Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

Go down 
Go to page : Previous  1 ... 13 ... 22, 23, 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:05 am

MENGAPA KEMENKES SERTAKAN GAMBAR 'VULGAR' DALAM KUESIONER KESEHATAN?
Putro Agus Harnowo - detikHealth Jumat, 06/09/2013 18:03 WIB
Jakarta, Kuesioner pemeriksaan kesehatan siswa yang disusun Kementerian Kesehatan RI membuat heboh masyarakat akhir-akhir ini. Sebab di dalamnya memuat ilustrasi payudara dan kelamin pria, sehingga dianggap beberapa orang terlalu vulgar bagi anak-anak. Sebenarnya, kuesioner tersebut disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak untuk mendeteksi adanya kelainan pada siswa sejak dini. Karena yang disasar adalah kesehatan reproduksi, maka ilustrasi tersebut disertakan. "Ini adalah skala Tanner, kita koordinasi dengan para profesi untuk menyusun ini, juga agar jelas terapi apa yang akan diberikan kepada anak tersebut," kata Dedi Kuswenda, Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes ketika ditemui di Gedung Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuninga, Jakarta, Jumat (6/9/2013) Skala ini dilakukan untuk menilai adanya kelainan hormon yang mempengaruhi pertumbuhan organ kelamin dan organ seks sekunder. Hormon-hormon seksual yang aktif saat masa puber akan membentuk identitas seksual dan membentuk organ reproduksi secara optimal. Penggunaan skala Tanner didasarkan pada pertimbangan bahwa anaklah yang lebih tahu kondisi fisik payudara ataupun testisnya. Karena mereka mungkin malu jika diperiksa oleh orang lain, anak-anak diminta memilih sesuai ilustrasi yang terdapat di kuesioner. "Kuesioner ini untuk usia SMP -SMA awal, karena jika ada kelainan, mereka perlu dikontrol. Yang diukur testis dan payudara, karena apabila ada yang masih kecil itu artinya kelainan hormon," terang Dedi. Dedi juga menambahkan bahwa kuesioner ini bukan hanya mengukur kesehatan reproduksi saja, melainkan kondisi kesehatan siswa secara menyeluruh. Di dalamnya termuat pertanyaan tentang riwayat kesehatan diri dan keluarga, imunisasi, gaya hidup, hingga kesehatan mental dan intelegensi. "Bukan hanya reproduksi, tapi semuanya dari ujung kaki. Tapi akhirnya yang muncul hanya sepotong saja," ujar Dedi. Kuesioner tersebut merupakan bagiian dari pemeriksaan bertajuk 'Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan'.Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya kelainan, maka Puskesmas bekerja sama dengan spesialis melakukan follow up. Pemberian kuesioner ini sendiri sebenarnya sudah dilakukan sejak 2010 di seluruh Indonesia.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 08, 2013 10:09 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:07 am

KEMENKES SUSUN KUESIONER KESPRO UNTUK DETEKSI KESEHATAN ANAK
Putro Agus Harnowo - detikHealth Jumat, 06/09/2013 17:28 WIB
Jakarta, Kuesioner yang antara lain berisi kesehatan reproduksi (kespro) dan disebarkan di Sabang, Aceh, dan wilayah lain di Indonesia dinilai vulgar oleh sebagian orang. Sebab dalam kuesioner ditampilkan ilustrasi gambar payudara dan alat kelamin laki-laki. Kuesioner ini disusun oleh Kementerian Kesehatan RI untuk anak-anak usia SMP dan SMA. "Itu sebenarnya merupakan penjaringan, yang bikin Direktorat Anak Kemenkes. Ini sifatnya rahasia. Artinya, hanya untuk anak sendiri dan dilaksanakan oleh teman-teman di Puskesmas," kata Dedi Kuswenda, Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes. Ditemui di Gedung Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/9/2013), Dedi menerangkan bahwa kuesioner ini sebenarnya bertujuan untuk pemeriksaan dan deteksi dini. Sebab ada beberapa gangguan hormon yang dialami anak-anak dan sebaiknya ditangani sejak dini. Misalnya, apabila ada anak yang organ reproduksinya masih kecil, artinya ada kelainan dan harus ditindaklajuti. Adapun prosedur pemeriksaannya adalah dimulai dengan pengisian formulir oleh peserta didik, lalu pemeriksaan fisik oleh tenaga Puskesmas dibantu oleh guru dan kader kesehatan. "Ini untuk deteksi dan sifatnya rahasia, jadi yang menjawab dirinya sendiri. Mereka yang melingkari sendiri dan kuesionernya dibawa oleh teman-teman dari puskesmas. Nantinya akan ada konsultasi dan akan ditentukan apa tindakan selanjutnya," terang Dedy. Praktiknya di lapangan, para tenaga kesehatan di Puskesmas akan mendatangi tiap sekolah di daerah tugasnya masing-masing, lalu melakukan pemeriksaan. Kuesioner bertajuk 'Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Sekolah Lanjutan' yang sudah diisi akan diambil kembali untuk dievaluasi. Dedi membenarkan bahwa program ini sudah dimulai sejak tahun 2010 lalu, dan sudah dilaksanakan di seluruh Indonesia. Yang menjadi sasaran adalah siswa kelas 7 dan 10, atau siswa kelas 1 SMP dan kelas 1 SMA. "Nah, kalau sejak awal ditemukan gangguan, kan masih ada waktu 3 tahun untuk mengobatinya," ujarnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:24 am

KEMENKES: GAMBAR DI KUSEIONER KESEHATAN SCIENTIFIC, BUKAN PORNOGRAFI
Nurvita Indarini - detikHealth Sabtu, 07/09/2013 11:45 WIB
Jakarta, Gambar payudara dan alat kelamin di kuesioner ' Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan' memunculkan kehebohan. Namun Kemenkes menegaskan gambar tersebut scientific dan bukan pornografi. "Gambar ini adalah gambar penelitian. Sifatnya scientific, bukan pornografi," ujar Direktur Bina Kesehatan Anak, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc. Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers yang digelar di Kemenkes, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/9/2013). Menurutnya sudah ada buku petunjuk teknis pelaksanaan kuesioner penjaringan tersebut. Nah di dalam buku itu sudah dijelaskan antara lain keterangan gambar-gambar payudara dan alat kelamin. Di mana apabila ditemukan adanya permasalahan pertumbuhan maka bisa dirujuk ke puskesmas. "Mungkin nantinya di kuesioner perlu ada penjelasan. Mungkin didahului dengan pelajaran supaya bisa menerima dan sadar dengan kondisinya," terang dr Jane. Selain itu Kemenkes akan melakukan evaluasi untuk perbaikan di masa mendatang. Akan diperhatikan betul apakah ada kekhususan di suatu daerah sehingga perlu ada langkah sosialisasi atau pendampingan lebih. "Kita akan lakukan evaluasi," tegas dr Jane.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Sep 13, 2013 6:36 pm

GAMBAR PERKEMBANGAN ORGAN REPRODUKSI DALAM BUKU PENJARINGAN KESEHATAN SEBAGAI BAHAN EDUKASI
Jakarta, 9 September 2013
Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, menyayangkan bahwa pemberitaan hanya berfokus pada pembahasan mengenai kesehatan reproduksi yang hanya terdiri dari sebanyak dua halaman. Padahal, sebenarnya Buku Penjaringan Kesehatan tersebut membahas banyak indikator persamalahan kesehatan. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di dalam buku tersebut, mencakup status kesehatan umum, riwayat kesehatan pribadi, informasi kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, gaya hidup, kesehatan inteligensia, dan kesehatan reproduksi. Ini sifatnya scientific, bukan pornografi, ujar dr. Jane, saat memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Sabtu siang (7/9). Menurutnya, gambar tersebut merupakan hasil sebuah penelitian dan bersifat ilmiah. Skala Tanner yang digunakan merupakan gambar sebagai indikator untuk menilai tumbuh kembang kelenjar payudara maupun kematangan organ reproduksi sekunder dari pria. Dengan kata lain, pertanyaan-pertanyaan dalam buku tersebut menjadi indikator untuk mengetahui status pubertas remaja. Prosedurnya adalah peserta didik diminta untuk menentukan sendiri dengan cara melihat gambar, bukan diukur oleh orang lain. Utamanya, bersifat rahasia. Hanya diketahui yang bersangkutan dengan petugas kesehatan, kata dr. Jane. Beberapa waktu belakangan ini, media ramai membicarakan Buku Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan yang disebut-sebut sebagai Kuesioner Alat Ukur Kelamin sehingga dinilai vulgar dan menjadi kontroversi di Sabang, Aceh. Sebutan kuesioner ukur kelamin sebenarnya tidak tepat, karena isian yang dimaksud bukan berupa lembaran kertas yang menanyakan ukuran atau bentuk kelamin saja, melainkan berupa buku yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatan remaja secara umum. Penjaringan kesehatan dilakukan untuk mendeteksi dini masalah kesehatan yang ditemukan pada peserta didik, untuk segera dapat dilakukan tindak lanjut. Berbeda dengan sebuah penelitian, bahwa output yang dihasilkan adalah berupa data, tidak berfokus pada upaya tindak lanjut terhadap masalah kesehatannya. Ini bukan penelitian, apalagi survei. Ini sifatnya pelayanan yang diperuntukkan bagi seluruh anak sekolah lanjutan di seluruh Indonesia, tidak pilih-pilih, ujar dr. Jane.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat e-mail kontak@depkes.go.id.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 15, 2013 8:29 am

6000 DOKTER AHLI DISIAPKAN PEMERINTAH DI PERBATASAN
Sabtu, 14 2013 | 20:28 WIBIlustrasi---ANTARA/Aguk Sudarmojo/ip
Metrotvnews.com, Denpasar: Pemerintah telah menyiapkan enam ribu dokter ahli yang akan ditempatkan di sejumlah daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan (DTPK). "Pemerintah menargetkan dalam waktu tiga tahun terakhir merekrut sebanyak enam ribu dokter ahli yang ditempatkan di DTPK," kata Wakil Menteri Kesehatan Prof Dr Ali Ghufron Mukti di Denpasar, Sabtu (14/9). Perekrutan dokter ahli tersebut sebelumnya dilakukan melalui kontrak kerja sehingga semuanya wajib bertugas di DTPK. "Dengan demikian tidak ada alasan lagi mereka setelah selesai pendidikan tidak mau ke daerah terpencil," katanya. Setelah dipetakan, di daerah wilayah Indonesia membutuhkan sekitar enam ribu dokter ahli untuk DTPK. Saat ini pemerintah baru bisa menghasilkan sekitar empat ribu orang dokter. Dari jumlah tersebut, lanjut dia, ada yang sudah selesai pendidikan dan siap ditempatkan. Ada yang masih atau sedang dalam proses penyelesaian studi spesialisasinya. Ali Ghufron menambahkan adanya kekurangan sekitar dua ribu orang dan akan dilengkapi dalam dua atau tiga tahun ke depan. Bahkan, Kemenkes bukan hanya merekrut tenaga dokter, tetapi juga tenaga keperawatan lainnya yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil. "Jumlah persisnya belum di data. Secara keseluruhan, saat ini Indonesia baru memiliki 30 ribu dokter ahli, termasuk para pengajar di berbagai kampus di Indonesia. Jumlah ini masih dianggap sangat kurang karena jumlah penduduk di Indonesia yang padat dengan sebaran tak merata di berbagai kepulauan," katanya. Ia juga mengimbau seluruh pemerintah daerah di Indonesia melakukan hal yang sama dengan merekrutmen tenaga kesehatan dan memberikan beasiswa bagi dokter yang bersedia ditempatkan di DTPK. "Kita punya sekolah keperawatan yang memadai, sekolah dokter yang cukup. Pemda seharusnya melakukan hal yang sama yakni memberi beasiswa dan merekrutmen Sebab, Indonesia sama sekali tidak kekurangan tenaga medis. Kekurangan terjadi karena pemda tidak merekrutnya," ujar Ali Ghufron. (Antara)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:52 pm

FKUI: Tak Ada Penarikan Dokter Residen
Penulis : Wardah Fajri | Minggu, 1 Desember 2013 | 15:09 WIB
Dibaca: 599Komentar: 1
|Share:

KOMPAS.com / YOVANDA NONI
Seluruh dokter se-Kaltim mogok praktik, Rabu (27/11/2013). Bahkan di Samarinda, ratusan dokter menggelar aksi turun ke jalan dan membawa spanduk bertuliskan "Stop Kriminalisasi Dokter".
TERKAIT:
Tolak Kriminalisasi, IDI Ajak Sejawat Pakai Pita Hitam
Kasus dr Ayu, Cermin Buruknya Pola Komunikasi Dokter
Bila Dokter Dianiaya...
Jangan Pasif agar Terhindar Malapraktik
Meski Belum Spesialis, dr Ayu Kompeten Lakukan Operasi

KOMPAS.com - Ramainya pemberitaan mengenai kasus yang menimpa dr Ayu juga sempat memunculkan isu dan spekulasi tentang penarikan dokter residen yang ditempatkan di berbagai daerah terpencil oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Tetapi FKUI membantah isu tersebut dan menegaskan, tidak ada dokter residen yang ditarik dari tempat mereka bertugas. Karena, kalau penarikan dokter residen terjadi, banyak pihak merugi. FKUI pun berharap, kasus dr Ayu tak sampai menimbulkan kekhawatiran baik di kalangan dokter residen maupun dinas kesehatan setempat.

"FKUI tidak menarik residen karena dokter residen dibutuhkan di berbagai daerah, dan ada perjanjian kerjasama dengan daerah. Kami memberikan tenaga yang kompetensinya sudah tercapai untuk memberikan pelayanan kesehatan di tempat yang tidak memiliki dokter spesialis atau di daerah terpencil," ungkap Dekan FKUI, Ratna Sitompul saat dihubungi Kompas Health, Sabtu (30/11/2013) kemarin.

Ratna berharap, kasus penahanan dokter tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran di kalangan dokter residen yang bertugas, juga keraguan dari dinas kesehatan berbagai daerah yang membutuhkan tenaga dokter spesialis.

"Kekhawatiran ada, tapi tidak terjadi di lapangan. Kita bisa menggunakan jasa dokter yang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis ini," terangnya.

Menurut Ratna, jika program pendidikan dokter spesialis yang ditempatkan di berbagai daerah terutama daerah terpencil terganggu oleh kasus dr Ayu, dampaknya bisa luas.

"Yang dirugikan bukan hanya masyarakat yang membutuhkan dokter spesialis, tapi juga dinas kesehatan, dan dokter residen yang sedang meningkatkan keterampilan keahliannya melalui program pendidikan ini," ungkapnya.

Dokter residen atau dokter PPDS adalah dokter yang kompeten di bidang tertentu, namun belum sepenuhnya lulus pendidikan. FKUI mengirim mereka ke tempat yang membutuhkan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Dokter residen bekerja atas pengawasan dinas kesehatan setempat. Di daerah yang tidak memiliki dokter spesialis, keberadaan dokter residen menjadi penting karena memang kebutuhannya ada.

"Di satu tempat bisa berkumpul beberapa dokter residen, namun tidak selalu seperti itu. Paling lengkap di kepulauan Natuna di sana ada spesialis penyakit dalam, kandungan, mata, jantung, THT, dan lainnya," ujarnya.

Ratna memaparkan, penempatan dokter residen bergantung kepada kebutuhan daerah, dan FKUI menentukan jenis pekerjaannya. Berapa lama waktu bekerja dokter residen? Ini juga kembali melihat kebutuhan daerah, bisa satu minggu, empat minggu atau enam minggu.

Program pendidikan dokter residen bukan semata memenuhi permintaan dinas kesehatan yang merujuk pada kebutuhan masyarakat setempat. Program ini juga menjadi penting untuk memperkaya keterampilan dokter spesialis.

"Dokter spesialis, 10 kali melakukan operasi dia sudah kompeten. Namun jika dokter ditempatkan di satu daerah, dia terekspos dengan banyak masalah kesehatan, ini akan menyebabkan dia lebih terampil," terangnya.

Untuk mengirim dokter residen ke berbagai daerah yang membutuhkan juga ada sejumlah evaluasi. Ratna menjelaskan, FKUI hanya mengirim dokter residen setelah ada perjanjian kerjasama dengan dinas kesehatan setempat. Dokter residen ditempatkan di suatu daerah hanya untuk melakukan pekerjaan yang sudah kami tetapkan sesuai perjanjian. Mereka tidak menjalani praktik dokter spesialis tanpa ada penugasan atau melakukan pekerjaan di luar kesekapatan. FKUI juga akan melihat apakah fasilitas kesehatan sudah tersedia di tempat dokter residen bertugas.

"Misalnya kami ingin mengirim spesialis radiologi, kalau tidak ada alat yang memadai kami tidak akan mengirim karena bisa membahayakan residen atau masyarakat setempat," tegasnya.

Persyaratan yang juga tak kalah penting adalah surat izin praktek dokter residen.

"Agar residen bisa bekerja di tempatnya bertugas, harus melengkapi SIP yang dibuat dinas kesehatan setempat. Yang mengurus SIP harusnya dinas kesehatan, harusnya mereka aktif membantu residen. Selama ini tidak ada masalah pengurusan SIP," kata Ratna.

Secara terpisah, Manajer Akademik dan Kemahasiswaan FKUI, Pradana Soewondo, juga menegaskan FKUI tidak menarik dokter residen dari daerah.

"Perlu kami sampaikan bahwa FKUI tidak menarik PPDS dari daerah. Yang ada kami meminta agar segera mengecek SIP pendidikannya sudah dikeluarkan oleh dinas kesehatan masing-masing sesuai dengan peraturan," terangnya melalui pesan singkat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:56 pm

Saya Dokter. Saya Malapraktek
REP | 01 December 2013 | 01:28 Dibaca: 1760 Komentar: 40 18

Mungil di atas bukit
Dan tiba-tiba ingat Bantilang. Sebuah pelosok di sisi timur Sulawesi Selatan. Bersebelahan dengan batas Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Di sini saya memulai karir sebagai dokter PNS. Cukup mudah diakses. Kalo dari Makassar naik bus di terminal regional Daya. Ambil jurusan ke Kabupaten Luwu Timur. Sampaikan ke petugas loket atau langsung bicara sama sopir mau turun di pasar wawondula. Bayar 180 rb, naik (pastikan nomor kursi), tarik selimut (AC-nya cukup sejuk) dan tidurlah. Oh, iya ke sana hanya ada bus malam, berangkat pukul 7. Kalo tidak tidur, sebentar lagi sopir akan memaksa tidur dengan bantuan Pance Pondaag, Nia Daniati, dan rekannya Dian Pisesha.
Pukul 7 pagi sampai di pasar wawondula. Ojek dan supir angkot akan menyambut anda. Katakan mau ke pelabuhan timampu. Kalo tak punya bawaan berat lansung saja naik ojek. Karena angkot harus menunggu penumpang penuh. Jaraknya tidak jauh, mungkin 19 menit sudah sampe di pelabuhan. Pelabuhan penyeberangan danau. Tidak ada akses lain menuju ke Bantilang selain menyeberangi Danau Towuti. Naik katinting (semacam perahu motor). Wow, mesinnya sangat gaduh (jangan coba-coba untuk bicara karena tak ada yang bisa mendengar), mereknya Jiandong, menyalakannya pake engkol. Butuh 1 jam untuk sampai dipelabuhan sebelah, Desa Loeha. Dari sini naik ojek lagi. Tak jauh lagi. 10 menit lagi.

Di Bantilang saya dapat rumah dinas tipe 36. Paling mewah diseluruh kampung. Berdiri mungil di atas bukit. Halamannya sangat luas. Paling luas se Kabupaten Luwu Timur bahkan di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Kiri kanan muat lapangan sepakbola ukuran internasional. Halamanan belakang berbatas tak terhingga. Tak ada pagar. Hanya semak, kemudian tumbuhan perdu, menyusul pohon-pohon liar, tinggi dan rindang (mungkin ini yang disebut hutan), kemudian saya tidak tau lagi, gelaap. Konon setelah hutan itu, dibelakang gunung, ada sungai. Mungkin disitulah batasnya. Sungai tempat rusa, anoa, dan babi hutan melepas dahaga. Hewan yang saya sebut terakhir itu masih sering kesasar dibelakang rumah mengais-ngais sisa makanan. Rusa masih sering datang sekali seminggu. Sudah terpotong-potong dibawa warga yang suka berburu.

Saya bertanggung jawab melayani empat desa diseberang danau itu. Dibantu 1 bidan PTT dan 1 perawat sukarela (walau kadang saya tidak rela melihatnya dan jangan tanyakan darimana dia digaji). Disini saya lebih banyak bergentayangan dari desa ke desa (hehehe…sama nama acara TVRI yang dulu diasuh oleh Sambas, setelah acara Hiburan Lepas Senja) melayani warga yang tak punya ongkos ojek. Atau karena si sakit tak mampu berjalan menjangkau Puskesmas Pembantu tempat saya melayani.

Apa yang saya ingin katakan melalui cerita ini. Bukan kisah heroik seperti dalam film Suster Apung (saya tau tak akan ada artinya dibanding teman-teman yang bertugas dipelosok-pelosok papua, pedalaman kalimantan, pulau-pulau terpencil yang tak terlihat dipeta, atau dilorong-lorong dunia yang lain yang tak pernah disebut namanya). Bukan mengulang kisah-kisah sukses atau mengungkit jasa-jasa luhur sehingga merasa paling berhak menyandang profesi mulia. Atau mau diangap pahlawan dan harum namanya.

Saya ingin bilang, ini pengakuan, supaya masyarakat tau, supaya LSM tau, supaya aparat tau atau siapapun yang merasa perlu untuk tau bahwa saya telah melakukan malpraktek. Saya tidak tau lagi ada berapa banyak tindakan yang saya lakukan dan semua tanpa persetujuan tertulis. Pernah mengamputasi jari pasien, dua ruas, karena hancur terjepit kayu yang ia tebang (hhmm sepertinya itu ilegal loging). ” Saya potong, ya? Kemudian dia bilang : Iya. Itu saja. Saya potong dengan pisau bisturi. Sudah dipake 5 kali, disterilkan diatas kompor dengan panci masak. Carilah distandar prosedur operasional. Itu salah. Saya malpraktek. Ada Pak Guru yang minta dioperasi, ada lipoma di jidatnya. Cukup besar mengganggu sujudnya ketika shalat. Saya operasi dengan silet yang dibeli diwarung sebelah. Dibakar dengan alkohol. Lipoma diangkat. Luka dijahit benang catgut. Luka sembuh dengan bekas jahitan seperti lipan. Saya malpraktek. Seorang warga digotong ke rumah. Habis melompat dipinggir danau. Maksud hati menangkap ikan. Apa daya kakinya mendarat disebuah kayu runcing, tak terlihat didasar danau. Bergegas menolong. Orangnya pingsan saat saya anestesi. Orang-orang mengira sudah mati. Tapi kemudian pasien sadar dan jalan sendiri setelah kayu diangkat. Bagaimana kalo orangnya betul-betul mati? Tak matipun saya sdh harus masuk penjara. Saya malpraktek. Saya menyalahi prosedur. Seperti apa kesalahannya? Nanti pengadilan yang membuktikan.
Putusan MA terhadap dr. Ayu telah membuka mata seluruh masyarakat tentang “arti malpraktek” dan bagaimana mereka harusnya bertindak terhadap dokter yang malpraktek itu. Kini, sebentar lagi pahlawan-pahlawan itu (saya menyebutnya pahlawan sebagai penghargaan dan rasa hormat saya) dokter, perawat dan bidan yang berjuang dipelosok-pelosok negeri akan pulang satu-satu dengan wajah tertunduk. Saat ini ribuan tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan bidan) dengan semangat yang gemilang kini berdiri gamang. Mereka akan pulang bukan sebagai pahlawan tapi pecundang.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:58 pm

Meski Belum Spesialis, dr Ayu Kompeten Lakukan Operasi
Penulis : Rosmha Widiyani | Sabtu, 30 November 2013 | 08:44 WIB
Dibaca: 23299Komentar: 115
|Share:

wikimediacommons
Ilustrasi dokter
TERKAIT:
Malapraktik Bisa karena Dokter Minim Pengalaman
Dokter Pilih Tes Penunjang ketimbang Dituduh Malapraktik
Kasus dr Ayu, Cermin Buruknya Pola Komunikasi Dokter
IDI: Persepsi ke Dokter Pasti Sembuh Harus Diubah
KOMPAS.com — Isu yang berkembang dari kasus dr Ayu juga menyoal kompetensi dokter spesialis kandungan bernama lengkap Dewa Ayu Sasiary Prawani (38) ini saat melakukan tindakan bedah caesar. Meski belum menjadi dokter spesialis kandungan saat melakukan operasi bedah caesar pada 2010, dr Ayu sudah berkompeten melakukan tindakan tersebut. Saat tindak operasi berlangsung pada April 2010, dr Ayu menempati posisi chief resident.

Chief resident dalam dunia pendidikan kedokteran berarti yang bersangkutan mampu melakukan tindak operasi secara mandiri bergantung pada spesialisasi yang diambil.

"Dalam posisi tersebut, dr Ayu sudah memiliki surat izin praktik (SIP) namun masih untuk tingkat fakultas dan universitas. Seorang dokter tak mungkin melakukan operasi bila tidak memiliki SIP," kata Sekertaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Muhammad Faqih saat dihubungi Kompas Health, Jumat (29/11/2013).

Posisi chief resident, jelas Daeng, hanya bisa diperoleh bila seorang calon dokter mampu melalui tiga tahap sebelumnya dalam pendidikan kedokteran. Posisi ini sekaligus mengindikasikan calon dokter tersebut akan lulus dalam waktu dekat dan berhak menyandang status sebagai spesialis.

Tiga tahap tersebut adalah melihat dan mengkaji, asistensi, dan pendampingan operasi. Tahap pertama biasa dilakukan mahasiswa tahun pertama spesialis selama 1-2 tahun.

Tahap berikutnya, yaitu sebagai asisten dan pendampingan operasi, dilakukan berdasarkan kemampuan calon dokter. Bila kemampuannya cukup, level ini bisa dilewati dalam 2-3 tahun. Namun, jika tidak, durasi tahap ini akan diperpanjang.

Selama melalui tahap asistensi dan pendampingan operasi, calon dokter akan dinilai oleh masing-masing fakultasnya. Hasil penilaian dikirim ke kolegium pendidikan yang ada di tiap perhimpunan kedokteran. Kolegium pendidikan tersebut beranggotakan ketua program studi (KPS) dari semua fakultas kedokteran yang ada di Indonesia.

"Kolegium inilah yang kemudian menentukan apakah seorang calon dokter bisa dinyatakan mandiri. Dari tahap ini bisa dilihat, tidak sembarang calon dokter bisa melakukan operasi. Ada tahap-tahap yang harus dilalui sebelum dinyatakan mandiri," kata Daeng.

Hal senada dikatakan Ketua Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) IDI HN Nazar. Pada level chief resident, kata Nazar, kewenangan lain dr Ayu adalah menangani proses persalinan biasa dan operasi tumor kandungan jinak.

"Dalam level tersebut dr Ayu hanya perlu menunggu ujian nasional, dan 90 persen bisa dikatakan mampu menyandang spesialis. Hal ini terbukti pada awal Januari 2011 dr Ayu sudah menyandang gelar spesialis," ujar Nazar.

Lebih jauh, Nazar menjelaskan, posisi chief resident biasa mengisi posisi di rumah sakit pendidikan dan jejaringnya sehingga seorang chief resident bisa bekerja di RSU maupun RSUD, yang memiliki jaringan dengan rumah sakit pendidikan.

Kasus dr Ayu rugikan dunia kesehatan Indonesia
Nazar mengatakan, kasus dr Ayu berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi dunia kesehatan Indonesia. Hal ini disebabkan mayoritas dokter chief resident mengisi rumah sakit terpencil di daerah pedalaman di seluruh Indonesia.

"Khusus untuk chief resident biasanya tiap perguruan tinggi punya 10 orang. Dengan 12 sentra pendidikan, maka kita memiliki 120 chief resident. Kalau semua chief resident ditarik karena kasus dr Ayu, lantas berapa yang kita punya di lapangan, terutama di daerah terpencil? Hal ini tentu merugikan dunia kesehatan Indonesia," kata Nazar.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:58 pm

Kasus dr Ayu, Cermin Buruknya Pola Komunikasi Dokter
Penulis : Rosmha Widiyani | Rabu, 27 November 2013 | 11:12 WIB
Dibaca: 18480Komentar: 13
|Share:

shutterstock
TERKAIT:
Dokter, Sentuhan Anda Itu Menyembuhkan!
Dokter Asing Tak Bisa Asal Praktik di RS
Sebaran Dokter Tak Merata, Kesejahteraan Sulit Dicapai
Tolak Kriminalisasi, IDI Ajak Sejawat Pakai Pita Hitam
Standar Pelayanan Medis Nasional Cegah Kriminalisasi Dokter

KOMPAS.com — Kasus pidana yang menimpa beberapa dokter atas tuduhan malapraktik merupakan cermin masih buruknya pola komunikasi antara dokter dan pasien di Indonesia.
Sebagai pihak yang saling membutuhkan, dokter seharusnya dapat menggali bagaimana sesungguhnya kondisi pasien. Hal yang sama juga harus dilakukan pasien dengan proaktif bertanya tentang kondisi dan pengobatan yang sebaiknya dijalani. Dengan kerja sama ini, kasus serupa mungkin dapat dihindari.
"Saya menduga mungkin kasus ini dikarenakan pola komunikasi yang buruk. Dokter kurang menggali informasi dari pasien akibatnya terjadi hal fatal usai operasi," kata pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, kepada KOMPAS Health, Selasa (26/11/2013) kemarin.
Buruknya komunikasi dokter diperkuat survei yang pernah dilakukan YLKI di Kota Medan dan Yogyakarta. Survei yang dilakukan pada 2008-2009 tersebut membuktikan, masyarakat merasa tidak mendapat info yang tepat terkait penyakit atau pengobatan dari dokter yang memeriksa. Akibatnya, pasien cenderung pasrah pada tindakan apa pun yang diambil dokter demi kesembuhan penyakit mereka.
Padahal, komunikasi, lanjut Tulus, menjadi kunci kesembuhan pasien. Hal ini karena kondisi dan jarak pengetahuan yang dimiliki antara dokter dan pasien. Pasien yang datang dalam kondisi lemah, kata Tulus, tidak memiliki pengetahuan sedikit pun pada apa yang terjadi dengan tubuhnya. Pasien juga nyaris pasrah pada pengobatan apa pun yang akan dilakukan dokter.
"Dalam kondisi inilah, posisi dokter nyaris seperti Tuhan. Pasien tidak mengetahui proses pengobatan dan semata berharap kesembuhan. Situasi ini bisa diatasi bila dokter mau aktif berbicara pada pasien sejak pertama kali berobat," kata Tulus.
Pola komunikasi, kata Tulus, sekaligus menjadi pembeda antara layanan dokter Indonesia dan luar negeri. Hal ini pula yang menyebabkan orang Indonesia lebih suka berobat ke luar negeri kendati kualitas pengobatan yang dimiliki sama.
Tulus mencontohkan Singapura sebagai salah negera tujuan pengobatan mayoritas orang Indonesia. Di negeri ini, setiap pasien yang datang akan mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya terkait penyakit yang diderita. Pasien juga mendapat info terkait pengobatan yang akan dijalani, termasuk risiko yang harus diterima. Hal ini dilakukan tanpa permintaan pasien.
"Pasien bahkan menerima info terkait peluang hidupnya. Hal inilah yang tidak terjadi pada kasus dr Ayu. Pasien tidak diberitahu dan pasif pada tindakan yang diambil. Akibatnya, terjadi kasus emergencyyang harus segera ditangani dengan segala risikonya. Kasus emergency tentu tidak bisa dikatakan sebagai malapraktik," kata Tulus.

Pasif
Buruknya pola komunikasi para dokter juga diakui Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Daeng Muhammad Faqih. Menurut dia, dokter Indonesia memang kebanyakan pasif dan kurang mengomunikasikan penyakit serta pengobatan yang harus dijalani pasien. Pasien juga mayoritas tidak aktif bertanya terkait kondisi dan pengobatan yang dijalani.
Kondisi ini berlaku sama di seluruh tingkat layanan kesehatan. "Dokter Indonesia harus lebih banyak bicara. Dengan komunikasi, persepsi antara pasien dan dokter bisa disamakan sehingga pasien paham pada kondisi dan pengobatan yang dijalani, termasuk risiko yang ditanggung," kata Daeng.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Dec 01, 2013 3:59 pm

Malapraktik Bisa karena Dokter Minim Pengalaman
Penulis : Rosmha Widiyani | Selasa, 30 April 2013 | 08:51 WIB
Dibaca: 1108Komentar: 1
|Share:

shutterstock
ilustrasi
TERKAIT:
Menkes : Profesionalisme Dokter Perlu Ditingkatkan
Mengapa Pasien Bisa Tersadar di Meja Operasi?
RSCM Sukses Cangkok Ginjal Pasien Anak
Sistem Pendidikan Dokter Tak Sejalan dengan SJSN
Pentingnya "Second Opinion" ke Dokter Lain
KOMPAS.com - Salah satu faktor penyebab terjadinya kasus malapraktik di tanah air adalah kompetensi seorang dokter. Minimnya pengalaman dapat mempengaruhi kompetensi tenaga kesehatan profesional ini. Oleh sebab itulah, penting artinya bagi seorang dokter untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme untuk menghindari kasus malapraktik.

Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Prof.Dr.Med. Ali Baziad, SpOG(K) menyatakan, dengan jam terbang yang kurang, modal pengetahuan seorang dokter terkait proses penyembuhan rendah. Cara mereka berkomunikasi dengan pasien pun terbatas. Akibatnya, informasi mengenai penyakit tidak tersampaikan dengan baik. Risiko dari proses penyembuhan juga tidak sepenuhnya dipahami oleh pasien.

Dari kasus malapraktik yang dilaporkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, kata dia, hanya sekitar 40 persen saja yang dikenai sanksi.
"Sisanya tidak terbukti sebagai malapraktik," kata dia pada peringatan sewindu Konsil Kedokteran Indonesia di Jakarta, Senin (28/4/2013).

Ali tak sepakat apabila kasus itu disebut sebagai malapraktik. Menurutnya, hal tersebut adalah risiko yang terjadi saat menjalani proses pengobatan. Faktor risiko ini bisa dihindari apabila dokter mampu mengkomunikasikan penyakit dan penyembuhannya kepada pasien.

Tentunya dalam berkomunikasi, perlu didukung oleh pengetahuan dan pengalaman dokter bersangkutan. Oleh karena itu, kata Ali, penting artinya bagi seorang dokter mengikuti internship. Program magang setahun bagi lulusan sarjana kedokteran ini, akan meningkatkan pengalaman dan mutu dokter.

"Para dokter dengan dibekali kemampuan kuliah, akan mengabdi di masyarakat. Mereka dapat belajar bagaimana profesionalisme dan sikap yang baik di masyarakat," kata Ali.

Profesionalisme dan sikap yang baik akan menuntun dokter bisa mengabdi dengan baik dimanapun ditempatkan. Menurut Ali, dua hal ini tidak menjadikan keterbatasan akses, peralatan, atau percaya diri sebagai hambatan. "Profesionalitas, sikap, dan komunikasi menjadi poin penting dokter masa kini. Saya yakin mutu dokter Indonesia tidak menurut, namun memang perlu perbaikan," ujar Ali.
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
Back to top 
Page 23 of 24Go to page : Previous  1 ... 13 ... 22, 23, 24  Next
 Similar topics
-
» Inikah Tulisan Dari Seorang Katolik ?!?!?!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: