Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 13 ... 22, 23, 24
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:58 pm

Meski Belum Spesialis, dr Ayu Kompeten Lakukan Operasi
Penulis : Rosmha Widiyani | Sabtu, 30 November 2013 | 08:44 WIB
Dibaca: 23299Komentar: 115
|Share:

wikimediacommons
Ilustrasi dokter
TERKAIT:
Malapraktik Bisa karena Dokter Minim Pengalaman
Dokter Pilih Tes Penunjang ketimbang Dituduh Malapraktik
Kasus dr Ayu, Cermin Buruknya Pola Komunikasi Dokter
IDI: Persepsi ke Dokter Pasti Sembuh Harus Diubah
KOMPAS.com Isu yang berkembang dari kasus dr Ayu juga menyoal kompetensi dokter spesialis kandungan bernama lengkap Dewa Ayu Sasiary Prawani (38) ini saat melakukan tindakan bedah caesar. Meski belum menjadi dokter spesialis kandungan saat melakukan operasi bedah caesar pada 2010, dr Ayu sudah berkompeten melakukan tindakan tersebut. Saat tindak operasi berlangsung pada April 2010, dr Ayu menempati posisi chief resident.

Chief resident dalam dunia pendidikan kedokteran berarti yang bersangkutan mampu melakukan tindak operasi secara mandiri bergantung pada spesialisasi yang diambil.

"Dalam posisi tersebut, dr Ayu sudah memiliki surat izin praktik (SIP) namun masih untuk tingkat fakultas dan universitas. Seorang dokter tak mungkin melakukan operasi bila tidak memiliki SIP," kata Sekertaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Muhammad Faqih saat dihubungi Kompas Health, Jumat (29/11/2013).

Posisi chief resident, jelas Daeng, hanya bisa diperoleh bila seorang calon dokter mampu melalui tiga tahap sebelumnya dalam pendidikan kedokteran. Posisi ini sekaligus mengindikasikan calon dokter tersebut akan lulus dalam waktu dekat dan berhak menyandang status sebagai spesialis.

Tiga tahap tersebut adalah melihat dan mengkaji, asistensi, dan pendampingan operasi. Tahap pertama biasa dilakukan mahasiswa tahun pertama spesialis selama 1-2 tahun.

Tahap berikutnya, yaitu sebagai asisten dan pendampingan operasi, dilakukan berdasarkan kemampuan calon dokter. Bila kemampuannya cukup, level ini bisa dilewati dalam 2-3 tahun. Namun, jika tidak, durasi tahap ini akan diperpanjang.

Selama melalui tahap asistensi dan pendampingan operasi, calon dokter akan dinilai oleh masing-masing fakultasnya. Hasil penilaian dikirim ke kolegium pendidikan yang ada di tiap perhimpunan kedokteran. Kolegium pendidikan tersebut beranggotakan ketua program studi (KPS) dari semua fakultas kedokteran yang ada di Indonesia.

"Kolegium inilah yang kemudian menentukan apakah seorang calon dokter bisa dinyatakan mandiri. Dari tahap ini bisa dilihat, tidak sembarang calon dokter bisa melakukan operasi. Ada tahap-tahap yang harus dilalui sebelum dinyatakan mandiri," kata Daeng.

Hal senada dikatakan Ketua Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) IDI HN Nazar. Pada level chief resident, kata Nazar, kewenangan lain dr Ayu adalah menangani proses persalinan biasa dan operasi tumor kandungan jinak.

"Dalam level tersebut dr Ayu hanya perlu menunggu ujian nasional, dan 90 persen bisa dikatakan mampu menyandang spesialis. Hal ini terbukti pada awal Januari 2011 dr Ayu sudah menyandang gelar spesialis," ujar Nazar.

Lebih jauh, Nazar menjelaskan, posisi chief resident biasa mengisi posisi di rumah sakit pendidikan dan jejaringnya sehingga seorang chief resident bisa bekerja di RSU maupun RSUD, yang memiliki jaringan dengan rumah sakit pendidikan.

Kasus dr Ayu rugikan dunia kesehatan Indonesia
Nazar mengatakan, kasus dr Ayu berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi dunia kesehatan Indonesia. Hal ini disebabkan mayoritas dokter chief resident mengisi rumah sakit terpencil di daerah pedalaman di seluruh Indonesia.

"Khusus untuk chief resident biasanya tiap perguruan tinggi punya 10 orang. Dengan 12 sentra pendidikan, maka kita memiliki 120 chief resident. Kalau semua chief resident ditarik karena kasus dr Ayu, lantas berapa yang kita punya di lapangan, terutama di daerah terpencil? Hal ini tentu merugikan dunia kesehatan Indonesia," kata Nazar.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:58 pm

Kasus dr Ayu, Cermin Buruknya Pola Komunikasi Dokter
Penulis : Rosmha Widiyani | Rabu, 27 November 2013 | 11:12 WIB
Dibaca: 18480Komentar: 13
|Share:

shutterstock
TERKAIT:
Dokter, Sentuhan Anda Itu Menyembuhkan!
Dokter Asing Tak Bisa Asal Praktik di RS
Sebaran Dokter Tak Merata, Kesejahteraan Sulit Dicapai
Tolak Kriminalisasi, IDI Ajak Sejawat Pakai Pita Hitam
Standar Pelayanan Medis Nasional Cegah Kriminalisasi Dokter

KOMPAS.com Kasus pidana yang menimpa beberapa dokter atas tuduhan malapraktik merupakan cermin masih buruknya pola komunikasi antara dokter dan pasien di Indonesia.
Sebagai pihak yang saling membutuhkan, dokter seharusnya dapat menggali bagaimana sesungguhnya kondisi pasien. Hal yang sama juga harus dilakukan pasien dengan proaktif bertanya tentang kondisi dan pengobatan yang sebaiknya dijalani. Dengan kerja sama ini, kasus serupa mungkin dapat dihindari.
"Saya menduga mungkin kasus ini dikarenakan pola komunikasi yang buruk. Dokter kurang menggali informasi dari pasien akibatnya terjadi hal fatal usai operasi," kata pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, kepada KOMPAS Health, Selasa (26/11/2013) kemarin.
Buruknya komunikasi dokter diperkuat survei yang pernah dilakukan YLKI di Kota Medan dan Yogyakarta. Survei yang dilakukan pada 2008-2009 tersebut membuktikan, masyarakat merasa tidak mendapat info yang tepat terkait penyakit atau pengobatan dari dokter yang memeriksa. Akibatnya, pasien cenderung pasrah pada tindakan apa pun yang diambil dokter demi kesembuhan penyakit mereka.
Padahal, komunikasi, lanjut Tulus, menjadi kunci kesembuhan pasien. Hal ini karena kondisi dan jarak pengetahuan yang dimiliki antara dokter dan pasien. Pasien yang datang dalam kondisi lemah, kata Tulus, tidak memiliki pengetahuan sedikit pun pada apa yang terjadi dengan tubuhnya. Pasien juga nyaris pasrah pada pengobatan apa pun yang akan dilakukan dokter.
"Dalam kondisi inilah, posisi dokter nyaris seperti Tuhan. Pasien tidak mengetahui proses pengobatan dan semata berharap kesembuhan. Situasi ini bisa diatasi bila dokter mau aktif berbicara pada pasien sejak pertama kali berobat," kata Tulus.
Pola komunikasi, kata Tulus, sekaligus menjadi pembeda antara layanan dokter Indonesia dan luar negeri. Hal ini pula yang menyebabkan orang Indonesia lebih suka berobat ke luar negeri kendati kualitas pengobatan yang dimiliki sama.
Tulus mencontohkan Singapura sebagai salah negera tujuan pengobatan mayoritas orang Indonesia. Di negeri ini, setiap pasien yang datang akan mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya terkait penyakit yang diderita. Pasien juga mendapat info terkait pengobatan yang akan dijalani, termasuk risiko yang harus diterima. Hal ini dilakukan tanpa permintaan pasien.
"Pasien bahkan menerima info terkait peluang hidupnya. Hal inilah yang tidak terjadi pada kasus dr Ayu. Pasien tidak diberitahu dan pasif pada tindakan yang diambil. Akibatnya, terjadi kasus emergencyyang harus segera ditangani dengan segala risikonya. Kasus emergency tentu tidak bisa dikatakan sebagai malapraktik," kata Tulus.

Pasif
Buruknya pola komunikasi para dokter juga diakui Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Daeng Muhammad Faqih. Menurut dia, dokter Indonesia memang kebanyakan pasif dan kurang mengomunikasikan penyakit serta pengobatan yang harus dijalani pasien. Pasien juga mayoritas tidak aktif bertanya terkait kondisi dan pengobatan yang dijalani.
Kondisi ini berlaku sama di seluruh tingkat layanan kesehatan. "Dokter Indonesia harus lebih banyak bicara. Dengan komunikasi, persepsi antara pasien dan dokter bisa disamakan sehingga pasien paham pada kondisi dan pengobatan yang dijalani, termasuk risiko yang ditanggung," kata Daeng.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:59 pm

Malapraktik Bisa karena Dokter Minim Pengalaman
Penulis : Rosmha Widiyani | Selasa, 30 April 2013 | 08:51 WIB
Dibaca: 1108Komentar: 1
|Share:

shutterstock
ilustrasi
TERKAIT:
Menkes : Profesionalisme Dokter Perlu Ditingkatkan
Mengapa Pasien Bisa Tersadar di Meja Operasi?
RSCM Sukses Cangkok Ginjal Pasien Anak
Sistem Pendidikan Dokter Tak Sejalan dengan SJSN
Pentingnya "Second Opinion" ke Dokter Lain
KOMPAS.com - Salah satu faktor penyebab terjadinya kasus malapraktik di tanah air adalah kompetensi seorang dokter. Minimnya pengalaman dapat mempengaruhi kompetensi tenaga kesehatan profesional ini. Oleh sebab itulah, penting artinya bagi seorang dokter untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme untuk menghindari kasus malapraktik.

Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Prof.Dr.Med. Ali Baziad, SpOG(K) menyatakan, dengan jam terbang yang kurang, modal pengetahuan seorang dokter terkait proses penyembuhan rendah. Cara mereka berkomunikasi dengan pasien pun terbatas. Akibatnya, informasi mengenai penyakit tidak tersampaikan dengan baik. Risiko dari proses penyembuhan juga tidak sepenuhnya dipahami oleh pasien.

Dari kasus malapraktik yang dilaporkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, kata dia, hanya sekitar 40 persen saja yang dikenai sanksi.
"Sisanya tidak terbukti sebagai malapraktik," kata dia pada peringatan sewindu Konsil Kedokteran Indonesia di Jakarta, Senin (28/4/2013).

Ali tak sepakat apabila kasus itu disebut sebagai malapraktik. Menurutnya, hal tersebut adalah risiko yang terjadi saat menjalani proses pengobatan. Faktor risiko ini bisa dihindari apabila dokter mampu mengkomunikasikan penyakit dan penyembuhannya kepada pasien.

Tentunya dalam berkomunikasi, perlu didukung oleh pengetahuan dan pengalaman dokter bersangkutan. Oleh karena itu, kata Ali, penting artinya bagi seorang dokter mengikuti internship. Program magang setahun bagi lulusan sarjana kedokteran ini, akan meningkatkan pengalaman dan mutu dokter.

"Para dokter dengan dibekali kemampuan kuliah, akan mengabdi di masyarakat. Mereka dapat belajar bagaimana profesionalisme dan sikap yang baik di masyarakat," kata Ali.

Profesionalisme dan sikap yang baik akan menuntun dokter bisa mengabdi dengan baik dimanapun ditempatkan. Menurut Ali, dua hal ini tidak menjadikan keterbatasan akses, peralatan, atau percaya diri sebagai hambatan. "Profesionalitas, sikap, dan komunikasi menjadi poin penting dokter masa kini. Saya yakin mutu dokter Indonesia tidak menurut, namun memang perlu perbaikan," ujar Ali.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:59 pm

Dokter Pilih Tes Penunjang ketimbang Dituduh Malapraktik
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 21 Agustus 2013 | 17:04 WIB
Dibaca: 1759Komentar: 3
|Share:

Shutterstock
TERKAIT:
10 Kesalahan Diagnosis Paling Sering pada Anak
Diagnosis Radang Paru Perlu "X-Ray"
Pentingnya "Second Opinion" ke Dokter Lain
Kriteria Diagnosis Lupus Diubah




KOMPAS.com Tidak semua penyakit dapat didiagnosis hanya lewat pemeriksaan fisik pasien. Dokter yang khawatir melakukan kesalahan diagnosis biasanya akan meminta pasiennya melakukan berbagai tes penunjang.

Kesalahan diagnosis juga bisa menyebabkan kesalahan perawatan atau pemberian obat yang ujungnya justru membuat pasien bertambah sakit. Kalau sudah begini, dokter bisa dituduh melakukan malapraktik.

Kecenderungan dokter untuk meminta pasiennya melakukan berbagai tes penunjang, yang sebagian besarnya sebenarnya tidak perlu, disebut juga dengan pengobatan defensif (defensive medicine).

Pengobatan defensif sendiri mendapat kritik dari para ahli karena dianggap dapat membuat biaya pengobatan membengkak. Pada negara yang menanggung pengobatan warganya, tentu hal ini akan memboroskan anggaran kesehatan.

Selain itu, tak semua tes penunjang itu sebenarnya berguna. Misalnya saja CT scan yang justru bisa membuat pasien terpapar radiasi.

Fenomena tersebut disampaikan dalam penelitian yang dilakukan oleh tim dari Harvard School of Public Health. Studi yang dipimpin oleh Michelle Mello itu melihat data survei tahun 2008 yang dilakukan kepada para dokter dan dibandingkan dengan klaim kesehatan tahun 2007 dan 2009.

Dari data tersebut, para peneliti berhasil mengumpulkan informasi dari 29.000 pasien yang datang ke dokter untuk keluhan nyeri dada, nyeri kepala, atau nyeri punggung bawah.

Untuk kasus nyeri kepala, hampir 11,5 persen dokter yang kurang percaya diri dengan diagnosisnya meminta pasien melakukan pemindaian kepala. Sementara itu, pada pasien nyeri dada, sekitar 3,7 persen dokter yang khawatir menyuruh pasiennya datang ke unit gawat darurat.

Adapun untuk kasus nyeri punggung bawah, sekitar 29 persen dokter yang khawatir dengan diagnosisnya meminta pasien melakukan tes pemindaian, sementara pada dokter yang lebih percaya diri hanya 17,6 persen.

"Besar kemungkinan para dokter ini menjadikan pengobatan defensif sebagai bagian dari rutinitas praktiknya," tulis para peneliti dalam laporannya.

Para dokter yang sangat takut akan tuduhan malapraktik tersebut dinilai kehilangan kepekaan pada sesuatu yang berpotensi membebani pasien baik secara finansial maupun psikologis.
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
View previous topic View next topic Back to top 
Page 24 of 24Go to page : Previous  1 ... 13 ... 22, 23, 24
 Similar topics
-
» pentingnya sikap tawadhu (rendah hati)
» benarkah Nabi Adam as manusia pertama dibumi ini???
» Karena Puasa, Seorang Pendeta Amerika Masuk Islam
» pentingnya belajar bahasa arab
» Kalimat Syahadat Menurut Hadis Muslim..

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: