Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 14 ... 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 11:50 am

DEKAN FKUI: SEPARUH DARI CALON DOKTER KURANG MILIKI EMPATI
Rabu, 22/02/2012 15:00 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Wajar bila banyak dokter masa kini yang enggan ditugaskan di daerah-daerah tertinggal. Penelitian yang dilakukan FKUI mencatat sekitar 54 persen mahasiswa kedokteran tidak punya empati dan rasa kemanusiaan yang cukup untuk menjalankan tugas pengabdian. Penelitian yang pernah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan, 35 persen mahasiswa baru masuk dalam kategori tidak disarankan jadi dokter. Hasil tes psikometri atau pengukuran aspek-aspek psikologisnya menunjukkan, empatinya terlalu rendah sebagai calon dokter. Bahkan ketika tes yang sama dilakukan lagi pada tahun keempat masa kuliah, jumlah mahasiswa yang kurang memiliki empati naik menjadi 54 persen. Padahal untuk menjadi dokter, para mahasiswa ini perlu memiliki empati yang tinggi untuk memahami kebutuhan pasiennya.

Mahasiswa kedokteran yang kurang memiliki empati dan rasa kemanusiaan ini diyakini tidak akan tertarik untuk mengabdikan diri di daerah-daerah. Kalaupun mau, belum tentu bisa bertahan karena tuntutan kebutuhan pasiennya pasti lebih tinggi dibandingkan saat bekerja di kota besar. "Tapi jangan bilang ini cuma di FKUI atau di Indonesia. Di fakultas kedokteran luar negeri, mereka juga mendapatkan angka yang kurang lebih sama," kata Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K), dekan FKUI usai orasi ilmiah bertema Dokter untuk Bangsa, Rabu (22/2/2012). Karena itu menurut Dr Ratna, idealnya calon mahasiswa kedokteran tidak hanya diseleksi berdasarkan nilai dan prestasi akademiknya. Sejarah dan latar belakang pendidikan di keluarganya juga perlu dilihat, untuk memastikan sejak kecil sudah diajari nilai-nilai kemanusiaan dan budaya saling menolong. Dalam Rancangan Undang-undang Kedokteran, Dr Ratna mengungkap bahwa komponen ini telah diusulkan untuk menjadi komponen dalam menyeleksi calon mahasiswa kedokteran. Kalaupun tidak disetujui, maka empati sebenarnya juga bisa ditanamkan dalam perkuliahan meski dalam praktiknya tidak selalu mudah.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:53 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 11:51 am

MENJADI DOKTER: KAYA DAN PINTAR
RACIKAN KHUSUS - Edisi September 2006 (Vol.6 No.2) Farmacia
Memiliki otak ‘encer’, bukan satu-satunya jaminan profesi sebagai ahli medis dapat diraih. Ada faktor yang berperan besar, yaitu biaya. Masa ujian dan hasil penerimaan mahasiswa perguruan tinggi telah usai. Ada calon mahasiswa yang bergembira karena impiannya untuk masuk fakultas favorit di perguruan tinggi yang diinginkan tercapai namun tentu saja ada yang harus mengatur ulang harapannya karena tahun 2006 ini tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Di tengah riuh gempita pengumuman penerimaan mahasiswa baru 5 Agustus lalu, sebagian besar calon mahasiswa masih berharap dapat memasuki perguruan tinggi negeri (PTN). Alasannya, selain fasilitas yang lengkap dan kualitas staf pengajar, biaya menjadi faktor utama universitas negeri kebanjiran peminat. Fakultas Kedokteran termasuk salah satu fakultas yang cukup banyak diminati calon mahasiswa.

Ketika tidak diterima di bangku kuliah PTN, bagi mereka yang memiliki latar belakang ekonomi yang cukup, menjadi ahli medis mungkin bukan sekadar angan-angan. Mereka tetap dapat memasuki perguruan tinggi swasta, meski untuk itu, mereka tetap harus menjalani tes tertentu. Artinya, ada standar kemampuan akademik yang harus mereka penuhi. Paling tidak, mereka masih dapat meletakkan harapan di bangku perguruan tinggi swasta setelah gagal menembus PTN. Beberapa dari mereka yang tidak diterima, dengan enteng menyatakan, “Untung aku udah mendaftar di swasta.” Namun beberapa dari mereka muram menjawab, “Mana mungkin, biayanya besar. Mending masuk fakultas lain.”

Seberapa besarkah biaya yang diperlukan untuk kuliah fakultas kedokteran? Seorang pria setengah baya yang ditemui di bagian Administrasi di Fakultas Kedokteran Trisakti mengaku mengeluarkan uang tidak kurang dari Rp 86 juta untuk biaya putrinya yang baru saja masuk di perguruan tinggi tersebut. Uang sebesar itu, adalah untuk pembayaran Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) sebesar Rp 75 juta, biaya Penyelenggaraan Pendidikan Pokok sebesar Rp 6 juta, Biaya 22 SKS yang per-sks-nya adalah sebesar Rp 150 ribu, dan biaya praktikum semester 1 sebesar Rp 2,5 juta. Fakultas Kedokteran Atmajaya, mematok harga yang tidak jauh berbeda dengan FK Trisakti untuk tahun ajaran baru 2006. Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) adalah sebesar Rp 75 juta hingga Rp 100 juta, yang mesti dibayarkan paling lambat akhir Agustus 2006. Selain SPP adalah biaya kuliah paket sebesar Rp 6 juta dan biaya kuliah pokok per semester adalah Rp 3 juta. Total biaya yang harus dikeluarkan orang tua mahasiswa adalah berkisar Rp 84 juta hingga Rp 109 juta.

Jumlah yang dikeluarkan untuk memasuki fakultas kedokteran di dua universitas tersebut, yang setara dengan harga rumah BTN type 36 type 90 di daerah pinggiran Jakarta, mungkin dianggap fantastik oleh orang kebanyakan. Nyatanya, FK Trisakti ataupun FK Atmajaya tetap kebanjiran mahasiswa yang berharap dokter menjadi profesi yang akan disandang di masa depan. Mereka yang memiliki kemampuan finansial dan akademik cukup baik, juga tetap dapat mengikuti kuliah di fakultas negeri. Universitas Indonesia, misalnya, membuka program untuk kuliah di fakultas kedokteran dengan jalur khusus. Biayanya, Rp 250 juta untuk lima tahun masa pendidikan kedokteran yang harus dibayar sekaligus di awal masa perkuliahan. Mereka yang masuk lewat jalur ini sebelumnya harus melalui proses Seleksi Penerimaan mahasiswa Baru (SPMB) UI namun juga mendaftarkan diri pada program yang disebut Program Pengembangan Dokter Daerah (PPDD). Program ini ditujukan terutama untuk calon mahasiswa yang berasal dari daerah luar Jawa dan bali untuk dididik menjadi dokter yang siap mengabdi ke daerah asalnya. Tidak hanya UI, fakultas kedokteran lain di luar Jakarta juga menerapkan kebijakan serupa, seperti Universitas Gajah Mada dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dengan menerima mahasiswa melalui jalur khusus yang memasang harga lebih tinggi. UNS misalnya, mematok uang masuk sebesar Rp 100 juta di luar biaya setiap semesternya untuk jalur masuk fakultas kedokteran khusus ini.

Mahal dan Harapan
Dibanding dengan fakultas lain, fakultas kedokteran menyerap dana dari mahasiswa lebih tinggi. Universitas Atmajaya, untuk fakultas di luar kedokteran menetapkan uang SPP berkisar Rp 1 juta hingga Rp 15 juta dan uang yang dikeluarkan tiap semesternya berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Universitas Trisakti, mahasiswa di luar fakultas kedokteran dibebankan biaya SPP antara Rp 9 juta hingga Rp 20 juta dan biaya BPP pokok tiap semester antara Rp 2,5 juta hingga Rp 4,5 juta. Semua itu ditambah dengan uang praktikum sebesar Rp 1,5 hingga 5 juta. Sangat berbeda dengan praktikum fakultas kedokteran yang menelan biaya sebesar Rp 10 juta. Mereka yang tengah menuntut ilmu di fakultas kedokteran, mengakui bahwa biaya kuliah yang harus dibayar untuk menjadi ahli medis memang relatif mahal. “Kuliah di FK memang mahal,” kata Agatha, 22 tahun, yang kini duduk di semester 9, FK Universitas Atmajaya. Ia, misalnya, selain untuk biaya per semesternya, juga harus mengeluarkan biaya untuk buku-buku yang kebanyakan ia dapatkan dengan cara fotocopy yang besarnya kira-kira Rp 500 ribu setiap semesternya. “Belum lagi setelah menyelesaikan kuliah, untuk masuk klinik, perlu biaya yang tidak murah,” ujar mahasiswi yang memulai kuliahnya tahun 2002 ini.

Namun, menurut Agatha, biaya yang dibayarkan sepadan dengan ilmu yang ia dapatkan. “Ilmu kedokteran kan berbeda dengan ilmu lain. Untuk melakukan praktikum misalnya kan butuh preparat dan bahan praktik yang tidak murah,” kata wanita berkulit putih ini. Senada dengan Agatha, Aldi, 23 tahun, mahasiswa fakultas kedokteran Trisakti juga setuju jika dikatakan menuntut ilmu di fakultas kedokteran menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Untuk keperluan buku dan diktat kuliah, ia menghabiskan dana antara Rp 500 hingga 1 juta tiap semesternya. Belum ditambah biaya praktikum yang besarnya Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu setiap semesternya. Setelah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, baik Agatha maupun Aldi menolak bahwa setelah lulus mereka cepat dapat ‘balik modal’ dengan profesi ini. “Nggak bisa deh hitung-hitungan begitu. Kalau pengen cepet kaya, jangan jadi dokter. Sudah biayanya tinggi, kuliahnya lama, penghasilannya sedikit,” ujar pria yang tengah menjalani masa ko-as ini.

Namun dalam jangka panjang, Aldi mengakui profesi dokter bisa memberikan kehidupan yang menjanjikan. “Mungkin nanti setelah ambil spesialis dan ilmu kita bertambah,” ujar pria berkacamata ini. Menurutnya, berbeda dengan profesi lain, setelah tua, seorang dokter bukan saja masih bisa mengabdikan ilmunya namun ia akan makin dibutuhkan karena pengalamannya. Yohanes, 24 tahun, mahasiwa fakultas kedokteran Universitas Indonesia sependapat jika dikatakan biaya kedokteran mahal. Meski menganggap hal itu sebuah kewajaran, menurutnya hal itu bukan alasan untuk menghitung biaya yang dikeluarkan saat kuliah dengan kemampuan menghasilkan uang ketika seseorang berhasil menjadi seorang ahli medis. Ia tidak menampik bahwa pada akhirnya materi bukanlah hal yang tabu untuk dikejar, namun unsur itu bukanlah berada pada prioritas utama. Ia, juga sangat mendukung program Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang menempatkan dokter ke daerah-daerah tertentu, yang nota bene tidak menjanjikan memberikan penghasilan yang tinggi. “PTT sudah selayaknya dilakukan,” ujarnya.

Yohanes mengaku cukup beruntung karena bisa menuntut ilmu medis di perguruan tinggi negeri lewat jalur reguler, yang meskipun biayanya lebih tinggi dibanding fakultas lain, namun relatif lebih murah dibanding rekan-rekannya yang tidak berhasil mendapatkan kursi di PTN. Untuk tiap semesternya ia mengeluarkan biaya Rp 1,5 juta. Menjadi seorang ahli medis, nyatanya tidak cukup bermodalkan kemampuan akademik. Kemampuan finansial, memiliki peran yang tidak kecil. Buat mereka yang tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, barangkali harus berjuang lebih keras, agar cita-cita menjadi seorang ahli medis tidak kandas, karena masalah biaya. Perjuangan awal dimulai dengan memperebutkan kursi Perguruan Tinggi Negeri yang sangat sedikit jumlahnya. Pada akhirnya, mereka yang berhasil memperoleh gelar ahli medis diharapkan tetap memiliki modal yang tidak kalah penting, yaitu tetap meletakkan nilai-nilai kemanusiaan yang memang sangat dekat dengan profesi ini, sebagai prioritas utama.
(ika)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 29, 2012 3:07 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:27 pm

DOKTER UMUM BISA PERCEPAT PENCAPAIAN MDGs
Jumat, 25 Maret 2011 | 06:32 WIB
Jakarta, Kompas - Dokter umum berpotensi mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium bidang kesehatan, khususnya sasaran yang tertinggal jauh, seperti pengendalian HIV/AIDS, penurunan angka kematian bayi, dan penurunan angka kematian ibu. Potensi itu belum dimaksimalkan. ”Ada sekitar 70.000 dokter umum dan jumlahnya terus meningkat. Jumlah dokter umum jauh lebih banyak dari dokter spesialis. Di Indonesia terdapat 72 fakultas kedokteran yang menghasilkan sekitar 5.000 lebih dokter umum setiap tahunnya. Para dokter umum ini juga garda terdepan karena biasanya ada di layanan kesehatan primer masyarakat,” ujar Ketua Harian Presidium Nasional Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Imelda Datau seusai pembukaan ”Peningkatan Kompetensi Dokter Umum Menuju Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata, dan Berkeadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Kamis (24/3).

Dokter umum tidak hanya dididik secara medis, tetapi juga dibekali kemampuan kepemimpinan sehingga dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Mereka juga tersebar di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk daerah terpencil.
Imelda mengakui, potensi dokter umum belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Indonesia. Dari segi distribusi, misalnya, sekalipun sebarannya lebih baik dari dokter spesialis, sebagian besar dokter umum berada di perkotaan. ”Saya tidak ada data persisnya. tetapi sebagai gambaran, masih lebih dari 30 persen puskesmas tidak memiliki dokter umum. Kelangkaan dokter terutama di luar Jawa, khususnya di daerah terpencil,” ujarnya. Potensi itu juga belum termanfaatkan karena terbatasnya kewenangan dokter umum. Ia mencontohkan, untuk membantu persalinan, dokter umum harus didampingi subspesialis. Padahal, dokter umum setidaknya telah dibekali pengetahuan untuk itu. ”Kebijakan pemerintah untuk memberi kewenangan tambahan ke dokter umum nantinya dapat menjadi daya tarik juga bagi dokter umum, terutama untuk mengabdi di daerah-daerah yang minim dokter,” ujarnya. (INE)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:47 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:27 pm

DOKTER/DOKTER GIGI FIGUR PENOLONG KEMANUSIAAN
Hari ini (21/7) Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih MPH, Dr.PH. membuka Seminar Nasional Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bertema Pemenuhan Pelayanan Kedokteran Bermutu Sebagai Wujud Perlindungan Masyarakat. Dalam sambutannya Menkes menyatakan, dokter/dokter gigi (dr./drg.) adalah figur penolong kemanusiaan. Agar kesan ini tertanam di masyarakat, dr./drg, perlu rela berkorban, peduli pada penderitaan pasien, empati, menghargai hak-hak pasien, dan menjadi pendidik masyarakat agar berperilaku hidup bersih dan sehat. “Kesemuanya ini adalah inti dari keluhuran profesi dr./drg. dalam lingkup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif”, tegas Menkes. Menkes menambahkan, keluhuran profesi dr./drg. adalah peneguh janji kepada masyarakat sesudah sumpah yang dilafalkan di almamater masing-masing. Termasuk janji untuk setiap 5 tahun mempertahankan kompetensi melalui Continuing Professional Development (CPD). CPD merupakan rangkaian proses re-sertifikasi profesi melalui rantai peran kolegium organisasi profesi (OP) dan KKI. “Kerja sama yang mantap, berdedikasi tinggi, tulus, terkoordinasi, dan cerdas antara Organisasi Profesi (OP) beserta kolegiumnya sangat diperlukan. Kerja sama penyelenggara CPD termasuk FK/FKG dan RS Pendidikan dengan KKI, harus dipupuk dan dikembangkan. Hendaknya diperhitungkan dengan tepat agar semua dr./drg. berpeluang sama untuk memasuki pintu terpusat di KKI. Jika tidak, akan berpotensi menimbulkan obstruksi pelayanan”, ujar Menkes.

Meski demikian kerja sama ini tidak boleh mengorbankan dr./drg yang tengah menunggu proses re-sertifikasi menjelang re-registrasi, ataupun mengorbankan masyarakat. Sebab, para dr./drg. khususnya di Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK), di birokrasi, dan yang sedang mengambil pendidikan akan menjadi korban akibat kurang lancarnya kerja sama antara para pemangku kepentingan tersebut, tambah Menkes. Menurut Menkes, setiap dokter dan dokter gigi adalah teladan masyarakat luas. Oleh karenanya, harus berperilaku elok dan terpuji. Dengan demikian akan terwujud pemenuhan standar pendidikan dan praktik kedokteran yang ditetapkan oleh KKI. Menkes menyatakan, KKI merupakan mitra Pemerintah dalam melaksanakan kebijakan kesehatan, khususnya yang menyangkut praktik kedokteran. Bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), asosiasi institusi pendidikan kedokteran, RS pendidikan dan kolegium profesi, Pemerintah mengembangkan pola koordinasi sekaligus pengaturan bidang kedokteran. Menkes menilai, Seminar Nasional KKI kali ini relevan dengan upaya Kemkes untuk meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang bermutu. Menkes berharap, KKI dan Organisasi Profesi (OP) mampu memberikan kontribusi saran dan kerja sama terhadap reformasi birokrasi yang tengah dijalankan di bidang kesehatan. Selanjutnya, KKI dan OP melalui kolegium spesialisnya masing-masing mereformasi diri untuk memperbesar jumlah daya produksi dokter spesialis yang diperlukan masyarakat, memantapkan sistem rujukan, dan mengawal terbentuknya BPJS Kesehatan.

KKI melalui Majelis Kehormatan dan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan OP melalui Majelis Kode Etik Kedokteran/ Majelis Kode Etik Kedokteran Gigi (MKEK/MKEKG) dan majelis kolegiumnya, ikut membina dan mengawasi anggotanya supaya menjalankan clinical pathway yang etis, sesuai standar profesi dengan pelayanan medik dan sesuai ketentuan INA-CBG. Selain itu, menerapkan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) di semua lini faslitas pelayanan kesehatan. Mencegah, mengawasi, dan menyelesaikan konflik etikolegal antar sejawat yang belum reda, serta tidak mengkomersialisasikan praktiknya, tutur Menkes. Menkes menekankan semua peserta seminar untuk perkokoh PPNS (penyidik pegawai negeri sipil) khusus kesehatan serta tim aparatur pengawasan dan pembinaan praktik kedokteran. Demi kepentingan terbaik pasien,para dokter spesialis harus saling berkomunikasi satu sama lain dalam menangani pasien dengan komplikasi. Jangan menolak pasien atau meminta uang muka dari pasien gawat darurat. Jangan saling menjelekkan sejawat; tidak menyuburkan pelayanan yang terkotak-kotak; jangan menyandera pasien, kurang menghargai atau gagal mengelola hak atas informasi pasien, atau menyandera bayi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau e-mail, info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:52 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:29 pm

33% FAKULTAS KEDOKTERAN BELUM TERAKREDITASI
Kamis, 12/04/2012 16:59 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Saat ini, di Indonesia terdapat lebih dari 70 fakultas kedokteran baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kualitasnya tentu berbeda-beda, bahkan 33 persen perlu diragukan karena belum terakreditasi. Perlukah masyarakat khawatir? "Jelas mengkhawatirkan. Itu yang sedang dibenahi dengan suatu mekanisme kemitraan antara fakultas kedokteran yang kuat dengan yang lemah," kata Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K), Sekjen Asosiasi Institusi Pendidikan Indonesia (AIPKI) usai sarasehan 3 Pilar Pendidikan Kendokteran Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis (12/4/2012). Menurut Dr Ratna, dari 70 lebih fakultas kedokteran yang ada di Indonesia hanya sekitar 17 yang memiliki akreditasi A. Selebihnya, 19 fakultas memiliki akreditasi B, 10 akreditasi C dan sisanya sebanyak 33 persen belum terakreditasi atau terakreditasi rendah. Mekanisme kemitraan yang dimaksud Dr Ratna adalah HPEQ atau Health Professional Education Quality. Dalam pelaksanaannya, falkultas kedokteran yang memiliki kualitas bagus ikut mendampingi fakultas kedokteran yang masih tertinggal agar bisa sama-sama maju.

Mengenai kualitasnya, Dr Ratna mengatakan bagus tidaknya lulusan sebuah fakultas kedokteran biasanya akan kelihatan saat ujian kompetensi. Lulusan fakultas kedokteran yang kurang berkualitas biasanya banyak yang gagal dalam uji kompetensi dan harus mengulang hingga beberapa kali. "Menurut data UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia), ada 8 fakultas kedokteran di Indonesia yang selalu menyumbang 'retaker'. Artinya selalu ada lulusan dari fakultas tersebut yang terpaksa harus mengulang ujian karena pada ujian sebelumnya tidak lulus. Bahkan ada yang sampai mengulang 18 kali," kata Dr Ratna. Kualitas fakultas kedokteran hanyalah 1 dari 3 pilar utama dalam memperbaiki kualitas dokter Indonesia. Dua pilar lainnya adalah rumah sakit pendidikan yang berkualitas, serta kolegium atau perhimpunan profesi yang bertugas menyusun pedoman dan standar pendidikan.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 29, 2012 3:14 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:32 pm

79% DOKTER PERCAYAKAN SUMBER INFORMASI DARI INTERNET
Kamis, 28/10/2010 14:55 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Dokter akan selalu membutuhkan informasi terkini mengenai kesehatan atau penyakit tertentu. Dari hasil survei Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekitar 79 persen dokter mempercayakan sumber informasinya dari internet. Hasil ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh IndoPacific Edelman yang bekerja sama dengan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (URPM FKM UI). Survei ini melibatkan 300 dokter yang dipilih secara acak di daerah Jabodetabek yang terdiri dari 57 persen dokter umum dan 43 persen dokter spesialis.

Survei ini memperlihatkan bahwa sekitar 79 persen dokter mempercayai internet sebagai sumber informasi. Sumber informasi lain yang digunakan dokter adalah majalah kedokteran, jurnal kedokteran, seminar kedokteran dan juga media lain seperti koran, televisi atau tabloid. Sebagian besar dokter yang aktif menggunakan internet juga menyarankan pasiennya untuk menggunakan internet atau situs kesehatan sebagai acuan informasi yang terkait dengan kesehatan atau medis. "Setelah ada internet maka bisa mengubah komunikasi antara dokter dan juga klien (pasien) menjadi lebih efektif. Karena kalau informasinya sudah efektif, maka pengobatan yang dilakukan akan menjadi lebih baik," ujar Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH dari FKM UI, dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Prijo Sidipratomo, MD menuturkan bagi para dokter informasi bisa didapatkan dari jurnal-jurnal kedokteran yang cukup baik seperti New England Journal of Medicine. Sedangkan bagi masyarakat membaca jurnal mungkin agak sulit untuk dimengerti, karenanya salah satu tugas dokter adalah mengedukasi masyarakat. "Dipercayanya media dan situs di internet sebagai salah satu sumber informasi membuat saluran ini berpotensi digunakan untuk tujuan edukasi. Tapi hal ini harus tetap mempertimbangkan diagnosa dokter dan komunikasi yang tepat," ujar dr Prijo.

Dampak internet juga mempengaruhi hubungan antara dokter dan pasien. Hal ini karena pasien akan menjadi lebih kritis (banyak bertanya) atau ingin mendiskusikan informasi yang diterimanya dengan dokter. Kondisi ini tentu saja menuntut dokter untuk mencari informasi lebih banyak lagi dan juga memperbaiki cara berkomunikasinya. Dampak internet lainnya adalah membuat sebagian besar dokter menjadi lebih aktif berinteraksi dengan koleganya serta berbagi informasi kepada orang-orang lain selain pasien, misalnya melalui blog pribadinya.

Ditambahkan Prof Thabrany bahwa salah satu faktor yang membuat banyak masyarakat berobat ke luar negeri adalah komunikasi yang jelek antara dokter dan pasien. Karenanya kalau komunikasi keduanya sudah baik, maka bisa menurunkan jumlah pasien yang berobat ke luar negeri. Selain itu perlu juga menyadarkan masyarakat tentang haknya untuk bertanya, seperti sakit apa serta obat yang diberikan. Karena kalau tidak ada pertanyaan, maka tidak ada pencerahan tentang komunikasi yang baik antara dokter dan pasien.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 1:32 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Jul 25, 2010 4:18 pm

IDI COBA DENGAR SUARA RAKYAT
Minggu, 23 Mei 2010 | 05:27 WIB
KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, 28 Mei 2008, mengatakan, ”Yang paling bernostalgia kalau dibicarakan soal Kebangkitan Nasional adalah komunitas dokter.” Tahun 1908, dokter muda, Sutomo dan Wahidin Sudiro Husodo, memelopori gerakan kebangsaan yang pertama. Mereka kemudian mendirikan gerakan Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. ”Dokter muda itu yang menggerakkan sejarah,” ujar SBY pada ulang tahun ke-100 Kebangkitan Nasional di depan para anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pada ulang tahun ke-100 Kebangkitan Nasional, IDI yang saat itu dipimpin dr Fachmi Idris (Ketua Umum) dan Zaenal Abidin (Sekretaris Jenderal dan sekarang jadi Ketua Umum terpilih untuk periode 2009-2012) mencanangkan konsultasi kesehatan gratis. Menurut dr Mahesa Paranadipa, Manajer Eksekutif Pengembangan Pendidikan Keprofesionalan IDI, Sabtu (22/5/2010) di Jakarta, konsultasi gratis itu kini telah berjalan selama tiga tahun. Namun, sebagian besar rakyat Indonesia, terutama di wilayah- wilayah kumuh di perkotaan, tidak bisa menjangkau konsultasi gratis itu. Beberapa dokter muda IDI mencoba mendatangi sebagian kecil kawasan kumuh itu.

Dengarkan suara rakyat
Sepanjang hari Jumat (21/5/2010) dan Sabtu (22/5/2010), dr Zaenal Abidin dan dr Mahesa Paranadipa serta beberapa dokter muda lainnya menyelusuri tepi anak Sungai Ciliwung yang paralel dengan jalur kereta api dari depan Hotel Sanggri-La sampai wilayah Kampung Melayu, Jakarta Timur. Di sebuah warung kopi dan makanan dekat pintu kereta api serta sebuah jembatan beton di Manggarai, Jakarta Pusat, rombongan dokter muda ini berhenti dan berdiskusi dengan Beti Sugiarto (janda usia 47 tahun), Eni (janda 68 tahun asal Parung, Bogor, Jawa Barat), Amirin (23), Yadi (pengemudi kendaraan umum), Iro, Jembleng, Sulasti, dan lain-lainnya. Pembicaraan mereka sering tidak terdengar karena selama dua jam dialog berlangsung, hampir lima kali kereta api melintas dengan suara berderu keras. Cerita-cerita yang didapat dari pertemuan di warung itu seperti ini: ”Seorang wanita muda punya anak lima dan ayahnya lima orang, tidak bisa berobat karena tidak punya uang tidak punya KTP, mengobati penyakit kelamin dengan disiram bensin kemaluannya”. Pokoknya, mereka bercerita tentang kenestapaan. Namun, cerita itu disampaikan dengan tawa riang. ”Kerawanan kesehatan sudah menjadi napas kehidupan mereka,” ujar Zaenal. Warung tempat pertemuan antara penduduk dan para dokter muda itu dekat dengan jembatan beton dan beraspal sepanjang lima meter. Di bawah aspal jembatan ada tiang beton tebal sebagai penyangga. Dua meter di bawah beton-beton itu, permukaan air sungai terlihat keruh. Di bawah jembatan tersebut, tiap malam, sebanyak 15 keluarga (sekitar 35 orang) tidur. ”Hampir tiap malam ada anak kecil yang kecemplung di air sungai. Akan tetapi, mereka bisa berenang dan kembali tidur lagi di atas beton itu,” cerita Jemleng kepada para dokter muda. ”Mereka adalah orang-orang terabaikan. Kami hanya bisa mendengarkan dan hadir di antara mereka pada ulang tahun Kebangkitan Nasional ke-102 ini,” ujar Mahesa. (OSD)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 9:35 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Jul 25, 2010 4:45 pm

IJAZAH DISOAL, PULUHAN DOKTER PROTES
Kamis, 9 Desember 2010 | 03:59 WIB
BATAM, KOMPAS - Puluhan dokter memprotes Badan Kepegawaian Daerah selaku penyelenggara tes calon pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Batam, Rabu (8/12). Protes ini terjadi karena mereka tidak lolos seleksi administrasi gara-gara persyaratan lampiran foto kopi ijazah yang dipersoalkan pemerintah daerah. Protes dilakukan 26 dokter umum secara bersama-sama dengan menemui Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Batam Firmansyah di kantor Pemerintah Kota Batam. Pada hari tersebut dan juga 6 Desember, kebetulan pemerintah daerah menyediakan waktu bagi peserta yang dinyatakan tidak lulus seleksi administrasi untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan dari Panitia Penanganan Masalah. Menurut dr Zaini A Saragih, rata-rata dokter yang melamar sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) Pemerintah Kota Batam melampirkan ijazah profesi dokter dan transkrip profesi kedokteran. Sementara yang dimaksud pemerintah daerah adalah ijazah sarjana kedokteran dan transkrip nilai sarjana kedokteran. Pengetahuan yang sederhana ini umum diketahui. ”Di mana-mana, dokter umum itu kalau melamar pekerjaan yang dilampirkan adalah ijazah profesi dokter dan transkrip profesi kedokteran. Batam ini aneh,” kata Zaini.

Adu argumen
Sempat terjadi adu argumentasi yang sengit antara para dokter dan pihak Badan Kepegawaian Daerah. Akhirnya pejabat inspektorat Pemerintah Kota Batam datang dan menengahi. Diputuskan, para dokter tersebut lolos seleksi administrasi dan bisa mengikuti ujian. Ijazah sarjana kedokteran dan transkrip nilai sarjana kedokteran akan dilengkapi kemudian jika sudah dinyatakan diterima sebagai PNS. Di luar 26 dokter yang mengajukan protes bersamaan tersebut, masih ada puluhan dokter lainnya yang mengajukan protes serupa. Mereka melakukan protes secara terpisah.

Beda persepsi
Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Batam Firmansyah menilai protes para dokter tersebut adalah soal beda persepsi di antara mereka. Dari sisi pemerintah daerah, lampiran foto kopi ijazah sarjana kedokteran dan transkrip nilai sarjana kedokteran diperlukan untuk salah satunya melihat indeks prestasi kumulatif (IPK) yang menjadi salah satu prasyarat. Pada penerimaan CPNS tahun 2010, Pemerintah Kota Batam membuka lowongan untuk 321 formasi. Posisinya meliputi 98 tenaga teknis, 112 tenaga guru, dan 111 tenaga kesehatan. Berkas lamaran yang masuk sebanyak 10.830 lembar, terdiri atas 6.006 tenaga teknis, 2.807 tenaga guru, dan 2.017 tenaga kesehatan.

1.000 komplain
Menurut Firmansyah, selama pemerintah daerah memberikan kesempatan bertanya bagi pelamar yang tidak lolos seleksi administrasi, 6 dan 8 Desember, terdapat hampir 1.000 pelamar yang bertanya. Mereka ini dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi karena terganjal syarat usia maksimal, IPK minimal, jurusan yang tidak sesuai, dan belum dilegalisasinya ijazah. ”Mereka yang terganjal paling banyak karena usia sudah lewat dan ijazah mereka belum dilegalisasi oleh lembaga pendidikan,” kata Firmansyah. (LAS)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 11:04 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:00 pm

MENKES: DOKTER INDONESIA JAUH LEBIH BAIK
Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 09/09/2009 11:13 WIB
Jakarta, Berobat ke luar negeri mungkin kini jadi tren di kalangan orang berduit. Sempat menjadi pertanyaan apakah ini karena dokter di Indonesia memang kurang bagus? Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menilai dokter Indonesia sudah jauh lebih baik. Menurutnya tidak bisa digeneralisasi bahwa semua dokter di Indonesia tidak bagus, karena jika ditelusuri lebih dalam lagi masih banyak dokter yang lebih berkualitas dibandingkan dengan dokter-dokter luar negeri. Jika dibandingkan dengan dokter-dokter di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, dokter Indonesia sebenarnya kualitasnya lebih baik. Tapi diakui Menkes, bahwa biaya kesehatan di sana lebih murah dibandingkan dengan disini, seperti untuk pemeriksaan general check-up. "Ini terlihat saat tsunami lalu, waktu disuruh mengoperasi korban di bawah tenda dengan bantuan lampu senter. Dokter dari luar negeri nggak ada yang berani, tapi dokter Indonesia berani saja melakukannya," ujar Menkes dalam acara buka puasa bersama yang digelar di kediamannya, Jakarta, Selasa (8/9/2009). Lebih lanjut Menkes menambahkan saat kejadian itu dokter dari Indonesia lebih banyak menyelamatkan warga dibandingkan dengan dokter-dokter luar. Selain itu hal serupa juga terjadi saat ada bencana gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, dokter Indonesia berhasil mengoperasi korban patah tulang terbuka sebanyak 400 korban dalam waktu 2 hari saja. "Karena itu organisasi kesehatan dunia (WHO) sangat menghormati Indonesia sebagai pusat pelatihan bencana alam," tambahnya. Menkes menilai ada beberapa alasan yang menyebabkan banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, yakni:

1. Dikirim oleh dokter yang pasien bersangkutan, karena disini tidak ada fasilitasnya.
2. Untuk bangga-banggaan atau gengsi saja dengan orang lain.
3. Kadang-kadang dokter di sini memiliki kerjasama dengan dokter di luar, jadi kalau dokter sini mengirim pasien ke sana maka dokter sini akan mendapatkan uang. Dan justru alasan ini yang paling parah.

"Saya tahu hal tersebut, karena dulunya saya adalah dokter," tukasnya. Dia berharap nantinya RS Harapan Kita, RSCM dan RS Sanglah bisa menjadi pusat untuk kesehatan dan menjadi rumah sakit internasional.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 11:05 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:01 pm

BOLEHKAH PENDIDIKAN DOKTER DISPONSORI OLEH PABRIK OBAT
Selasa, 01/02/2011 15:06 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Agar ilmunya tidak usang, para dokter wajib mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan lewat Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) yang tentu biayanya tidak murah. Di sisi lain, ada potensi konflik kepentingan ketika industri farmasi mensponsori PKB. Bagi dokter, PKB merupakan salah satu syarat untuk memperbaharui izin praktik melalui registrasi ulang setiap 5 tahun. Syarat itu bertujuan agar ilmu yang dimiliki oleh para dokter tidak usang, karena ilmu pengetahuan khususnya di bidang medis selalu berkembang. Sementara itu bagi industri farmasi, PKB merupakan kesempatan untuk menyosialisasikan hasil-hasil penelitian terbaru yang dilakukannya kepada para dokter. Pengetahuan ini diharapkan membantu para dokter untuk bisa memilihkan obat yang paling tepat untuk pasien. Bentuk dukungan lain dari industri untuk meningkatkan pengetahuan para dokter adalah lewat detailing produk atau edukasi secara langsung ke tempat-tempat praktik melalui detailer obat. Tugas detailer adalah memberi informasi mendetail tentang suatu produk ethical atau obat yang hanya bisa ditebus dengan resep dokter. Konflik kepentingan muncul ketika bentuk-bentuk dukungan ini membuat para dokter kehilangan kebebasan profesi karena merasa berhutang budi. Fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh industri kadang membuat dokter mau tidak mau akan tergoda untuk meresepkan obat buatan industri yang mensponsorinya.

Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Prof Dr Agus Purwadianto, SpF, SH, MSi, DFM dalam diskusi Pendidikan Dokter Berkesinambungan dan Kebijakan Pajak Terkait di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (1/2/2011) mengatakan potensi penyimpangan bisa terjadi di pihak dokter maupun industri. "Dalam konteks kolusi, industri menjadi pihak yang menggoda. Tapi kenyataannya ada juga oknum dokter yang menjadi 'pemaksa' untuk digoda," Prof Dr Agus dalam diskusi yang digelar oleh International Phramaceuticals Manufacturer Group (IPMG) tersebut. Prof Agus menegaskan, dokter sebagai profesi yang luhur tidak oleh menjadi pedagang yang terlibat secara langsung dalam promosi produk obat ethical. Dokter dilarang keras menerima fasilitas dalam bentuk apapun sebagai imbalan atas penulisan resep.

Sementara itu IPMG selaku perhimpunan pabrik-pabrik obat telah memiliki kode etik yang mengatur pemberian fasilitas bagi dokter, baik dalam rangka PKB maupun sebagai pembicara dalam seminar. Ketua IPMG, Dr H Luthfi Mardiansyah mengatakan industri boleh menjadi sponsor bagi dokter asal mematuhi kode etik. "PKB diperlukan untuk kepentingan dokter dalam rangka meningkatkan kualitas pengobatan pasien. Karena itu perusahaan farmasi dan dokter harus mematuhi kode etik dan mengutamakan kesembuhan pasien," ungkap Dr Luthfi. Salah satu penekanan dalam kode etik tersebut adalah bahwa segala bentuk dukungan tidak boleh didasarkan pada kewajiban bagi dokter untuk mempromosikan, merekomendasikan atau meresepkan resep suatu produk obat. Karena itu, ada larangan bagi industri untuk memberi imbalan bagi dokter atas penulisan resep. Pelanggaran atas kode etik ini akan diproses oleh sub komite Marketing Practices IPMG dan diselesaikan secara internal di organisasi tersebut. Sementara bagi dokter yang terlibat, kasusnya akan ditangani oleh MKEK.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 11:09 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 24Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 14 ... 24  Next
 Similar topics
-
» Kenapa saya (seorang Kristen) suka topik mualaf
» pentingnya sikap tawadhu (rendah hati)
» Kapan puasa pertama kali dimulai..?
» benarkah Nabi Adam as manusia pertama dibumi ini???
» "SUNDA" ... ADALAH "AGAMA" PERTAMA DIDUNIA..!!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: