Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

Go down 
Go to page : Previous  1 ... 12 ... 21, 22, 23, 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 8:36 am

KEMENDIKBUD: UJI KOMPETENSI DOKTER UNTUK JAGA KUALITAS
Selasa, 27 Agustus 2013 | 20:15 WIBMI/Panca Syurkani/boTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan untuk menjaga kualitas pendidikan dokter pihaknya telah membuat program khusus yakni berupa uji kompetensi dan program internship. "Justru karena itu, kami telah mengadakan program internship dan ada juga ujian kompetensi setelah tamat Fakultas Kedokteran (FK)," kata Wamendikbud Musliar Kasim saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (27/Cool, terkait keluhan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang menurunnya kualitas pendidikan dokter di Indonesia saat ini. Menurut Musliar, dua bentuk kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kualitas assurance. Internship, kata Musliar, adalah semacam program magang di rumah sakit setelah tamat selama satu tahun, dan diber gaji. "Sedangkan uji kompetensi, untuk menjaga kualitas. Kalau tidak lulus, mereka tidak bisa praktik dokter," tegas mantan Rektor Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat itu. Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Djoko Santoso menyatakan, uji kompetensi dokter harus ditegakkan. "Saya sedang melakukan berbagai investigasi tentang keluhan dan berbagai informasi yang masuk ke direktorat kami terkait masalah aturan dan kualitas atau mutu pendidikan kedokteran dewasa ini. Salah satu intinya, untuk menjaga mutu lulusan dokter harus ditegakkan aturan yaitu berupa uji kompetensi," tegasnya. Selain itu, kata dia, penerapan kuota juga harus diberlakukan sesuai aturan. "Semua perguruan tinggi negeri (PTN) termasuk Fakultas Kedokteran semuanya harus mengikuti aturan yang berlaku," ujar mantan Rektor ITB itu. (Syarief Oebaidillah)


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:41 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 9:14 am

PEMERINTAH BAKAL ELIMINASI CALON DOKTER TIDAK BERMUTU
Selasa, 27 Agustus 2013 | 20:09 WIBANTARA/Widodo S. Jusuf/boTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah kemungkinan akan membuat aturan baru bagi lulusan Fakultas Kedokteran muda untuk mengikuti uji kompetensi untuk membatasi calon dokter tidak bermutu. Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Selasa (27/, mengatakan berkaca dari laporan buruknya kualitas lulusan Fakultas Kedokteran, terkait uji kompetensi bakal dibuat sistem peraturan baru. Aturan itu seperti, uji kompetensi susulan diperbolehkan sebanyak dua kali dan yang bersangkutan tidak perlu membayar lagi ongkos uji kompetensi sebesar Rp350 ribu sekali tes. Selain itu, bila gagal pada tahap awal uji kompetensi, dokter muda itu diserahkan kembali ke fakultas untuk dibimbing kembali agar bisa lulus mengikuti ujian kompetensi susulan. “Dengan mewajibkan fakultas melakukan pembimbingan, artinya fakultas diberi beban tanggung jawab akan mutu lulusan mereka,” tuturnya. Bagi lulusan yang sudah berkali-kali gagal ikut uji kompetensi walau sudah dibimbing, Ghufron merekomendasikan lebih baik melupakan mimpi jadi dokter. “Kami sarankan mereka mengambil pendidikan untuk menjadi profesi lain yang masih terkait bidang medis, seperti menjadi aktuaris asuransi kesehatan, manajer rumah sakit, PNS Dinas Kesehatan, dan sebagainya,” tutup Ghufron. (Cornelius Eko Susanto)


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 9:20 am

DIKTI DIMINTA TEGAS TERHADAP FAKULTAS KEDOKTERAN ABAL ABAL
Kamis, 29 Agustus 2013 | 08:14 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendesak Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud agar bersikap tegas pada fakultas kedokteran abal-abal yang kerap menghasilkan dokter tidak bermutu. “Saat ini ada sejumlah fakultas kedokteran yang beroperasi melanggar aturan. Karena pembenahan bidang pendidikan urusan Kemendikbud, kita berharap Dikti bersikap tegas pada fakultas-fakultas ini,” ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemenkes Untung Suseno Sutarjo, Rabu (28/Cool. Ucapan Untung merujuk pada kasus yang terjadi di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Lampung. Universitas itu disinyalir melanggar sejumlah ketentuan yang tercantum dalam UU Pendidikan Kedokteran (Dikdok). Contoh pelanggaran seperti merekrut mahasiswa jauh melampaui kuota lantaran memasukan 400-an orang padahal kuotanya hanya 80. Fakultas itu juga hanya berakreditasi C dan belum memiliki rumah sakit (RS) pendidikan. Tempat magang praktik dokter pun jauh berada di luar provinsi. Tidak hanya itu, fakultas itu juga menerima calon mahasiswa dari siswa SMA jurusan IPS dan SMK. Menurut Untung, kasus di Malahayati juga terdapat di sejumlah fakultas swasta serupa. Dia menyebutkan kejadian seperti Malahayati juga ada di Aceh. Sedangkan di tempat lain, kasus yang paling jamak terjadi adalah fakultas menerima mahasiswa dengan jumlah di luar kuota dan belum memiliki rumah sakit pendidikan. Imbasnya lulusan dokter yang dihasilkan jadi kurang bermutu. “Kemenkes sebagai user akhirnya harus menerima lulusan dokter yang tidak bermutu,” keluh Untung. Untuk membenahi masalah tersebut, Kemenkes telah banyak memberi masukan pada Dikti untuk melakukan pembenahan. Untung menyebutkan bahwa kementeriannya telah banyak memberi masukan pada proses kelahiran UU Dikdok. “Kemenkes, RS, kolegium kedokteran sejatinya berada di posisi hilir pada bidang pendidikan kedokteran. Dikti yang berada di bagian hulu harus segera membenahi masalah fakultas kedokteran tidak bermutu ini,” tambahnya. Dengan adanya UU Dikdok yang disahkan pada Juli tahun ini, kini Dikti sudah memiliki pegangan untuk melakukan pembenahan. Ke depannya, lanjut Untung, soal kuota dan kewajiban memiliki RS pendidikan bakal lebih diperketat. Sebelumnya PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) mengeluhkan soal rendahnya mutu lulusan dokter pada saat ini. Buruknya para dokter muda tersebut akibat dari tumbuhnya berbagai fakultas kedokteran swasta di daerah yang tidak berkualitas sehingga melulusan para lulusan yang tidak bermutu. Ketua PB IDI Zaenal Abidin mengeluhkan pada tahun ini mereka harus melakukan pendampingan pada 2.500 dokter baru lulus yang berkali-kali tidak lulus uji kompetensi. Zaenal bahkan mengungkapkan ada beberapa lulusan yang gagal uji kompetensi setelah mencoba hingga 19 kali. Uji kompetensi merupakan syarat bagi para dokter untuk mendapatkan Sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan PB IDI. Sertifikasi itu merupakan syarat untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Usai mendapatkan kedua surat tersebut, dokter bersangkutan dapat mengajukan Surat Izin Praktik (SIP) pada IDI cabang setempat agar bisa melakukan praktik kedokteran. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Aug 30, 2013 11:29 am

KEMENDIKBUD UTUS TIM INVESTIGASI KE UNMAL
Kamis, 29 Agustus 2013 | 21:43 WIBMI/Panca Syurkani/ipTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kemendikbud menyiapkan tim investigasi terkait dugaan pelanggaran di FK Unmal Bandarlampung. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menurunkan tim investigasi terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malahayati. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim mengatakan tim yang terdiri dari orang-orang Kementerian dan Inspektorat Jendral (Irjen) Kemendikbud akan mulai diturunkan mulai minggu depan. Ditemui Media Indonesia pada Kamis (29/Cool, Wamendikbud mengatakan tim tersebut akan menyelidiki fakta-fakta di lapangan dan memverifikasi apakah hal tersebut memang melanggar peraturan. "Perguruan Tinggi itu otonom. Begitu diberikan Surat Izin Operasi maka mereka yang tentukan sendiri pelaksanaan teknisnya," jelasnya. Menurut Wamendikbud, selama ini Kemendikbud belum pernah menerima laporan mengenai pelanggaran yang dilakukan Fakultas Kedokteran di Universitas Malahayati Bandarlampung, Lampung. Ditanya mengenai ketiadaan Rumah Sakit (RS), Musliar mengatakan sepengetahuannya justru kampus ini sudah memiliki RS sendiri. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) saja, ungkapnya, belum semuanya memiliki RS sendiri. Terkait sanksi, ia mengaku belum bisa memastikan sanksi apa yang akan dijatuhkan jika memang ditemukan pelanggaran. "Yang pasti tidak akan sampai ditutup," ungkapnya. Sebagaimana diketahui dalam beberapa hari Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati diberitakan melanggar UU Pendidikan Kedokteran. Contoh pelanggarannya adalah merekrut mahasiswa hingga 400 orang padahal kuotanya hanya 80 orang. Selain itu FK Universitas Malahayati juga diduga belum memiliki RS. (Vera Erwaty Ismainy)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 8:31 am

KEMENKES AKUI PEMBUATAN KUESIONER VULGAR
Jum'at, 06 2013 | 19:34 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membenarkan pihaknya yang membuat soal kuesioner ‘vulgar’ yang diedarkan ke sekolah-sekolah. Namun kuesioner itu bukan ditujukan untuk menyeleksi siswa baru atau untuk mengenalkan soal kesehatan reproduksi pada remaja. Menurut Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes Dedi Kuswenda, soal kuesioner itu sejatinya untuk mengetahui adanya kelainan hormon yang mempengaruhi pertumbuhan organ kelamin dan organ seks sekunder di kalangan remaja. Sifat dari kuesioner ini, lanjut dia juga sangat rahasia. “Di Dinas Kesehatan sudah kita beri tahu tata cara pembagian kuesionernya. Tetapi di tingkat puskesmas nampaknya petugas main bagi-bagi saja,” ujar Dedi, di Jakarta, Jumat (6/9). Dedi menambahkan, kuesioner tersebut sejatinya merupakan bagian dari program Penjaringan Anak Sekolah Lanjutan yang disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes dan susdah disebarkan ke seluruh Dinas Kesehatan sejak 2010. Tujuan dari dilakukannya program tersebut, lanjut Dedi, untuk mengukur kesehatan siswa secara menyeluruh, khususnya untuk menngatisipasi kelainan hormon sejak dini di kalangan siswa SMP-SMA yang duduk di kelas I. Metode yang digunakan mengacu pada Skala Tanner yang disusun bersama-sama antara Kemenkes dan praktisi kesehatan. Lantaran yang coba diketahui adalah tingkat perkembangan hormon, maka yang ditanyakan dalam kuesioner bermacam-macam, tidak hanya terbatas soal alat kelamin saja, tetapi seluruh tubuh, mulai dari perkembangan mata sampai kaki. Terkait soal pemberian gambar ilustrasi dalam kuesioner, Dedi mengatakan hal itu untuk mempermudah siswa. Pasalnya tidak semua siswa mau secara terbuka untuk berkonsultasi. Jawaban soal yang diberikan oleh siswa pun, lanjut Dedi tidak boleh diketahui oleh umum. Begitu selesai, petugas puskesmas segera membawanya ke kantor untuk dipelajari. Dari kuesioner bila terjaring anak yang mengalami kelainan hormon dan pertumbuhan, maka puskesmas akan memanggil keluarga agar anaknya diobati. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:01 am

KUESIONER KESEHATAN REPRODUKSI KEMENKES TEAH DI UJI COBA DI 6 PROVINSI
Nurvita Indarini - detikHealth Sabtu, 07/09/2013 14:50 WIB
Jakarta, Sejak 2010 Kemenkes melakukan uji coba kuesioner 'Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Sekolah Lanjutan' sebelum memberlakukannya di seluruh Indonesia. Kuesioner yang antara lain berisi tentang kesehatan reproduksi ini telah diujicobakan di 6 provinsi. "Kita sudah melakukan uji coba di 6 provinsi yakni Sumatera Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan," ujar Direktur Bina Kesehatan Anak, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc dalam jumpa pers yang digelar di Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/9/2013). Nantinya kegiatan ini akan dilakukan di seluruh Indonesia melalui program Upaya Kesehatan Sekolah (UKS), di mana metodenya di SD dengan pemeriksaan oleh petugas atau guru UKS. Sedangkan di SMP dan SMA, pemeriksaan dilakukan oleh petugas atau guru UKS serta kuesioner. "Jadi nanti anak yang akan menilai sendiri seperti apa kondisi tubuh mereka. Ini formulir yang rahasia, dikumpulkan oleh petugas dan nanti akan diketahui mana saja yang agak bermasalah, sehingga dirujuk ke Puskesmas. Semua akan dicek. Ini tujuannya baik, agar bisa terdeteksi secara dini," papar dr Jane. Pada masa remaja, sambung perempuan berkacamata ini, bisa terjadi kelainan pubertas prekos dan delay puberty. Pubertas prekos adalah kondisi di mana anak-anak mengalami pubertas dini, yang mana hal ini dialami oleh satu dari 5.000 anak. Angka kejadian kondisi ini dialami 10 kali lebih banyak pada anak perempuan. Sedangkan delay puberty terjadi pada 3 persen populasi anak. "Keterlambatan pubertas maupun pubertas dini akan mempengaruhi kehidupan psikososial remaja," lanjut dr Jane. Bagaimana hasil penjaringan tahun-tahun sebelumnya? "Data masih terserak, tapi pasti akan dilihat sejauh mana keberhasilannya," kata dr Jane. Penjaringan, lanjutnya, dilakukan untuk anak-anak kelas 1. Nah petugas dua kali dalam setahun akan melakukan peninjauan sebagai salah satu tindak lanjut pemantauan kesehatan siswa. Tujuan umum penjaringan kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah. Sedangkan tujuan khususnya adalah mendeteksi secara dini kesehatan peserta didik, tersedianya data/ informasi untuk menilai perkembangan peserta didik, dan termanfaatkannya data untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi program pembinaan peserta didik. Di bagian kesehatan reproduksi, kuesioner itu menanyakan berbagai hal seputar masa puber. Di antaranya tentang nyeri menstruasi dan keputihan pada remaja putri, maupun mimpi basah pada remaja putra. Soal ukuran kelamin, kuesioner tersebut meminta para remaja baik putra maupun putri untuk melingkari gambar yang paling sesuai dengan kondisinya. Tersedia 5 pilihan gambar, berurutan sesuai tahap perkembangan fisik semasa pubertas. Pada pilihan untuk remaja putri misalnya, gambar nomor 1 menampilkan bentuk dada yang belum memiliki payudara. Nomor 2 mulai ada tonjolan kecil pada payudara, lalu tumbuh terus hingga paling besar ada di nomor 5. Hal yang sama juga berlaku untuk gambar alat kelamin remaja putra. Gambar nomor 1 menampilkan ukuran penis paling pecil dengan rambut pubis (rambut kemaluan) yang masih tipis, sedangkan nomor 5 berukuran paling besar dengan rambut pubis paling lebat. Nah kemunculan gambar-gambar yang sebenarnya mendasarkan pada skala tanner itu memunculkan kehebohan di masyarakat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:02 am

KUESIONER KEMENKES YANG TAMPILKAN GAMBAR PAYUDARA DAN KELAMIN AKAN DIHAPUS?
Nurvita Indarini - detikHealth Sabtu, 07/09/2013 13:19 WIB
Jakarta, Kehebohan mencuat kala muncul gambar payudara dan alat kelamin pria dalam kuesioner 'Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan' untuk anak SMP di Sabang, Aceh. Agar kehebohan itu tidak berlarut-larut apakah kuesioner itu akan dihapuskan? "Tidak bisa semudah itu. Kita akan evaluasi, akan kita undang semua. Mari kita sama-sama evaluasi ini semua, termasuk yang di Aceh," ujar Direktur Bina Kesehatan Anak, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc dalam jumpa pers yang digelar di Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/9/2013). Terkait masalah koordinasi dengan kementerian lain dalam menggelar kuesioner penjaringan itu, dr Jane menegaskan, koordinasi telah dilakukan. Hanya saja koordinasi terkesan tidak jalan karena pergantian pejabat atau petugas. "Kadang karena ganti orang, bisa saja seperti itu," ucap dr Jane. Pemuatan ilustrasi payudara dan alat kelamin yang merupakan alat reproduksi sekunder adalah berdasar skala tanner. Menurut dr Jane, skala tanner sudah digunakan di berbagai negara di seluruh dunia sejak 1970. Nah, di Indonesia, pemunculan ilustrasi ini malah disorot negatif, jadi akankah skala tanner tidak akan lagi digunakan? "Ini nanti akan kita evaluasi juga. Minggu depan akan kami undang semua (pihak) untuk melakukan evaluasi," kata perempuan berkacamata ini. Skala tanner mengidentifikasi proses pertumbuhan fisik selama masa pubertas, secara rinci dalam beberapa tahap. Beberapa perubahan yang diamati dalam skala ini adalah payudara pada remaja putri, ukuran alat vital pada laki-laki dan rambut kemaluan pada laki-laki maupun perempuan.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 08, 2013 10:18 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:03 am

KEMENKES PASTIKAN KUESIONER KESEHATAN UNTUK ANAK SMP DAN SMA BUKAN UNTUK SURVEI
Nurvita Indarini - detikHealth Sabtu, 07/09/2013 12:53 WIB
Jakarta, Anak-anak yang baru masuk SMP dan SMA diminta untuk mengisi kuesioner 'Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan'. Kesehatan reproduksi menjadi salah satu hal yang terdapat dalam kuesioner tersebut, di mana terdapat gambar-gambar ukuran payudara dan alat kelamin. Kemenkes menyatakan kuesioner itu semata-mata untuk penjaringan dan bukan untuk survei. "Ini bukan penelitian, ini penjaringan. Ini rutin dilakukan setiap anak masuk ke sekolah lanjutan," kata ujar Direktur Bina Kesehatan Anak, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc dalam jumpa pers yang digelar di Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/9/2013). dr Jane menjelaskan penjaringan ini akan dilakukan di seluruh Indonesia, alias tidak pilih-pilih daerah. Karena masih baru, awalnya memang dilakukan dengan uji coba pada 2010. Selain itu sosialisasi pun terus dilakukan agar penjaringan berjalan dengan baik tanpa kendala. dr Jane menduga ada sosialisasi yang masih kurang sehingga kuesioner tersebut menimbulkan kehebohan. Bisa jadi orang tua murid juga belum mendapat sosialisasi yang memadai sehingga merasa risih dengan beberapa pertanyaan dalam kuesioner. "Seharusnya ada penjelasan ke pihak sekolah. Juga ada penjelasan dari guru ke orang tua, nah mungkin ini tidak ada. Akan kita investigasi mengapa bisa begini," sambung perempuan berkacamata ini. Kemenkes juga akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Evaluasi akan dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak seperti pihak yang menyusun pentunjuk teknis penjaringan kesehatan anak sekolah lanjutan, akademisi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan kementerian lainnya. "Kita juga akan sosialisasi secara berjenjang ke provinsi, kabupaten, sekolah," ucap dr Jane. Sebenarnya dalam kuesioner ditanyakan pertanyaan terkait kesehatan umum, kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, gaya hidup, kesehatan intelegensia, dan kesehatan mental remaja. Di bagian kesehatan reproduksi, kuesioner itu menanyakan berbagai hal seputar masa puber. Di antaranya tentang nyeri menstruasi dan keputihan pada remaja putri, maupun mimpi basah pada remaja putra. Soal ukuran kelamin, kuesioner tersebut meminta para remaja baik putra maupun putri untuk melingkari gambar yang paling sesuai dengan kondisinya. Tersedia 5 pilihan gambar, berurutan sesuai tahap perkembangan fisik semasa pubertas. Pada pilihan untuk remaja putri misalnya, gambar nomor 1 menampilkan bentuk dada yang belum memiliki payudara. Nomor 2 mulai ada tonjolan kecil pada payudara, lalu tumbuh terus hingga paling besar ada di nomor 5. Hal yang sama juga berlaku untuk gambar alat kelamin remaja putra. Gambar nomor 1 menampilkan ukuran penis paling pecil dengan rambut pubis (rambut kemaluan) yang masih tipis, sedangkan nomor 5 berukuran paling besar dengan rambut pubis paling lebat.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 08, 2013 10:20 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:04 am

MENGENAL SKALA TANNER, ASAL MUASAL GAMBAR 'VULGAR' DALAM KUESIONER KEMENKES
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jumat, 06/09/2013 19:18 WIB
Jakarta, Kuesioner untuk sekolah lanjutan menuai kontroversi lantaran ada gambar yang dianggap vulgar oleh sebagian orang. Gambar-gambar tersebut diambil dari skala Tanner, sebuah alat riset yang tidak hanya dipakai di Indonesia. "Ini adalah skala Tanner, kita koordinasi dengan para profesi untuk menyusun ini, juga agar jelas terapi apa yang akan diberikan kepada anak tersebut," kata Dedi Kuswenda, Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes ketika ditemui di Gedung Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/9/2013). Skala tanner mengidentifikasi proses pertumbuhan fisik selama masa pubertas, secara rinci dalam beberapa tahap. Beberapa perubahan yang diamati dalam skala ini adalah payudara pada remaja putri, ukuran alat vital pada laki-laki dan rambut kemaluan pada laki-laki maupun perempuan. Sayangnya, kuesioner yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan dan beredar di beberapa daerah tidak disertai keterangan lebih rinci. Akibatnya banyak yang tidak mengetahui apa maksudnya dan justru merasa risih dengan gambar-gambar tersebut. Seperti dikutip dari Healthmango.com, berikut ini cara mengartikan gambar-gambar yang tercantum dalam kuesioner kontroversial tersebut.

Kelamin laki-laki:

Tanner 1
Volume testis kurang dari 1,5 ml, ukuran penis penis kurang dari 3 cm

Tanner 2
Volume testis antara 1,6 - 6 ml, kantong buah zakar menipis, memerah dan melebar, panjang penis belum berubah

Tanner 3
Volume testis antara 6 - 12 ml, kantong buah zakar makin membesar, penis mulai memanjang hingga 6 cm

Tanner 4
Volume testis antara 12 - 20 ml, buah zakar membesar dan warnanya makin gelap, penis memanjang hingga 10 cm, begitu juga lingkarnya.

Tanner 5
Volume testis lebih besar dari 20 ml, buah zakar sudah matang dan panjang penis mencapai 15 cm

Payudara perempuan:

Tanner 1
Tidak ada jaringan payudara, areola atau area berwarna coklat masih mengikuti kontur kulit di sekitarnya

Tanner 2
Tonjolan payudara mulai muncul, dengan areola mulai melebar

Tanner 3
Payudara mulai terangkat, membesar melewati batas areola dan terus melebar tapi masih dalam kontur jaringan di sekitarnya.

Tanner 4
Ukuran payudara membesar dan makin terangkat, areola dan papilla membentuk gundukan di sekeliling payudara

Tanner 5
Payudara mencapai ukuran final kedewasaan, areola kembali mengikuti kontur jaringan di sekitarnya

Rambut kemaluan (laki-laki maupun perempuan)

Tanner 1
Tidak ada rambut sama sekali

Tanner 2
Ada sedikit rambut, panjang, halus dan berwarna pucat di pangkal penis maupun buah zakar (laki-laki), atau di bibir luar vagina (perempuan)

Tanner 3
Rambut makin keriting dan bertekstur kasar, area mulai melebar secara lateral

Tanner 4
Kualitas rambut sudah seperti orang dewasa, melebar melewati area pubis tetapi tidak sampai medial paha

Tanner 5
Area rambut meluas hingga permukaan medial dari paha.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 08, 2013 10:16 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:04 am

KUESIONER YANG DINILAI VULGAR ITU BUKAN UTUK SELEKSI MASUK SMP DAN SMA
Putro Agus Harnowo - detikHealth Jumat, 06/09/2013 19:02 WIB
Jakarta, Dunia pendidikan Indonesia kembali dihebohkan dengan munculnya kuesioner yang memuat ilustrasi yang dinilai vulgar. Beberapa saat sebelumnya, muncul gagasan untuk melakukan tes keperawanan untuk menyeleksi siswa didik. Nah, apakah kuesioner ini memiliki fungsi serupa? "Ini bukan untuk penjaringan atau seleksi anak masuk sekolah, tapi penjaringan pada anak-anak tertentu berkaitan dengan kesehatannya. Kita melakukannya setelah anak masuk diterima sekolah, bukan untuk seleksi," kata Dedi Kuswenda, Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes. Ditemui di Gedung Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/9/2013), Dedi menerangkan bahwa kuesioner tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengukur kondisi kesehatan anak secara menyeluruh, bukan hanya kesehatan reproduksi saja. Kementerian Kesehatan-lah yang mengeluarkan kuesioner tersebut bertajuk 'Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan'. Yang diperiksa adalah berbagai aspek kesehatan mulai dari kesehatan fisik secara keseluruhan, kesehatan mental, hingga riwayat penyakit yang diidap orang tua. "Ini penjaringan buat anak-anak kelas 7 dan kelas 10, jadi saat mereka masih duduk di kelas 1 SMP atau SMA. Nah, kalau sejak awal ditemukan gangguan, kan masih ada waktu 3 tahun untuk mengobatinya," terang Dedi. Praktiknya, petugas dari Puskesmas akan mendatangi SMP dan SMA di daerah kerjanya, lalu memberikan kuesioner kepada masing-masing anak. Para siswa diminta menjawab kuesioner sesuai dengan kondisi fisik yang dialaminya. Tak hanya itu, kuesioner ini juga disertai dengan follow up pemeriksaan fisik. "Ini sudah ada di seluruh Indonesia, sudah ada buku panduannya. Mekanismenya adalah dengan konsultasi, terus ngobrol. Tujuannya untuk melihat perkembangan anak itu sendiri, jadi seharusnya dimonitor," imbuh Dedi. Soal perkara bisa membuat heboh, Dedi sendiri tak habis pikir. Sebab penyertaan gambar yang dianggap vulgar tersebut sebenarnya menggunakan prosedur ilmiah yang disebut skala Turner. Skala ini sudah digunakan secara luas oleh profesional kesehatan. Tak hanya itu, pemeriksaannya pun dilakukan secara rahasia, jadi anak mengisi sendiri kuesioner tersebut lalu hasilnya akan dinilai oleh petugas Puskesmas. Yang bertugas memberikan adalah petugas kesehatan, bukan sembarang orang. Kuesionernya pun tidak diberikan secara cuma-cuma, namun diambil kembali. "Pemeriksaan ini dilakukan di sekolah. Di level atas, di kabupaten, mereka sudah mengerti. Tapi mungkin di Puskesmas mungkin ada teman-teman yang kurang mengerti jadi asal dikasihkan. Jadi yang menyerahkan teman-teman di Puskesmas," terang Dedi.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 08, 2013 10:14 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
Back to top 
Page 22 of 24Go to page : Previous  1 ... 12 ... 21, 22, 23, 24  Next
 Similar topics
-
» Inikah Tulisan Dari Seorang Katolik ?!?!?!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: