Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 14 ... 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jun 25, 2010 9:32 pm

WOW, MASUK KEDOKTERAN UNAIR Rp 800 JUTA!
Rabu, 21 Juli 2010 | 15:36 WIB
SURABAYA, KOMPAS.com — Biaya masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan Umum atau PMDK Umum atau non-prestasi tenyata benar-benar selangit. Di perguruan tinggi negeri sekelas Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, biaya masuk ke fakultas tertentu, seperti Fakultas Kedokteran Umum, bisa mencapai Rp 800 juta. Biaya sebesar itu disebut secara resmi sebagai sumbangan partisipasi pembangunan pendidikan (SP3). Padahal, biaya tersebut baru sebagai uang masuk.

Untuk biaya kuliah per semester, mahasiswa jalur PMDK non-prestasi ini masih harus membayar lagi. Dalam pengumuman resmi di situs unair.ac.id, disebutkan bahwa minimal SP3 Fakultas Kedokteran Umum Unair adalah Rp 150 juta. Angka tersebut bisa meningkat sampai Rp 800 juta seperti yang disebut di atas karena SP3 ini diterapkan secara dinamis dengan mengikuti minat dan tren pendaftar.

PMDK Umum adalah salah satu program Unair untuk menjaring mahasiswa baru melalui seleksi yang diadakan sendiri. Program ini sudah dilakukan beberapa tahun belakangan setelah program ekstensi dihapus. Menurut informasi, Universitas Airlangga (Unair) menyediakan dua gelombang untuk penerimaan mahasiswa lewat PMDK Umum. Gelombang pertama jalur ini sudah berlalu, yaitu pendaftaran hingga tes dilakukan pada 26 April sampai 1 Mei lalu. Ini berarti mendahului waktu seleksi nasional mahasiswa perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dan setelah PMDK Prestasi.

Sementara itu, gelombang kedua akan dilangsungkan pada 26–31 Juli mendatang. Gelombang pertama sudah terpenuhi 30 persen dari jumlah pagu kursi yang disediakan di Fakultas Kedokteran Umum. Setiap gelombang menyediakan sekitar 90 kursi. Namun, meski dikenai biaya supermahal, Unair masih mensyaratkan tes untuk peserta PMDK Umum. Hanya, di program ini siapa pun—tentu yang punya uang banyak—boleh mendaftar dan mereka tidak dibatasi prestasi akademik.

Ini berbeda dengan jalur PMDK Prestasi yang mensyaratkan bahwa pendaftarnya harus menempati ranking lima besar di sekolahnya (SMA). Di PMDK Umum, bahkan lulusan SMA tiga tahun sebelumnya, yakni tahun 2008, 2009, dan 2010, bisa mendaftar. “Pada PMDK Umum yang sudah berlangsung sebelumnya, dana SP3 telah menembus Rp 500 juta atau setengah miliar," kata sebuah sumber di Unair, Selasa (20/7/2010).

Sumber yang bisa dipercaya itu menjelaskan, biaya masuk program PMDK Umum untuk studi kedokteran memang tergolong tinggi. Ia pun menganggap wajar kedinamisan biaya masuk PTN yang sudah menjadi badan hukum milik negara (BHMN) ini. “Biaya masuk PMDK Umum untuk program studi kedokteran memang tergolong tinggi, tapi kami tetap selektif. Tahun lalu ada yang mampu membayar Rp 800 juta. Tapi kami tolak karena siswanya tidak layak masuk kedokteran. Kasihan siswanya sendiri nanti jika dipaksakan,” kata sumber itu kepada Surya.

Biaya bervariasi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, besaran biaya masuk di masing-masing fakultas untuk program PMDK Umum ini bervariasi. Kedokteran Umum adalah yang termahal, diikuti Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi. Untuk Kedokteran Gigi, SP3 minimal Rp 75 juta dan Farmasi Rp 25 juta. Adapun untuk jurusan sosial, yang mahal adalah Jurusan Akuntansi dengan biaya minimal Rp 22,5 juta. Sumbangan tersebut belum termasuk uang kuliah tiap semester. Berdasarkan sebuah keterangan, jalur PMDK Umum ini akan dikenai biaya kuliah antara Rp 3,5 juta dan Rp 6 juta per semester. Salah seorang calon mahasiswa yang sudah dinyatakan diterima di Unair lewat PMDK Umum mengaku mencabutnya lantaran diterima melalui jalur SNMPTN.

Hilal Mursyidi, siswa asal Gresik itu, semula dinyatakan diterima di Jurusan Farmasi Unair melalui PMDK Umum gelombang pertama. Meski begitu, dia masih mencoba mengikuti tes SNMPTN dan ternyata diterima di jurusan yang sama. Padahal, Hilal sudah membayar Rp 31 juta sebagaimana syarat minimal masuk Jurusan Farmasi.

“Karena saya pikir mahal, saya memilih ikut SNMPTN juga. Tetapi uang yang sudah dibayar tidak kembali sepenuhnya. Hanya bisa diambil kembali Rp 18,5 juta. Tetapi tak masalah karena masuk lewat jalur SNMPTN hanya dikenai biaya kuliah Rp 1,2 juta per semester. Digabung dengan biaya lainnya, total biaya masuk cuma sekitar Rp 2,2 juta,” kata Hilal didampingi ayahnya di kampus Unair, kemarin. (surya)


Last edited by gitahafas on Wed Dec 08, 2010 6:15 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jun 25, 2010 9:34 pm

SPP KEDOKTERAN JALUR SPMPRM Rp 25 JUTA!
Rabu, 23 Juni 2010 | 09:43 WIB
MEDAN, KOMPAS.com - Seleksi Penerimaan Mahasiswa Program Reguler Mandiri (SPMPRM) Tahun 2010 Universitas Sumatera Utara yang dibuka sejak Senin (21/6/2010) telah menjaring 205 calon mahasiswa. Pembelian formulir pendaftaran ditutup 29 Juni 2010, sementara pengembalian formulir paling lambat 30 Juni. Penanggung Jawab Informasi Panitia Seleksi Penerimaan Mahasiswa Program Reguler Mandiri (SPMPRM) USU Bisru Hafi menjelaskan, tes tertulis SPMPRM akan digelar pada 1 Juli 2010. ”Sementara pengumumannya kami paparkan pada 21 Juli nanti,” ujarnya di Medan, Selasa (22/6/2010).
Ketua Panitia SPMPRM USU Prof Sumono menjelaskan, syarat mengikuti SPMPRM sama dengan persyaratan masuk perguruan tinggi negeri pada umumnya. Peserta lulusan 2008 dan 2009 membawa ijazah atau surat tanda tamat belajar (STTB) asli beserta fotokopinya yang telah dilegalisasi.

Lulusan 2010 yang belum menerima ijazah dapat menunjukkan surat tanda ikut ujian nasional (UN) asli yang dikeluarkan kepala sekolah dan sudah dibubuhi pasfoto beserta fotokopinya yang telah dilegalisasi. Adapun warga negara asing, lanjutnya, harus mendapat izin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta. Berbeda dengan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) yang dibagi tiga kelompok, SPMPRM hanya dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Peserta diperbolehkan memilih maksimal dua program studi.

Kelompok IPA, antara lain, terdiri dari Pendidikan Dokter, Pendidikan Dokter Gigi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Keperawatan, Psikologi, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Kimia, Arsitektur, Matematika, Kimia, Farmasi, dan Fisika. Adapun kelompok IPS, antara lain, terdiri dari Ilmu Hukum, Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, Antropologi Sosial, Sosiologi, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Komunikasi, dan Ilmu Politik.

Bisru menjelaskan, jalur SPMPRM dikhususkan bagi mahasiswa dari keluarga kaya. Biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) yang dikenakan berlipat ganda dibandingkan dengan mahasiswa yang masuk melalui jalur lain. Untuk Fakultas Kedokteran, misalnya, mahasiswa jalur SPMPRM harus membayar SPP Rp 25 juta per semester dan untuk Fakultas Hukum Rp 9 juta per semester. Padahal, mahasiswa yang masuk melalui jalur SNMPTN hanya membayar SPP Rp 1,5 juta atau Rp 2 juta per tahun. Meskipun biayanya mahal, USU hanya mengalokasikan 300 kursi bagi mahasiswa yang masuk melalui SPMPRM. Angka itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kuota jalur SNMPTN yang mencapai 1.060 mahasiswa.

USU juga membuka seleksi penerimaan mahasiswa jalur kemitraan, yakni proses penerimaan mahasiswa yang dilandasi kerja sama USU dengan pemerintah kota/kabupaten atau perusahaan di Sumatera Utara. Syaratnya, peserta melampirkan surat dari pemerintah kabupaten/kota atau perusahaan yang telah menjalin kemitraan dengan USU. (MHF)


Last edited by gitahafas on Wed Dec 08, 2010 6:17 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jun 25, 2010 9:36 pm

KENAPA DOKTER INDONESIA KURANG TERKENAL DI DUNIA INTERNASIONAL?
Jumat, 27/04/2012 14:33 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jakarta, Produktivitas dan semangat meneliti seorang dokter bisa dilihat dari banyaknya artikel yang dimuat di jurnal, terutama jurnal internasional. Jurnal merupakan media tempat para peneliti membeberkan hasil penelitiannya agar dapat menambah wawasan peneliti lain. Semakin terkenal jurnal yang memuat penelitian, maka semakin besar pula nama penelitinya. Dimuat di jurnal internasional adalah tolok ukur sederhana untuk melihat kemampuan penelitian seseorang. Jika melihat kenyataan di Indonesia, maka orang akan mudah menyimpulkan bahwa penelitian di Indonesia jauh tertinggal. Di negara-negara maju, artikel penelitian dalam jurnal internasional banyak yang tersedia secara online dan dengan mudah diakses banyak orang. Sebagai perbandingan, jumlah penelitian dari National University of Singapore (NUS) yang dimuat jurnal internasional ada sebanyak 41.227 judul. Sedangkan jumlah penelitian internasional dari Universitas Indonesia (UI) yang dimuat jurnal internasional hanya 1.124 judul. Angka ini merupakan yang terbesar di Indonesia, disusul oleh ITB sebanyak 1.100 judul, UGM 690 judul dan IPB 512 judul. "Sebenarnya jumlah penelitian kedokteran yang dilakukan di Indonesia cukup banyak. Setiap universitas juga memiliki jurnal penelitian masing-masing. Tapi kebanyakan peneliti di Indonesia nampaknya kurang memiliki budaya tulis yang kuat. Mereka sudah cukup puas jika menemukan hasil yang memuaskan namun tidak berupaya menghimpunnya dalam bentuk artikel untuk dimuat di jurnal," kata dr Ponco Buwono, SpU, PhD, manager riset Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam acara Pagelaran Penelitian Terbaik FKUI 2012 di auditorium FKUI Jakarta, Jumat (27/4/2012).

Menurut dr Ponco, penelitian yang dilakukan mahasiswa kedokteran maupun dokter di Indonesia cukup bagus dan aplikatif, sebab menyinggung permasalahan kesehatan lokal yang sering dihadapi di Indonesia. Namun diakui, inisiatif dokter untuk mempublikasikan karyanya masih rendah dibandingkan negara-negara maju. Dr Ponco juga menuturkan, jurnal-jurnal internasional sering meremehkan peneliti-peneliti dari negara berkembang. Jurnal internasional biasanya baru mau memuat artikel yang menyertakan nama seorang peneliti internasional sebagai salah satu penelitinya. Akibatnya, untuk dapat dimuat jurnal internasional, para peneliti di Indonesia banyak yang menggandeng peneliti internasional tersebut. "Penelitian dari kampus kita yang bagus terkadang kurang dipercaya oleh dunia internasional. Penyebabnya karena tidak ada nama profesor terkenal yang disertakan dalam penelitian," kata dr Ponco. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memupuk budaya meneliti dan menulis mulai dari kampus. Untuk itu, FKUI menyelenggarakan Pagelaran Penelitian Terbaik FKUI 2012. Dalam acara ini, FKUI memberikan penghargaan kepada peneliti yang hasil penelitiannya banyak dimuat di jurnal, baik nasional maupun internasional. Tujuannya agar para peneliti muda dan peneliti lain di FKUI dapat mengetahui seperti apakah penelitian yang baik.

Dalam acara ini, FKUI memberikan penganugerahan peneliti terbaik kepada 5 orang peneliti, yaitu:
1. DR Dra Taniawati Supali dari departemen parasitologi
2. Drs Dwi Ari Pujianto dari departemen biologi
3. dr Siti Setiati dari departemen penyakit dalam
4. dr Murdani Abdullah dari departemen penyakit dalam
5. dr Chaidil Muhtar dari departemen bedah


Last edited by gitahafas on Sun Jul 29, 2012 3:16 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Jun 26, 2010 8:38 pm

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEDOKTERAN DAN KEDOKTERAN GIGI

Pasal 27
Pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi, untuk memberikan kompetensi kepada dokter atau dokter gigi, dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan profesi kedokteran atau kedokteran gigi.

Pasal 28
1. Setiap dokter atau dokter gigi yang berpraktik wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi berkelanjutan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan lembaga lain yang diakreditasi oleh organisasi profesi dalam rangka penyerapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran atau kedoktcran gigi.

2. Pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi kedokteran atau kedokteran gigi.

Sumber: UU RI No 29 th 2004 tentang Praktik Kedokteran


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:17 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Mon Jul 05, 2010 8:52 am

STANDAR PENDIDIKAN PROFESI KEDOKTERAN DAN KEDOKTERAN GIGI
Pasal 26 UU Praktik Kedokteran
1. Standar pendidikan profesi kedokteran dan standar pendidikan profesi kedokteran gigi disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia.

2. Standar pendidikan profesi kedokteran dan standar pendidikan profesi kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. untuk pendidikan profesi dokter atau dokter gigi disusun oleh asosiasi institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi; dan
b. untuk pendidikan profesi dokter spesialis atau dokter gigi spesialis disusun oleh kolegium kedokteran atau kedokteran gigi.

3. Asosiasi institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi dalam menyusun standar pendidikan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a berkoordinasi dengan organisasi profesi, kolegium, asosiasi rumah sakit pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional, dan Departemen Kesehatan.

4. Kolegium kedokteran atau kedokteran gigi dalam menyusun standar pendidikan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berkoordinasi dengan organisasi profesi, asosiasi institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi, asosiasi rumah sakit pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional, dan Departemen Kesehatan.

Sumber: UU RI No 29 th 2004 tentang Praktik Kedokteran


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:14 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Mon Jul 05, 2010 9:52 am

PENDIDIKAN DOKTER DI INDONESIA
Kompetensi dokter dicapai melalui pembelajaran, melalui kurikulum yang disusun berdasarkan standar kompetensi.
Secara garis besar dapat dikatakan ada 2 jenis kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang dokter, yakni Kompetensi Integratif dan Kompetensi Klinik.

KOMPETENSI INTEGRATIF.
Adalah disiplin ilmu yang perlu dikuasai oleh setiap dokter agar dapat menerapkan pengetahuannya sebaik mungkin untuk memecahkan masalah pasien.
Kompetensi Integratif ada 3 jenis:
A. Kompetensi Integratif yang berisi nilai luhur, nilai nilai fundamental, yang diperlukan oleh setiap dokter, yaitu kemampuan untuk memadukan pendekatan humanistik terhadap pasien yang disertai dengan profesionalisme tinggi dan pertimbangan etika.

B. Kompetensi Integratif kedua adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh dokter sebagai seorang profesional, yaitu antara lain kemampuan untuk selalu belajar terus menerus, memahami epidemiologi klinik, cara berpikir kritis dan kemampuan manajerial yang berkualitas.

C. Kompetensi Integratif ketiga, diperlukan oleh seorang dokter dalam praktek sehari hari. Domain disini termasuk misalnya fisioterapi, ilmu kesehatan lingkungan serta manajemen informasi.

KOMPETENSI KLINIK
Adalah kompetensi mengenai pengetahuan dan ketrampilan dalam berbagai topik kedokteran, yang harus didapatkan mahasiswa kedokteran selama pendidikannya, misalnya ilmu bedah, ilmu kesehatan anak, kebidanan, THT, ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu penyakit kulit kelamin, mata, kardiologi, dll. Setiap topik mencakup gejala klinik yang sering dijumpai, tes dan prosedur diagnostik yang penting serta penyakit penyakit khusus yang harus dikuasai seorang dokter.

KOMPETENSI KOMUNIKASI
Kompetensi seorang dokter, dengan demikian tidak hanya melibatkan kemampuan untuk menegakkan diagnosis dan menetapkan prosedur pengobatan yang tepat guna dan berhasil guna. Dokter juga harus kompeten menyampaikan rencana pemeriksaan dan pengobatan serta menjelaskan hasil hasilnya kepada pasien ataupun keluarganya. Komunikasi yang baik bukanlah sekedar telah menyampaikan informasi, namun juga sampai pasien atau keluarga yang diajak bicara, memahami betul penjelasan yang disampaikan dokter.

Kompetensi kompetensi dokter tersebut dicapai melalui pembelajaran, melalui kurikulum yang disusun berdasarkan standar kompetensi.
Untuk diketahui, yang menyusun standar kompetensi dokter adalah Kolegium Perhimpunan terkait, kemudian disahkan oleh KKI ( Konsil Kedokteran Indonesia ). Pelaksanaan pendidikan dokter ada di Fakultas Kedokteran, tentu bersama sama dengan Rumah Sakit pendidikan.

Sumber:Farmacia vol VIII No 12 Juli 2009


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:08 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 11:50 am

DOKTER INDONESIA EGOIS?
Asep Candra | Kamis, 21 Juli 2011 | 15:49 WIB oleh : Dr.Andri,SpKJ *
Dalam berbagai tulisan tentang buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia, para penulis atau komentator hampir selalu bicara tentang buruknya pelayanan dokter yang dikatakan kurang komunikatif, mau menang sendiri dan bersikap materialistis. Hampir tidak pernah ada yang membahas atau menyalahkan pihak perawat, administrasi rumah sakit, pihak laboratorium atau sarana pendukung kesehatan lain. Saya mendengar salah satu cerita dari pasien saya yang berobat ke Malaysia. Negeri jiran yang saat ini sedang menggalakkan wisata medisnya ini merupakan salah satu tujuan baru berobat ke luar negeri. Bisa dimaklumi karena selain murah, pasien mengatakan juga pelayanan di sana lebih baik. Pasien saya ini mengatakan, ketika dia datang mengantar orang tuanya berobat ke sana, pelayanan bahkan sudah dimulai dari penjemputan di bandara. Jadi, tiba langsung masuk ambulan dan sampai ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit pun pasien langsung dibawa ke ruang perawatan dan langsung dilakukan pemeriksaan oleh tim termasuk pemeriksaan penunjang seperti laboratorium. Keluarga pasien pun diajak ke tempat ruang tunggu yang nyaman dengan ketersediaan berbagai macam minuman dan makanan kecil. Belum lagi ada petugas RS yang memberikan petunjuk tentang mencari tempat inap di sekitar RS sehingga mempermudah pasien dan keluarga. Dikatakan pasien saya, pelayanannya cepat dan tidak menunggu-nunggu, pasien tidak dibawa ke sana ke mari untuk pemeriksaan tapi cukup tenang saja di dalam kamar kecuali mungkin untuk pemeriksaan radiologi seperti CT-Scan/MRI yang tidak bisa di tempat. Pelayanan lainnya juga ramah, dari dokter sampai office boy (OB) semua bersikap bersahabat. Satu yang paling menarik perhatian pasien adalah tim dokter yang bekerja. Saat menerangkan kepada pasien dan keluarga, tim dokter datang bersama-sama. Semua dokter yang terlibat dalam penanganan pasien dilibatkan dalam diskusi. Satu orang dokter menjadi juru bicara yang dikenal pasien sebagai ketua tim. Hal ini membuat pasien dan keluarga menjadi nyaman dengan penjelasan yang jelas dan tidak berbeda-beda antara satu dengan yang lain.

Liaison Team memang suatu keharusan
Satu hal yang memang paling sulit dilakukan di Indonesia adalah kerjasama antar dokter. Sebagai psikiater yang mendalami subspesialisasi Consultation-Liaison Psychiatry, salah satu tugas saya adalah bekerjasama dalam tim-tim medis yang memerlukan bantuan psikiater. Kasus-kasus medis umum yang melibatkan gangguan kejiwaan dan perilaku banyak sekali terdapat di dalam RS dan seringkali tidak terdiagnosis. Di sinilah kepentingan saya bekerja. Karena hal ini, saya sering terlibat bekerja sama dengan beberapa orang dokter spesialis sekaligus. Namun memang kenyataannya tidak mudah bekerja dalam tim-tim di RS ini. Saya sering melihat masing-masing dokter masih menampilkan egonya masing-masing. Pasien masih dilihat dalam batasan ilmu yang terkotak-kotak. Ada kesan dokter mengobati penyakitnya saja bukan mengobati pasien secara keseluruhan. Untuk kasus-kasus yang kompleks, hal ini tentunya tidak menguntungkan buat pasien. Kerjasama tim sangat diperlukan, namun sayangnya tidak terjadi dalam praktek sehari-hari. Yang lebih banyak terjadi adalah konsultasi biasa yang seringkali hanya sebatas saran di kertas lembar konsultasi bukan pembicaraan lintas spesialis yang bertujuan mencari jalan keluar terbaik bagi pasien.

Hambatan kolaborasi
Salah satu hal yang paling sering dipertanyakan baik di RS pemerintah maupun RS swasta tentang pelayanan terintegrasi adalah tentang sistem pembayaran. Sistem pembayaran yang dianut kita adalah pay per service artinya seorang pasien membayar sesuai dengan pelayanan yang diterima. Penanganan pasien dengan kebutuhan lintas dokter spesialis dalam RS akan menyebabkan biaya pelayanan meningkat karena terjadinya konsultasi yang banyak ke banyak dokter. Inilah yang terjadi jika sistem yang digunakan seperti ini. Seyogyanya, penanganan kasus secara terintegrasi membuat pasien mendapatkan perawatan lebih baik dan akhirnya membuat pasien berkurang masa rawatnya karena lebih cepat menjadi baik kondisinya. Keterlambatan diagnosis adalah yang paling sering dialami pada kasus-kasus penyakit yang kompleks. Penundaan kerjasama dengan bidang lain selain disebabkan faktor bertambahnya biaya kesehatan juga karena keengganan dokter untuk bekerja sama. Inilah yang perlu dicari jalan keluarnya dalam sistem kesehatan di Indonesia. Bagaimana pola sistem pelayanan kesehatan terintegrasi bisa difasilitasi dengan sistem pembayaran kesehatan yang baik. Sehingga, baik dokter maupun pasien merasa diuntungkan dengan sistem ini. Jika memang dengan sistem yang baik pun si dokter belum mau bekerja sama, maka jawaban judul artikel saya di atas adalah Ya.
Salam Sehat Jiwa!


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:49 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 11:50 am

DEKAN FKUI: SEPARUH DARI CALON DOKTER KURANG MILIKI EMPATI
Rabu, 22/02/2012 15:00 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Wajar bila banyak dokter masa kini yang enggan ditugaskan di daerah-daerah tertinggal. Penelitian yang dilakukan FKUI mencatat sekitar 54 persen mahasiswa kedokteran tidak punya empati dan rasa kemanusiaan yang cukup untuk menjalankan tugas pengabdian. Penelitian yang pernah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan, 35 persen mahasiswa baru masuk dalam kategori tidak disarankan jadi dokter. Hasil tes psikometri atau pengukuran aspek-aspek psikologisnya menunjukkan, empatinya terlalu rendah sebagai calon dokter. Bahkan ketika tes yang sama dilakukan lagi pada tahun keempat masa kuliah, jumlah mahasiswa yang kurang memiliki empati naik menjadi 54 persen. Padahal untuk menjadi dokter, para mahasiswa ini perlu memiliki empati yang tinggi untuk memahami kebutuhan pasiennya.

Mahasiswa kedokteran yang kurang memiliki empati dan rasa kemanusiaan ini diyakini tidak akan tertarik untuk mengabdikan diri di daerah-daerah. Kalaupun mau, belum tentu bisa bertahan karena tuntutan kebutuhan pasiennya pasti lebih tinggi dibandingkan saat bekerja di kota besar. "Tapi jangan bilang ini cuma di FKUI atau di Indonesia. Di fakultas kedokteran luar negeri, mereka juga mendapatkan angka yang kurang lebih sama," kata Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K), dekan FKUI usai orasi ilmiah bertema Dokter untuk Bangsa, Rabu (22/2/2012). Karena itu menurut Dr Ratna, idealnya calon mahasiswa kedokteran tidak hanya diseleksi berdasarkan nilai dan prestasi akademiknya. Sejarah dan latar belakang pendidikan di keluarganya juga perlu dilihat, untuk memastikan sejak kecil sudah diajari nilai-nilai kemanusiaan dan budaya saling menolong. Dalam Rancangan Undang-undang Kedokteran, Dr Ratna mengungkap bahwa komponen ini telah diusulkan untuk menjadi komponen dalam menyeleksi calon mahasiswa kedokteran. Kalaupun tidak disetujui, maka empati sebenarnya juga bisa ditanamkan dalam perkuliahan meski dalam praktiknya tidak selalu mudah.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:53 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 11:51 am

MENJADI DOKTER: KAYA DAN PINTAR
RACIKAN KHUSUS - Edisi September 2006 (Vol.6 No.2) Farmacia
Memiliki otak ‘encer’, bukan satu-satunya jaminan profesi sebagai ahli medis dapat diraih. Ada faktor yang berperan besar, yaitu biaya. Masa ujian dan hasil penerimaan mahasiswa perguruan tinggi telah usai. Ada calon mahasiswa yang bergembira karena impiannya untuk masuk fakultas favorit di perguruan tinggi yang diinginkan tercapai namun tentu saja ada yang harus mengatur ulang harapannya karena tahun 2006 ini tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Di tengah riuh gempita pengumuman penerimaan mahasiswa baru 5 Agustus lalu, sebagian besar calon mahasiswa masih berharap dapat memasuki perguruan tinggi negeri (PTN). Alasannya, selain fasilitas yang lengkap dan kualitas staf pengajar, biaya menjadi faktor utama universitas negeri kebanjiran peminat. Fakultas Kedokteran termasuk salah satu fakultas yang cukup banyak diminati calon mahasiswa.

Ketika tidak diterima di bangku kuliah PTN, bagi mereka yang memiliki latar belakang ekonomi yang cukup, menjadi ahli medis mungkin bukan sekadar angan-angan. Mereka tetap dapat memasuki perguruan tinggi swasta, meski untuk itu, mereka tetap harus menjalani tes tertentu. Artinya, ada standar kemampuan akademik yang harus mereka penuhi. Paling tidak, mereka masih dapat meletakkan harapan di bangku perguruan tinggi swasta setelah gagal menembus PTN. Beberapa dari mereka yang tidak diterima, dengan enteng menyatakan, “Untung aku udah mendaftar di swasta.” Namun beberapa dari mereka muram menjawab, “Mana mungkin, biayanya besar. Mending masuk fakultas lain.”

Seberapa besarkah biaya yang diperlukan untuk kuliah fakultas kedokteran? Seorang pria setengah baya yang ditemui di bagian Administrasi di Fakultas Kedokteran Trisakti mengaku mengeluarkan uang tidak kurang dari Rp 86 juta untuk biaya putrinya yang baru saja masuk di perguruan tinggi tersebut. Uang sebesar itu, adalah untuk pembayaran Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) sebesar Rp 75 juta, biaya Penyelenggaraan Pendidikan Pokok sebesar Rp 6 juta, Biaya 22 SKS yang per-sks-nya adalah sebesar Rp 150 ribu, dan biaya praktikum semester 1 sebesar Rp 2,5 juta. Fakultas Kedokteran Atmajaya, mematok harga yang tidak jauh berbeda dengan FK Trisakti untuk tahun ajaran baru 2006. Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) adalah sebesar Rp 75 juta hingga Rp 100 juta, yang mesti dibayarkan paling lambat akhir Agustus 2006. Selain SPP adalah biaya kuliah paket sebesar Rp 6 juta dan biaya kuliah pokok per semester adalah Rp 3 juta. Total biaya yang harus dikeluarkan orang tua mahasiswa adalah berkisar Rp 84 juta hingga Rp 109 juta.

Jumlah yang dikeluarkan untuk memasuki fakultas kedokteran di dua universitas tersebut, yang setara dengan harga rumah BTN type 36 type 90 di daerah pinggiran Jakarta, mungkin dianggap fantastik oleh orang kebanyakan. Nyatanya, FK Trisakti ataupun FK Atmajaya tetap kebanjiran mahasiswa yang berharap dokter menjadi profesi yang akan disandang di masa depan. Mereka yang memiliki kemampuan finansial dan akademik cukup baik, juga tetap dapat mengikuti kuliah di fakultas negeri. Universitas Indonesia, misalnya, membuka program untuk kuliah di fakultas kedokteran dengan jalur khusus. Biayanya, Rp 250 juta untuk lima tahun masa pendidikan kedokteran yang harus dibayar sekaligus di awal masa perkuliahan. Mereka yang masuk lewat jalur ini sebelumnya harus melalui proses Seleksi Penerimaan mahasiswa Baru (SPMB) UI namun juga mendaftarkan diri pada program yang disebut Program Pengembangan Dokter Daerah (PPDD). Program ini ditujukan terutama untuk calon mahasiswa yang berasal dari daerah luar Jawa dan bali untuk dididik menjadi dokter yang siap mengabdi ke daerah asalnya. Tidak hanya UI, fakultas kedokteran lain di luar Jakarta juga menerapkan kebijakan serupa, seperti Universitas Gajah Mada dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dengan menerima mahasiswa melalui jalur khusus yang memasang harga lebih tinggi. UNS misalnya, mematok uang masuk sebesar Rp 100 juta di luar biaya setiap semesternya untuk jalur masuk fakultas kedokteran khusus ini.

Mahal dan Harapan
Dibanding dengan fakultas lain, fakultas kedokteran menyerap dana dari mahasiswa lebih tinggi. Universitas Atmajaya, untuk fakultas di luar kedokteran menetapkan uang SPP berkisar Rp 1 juta hingga Rp 15 juta dan uang yang dikeluarkan tiap semesternya berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Universitas Trisakti, mahasiswa di luar fakultas kedokteran dibebankan biaya SPP antara Rp 9 juta hingga Rp 20 juta dan biaya BPP pokok tiap semester antara Rp 2,5 juta hingga Rp 4,5 juta. Semua itu ditambah dengan uang praktikum sebesar Rp 1,5 hingga 5 juta. Sangat berbeda dengan praktikum fakultas kedokteran yang menelan biaya sebesar Rp 10 juta. Mereka yang tengah menuntut ilmu di fakultas kedokteran, mengakui bahwa biaya kuliah yang harus dibayar untuk menjadi ahli medis memang relatif mahal. “Kuliah di FK memang mahal,” kata Agatha, 22 tahun, yang kini duduk di semester 9, FK Universitas Atmajaya. Ia, misalnya, selain untuk biaya per semesternya, juga harus mengeluarkan biaya untuk buku-buku yang kebanyakan ia dapatkan dengan cara fotocopy yang besarnya kira-kira Rp 500 ribu setiap semesternya. “Belum lagi setelah menyelesaikan kuliah, untuk masuk klinik, perlu biaya yang tidak murah,” ujar mahasiswi yang memulai kuliahnya tahun 2002 ini.

Namun, menurut Agatha, biaya yang dibayarkan sepadan dengan ilmu yang ia dapatkan. “Ilmu kedokteran kan berbeda dengan ilmu lain. Untuk melakukan praktikum misalnya kan butuh preparat dan bahan praktik yang tidak murah,” kata wanita berkulit putih ini. Senada dengan Agatha, Aldi, 23 tahun, mahasiswa fakultas kedokteran Trisakti juga setuju jika dikatakan menuntut ilmu di fakultas kedokteran menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Untuk keperluan buku dan diktat kuliah, ia menghabiskan dana antara Rp 500 hingga 1 juta tiap semesternya. Belum ditambah biaya praktikum yang besarnya Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu setiap semesternya. Setelah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, baik Agatha maupun Aldi menolak bahwa setelah lulus mereka cepat dapat ‘balik modal’ dengan profesi ini. “Nggak bisa deh hitung-hitungan begitu. Kalau pengen cepet kaya, jangan jadi dokter. Sudah biayanya tinggi, kuliahnya lama, penghasilannya sedikit,” ujar pria yang tengah menjalani masa ko-as ini.

Namun dalam jangka panjang, Aldi mengakui profesi dokter bisa memberikan kehidupan yang menjanjikan. “Mungkin nanti setelah ambil spesialis dan ilmu kita bertambah,” ujar pria berkacamata ini. Menurutnya, berbeda dengan profesi lain, setelah tua, seorang dokter bukan saja masih bisa mengabdikan ilmunya namun ia akan makin dibutuhkan karena pengalamannya. Yohanes, 24 tahun, mahasiwa fakultas kedokteran Universitas Indonesia sependapat jika dikatakan biaya kedokteran mahal. Meski menganggap hal itu sebuah kewajaran, menurutnya hal itu bukan alasan untuk menghitung biaya yang dikeluarkan saat kuliah dengan kemampuan menghasilkan uang ketika seseorang berhasil menjadi seorang ahli medis. Ia tidak menampik bahwa pada akhirnya materi bukanlah hal yang tabu untuk dikejar, namun unsur itu bukanlah berada pada prioritas utama. Ia, juga sangat mendukung program Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang menempatkan dokter ke daerah-daerah tertentu, yang nota bene tidak menjanjikan memberikan penghasilan yang tinggi. “PTT sudah selayaknya dilakukan,” ujarnya.

Yohanes mengaku cukup beruntung karena bisa menuntut ilmu medis di perguruan tinggi negeri lewat jalur reguler, yang meskipun biayanya lebih tinggi dibanding fakultas lain, namun relatif lebih murah dibanding rekan-rekannya yang tidak berhasil mendapatkan kursi di PTN. Untuk tiap semesternya ia mengeluarkan biaya Rp 1,5 juta. Menjadi seorang ahli medis, nyatanya tidak cukup bermodalkan kemampuan akademik. Kemampuan finansial, memiliki peran yang tidak kecil. Buat mereka yang tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, barangkali harus berjuang lebih keras, agar cita-cita menjadi seorang ahli medis tidak kandas, karena masalah biaya. Perjuangan awal dimulai dengan memperebutkan kursi Perguruan Tinggi Negeri yang sangat sedikit jumlahnya. Pada akhirnya, mereka yang berhasil memperoleh gelar ahli medis diharapkan tetap memiliki modal yang tidak kalah penting, yaitu tetap meletakkan nilai-nilai kemanusiaan yang memang sangat dekat dengan profesi ini, sebagai prioritas utama.
(ika)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 29, 2012 3:07 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:27 pm

DOKTER UMUM BISA PERCEPAT PENCAPAIAN MDGs
Jumat, 25 Maret 2011 | 06:32 WIB
Jakarta, Kompas - Dokter umum berpotensi mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium bidang kesehatan, khususnya sasaran yang tertinggal jauh, seperti pengendalian HIV/AIDS, penurunan angka kematian bayi, dan penurunan angka kematian ibu. Potensi itu belum dimaksimalkan. ”Ada sekitar 70.000 dokter umum dan jumlahnya terus meningkat. Jumlah dokter umum jauh lebih banyak dari dokter spesialis. Di Indonesia terdapat 72 fakultas kedokteran yang menghasilkan sekitar 5.000 lebih dokter umum setiap tahunnya. Para dokter umum ini juga garda terdepan karena biasanya ada di layanan kesehatan primer masyarakat,” ujar Ketua Harian Presidium Nasional Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Imelda Datau seusai pembukaan ”Peningkatan Kompetensi Dokter Umum Menuju Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata, dan Berkeadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Kamis (24/3).

Dokter umum tidak hanya dididik secara medis, tetapi juga dibekali kemampuan kepemimpinan sehingga dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Mereka juga tersebar di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk daerah terpencil.
Imelda mengakui, potensi dokter umum belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Indonesia. Dari segi distribusi, misalnya, sekalipun sebarannya lebih baik dari dokter spesialis, sebagian besar dokter umum berada di perkotaan. ”Saya tidak ada data persisnya. tetapi sebagai gambaran, masih lebih dari 30 persen puskesmas tidak memiliki dokter umum. Kelangkaan dokter terutama di luar Jawa, khususnya di daerah terpencil,” ujarnya. Potensi itu juga belum termanfaatkan karena terbatasnya kewenangan dokter umum. Ia mencontohkan, untuk membantu persalinan, dokter umum harus didampingi subspesialis. Padahal, dokter umum setidaknya telah dibekali pengetahuan untuk itu. ”Kebijakan pemerintah untuk memberi kewenangan tambahan ke dokter umum nantinya dapat menjadi daya tarik juga bagi dokter umum, terutama untuk mengabdi di daerah-daerah yang minim dokter,” ujarnya. (INE)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 10:47 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
Back to top 
Page 4 of 24Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 14 ... 24  Next
 Similar topics
-
» Inikah Tulisan Dari Seorang Katolik ?!?!?!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: