Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 15 ... 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:01 pm

50% DOKTER PERCAYAKAN INFORMASI OBAT DARI DETAILMAN
Kamis, 28/10/2010 15:57 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Bagaimana dokter memberikan rekomendasi obat ke pasiennya? Ternyata untuk kepentingan informasi obat, 50 persen dokter mempercayakannya dari informasi medical representative atau detailman dari perusahaan farmasi. Tugas dari medical representative adalah memperkenalkan dan memberikan informasi terbaru mengenai obat-obatan kepada dokter dan juga apoteker. Dalam tugasnya ia memberikan informasi mengenai penggunaan klinis, dosis dan juga farmakologi obat-obatan tersebut.

"Tidak selamanya medical representative itu negatif, karena kalau informasi yang diberikan berbasis riset (evidence base) maka hasilnya adalah bagus," ujar dr Prijo Sidipratomo, MD, selaku Ketua Pengurus Pusat IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).
dr Prijo menuturkan bisa saja metode yang digunakan adalah dengan mengadakan seminar di suatu tempat dan mengumpulkan beberapa medical representative, lalu dalam seminar tersebut dikaji hasil penelitian dari perusahaan farmasi tersebut. Tapi metode ini tidak berjalan dengan baik, dan pola yang masih disukai adalah dengan cara menunggu dokter di tempat ia berpraktik.

"Medical representatvie menjadi sumber yang relevan karena tugas utamanya adalah menyampaikan informasi seputar obat-obatan, informasi ini berdasar riset yang dilakukan oleh perusahaan farmasi tersebut," ujar Parulian Simanjuntak, selaku Ketua Internasional Pharmaceutical Manufactures Group (IPMG). Parulian menambahkan majunya teknik pengobatan dipengaruhi oleh hasil riset dari industri farmasi, untuk itu penting menjalin komunikasi yang baik antara industri farmasi dan juga dunia kedokteran.

"Selain itu perusahaan farmasi juga bisa memanfaatkan program-program edukasi berbasis online dan membantu memberikan layanan kesehatan yang mudah diperoleh, terjangkau dan berkualitas bagi pasien," ungkap Parulian. Meski internet bisa memberikan informasi mengenai obat-obatan, tapi tetap saja ada keterbatasan informasi. Misalnya untuk informasi obat-obatan keras yang harus menggunakan resep hanya diperuntukkan bagi kalangan dokter saja dan masyarakat tidak bisa mengaksesnya.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 1:35 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Aug 01, 2010 8:26 am

GAME MAMPU TINGKATKAN KETERAMPILAN DOKTER
Kamis, 21 Agustus 2008 - 10:04 wib[
Game ternyata tidak selamanya berdampak negatif terhadap manusia. Penelitian tim psikolog Iowa State University, AS, menemukan, game ternyata mampu membantu para dokter bedah meningkatkan keterampilan tangan. Penelitian itu mengungkap, dokter bedah yang sering bermain game ternyata melakukan hanya sedikit kesalahan saat melakukan operasi.

"Penelitian ini membuktikan bahwa game memiliki berbagai dimensi. Ada dampak negatif dan ada pula dampak positifnya. Semua itu tergantung pada bagaimana game itu dimainkan, seberapa sering seseorang bermain game, dan kontennya apa," papar ketua tim peneliti Douglas Gentile. Gentile dan rekan-rekan melakukan penelitian terhadap 33 dokter bedah spesialis laparoscopyatau pembedahan yang melibatkan penggunaan tabung kamera kecil yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien dan dikendalikan oleh dokter.

Dari sana ditemukan bahwa dokter bedah yang suka bermain game ternyata mampu melakukan prosedur pembedahan kompleks dalam waktu 27 persen lebih cepat daripada dokter bedah laparoscopy yang tidak suka bermain game. Temuan lainnya, dokter bedah yang suka bermain game juga melakukan 37 persen sedikit kesalahan daripada rekan mereka yang tidak suka bermain game. Dalam kesempatan lain, Gentile dan rekan-rekan melakukan penelitian mengenai dampak sosial game para remaja dan pemuda. Gentile menemukan, remaja dan pemuda yang kerap bermain game-game berbau kekerasan ternyata menjadi lebih brutal dan sukar memaafkan. (sindo//srn)

Sumber: OKEZONE.com
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 07, 2010 5:21 pm

KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN, PERCEPAT KESEMBUHAN
Jumat, 30 Juli 2010 | 10:54 WIB
:Kompas.com - Sehebat apa pun, para dokter tetap manusia, bisa membuat kesalahan diagnosis atau kelalaian. Pasien juga bukan sekedar objek. Dokter perlu menjelaskan kondisi dan tindakan medis yang dilakukan pada tubuh pasien. Karena itu komunikasi yang baik adalah unsur penting dalam proses penyembuhan pasien. Sayangnya, komunikasi dua arah seringkali tidak terjalin dalam hubungan dokter dan pasiennya. Pasien seolah takut untuk bertanya dan tak bisa dipungkiri masih banyak dokter yang tidak bersedia memperlakukan pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan. Kalau mau jujur, masih banyak oknum dokter yang bersikap arogan dan terkesan tak mau mendengar pendapat pasiennya.

Di berbagai tempat, mayoritas penyebab masalah antara dokter dan pasien disebabkan karena salah informasi yang menyebabkan salah interpretasi. Memang kesalahan dalam praktik medis tidak mungkin dihilangkan, karena manusia bukanlah mesin dan tidak pernah ada kasus pasien yang benar-benar identik. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini sudah ada upaya dari kalangan dokter sendiri untuk memperbaiki komunikasi dokter-pasien, namun sebagai pasien kita juga wajib mengetahui apa saja yang menjadi hak kita sebagai pasien dan membekali diri dengan informasi sehingga tidak harus melulu bersikap pasrah. Bila merasa ragu dengan keputusan dokter, pasien berhak mencari pendapat kedua dari dokter lain.

"Pasien yang aktif bertanya dan menyampaikan pendapat serta kekhawatirannya akan sangat membantu dokter untuk memahami pasien dan penyakitnya. Selama ini terdapat perbedaan yang besar antara apa yang diyakini pasien tentang penyakitnya dengan apa yang dokter ketahui," kata Richard Street Jr, seorang ahli komunikasi dari Texas A&M University, Amerika Serikat. Secara teoretis untuk melakukan diagnosis, dokter perlu berkomunikasi dan memeriksa pasien. Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk-ngetukkan tangan (perkusi), dan menggunakan alat-alat kedokteran (auskultasi). Karena itu untuk mengetahui kondisi pasien juga tak dapat digantikan dengan konsultasi perawat lewat telepon. Dokter yang berhalangan hadir ketika pasiennya membutuhkan penanganan memang diperbolehkan mendelegasikan pada dokter lain. Tetapi, pendelegasian itu seharusnya dilakukan pada dokter lain yang memiliki kualifikasi kompetensi setara.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 9:38 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Aug 17, 2010 12:11 pm

SEMANGAT JUANG DOKTER MUDA DI TANAH PAPUA
Selasa, 17/08/2010 08:31 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Orang muda yang baru lulus kuliah biasanya lebih senang bekerja di kota dengan segala macam fasilitasnya yang nyaman. Tapi tidak buat dr Rivaldi Dominggus Liligoly, menjadi dokter muda adalah mengabdi untuk membantu masyarakat di Papua agar bisa mendapatkan derajat kesehatan yang baik. Sudah 4 tahun usai tamat dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) dr Rivaldi bekerja di puskesmas di daerah yang sangat terpencil di pelosok Manokwari.

Dan semenjak 9 bulan lalu ia dipindah ke puskesmas kabupaten di Puskesmas Sanggeng kabupaten Manokwari, Papua Barat. Tak mudah memang menjadi dokter di suatu daerah terpencil seperti di Propinsi Papua Barat. Berbagai pengalaman suka dan duka dilalui dokter muda yang kini berusia 30 tahun ini. Alam Manokwari yang belum terjangkau infrastruktur kadang membuatnya harus berjalan kaki selama satu hari untuk bisa mencapai perkampungan masyarakat agar bisa membantu ibu melahirkan.

"Salah satu tantangan menjadi dokter di Manokwari adalah kondisi geografisnya yang terdiri dari pegunungan dan juga pesisir sehingga transportasi susah, terbatasnya komunikasi, serta kadang terhalang oleh adat istiadat yang berlaku disana," ujar dr Rivaldi yang menerima penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan oleh Kementerian Kesehatan saat ditemui detikHealth di sela-sela acara 'Penyerahan Penghargaan kepada 130 Tenaga Kesehatan Puskemas Teladan' di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin malam (16/8/2010). dr Rivaldi menuturkan terkadang menemui kesulitan dalam hal transportasi obat, distribusi makanan tambahan dan juga puskesmas keliling karena dibutuhkan perjalanan selama 3 jam dari kabupaten menuju puskesmas.

Berjalan selama satu hari dari satu kampung menuju kampung lain, membangun tenda (berkemah) di tengah perjalanan karena sudah larut malam atau melakukan pengobatan dengan peralatan seadanya, sudah menjadi hal yang biasa baginya. Tantangan lain yang harus dihadapinya adalah masih tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional, sehingga terkadang masyarakat lebih dulu menggunakan obat tradisional, jika tidak berhasil baru mendatangi dokter. Karena itu diperlukan pendekatan atau penyuluhan di masyarakat.

Menghadapi tantangan seperti ini dr Rivaldi mengaku ia biasanya mendekati kepala suku yang punya pengaruh besar di masyarakat untuk memberikan pengertian dan pemahaman. Baru setelah itu, ia bisa bekerja bersama-sama dan cara ini terbilang cukup efektif. Faktor dr Rivaldi yang juga putera Papua membuatnya agak sedikit lebih mudah melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar. "Saya menyadari ternyata masih ada manusia di balik gunung atau di daerah pesisir yang belum pernah merasakan sentuhan dokter," ungkapnya.

Diakuinya, tak mudah untuk pasien bisa mencapai puskesmas. Bayangkan jika seorang pasien harus dirujuk ke rumah sakit maka perjalanan yang harus ditempuh dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten selama 9 jam dengan menggunakan long boat (perahu). Dan di rumah sakit ini hanya didapati satu dokter bedah, satu dokter penyakit dalam, dua dokter obstetri dan ginekologi (kandungan) serta dua dokter anak. "Kadang kami harus merasakan tersiram ombak atau mabuk laut bersama-sama dengan pasien yang akan dirujuk, atau pasien terpaksa harus melahirkan saat dalam perjalanan ke rumah sakit akibat medan perjalanan yang cukup berat untuk dilalui," ujar dokter yang baru saja menikah satu tahun lalu.

dr Rivaldi menuturkan penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat Papua adalah malaria (karena masih termasuk daerah endemis), ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), cacingan (untuk daerah pedalaman akibat kurangnya pola hidup bersih dan sehat) serta penyakit jaringan otot dan tulang seperti rematik untuk daerah pegunungan karena udaranya yang dingin sekali. "Di daerah ini orang yang memiliki hemoglobin 3-4 atau orang yang menderita malaria +3 masih bisa berjalan, tapi kalau di daerah lain mungkin orang tersebut sudah harus masuk ICU," ungkapnya.

Tapi bagaimanapun juga dr Rivaldi menuturkan bahwa ia harus survive agar tetap bisa bertahan dan memberikan pelayanan bagi masyarakat. Karena untuk menjadi dokter di daerah sangat terpencil dibutuhkan stamina yang tinggi dan juga harus bisa menjaga dirinya sendiri sebelum bisa menolong orang lain. "Karena saya asli dari Papua, maka saya harus berbuat sesuatu untuk daerah saya dan juga saudara-saudara saya di Papua, seperti ada ikatan emosional yang lebih tinggi. Hal inilah yang membuat saya tetap bertahan dan semangat menjalani profesi ini," imbuhnya.

dr Rivaldi menuturkan bahwa ada kebanggaan atau kepuasan tersendiri yang dirasakannya jika ia berhasil menolong masyarakat. "Saya juga ingin melanjutkan pendidikan kedokteran saya untuk mengambil pendidikan spesialis. Nantinya saya ingin mengambil spesialis bedah," ujar dokter yang terpilih sebagai Tenaga Kesehatan Teladan 2010. Semoga saja impian dr Rivaldi bisa terlaksana, sehingga masyarakat di daerah terpencil di Papua tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.(ver/ir)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Aug 17, 2010 12:13 pm

PREDIKAT TELADAN UNTUK 130 TENAGA KESEHATAN PUSKESMAS
Selasa, 17/08/2010 08:03 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Puluhan ribu tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh puskesmas di Indonesia telah bekerja dengan baik dan menunjukkan prestasi kerja yang luar biasa. Atas dedikasinya tersebut, Menteri Kesehatan memberikan penghargaan terhadap 130 tenaga kesehatan puskesmas teladan dari 33 provinsi. "Para tenaga kesehatan ini adalah pahlawan bangsa yang telah menunaikan tugasnya dalam upaya mencapai tujuan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan," ujar Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH dalam acara 'Penyerahan Penghargaan kepada 130 Tenaga Kesehatan Puskemas Teladang' di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin malam (16/8/2010).

Pemberian penghargaan ini mulai digelar sejak tahun 1980-an dan dilakukan secara rutin menjelang ulang tahun kemerdekaan RI. Acara ini pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan kinerja dari para tenaga kesehatan. Pada tahun ini Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kepada 130 tenaga kesehatan teladan yang berasal dari 33 provinsi. Tenaga kesehatan teladan ini terdiri dari 45 laki-laki dan 85 perempuan yang meliputi 26 orang dokter, 7 orang dokter gigi, 19 orang bidan, 14 orang perawat, 27 orang tenaga kesehatan masyarakat (sanitarian dan promosi kesehatan), 4 asisten apoteker dan 33 orang nutrisionis.

Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kemenkes Dr. Budihardja, DTM&H,MPH menuturkan tenaga kesehatan termuda yang mendapatkan penghargaan berusia 22 tahun 7 bulan yang berasal dari Puskesmas Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu. Sedangkan tenaga kesehatan tertua berusia 53 tahun 5 bulan yang berasal dari Puskesmas Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

Menkes menuturkan sebaik apapun konsep dari rencana pembangunan yang disusun, tetap saja hasilnya tergantung pada pelaksanaan atau tenaga kesehatannya. Diharapkan semua tenaga kesehatan memiliki dedikasi yang tinggi. "Karenanya marilah kita tingkatkan kinerja, memadukan barisan dalam pembangunan kesehatan," ungkap Menkes.

Puskesmas merupakan ujung tombak terdepan pembangunan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs) dalam hal meningkatkan usia harapan hidup, menurunkan angka kematian bayi, menurunkan angka kematian ibu serta menurunkan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita. "Berdasarkan data riskesdas 2010 didapatkan adanya penurunan terhadap prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita," tambahnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Aug 24, 2010 5:18 am

REFLEKSI PERJUANGAN SEORANG DOKTER
RACIKAN KHUSUS - Vol.7 No.10, Mei 2008 Majalah Farmacia
Melihat kilas masa lampau, sejarah perjuangan kebangkitan Indonesia dimulai dari kalangan kedokteran. Jika menilik di satu titik ke belakang lebih dari satu abad lalu, bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Cengkraman kaki dan tangan penjajah merasuk di semua sendi kehidupan masyarakat. Ketika timbul wabah penyakit di daerah Banyumas, maka bangsa ini masih tergantung sepenuhnya pada Belanda yang menguasai wilayah Indonesia saat itu. Belum ada seorang bumi putera pun yang saat itu yang memiliki ilmu kesehatan untuk menghadapai penyakit di masyarakat. Namun kenyataannya, tenaga kedokteran bangsa Belanda tidak mungkin mampu memberantas berbagai wabah tersebut, apalagi berpijak pada kenyataan bahwa menghadapi penyakit bukanlah pekerjaan yang tanpa risiko.

Timbul gagasan untuk memberikan buku tuntunan kesehatan berbahasa Jawa atau Melayu kepada setiap kepala desa atau lurah. Namun gagasan tersebut dianggap tidak akan banyak membantu memecahkan masalah. Kemudian timbul ide untuk mengambil pemuda Melayu yang berbakat dan pintar dari daerah Jawa untuk dididik sebagai Juru Kesehatan Praktis yang nantinya akan dipekerjakan sebagai mantri cacar. Gagasan ini diterima. Keluarlah keputusan Gubernemen tahun 1849 sebagai ketetapan untuk melaksanakan ide tersebut.

Bulan Januari 1851, merupakan awal rintisan dibukanya pendidikan kedokteran bagi pemuda Indonesia. Sejumlah pemuda pribumi dididik di Rumah Sakit Militer Weltevreden dengan 15 mata ajaran. Jika awalnya murid-murid kursus hanya berasal dari pulau Jawa, maka selanjutnya diterima 6 murid dari luar Jawa, yaitu 2 orang dari Sumatera Barat, 2 orang dari Minahasa, dan 2 lagi dari pulau-pulau yang lain. Sistim pendidikan pun diubah menjadi 3 tahun, dan lulusan sekolah tersebut diberikan gelar Dokter Jawa. Kursus Juru Kesehatan itu pun berubah nama menjadi Sekolah Dokter Jawa.

Pada perjalanannya, sekolah Dokter Jawa berkembang menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang berperan dalam mengukir sejarah perjalanan bangsa ini. Peningkatan 'status' sekolah ini tidak terlepas dari peran Dr. H.F. Rool, Direktur Sekolah Dokter Jawa periode 1896-1899 dan kemudian menjadi pimpinan STOVIA dari tahun 1901–1908. STOVIA resmi berdiri tahun 1900. Sisa-sisa murid Sekolah Dokter Jawa yang masih ada, tidak lagi dicetak sebagai Dokter Jawa, namun meneruskan pelajarannya di STOVIA. Kurun waktu 1903-1904 STOVIA telah berhasil menghasilkan 11 orang Inlandsche Artsen (dokter bumiputra). Dengan gelar tersebut, para lulusan berhak mempraktekkan ilmu kedokteran yang mereka dapatkan. Lama pendidian yang harus dilewati pun telah bertambah menjadi 9 tahun.

Sekolah kedokteran STOVIA menjadi saksi betapa siswa-siswa sekolah kedokteran turut ambil bagian bagi perjalanan sejarah bangsa ini. Minggu, 20 Mei 1908, pukul 9 pagi di ruang kuliah anatomi, sebuah perkumpulan bernama Boedi Oetomo berdiri. Perkumpulan ini lahir di atas kesadaran para pendirinya, betapa penjajahan melahirkan kebodohan, kemelaratan, dan penderitaan bagi rakyat. Maka, kemajuan perlu dikejar salah satunya dengan pendidikan. Hanya dengan kepandaian dan kecerdasan cita-cita luhur sebuah bangsa dapat diperjuangkan. Cukuplah bangsa Indonesia direndahkan martabatnya oleh bangsa lain dalam hal ini penjajah sebagai bangsa yang bodoh dan dapat diambil keuntungan sebanyak-banyaknya.
Boedi Oetomo, Antara Dr. R. Soetomo, dan Dr. Wahidin

Sebagai motor penggerak Budi Utomo, nama Dr. R. Soetomo tidak bisa dilepaskan dari organisasi ini. Pemuda Soetomo, mencatatkan diri sebagai pelajar di STOVIA tatkala berusia 15 tahun pada tanggal 10 Januari 1903. Bersama teman-temannya seperti R.M. Goembrek, M. Soeradji, M. Goenawan Mangoenkoesoemo, M. Mohamad Saleh, dam M. Soeleimen Soetomo, ia memproklamirkan perkumpulan tersebut.

Sebelumnya, apa yang diusahakan Soetomo dan rekan-rekannya tidak terlepas dari idealisme seorang Dr. Wahidin Soedirohoesodo. Dokter yang telah pensiun ini menjadi pimpinan redaksi surat kabar "Retnodhumilah" tahun 1901-1906. Melalui surat kabar tersebut, Wahidin selalu berusaha membangkitkan pengertian golongan priyayi Bumiputera agar memberikan bantuan pada rakyat untuk meningkatkan kecerdasan mereka. Caranya adalah dengan membentuk Studiefonds atau dana pendidikan. Sekolah-sekolah yang sudah ada berdiri lebih ditujukan untuk kepentingan Belanda, yang membutuhkan tenaga yang dapat membaca dan menulis. Karena jika harus selalu mendatangkan tenaga dari Belanda maka ongkosnya terlalu mahal. Wahidin sendiri adalah lulusan Sekolah Dokter Jawa Weltevreden dan selanjutnya menjadi asisten dosen di almamaternya.

Meski suaranya menghimbau kalangan pribumi cukup keras melalui tulisan-tulisannya, namun Wahidin merasa seruan tersebut tidak membuahkan hasil. Wahidin pun mencoba cara lain, yaitu dengan terjun langsung ke lapangan mempropagandakan cita-citanya ke kalangan para bangsawan atau priyayi-priyayi bumiputera. Ia pun mengadakan perjalanan keliling Jawa menemui kalangan elit masyarakat, mengajak mereka ikut aktif memikirkan pendidikan bangsa yang masih rendah tingkat kecerdasannya. Ia membiayai sendiri perjalanannya tersebut.

Akhir tahun 1907, dalam perjalanan menuju Banten, Wahidin singgah di Stovia. Ia memaparkan cita-citanya kepada R. Soetomo dan M. Soeradji dan kedua siswa STOVIA tersebut sangat terkesan oleh segala upaya Wahidin. Dari pertemuan inilah Soetomo semakin terbakar untuk mendirikan Boedi Oetomo.

Upaya keras wahidin kerap menimbulkan anggapa salah bahwa ialah pendiri Boedi Oetomo. Meski bukanlah pendiri, namun ia orang yang paling gembira dan menyambut baik lahirnya perhimpunan ini. Wahidin bahkan menjadi ketua cabang Boedi Oetomo Yogyakarta dan mengupayakan berdirinya tiga buah sekolah, satu di Surakarta dan 2 lagi di Yogyakarta yang juga kelanjutan cita-citanya mengupayakan Studiefonds. Bahkan Kongres pertama Boedi Oetomo juga diputuskan diselenggarakan di Yogya, salah satunya dengan alasan, Yogyakarta merupakan kota tempat tinggal Wahidin.

Soetomo dan teman-temanya memang menyatakan kagum dan hormat pada perjuangan Wahidin. Dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan Dinas Museum dan Sejarah tahun 1973, Soetomo mengatakan, "Pertemuan dengan Dr. Wahidin Soedirohoesodo ....., yang yakin kalau membentangkan cita-citanya, telah memberi bekas pada saya yang dalam...." Soetomo juga mengatakan, "Berbicara dengan Dr. Wahidin, mendengarkan akan tujuannya, menghilangkan perasaan dan tujuan yang terbatas, terbatas hanya untuk keperluan diri belaka."
Menjelang 100 tahun

Apa yang dilakukan Wahidin, menunjukkan bagaimana peran seorang dokter yang berjuang ikhlas untuk kepentingan bangsanya meski untuk itu ia menghabiskan harta kekayaannya. Sejarah pun berlanjut, mencatat nama-nama dokter yang turut membela kepentingan bangsa, meski namanya tidak sebenderang Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin.

Selama masa pendudukan tentara Jepang maupun perang kemerdekaan, tercatat beberapa nama dokter telah mengorbankan nyawanya. Prof. Dr. Achmad Mochtar, lulusan Stovia 1916 dan lulusan doktor di Amsterdam tahun 1926, ditembak mati dalam tahanan Kem Pek Tai, pada Juli 1944 di jakarta karena tuduhan palsu telah mencampur basil tetanus dalam vaksin. Dr. Marah Achmad Arif dan Dr. Soelaiman Siregar juga menghadapi tuduhan serupa hingga tewas akibat siksaan Jepang. Dr. Ismangil, lulusan Geneeskundige Gogeschool tahun 1937, dokter PETA yang ditembak Jepang karena terlibat dalam peristiwa Blitar. Dr. Kariadi, yang tewas dalam oertempuran lima hari di Semarang. Prof. Abdulrachman Saleh, lulusan Geneeskundige Gogeschool 1936 yang gugur dalam pesawat terbang yang ditembak Belanda. Dan masih banyak lagi deretan nama-nama dokter yang tewas seperti dikutip dari tulisan Prof. M.A. Hanafiah SM.

Beberapa nama dokter juga tercatat berperan di berbagai bidang non medis seperti dr. Adnan Kapau Gani yang pernah menjadi wakil perdana menteri atau selama revolusi fisik menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Dr. Gani juga mendapat julukan "The Greatest Smuggler of East Asia', karena keaktifannya menyelundupkan senjata untuk perjuangan bangsa. Dr. A. Halim sebagai menteri pertahanan, dan sederet nama lain.

Kini, lebih dari seratus tahun telah berselang, sejak cikal bakal Sekolah Kedokteran yang melahirkan pejuang dari kalangan medis, yang melahirkan kalangan intelektual yang sangat peduli akan nasib bangsa berdiri, sejak salah satu ruang kuliah menjadi saksi bisu kebangkitan bangsa pada tanggal 20 Mei yang amat lalu. Menjelang tanggal yang sama, ada sebuah pertanyaan menggayut, sejauh mana peran kita sebagai dokter saat ini? Siapkah kita kembali berjuang atas nama rakyat menghadapi musuh yang sama sekali berbeda, menghadapi penyakit-penyakit laten masyarakat seperti kebodohan dan kemelaratan, dan juga pendidikan yang tidak dinikmati semua pihak? Siapkah kita atas nama korps medik menuntaskan penyakit-penyakit seperti TBC, flu burung, demam berdarah, atau HIV yang tidak jua berakhir bahkan juga tidak terurai?


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 9:34 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Aug 27, 2010 7:45 pm

KEBUTUHAN DIAGNOSA KESEHATAN MAKIN PENTING
Senin, 17 November 2008 | 19:54 WIB
SURABAYA, SENIN - Gaya hidup serba instan, praktis, cepat, dan nyaman menimbulkan kecenderungan hidup kurang sehat. Dengan pola gaya hidup masyarakat yang serba dinamis, kebutuhan diagnosa kesehatan tubuh secara berkala sangat dibutuhkan. Manajer Senior Klinik Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya, Haryanto Njoto, Senin (17/11) di sela soft opening Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya mengatakan, ritme gaya hidup masyarakat yang serba cepat memengaruhi pula kualitas kesehatan seseorang. "Saat ini banyak tersedia restoran cepat saji, makanan dan minuman instan yang mengandung zat-zat kimia. Jika pola makan tak dikontrol dan orang tak pernah melakukan cek kesehatan, maka orang akan sangat rentan terhadap penyakit," ujarnya. Menurut Haryanto, pada umur 35 tahun hingga 45 tahun, orang mengalami fase klinis di mana ia tak menyadari adanya gangguan kesehatan. Namun, setelah umur 45 tahun, gejala-gejala penyakit mulai dirasakan, entah kelebihan berat badan, merasa cepat tua, hingga tekanan darah yang cenderung naik. "Setelah usia 45 tahun berbagai macam penyakit mulai menyerang, seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, dan penyakit penuaan. Orang yang tak pernah mengetahui informasi detail tentang organ tubuhnya akan sulit melakukan antisipasi," tutur Haryanto. Haryanto mencontohkan, dalam 10 tahun terakhir penyakit jantung koroner pada umumnya diderita pasien berumur di atas 40 tahun. Namun, akhir-akhir ini penderita jantung koroner berumur di bawah 30 tahun.

Pentingnya sejarah kesehatan
Pada dasarnya, seseorang membutuhkan data base atau informasi detail tentang kesehatan organ tubuh secara berkala. Dengan mengetahui informasi ini, maka sejarah kesehatan seseorang akan terlihat sehingga mereka dapat melakukan prediksi untuk melakukan langkah antisipasi. Managing Director Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya Hartanto Saputrajaya Nyoto mengungkapkan, kepedulian masyarakat terhadap kesehatan diawali dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Namun demikian, kadang sebagian masyarakat belum memahami pentingya diagnosa kesehatan.
"Diagnosa kesehatan bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan tindakan kondusif dalam menjaga kesehatan. Jika memahami keadaan tubuhnya, maka orang leluasa mengkonsumsi makanan yang aman bagi dirinya," ujarnya.

Kalah canggih
Dalam hal fasilitas, sebagian masyarakat menganggap peralatan diagnosa kesehatan di luar negeri lebih canggih. Padahal, fasilitas kesehatan serupa dapat pula ditemui di Indonesia. Vice Chair to the Board of Director Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya Ivy Chou menambahkan, kini terdapat berbagai tempat diagnosa kesehatan bertaraf internasional di Surabaya. Karena itu, orang tak perlu pergi ke luar negeri untuk sekedar melakukan pemeriksaan awal kesehatan.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 9:41 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 28, 2010 6:51 am

MANAJEMEN DOKTER SPESIALIS TAK TERARAH
Lusia Kus Anna | Jumat, 14 Oktober 2011 | 06:31 WIB
Melbourne, Kompas - Dokter spesialis umumnya terpusat di daerah banyak penduduk dengan banyak rumah sakit swasta. Akibatnya, banyak rumah sakit pemerintah di daerah kekurangan dokter spesialis dasar, yaitu dokter spesialis penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, bedah, anak, serta dokter spesialis anestesi. ”Rumah sakit swasta di daerah berpenduduk banyak menawarkan kompensasi baik dan menarik bagi dokter,” kata peneliti Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Andreasta Meliala, seperti dilaporkan wartawan Kompas M Zaid Wahyudi dari Melbourne, Australia, Rabu (12/10), dalam lokakarya ”Peran Perhimpunan Profesi Kedokteran-Kesehatan dalam Memperkuat Sistem Kesehatan yang Berkeadilan” di Institut Nossal untuk Kesehatan Global, Universitas Melbourne. Banyak daerah mencoba menarik dokter spesialis dasar dan anestesi dengan iming-iming gaji besar. Namun, banyak yang ditolak. Gaji besar bukan hal utama, tetapi seberapa banyak bisa praktik sampingan, kemudahan akses hiburan dan informasi, pendidikan bagi anak, dan kesempatan mengembangkan profesionalitas lebih baik. ”Sebanyak 87 persen dokter spesialis menghabiskan waktu praktik di rumah sakit swasta. Mengandalkan kerja di rumah sakit pemerintah, pendapatan sangat kecil,” kata Guru Besar Kesehatan Masyarakat FK UGM Laksono Trisnantoro. Sekitar 80 persen pendapatan dokter spesialis berasal dari swasta yang menawarkan kompensasi lebih.

Biaya pendidikan
Mahalnya biaya pendidikan dokter membuat dokter spesialis berlomba mengembalikan investasi pendidikannya dengan banyak cara. Banyak dokter praktik lebih dari tiga tempat meski melanggar undang-undang. Jam kerja praktik dokter pun bisa 12-18 jam per hari. Jika ada dokter spesialis bekerja di rumah sakit pemerintah di kabupaten, banyak yang tak betah meski bergaji tinggi. Ketiadaan alat dan tenaga kesehatan penunjang membuat kemampuan dokter banyak tak terpakai, yang mengancam keterampilan dan profesionalisme. Untuk mengisi kebutuhan dokter spesialis di daerah, pemerintah mengadakan program pendidikan dokter spesialis berbasis kompetensi. Program itu dikritisi para dokter spesialis dari berbagai organisasi profesi. Program itu untuk putra daerah. Namun, banyak yang enggan pulang ke daerah asal setelah selesai. Mereka memilih mengganti uang pendidikan hingga beberapa kali lipat. Menurut Laksono, buruknya pengelolaan dokter akan memperburuk kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:15 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 28, 2010 6:52 am

RUU PENDIDIKAN KEDOKTERAN BIKIN DOKTER SUBSPESIALIS TAK EKSIS
Selasa, 07/02/2012 17:59 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Saat ini DPR bersama pemerintah sedang menggodok RUU Pendidikan Kedokteran, agar ada aturan yang jelas mengenai proses pendidikan kedokteran di Indonesia. Sayangnya, di dalam RUU tersebut tidak disebutkan mengenai program pendidikan subspesialis (konsultan), yang artinya nanti tidak akan ada lagi dokter-dokter subspesialis baru di Indonesia. Tujuan dibuatnya Undang-undang Pendidikan Kedokteran ini adalah agar pemerintah dan tentunya DPR sebagai legislatif menginginkan adanya aturan yang jelas mengenai proses pendidikan kedokteran di Indonesia. Namun dalam perjalanan penyusunan UU, ada upaya untuk menghapuskan program pendidikan subspesialis (Sp-2 atau konsultan) dalam jenjang pendidikan kedokteran di Indonesia.

"Subspesialis atau konsultan itu merupakan dokter dengan kemampuan yang lebih dalam dari dokter spesialis. Jadi tingkatannya dokter umum, dokter spesialis dan dokter subspesialis. Kalau dihapuskan, jadi nanti karir dokter Indonesia hanya mentok sampai dokter spesialis saja," jelas Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, K-HOM, FINASIM, Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam, dalam acara Media Gathering di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta, Selasa (7/2/2012). Program pendidikan kedokteran subspesialis sendiri bertujuan untuk menyediakan tenaga dokter dan konsultan yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dokter subspesialis di RS-RS tipe A atau RS tersier atau RS rujukan. "Kalau RUU tersebut berhasil dan jadi UU, maka pendidikan konsultan akan dihapuskan. Masyarakat tidak akan lagi mendapatkan pelayanan dari konsultan yang kompeten. Akhirnya nanti para konsultan akan berasal dari luar negeri atau dokter-dokter harus belajar ke luar negeri dengan biaya mahal," ujar DR Dr Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP, Ketua Advokasi PB PAPDI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia).

Selain itu, kekurangan dokter subspesialis jelas akan membuka peluang lebih banyak lagi bagi masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri demi mencari tenaga dokter subspesialis. "Agar ada dokter spesialis yang handal harus ada dokter subspesialis yang terus meningkatkan ilmu yang ada, karena yang mengajar dokter spesialis yang dokter-dokter subspesialis," jelas DR Dr Aru Sudoyo, SppD, K-HOM, FINASIM, FACP, Ketua Umum PB PAPDI. Dengan penghapusan program pendidikan dokter subspesialis, jelas Dr Sukman Tulus Putra, SpA(K), Ketua Program Studi Subspesialis Jantung Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, juga akan membuat dokter-dokter asing dengan mudah masuk ke Indonesia. "Masyarakat mungkin akan punya banyak pilihan, tapi hanya orang-orang yang berduit saja," tutup Dr Sukman.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:48 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 28, 2010 6:53 am

MENKES: DOKTER KURANG MINAT SPESIALISASI MIKROBIOLOGI KLINIK
Merry Wahyuningsih - detikHealth - Sabtu, 03/07/2010 14:05 WIB
Jakarta, Bidang mikrobiologi klinik sebenarnya sangat penting dalam dunia kedokteran, terutama dalam menghadapi banyaknya penyakit infeksi yang mengalami resistensi (kebal) terhadap antibiotika. Tapi sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan minat dokter-dokter umum yang ingin mendalami spesialisasi bidang tersebut. Mikrobiologi klinik adalah suatu cabang ilmu kedokteran medik yang memanfaatkan kompetensi di bidang kedokteran umum dan mikrobiologi kedokteran untuk bersama-sama klinisi melaksanakan tindakan surveilans (memantau distribusi penyakit ), pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi, serta secara aktif melaksanakan tindakan pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan lain maupun masyarakat.

Mikrobiologi klinik berperan pada semua tahap proses medis, mulai tahap pengkajian, tahap analisis dan penegakan diagnosis klinik, penyusunan rancangan intervensi medis, implementasi rancangan intervensi medis, sampai dengan tahap evaluasi, dan penetapan tindak lanjut. Sayangnya, belum banyak dokter-dokter umum yang mau mendalami atau mengambil spesialisasi mikrobiologi klinik ini. "Mikrobiologi klinik masih kurang diminati oleh dokter-dokter umum kita, padahal peranannya sangat penting, terlebih dengan banyaknya penyakit infeksi yang resisten antibiotika," ujar Dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH, Menteri Kesehatan RI, dalam sambutannya membuka acara simposium '6th National Symposium of Indonesia Antimicrobials Resistance Watch (IARW-PAMKI) di Hotel Gran Melia, Jakarta, Sabtu (3/7/2010).

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI), Prof Dr Sam Suharto, SpMK, di Indonesia hanya ada sekitar 150 dokter spesialis mikrobiologi klinik. "Fakultas kedokteran di Indonesia setiap tahun meluluskan 1.500 sampai 2.000 dokter umum, tapi kebanyakan dari mereka mangambil 4 spesialisasi yang memang banyak peminatnya, yaitu bedah, penyakit dalam, anak dan ginekologi (kandungan)," jelas Prof Dr Pratiwi Sudarmono, PhD, SpMK, Wakil Dekan FK UI. Spesialisasi mikrobiologi klinik kurang diminati karena banyak yang menganggap bidang ini hanya bekerja di laboratorium dan tidak terjun langsung menangani pasien. Padahal menurut Prof DR Dr Kuntaman, MS, SpMK, Wakil Dekan FK UNAIR, spesialis mikrobiologi klinik 60 persen bekerja menangani pasien dan 40 persen melakukan penelitian di laboratorium, terkait dengan pencegahan pengembangan vaksin.

Asal tahu saja, sekarang banyak sekali penyakit infeksi yang resistensi terhadap antibiotika, antara lain tuberkulosis (TB), influenza, HIV dan demam berdarah dengue (DBD). Ini membuat pengobatan untuk penyakit-penyakit tersebut menjadi semakin sulit dan mahal. Inilah tugas besar dari spesialis mikrobiologi klinik dan spesialis terkait untuk dapat mencegah dan menanggulangi berkembangnya resistensi antibiotika. "Mengingat masih terbatasnya jumlah lulusan spesialis mikrobiologi klinik dan spesialis terkait lainnya, maka institusi pendidikan kedokteran yang ada perlu lebih giat lagi meningkatkan kuantitas dan kualitas lulusan spesialis mikrobiologi klinik maupun spesialis terkait lainnya," tambah Menteri Kesehatan. Salah satu upaya pemerintah untuk menarik minat dokter umum untuk melanjutkan spesialisasi mikrobiologi umum adalah dengan memberi beasiswa, terutama untuk putra-putra daerah yang ingin kembali bertugas di daerah asalnya. (mer/ir)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:54 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
View previous topic View next topic Back to top 
Page 6 of 24Go to page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 15 ... 24  Next
 Similar topics
-
» benarkah Nabi Adam as manusia pertama dibumi ini???
» Karena Puasa, Seorang Pendeta Amerika Masuk Islam
» pentingnya belajar bahasa arab
» Kalimat Syahadat Menurut Hadis Muslim..
» Rumah Ditinggal Pergi ke Gereja, Nasib Jadi Apes

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: