Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 14 ... 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:27 pm

DOKTER/DOKTER GIGI FIGUR PENOLONG KEMANUSIAAN
Hari ini (21/7) Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih MPH, Dr.PH. membuka Seminar Nasional Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bertema Pemenuhan Pelayanan Kedokteran Bermutu Sebagai Wujud Perlindungan Masyarakat. Dalam sambutannya Menkes menyatakan, dokter/dokter gigi (dr./drg.) adalah figur penolong kemanusiaan. Agar kesan ini tertanam di masyarakat, dr./drg, perlu rela berkorban, peduli pada penderitaan pasien, empati, menghargai hak-hak pasien, dan menjadi pendidik masyarakat agar berperilaku hidup bersih dan sehat. “Kesemuanya ini adalah inti dari keluhuran profesi dr./drg. dalam lingkup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif”, tegas Menkes. Menkes menambahkan, keluhuran profesi dr./drg. adalah peneguh janji kepada masyarakat sesudah sumpah yang dilafalkan di almamater masing-masing. Termasuk janji untuk setiap 5 tahun mempertahankan kompetensi melalui Continuing Professional Development (CPD). CPD merupakan rangkaian proses re-sertifikasi profesi melalui rantai peran kolegium organisasi profesi (OP) dan KKI. “Kerja sama yang mantap, berdedikasi tinggi, tulus, terkoordinasi, dan cerdas antara Organisasi Profesi (OP) beserta kolegiumnya sangat diperlukan. Kerja sama penyelenggara CPD termasuk FK/FKG dan RS Pendidikan dengan KKI, harus dipupuk dan dikembangkan. Hendaknya diperhitungkan dengan tepat agar semua dr./drg. berpeluang sama untuk memasuki pintu terpusat di KKI. Jika tidak, akan berpotensi menimbulkan obstruksi pelayanan”, ujar Menkes.

Meski demikian kerja sama ini tidak boleh mengorbankan dr./drg yang tengah menunggu proses re-sertifikasi menjelang re-registrasi, ataupun mengorbankan masyarakat. Sebab, para dr./drg. khususnya di Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK), di birokrasi, dan yang sedang mengambil pendidikan akan menjadi korban akibat kurang lancarnya kerja sama antara para pemangku kepentingan tersebut, tambah Menkes. Menurut Menkes, setiap dokter dan dokter gigi adalah teladan masyarakat luas. Oleh karenanya, harus berperilaku elok dan terpuji. Dengan demikian akan terwujud pemenuhan standar pendidikan dan praktik kedokteran yang ditetapkan oleh KKI. Menkes menyatakan, KKI merupakan mitra Pemerintah dalam melaksanakan kebijakan kesehatan, khususnya yang menyangkut praktik kedokteran. Bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), asosiasi institusi pendidikan kedokteran, RS pendidikan dan kolegium profesi, Pemerintah mengembangkan pola koordinasi sekaligus pengaturan bidang kedokteran. Menkes menilai, Seminar Nasional KKI kali ini relevan dengan upaya Kemkes untuk meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang bermutu. Menkes berharap, KKI dan Organisasi Profesi (OP) mampu memberikan kontribusi saran dan kerja sama terhadap reformasi birokrasi yang tengah dijalankan di bidang kesehatan. Selanjutnya, KKI dan OP melalui kolegium spesialisnya masing-masing mereformasi diri untuk memperbesar jumlah daya produksi dokter spesialis yang diperlukan masyarakat, memantapkan sistem rujukan, dan mengawal terbentuknya BPJS Kesehatan.

KKI melalui Majelis Kehormatan dan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan OP melalui Majelis Kode Etik Kedokteran/ Majelis Kode Etik Kedokteran Gigi (MKEK/MKEKG) dan majelis kolegiumnya, ikut membina dan mengawasi anggotanya supaya menjalankan clinical pathway yang etis, sesuai standar profesi dengan pelayanan medik dan sesuai ketentuan INA-CBG. Selain itu, menerapkan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) di semua lini faslitas pelayanan kesehatan. Mencegah, mengawasi, dan menyelesaikan konflik etikolegal antar sejawat yang belum reda, serta tidak mengkomersialisasikan praktiknya, tutur Menkes. Menkes menekankan semua peserta seminar untuk perkokoh PPNS (penyidik pegawai negeri sipil) khusus kesehatan serta tim aparatur pengawasan dan pembinaan praktik kedokteran. Demi kepentingan terbaik pasien,para dokter spesialis harus saling berkomunikasi satu sama lain dalam menangani pasien dengan komplikasi. Jangan menolak pasien atau meminta uang muka dari pasien gawat darurat. Jangan saling menjelekkan sejawat; tidak menyuburkan pelayanan yang terkotak-kotak; jangan menyandera pasien, kurang menghargai atau gagal mengelola hak atas informasi pasien, atau menyandera bayi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau e-mail, info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:52 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:29 pm

33% FAKULTAS KEDOKTERAN BELUM TERAKREDITASI
Kamis, 12/04/2012 16:59 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Saat ini, di Indonesia terdapat lebih dari 70 fakultas kedokteran baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kualitasnya tentu berbeda-beda, bahkan 33 persen perlu diragukan karena belum terakreditasi. Perlukah masyarakat khawatir? "Jelas mengkhawatirkan. Itu yang sedang dibenahi dengan suatu mekanisme kemitraan antara fakultas kedokteran yang kuat dengan yang lemah," kata Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K), Sekjen Asosiasi Institusi Pendidikan Indonesia (AIPKI) usai sarasehan 3 Pilar Pendidikan Kendokteran Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis (12/4/2012). Menurut Dr Ratna, dari 70 lebih fakultas kedokteran yang ada di Indonesia hanya sekitar 17 yang memiliki akreditasi A. Selebihnya, 19 fakultas memiliki akreditasi B, 10 akreditasi C dan sisanya sebanyak 33 persen belum terakreditasi atau terakreditasi rendah. Mekanisme kemitraan yang dimaksud Dr Ratna adalah HPEQ atau Health Professional Education Quality. Dalam pelaksanaannya, falkultas kedokteran yang memiliki kualitas bagus ikut mendampingi fakultas kedokteran yang masih tertinggal agar bisa sama-sama maju.

Mengenai kualitasnya, Dr Ratna mengatakan bagus tidaknya lulusan sebuah fakultas kedokteran biasanya akan kelihatan saat ujian kompetensi. Lulusan fakultas kedokteran yang kurang berkualitas biasanya banyak yang gagal dalam uji kompetensi dan harus mengulang hingga beberapa kali. "Menurut data UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia), ada 8 fakultas kedokteran di Indonesia yang selalu menyumbang 'retaker'. Artinya selalu ada lulusan dari fakultas tersebut yang terpaksa harus mengulang ujian karena pada ujian sebelumnya tidak lulus. Bahkan ada yang sampai mengulang 18 kali," kata Dr Ratna. Kualitas fakultas kedokteran hanyalah 1 dari 3 pilar utama dalam memperbaiki kualitas dokter Indonesia. Dua pilar lainnya adalah rumah sakit pendidikan yang berkualitas, serta kolegium atau perhimpunan profesi yang bertugas menyusun pedoman dan standar pendidikan.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 29, 2012 3:14 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:32 pm

79% DOKTER PERCAYAKAN SUMBER INFORMASI DARI INTERNET
Kamis, 28/10/2010 14:55 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Dokter akan selalu membutuhkan informasi terkini mengenai kesehatan atau penyakit tertentu. Dari hasil survei Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekitar 79 persen dokter mempercayakan sumber informasinya dari internet. Hasil ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh IndoPacific Edelman yang bekerja sama dengan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (URPM FKM UI). Survei ini melibatkan 300 dokter yang dipilih secara acak di daerah Jabodetabek yang terdiri dari 57 persen dokter umum dan 43 persen dokter spesialis.

Survei ini memperlihatkan bahwa sekitar 79 persen dokter mempercayai internet sebagai sumber informasi. Sumber informasi lain yang digunakan dokter adalah majalah kedokteran, jurnal kedokteran, seminar kedokteran dan juga media lain seperti koran, televisi atau tabloid. Sebagian besar dokter yang aktif menggunakan internet juga menyarankan pasiennya untuk menggunakan internet atau situs kesehatan sebagai acuan informasi yang terkait dengan kesehatan atau medis. "Setelah ada internet maka bisa mengubah komunikasi antara dokter dan juga klien (pasien) menjadi lebih efektif. Karena kalau informasinya sudah efektif, maka pengobatan yang dilakukan akan menjadi lebih baik," ujar Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH dari FKM UI, dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Prijo Sidipratomo, MD menuturkan bagi para dokter informasi bisa didapatkan dari jurnal-jurnal kedokteran yang cukup baik seperti New England Journal of Medicine. Sedangkan bagi masyarakat membaca jurnal mungkin agak sulit untuk dimengerti, karenanya salah satu tugas dokter adalah mengedukasi masyarakat. "Dipercayanya media dan situs di internet sebagai salah satu sumber informasi membuat saluran ini berpotensi digunakan untuk tujuan edukasi. Tapi hal ini harus tetap mempertimbangkan diagnosa dokter dan komunikasi yang tepat," ujar dr Prijo.

Dampak internet juga mempengaruhi hubungan antara dokter dan pasien. Hal ini karena pasien akan menjadi lebih kritis (banyak bertanya) atau ingin mendiskusikan informasi yang diterimanya dengan dokter. Kondisi ini tentu saja menuntut dokter untuk mencari informasi lebih banyak lagi dan juga memperbaiki cara berkomunikasinya. Dampak internet lainnya adalah membuat sebagian besar dokter menjadi lebih aktif berinteraksi dengan koleganya serta berbagi informasi kepada orang-orang lain selain pasien, misalnya melalui blog pribadinya.

Ditambahkan Prof Thabrany bahwa salah satu faktor yang membuat banyak masyarakat berobat ke luar negeri adalah komunikasi yang jelek antara dokter dan pasien. Karenanya kalau komunikasi keduanya sudah baik, maka bisa menurunkan jumlah pasien yang berobat ke luar negeri. Selain itu perlu juga menyadarkan masyarakat tentang haknya untuk bertanya, seperti sakit apa serta obat yang diberikan. Karena kalau tidak ada pertanyaan, maka tidak ada pencerahan tentang komunikasi yang baik antara dokter dan pasien.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 1:32 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Jul 25, 2010 4:18 pm

IDI COBA DENGAR SUARA RAKYAT
Minggu, 23 Mei 2010 | 05:27 WIB
KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, 28 Mei 2008, mengatakan, ”Yang paling bernostalgia kalau dibicarakan soal Kebangkitan Nasional adalah komunitas dokter.” Tahun 1908, dokter muda, Sutomo dan Wahidin Sudiro Husodo, memelopori gerakan kebangsaan yang pertama. Mereka kemudian mendirikan gerakan Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. ”Dokter muda itu yang menggerakkan sejarah,” ujar SBY pada ulang tahun ke-100 Kebangkitan Nasional di depan para anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pada ulang tahun ke-100 Kebangkitan Nasional, IDI yang saat itu dipimpin dr Fachmi Idris (Ketua Umum) dan Zaenal Abidin (Sekretaris Jenderal dan sekarang jadi Ketua Umum terpilih untuk periode 2009-2012) mencanangkan konsultasi kesehatan gratis. Menurut dr Mahesa Paranadipa, Manajer Eksekutif Pengembangan Pendidikan Keprofesionalan IDI, Sabtu (22/5/2010) di Jakarta, konsultasi gratis itu kini telah berjalan selama tiga tahun. Namun, sebagian besar rakyat Indonesia, terutama di wilayah- wilayah kumuh di perkotaan, tidak bisa menjangkau konsultasi gratis itu. Beberapa dokter muda IDI mencoba mendatangi sebagian kecil kawasan kumuh itu.

Dengarkan suara rakyat
Sepanjang hari Jumat (21/5/2010) dan Sabtu (22/5/2010), dr Zaenal Abidin dan dr Mahesa Paranadipa serta beberapa dokter muda lainnya menyelusuri tepi anak Sungai Ciliwung yang paralel dengan jalur kereta api dari depan Hotel Sanggri-La sampai wilayah Kampung Melayu, Jakarta Timur. Di sebuah warung kopi dan makanan dekat pintu kereta api serta sebuah jembatan beton di Manggarai, Jakarta Pusat, rombongan dokter muda ini berhenti dan berdiskusi dengan Beti Sugiarto (janda usia 47 tahun), Eni (janda 68 tahun asal Parung, Bogor, Jawa Barat), Amirin (23), Yadi (pengemudi kendaraan umum), Iro, Jembleng, Sulasti, dan lain-lainnya. Pembicaraan mereka sering tidak terdengar karena selama dua jam dialog berlangsung, hampir lima kali kereta api melintas dengan suara berderu keras. Cerita-cerita yang didapat dari pertemuan di warung itu seperti ini: ”Seorang wanita muda punya anak lima dan ayahnya lima orang, tidak bisa berobat karena tidak punya uang tidak punya KTP, mengobati penyakit kelamin dengan disiram bensin kemaluannya”. Pokoknya, mereka bercerita tentang kenestapaan. Namun, cerita itu disampaikan dengan tawa riang. ”Kerawanan kesehatan sudah menjadi napas kehidupan mereka,” ujar Zaenal. Warung tempat pertemuan antara penduduk dan para dokter muda itu dekat dengan jembatan beton dan beraspal sepanjang lima meter. Di bawah aspal jembatan ada tiang beton tebal sebagai penyangga. Dua meter di bawah beton-beton itu, permukaan air sungai terlihat keruh. Di bawah jembatan tersebut, tiap malam, sebanyak 15 keluarga (sekitar 35 orang) tidur. ”Hampir tiap malam ada anak kecil yang kecemplung di air sungai. Akan tetapi, mereka bisa berenang dan kembali tidur lagi di atas beton itu,” cerita Jemleng kepada para dokter muda. ”Mereka adalah orang-orang terabaikan. Kami hanya bisa mendengarkan dan hadir di antara mereka pada ulang tahun Kebangkitan Nasional ke-102 ini,” ujar Mahesa. (OSD)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 9:35 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Jul 25, 2010 4:45 pm

IJAZAH DISOAL, PULUHAN DOKTER PROTES
Kamis, 9 Desember 2010 | 03:59 WIB
BATAM, KOMPAS - Puluhan dokter memprotes Badan Kepegawaian Daerah selaku penyelenggara tes calon pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Batam, Rabu (8/12). Protes ini terjadi karena mereka tidak lolos seleksi administrasi gara-gara persyaratan lampiran foto kopi ijazah yang dipersoalkan pemerintah daerah. Protes dilakukan 26 dokter umum secara bersama-sama dengan menemui Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Batam Firmansyah di kantor Pemerintah Kota Batam. Pada hari tersebut dan juga 6 Desember, kebetulan pemerintah daerah menyediakan waktu bagi peserta yang dinyatakan tidak lulus seleksi administrasi untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan dari Panitia Penanganan Masalah. Menurut dr Zaini A Saragih, rata-rata dokter yang melamar sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) Pemerintah Kota Batam melampirkan ijazah profesi dokter dan transkrip profesi kedokteran. Sementara yang dimaksud pemerintah daerah adalah ijazah sarjana kedokteran dan transkrip nilai sarjana kedokteran. Pengetahuan yang sederhana ini umum diketahui. ”Di mana-mana, dokter umum itu kalau melamar pekerjaan yang dilampirkan adalah ijazah profesi dokter dan transkrip profesi kedokteran. Batam ini aneh,” kata Zaini.

Adu argumen
Sempat terjadi adu argumentasi yang sengit antara para dokter dan pihak Badan Kepegawaian Daerah. Akhirnya pejabat inspektorat Pemerintah Kota Batam datang dan menengahi. Diputuskan, para dokter tersebut lolos seleksi administrasi dan bisa mengikuti ujian. Ijazah sarjana kedokteran dan transkrip nilai sarjana kedokteran akan dilengkapi kemudian jika sudah dinyatakan diterima sebagai PNS. Di luar 26 dokter yang mengajukan protes bersamaan tersebut, masih ada puluhan dokter lainnya yang mengajukan protes serupa. Mereka melakukan protes secara terpisah.

Beda persepsi
Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Batam Firmansyah menilai protes para dokter tersebut adalah soal beda persepsi di antara mereka. Dari sisi pemerintah daerah, lampiran foto kopi ijazah sarjana kedokteran dan transkrip nilai sarjana kedokteran diperlukan untuk salah satunya melihat indeks prestasi kumulatif (IPK) yang menjadi salah satu prasyarat. Pada penerimaan CPNS tahun 2010, Pemerintah Kota Batam membuka lowongan untuk 321 formasi. Posisinya meliputi 98 tenaga teknis, 112 tenaga guru, dan 111 tenaga kesehatan. Berkas lamaran yang masuk sebanyak 10.830 lembar, terdiri atas 6.006 tenaga teknis, 2.807 tenaga guru, dan 2.017 tenaga kesehatan.

1.000 komplain
Menurut Firmansyah, selama pemerintah daerah memberikan kesempatan bertanya bagi pelamar yang tidak lolos seleksi administrasi, 6 dan 8 Desember, terdapat hampir 1.000 pelamar yang bertanya. Mereka ini dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi karena terganjal syarat usia maksimal, IPK minimal, jurusan yang tidak sesuai, dan belum dilegalisasinya ijazah. ”Mereka yang terganjal paling banyak karena usia sudah lewat dan ijazah mereka belum dilegalisasi oleh lembaga pendidikan,” kata Firmansyah. (LAS)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 11:04 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:00 pm

MENKES: DOKTER INDONESIA JAUH LEBIH BAIK
Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 09/09/2009 11:13 WIB
Jakarta, Berobat ke luar negeri mungkin kini jadi tren di kalangan orang berduit. Sempat menjadi pertanyaan apakah ini karena dokter di Indonesia memang kurang bagus? Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menilai dokter Indonesia sudah jauh lebih baik. Menurutnya tidak bisa digeneralisasi bahwa semua dokter di Indonesia tidak bagus, karena jika ditelusuri lebih dalam lagi masih banyak dokter yang lebih berkualitas dibandingkan dengan dokter-dokter luar negeri. Jika dibandingkan dengan dokter-dokter di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, dokter Indonesia sebenarnya kualitasnya lebih baik. Tapi diakui Menkes, bahwa biaya kesehatan di sana lebih murah dibandingkan dengan disini, seperti untuk pemeriksaan general check-up. "Ini terlihat saat tsunami lalu, waktu disuruh mengoperasi korban di bawah tenda dengan bantuan lampu senter. Dokter dari luar negeri nggak ada yang berani, tapi dokter Indonesia berani saja melakukannya," ujar Menkes dalam acara buka puasa bersama yang digelar di kediamannya, Jakarta, Selasa (8/9/2009). Lebih lanjut Menkes menambahkan saat kejadian itu dokter dari Indonesia lebih banyak menyelamatkan warga dibandingkan dengan dokter-dokter luar. Selain itu hal serupa juga terjadi saat ada bencana gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, dokter Indonesia berhasil mengoperasi korban patah tulang terbuka sebanyak 400 korban dalam waktu 2 hari saja. "Karena itu organisasi kesehatan dunia (WHO) sangat menghormati Indonesia sebagai pusat pelatihan bencana alam," tambahnya. Menkes menilai ada beberapa alasan yang menyebabkan banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, yakni:

1. Dikirim oleh dokter yang pasien bersangkutan, karena disini tidak ada fasilitasnya.
2. Untuk bangga-banggaan atau gengsi saja dengan orang lain.
3. Kadang-kadang dokter di sini memiliki kerjasama dengan dokter di luar, jadi kalau dokter sini mengirim pasien ke sana maka dokter sini akan mendapatkan uang. Dan justru alasan ini yang paling parah.

"Saya tahu hal tersebut, karena dulunya saya adalah dokter," tukasnya. Dia berharap nantinya RS Harapan Kita, RSCM dan RS Sanglah bisa menjadi pusat untuk kesehatan dan menjadi rumah sakit internasional.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 11:05 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:01 pm

BOLEHKAH PENDIDIKAN DOKTER DISPONSORI OLEH PABRIK OBAT
Selasa, 01/02/2011 15:06 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Agar ilmunya tidak usang, para dokter wajib mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan lewat Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) yang tentu biayanya tidak murah. Di sisi lain, ada potensi konflik kepentingan ketika industri farmasi mensponsori PKB. Bagi dokter, PKB merupakan salah satu syarat untuk memperbaharui izin praktik melalui registrasi ulang setiap 5 tahun. Syarat itu bertujuan agar ilmu yang dimiliki oleh para dokter tidak usang, karena ilmu pengetahuan khususnya di bidang medis selalu berkembang. Sementara itu bagi industri farmasi, PKB merupakan kesempatan untuk menyosialisasikan hasil-hasil penelitian terbaru yang dilakukannya kepada para dokter. Pengetahuan ini diharapkan membantu para dokter untuk bisa memilihkan obat yang paling tepat untuk pasien. Bentuk dukungan lain dari industri untuk meningkatkan pengetahuan para dokter adalah lewat detailing produk atau edukasi secara langsung ke tempat-tempat praktik melalui detailer obat. Tugas detailer adalah memberi informasi mendetail tentang suatu produk ethical atau obat yang hanya bisa ditebus dengan resep dokter. Konflik kepentingan muncul ketika bentuk-bentuk dukungan ini membuat para dokter kehilangan kebebasan profesi karena merasa berhutang budi. Fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh industri kadang membuat dokter mau tidak mau akan tergoda untuk meresepkan obat buatan industri yang mensponsorinya.

Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Prof Dr Agus Purwadianto, SpF, SH, MSi, DFM dalam diskusi Pendidikan Dokter Berkesinambungan dan Kebijakan Pajak Terkait di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (1/2/2011) mengatakan potensi penyimpangan bisa terjadi di pihak dokter maupun industri. "Dalam konteks kolusi, industri menjadi pihak yang menggoda. Tapi kenyataannya ada juga oknum dokter yang menjadi 'pemaksa' untuk digoda," Prof Dr Agus dalam diskusi yang digelar oleh International Phramaceuticals Manufacturer Group (IPMG) tersebut. Prof Agus menegaskan, dokter sebagai profesi yang luhur tidak oleh menjadi pedagang yang terlibat secara langsung dalam promosi produk obat ethical. Dokter dilarang keras menerima fasilitas dalam bentuk apapun sebagai imbalan atas penulisan resep.

Sementara itu IPMG selaku perhimpunan pabrik-pabrik obat telah memiliki kode etik yang mengatur pemberian fasilitas bagi dokter, baik dalam rangka PKB maupun sebagai pembicara dalam seminar. Ketua IPMG, Dr H Luthfi Mardiansyah mengatakan industri boleh menjadi sponsor bagi dokter asal mematuhi kode etik. "PKB diperlukan untuk kepentingan dokter dalam rangka meningkatkan kualitas pengobatan pasien. Karena itu perusahaan farmasi dan dokter harus mematuhi kode etik dan mengutamakan kesembuhan pasien," ungkap Dr Luthfi. Salah satu penekanan dalam kode etik tersebut adalah bahwa segala bentuk dukungan tidak boleh didasarkan pada kewajiban bagi dokter untuk mempromosikan, merekomendasikan atau meresepkan resep suatu produk obat. Karena itu, ada larangan bagi industri untuk memberi imbalan bagi dokter atas penulisan resep. Pelanggaran atas kode etik ini akan diproses oleh sub komite Marketing Practices IPMG dan diselesaikan secara internal di organisasi tersebut. Sementara bagi dokter yang terlibat, kasusnya akan ditangani oleh MKEK.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 11:09 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:01 pm

50% DOKTER PERCAYAKAN INFORMASI OBAT DARI DETAILMAN
Kamis, 28/10/2010 15:57 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Bagaimana dokter memberikan rekomendasi obat ke pasiennya? Ternyata untuk kepentingan informasi obat, 50 persen dokter mempercayakannya dari informasi medical representative atau detailman dari perusahaan farmasi. Tugas dari medical representative adalah memperkenalkan dan memberikan informasi terbaru mengenai obat-obatan kepada dokter dan juga apoteker. Dalam tugasnya ia memberikan informasi mengenai penggunaan klinis, dosis dan juga farmakologi obat-obatan tersebut.

"Tidak selamanya medical representative itu negatif, karena kalau informasi yang diberikan berbasis riset (evidence base) maka hasilnya adalah bagus," ujar dr Prijo Sidipratomo, MD, selaku Ketua Pengurus Pusat IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).
dr Prijo menuturkan bisa saja metode yang digunakan adalah dengan mengadakan seminar di suatu tempat dan mengumpulkan beberapa medical representative, lalu dalam seminar tersebut dikaji hasil penelitian dari perusahaan farmasi tersebut. Tapi metode ini tidak berjalan dengan baik, dan pola yang masih disukai adalah dengan cara menunggu dokter di tempat ia berpraktik.

"Medical representatvie menjadi sumber yang relevan karena tugas utamanya adalah menyampaikan informasi seputar obat-obatan, informasi ini berdasar riset yang dilakukan oleh perusahaan farmasi tersebut," ujar Parulian Simanjuntak, selaku Ketua Internasional Pharmaceutical Manufactures Group (IPMG). Parulian menambahkan majunya teknik pengobatan dipengaruhi oleh hasil riset dari industri farmasi, untuk itu penting menjalin komunikasi yang baik antara industri farmasi dan juga dunia kedokteran.

"Selain itu perusahaan farmasi juga bisa memanfaatkan program-program edukasi berbasis online dan membantu memberikan layanan kesehatan yang mudah diperoleh, terjangkau dan berkualitas bagi pasien," ungkap Parulian. Meski internet bisa memberikan informasi mengenai obat-obatan, tapi tetap saja ada keterbatasan informasi. Misalnya untuk informasi obat-obatan keras yang harus menggunakan resep hanya diperuntukkan bagi kalangan dokter saja dan masyarakat tidak bisa mengaksesnya.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 1:35 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Aug 01, 2010 8:26 am

GAME MAMPU TINGKATKAN KETERAMPILAN DOKTER
Kamis, 21 Agustus 2008 - 10:04 wib[
Game ternyata tidak selamanya berdampak negatif terhadap manusia. Penelitian tim psikolog Iowa State University, AS, menemukan, game ternyata mampu membantu para dokter bedah meningkatkan keterampilan tangan. Penelitian itu mengungkap, dokter bedah yang sering bermain game ternyata melakukan hanya sedikit kesalahan saat melakukan operasi.

"Penelitian ini membuktikan bahwa game memiliki berbagai dimensi. Ada dampak negatif dan ada pula dampak positifnya. Semua itu tergantung pada bagaimana game itu dimainkan, seberapa sering seseorang bermain game, dan kontennya apa," papar ketua tim peneliti Douglas Gentile. Gentile dan rekan-rekan melakukan penelitian terhadap 33 dokter bedah spesialis laparoscopyatau pembedahan yang melibatkan penggunaan tabung kamera kecil yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien dan dikendalikan oleh dokter.

Dari sana ditemukan bahwa dokter bedah yang suka bermain game ternyata mampu melakukan prosedur pembedahan kompleks dalam waktu 27 persen lebih cepat daripada dokter bedah laparoscopy yang tidak suka bermain game. Temuan lainnya, dokter bedah yang suka bermain game juga melakukan 37 persen sedikit kesalahan daripada rekan mereka yang tidak suka bermain game. Dalam kesempatan lain, Gentile dan rekan-rekan melakukan penelitian mengenai dampak sosial game para remaja dan pemuda. Gentile menemukan, remaja dan pemuda yang kerap bermain game-game berbau kekerasan ternyata menjadi lebih brutal dan sukar memaafkan. (sindo//srn)

Sumber: OKEZONE.com
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 07, 2010 5:21 pm

KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN, PERCEPAT KESEMBUHAN
Jumat, 30 Juli 2010 | 10:54 WIB
:Kompas.com - Sehebat apa pun, para dokter tetap manusia, bisa membuat kesalahan diagnosis atau kelalaian. Pasien juga bukan sekedar objek. Dokter perlu menjelaskan kondisi dan tindakan medis yang dilakukan pada tubuh pasien. Karena itu komunikasi yang baik adalah unsur penting dalam proses penyembuhan pasien. Sayangnya, komunikasi dua arah seringkali tidak terjalin dalam hubungan dokter dan pasiennya. Pasien seolah takut untuk bertanya dan tak bisa dipungkiri masih banyak dokter yang tidak bersedia memperlakukan pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan. Kalau mau jujur, masih banyak oknum dokter yang bersikap arogan dan terkesan tak mau mendengar pendapat pasiennya.

Di berbagai tempat, mayoritas penyebab masalah antara dokter dan pasien disebabkan karena salah informasi yang menyebabkan salah interpretasi. Memang kesalahan dalam praktik medis tidak mungkin dihilangkan, karena manusia bukanlah mesin dan tidak pernah ada kasus pasien yang benar-benar identik. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini sudah ada upaya dari kalangan dokter sendiri untuk memperbaiki komunikasi dokter-pasien, namun sebagai pasien kita juga wajib mengetahui apa saja yang menjadi hak kita sebagai pasien dan membekali diri dengan informasi sehingga tidak harus melulu bersikap pasrah. Bila merasa ragu dengan keputusan dokter, pasien berhak mencari pendapat kedua dari dokter lain.

"Pasien yang aktif bertanya dan menyampaikan pendapat serta kekhawatirannya akan sangat membantu dokter untuk memahami pasien dan penyakitnya. Selama ini terdapat perbedaan yang besar antara apa yang diyakini pasien tentang penyakitnya dengan apa yang dokter ketahui," kata Richard Street Jr, seorang ahli komunikasi dari Texas A&M University, Amerika Serikat. Secara teoretis untuk melakukan diagnosis, dokter perlu berkomunikasi dan memeriksa pasien. Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk-ngetukkan tangan (perkusi), dan menggunakan alat-alat kedokteran (auskultasi). Karena itu untuk mengetahui kondisi pasien juga tak dapat digantikan dengan konsultasi perawat lewat telepon. Dokter yang berhalangan hadir ketika pasiennya membutuhkan penanganan memang diperbolehkan mendelegasikan pada dokter lain. Tetapi, pendelegasian itu seharusnya dilakukan pada dokter lain yang memiliki kualifikasi kompetensi setara.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 9:38 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
Back to top 
Page 5 of 24Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 14 ... 24  Next
 Similar topics
-
» Inikah Tulisan Dari Seorang Katolik ?!?!?!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: