah mistis jenazah Uje sangat mirip kisah syahidnya jenasah Amrozi cs.
» apa tanggapan Muslimin tentang FPI?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: PERATURAN dan PERIJINAN-
Jump to: