Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 12 ... 21, 22, 23, 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:23 am

MUTU DOKTER LULUSAN BARU BARU INI DINYATAKAN JEBLOK
Selasa, 27 Agustus 2013 | 06:10 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengeluhkan mutu lulusan dokter belakangan ini yang terus menurun. Jebloknya lulusan dokter dewasa ini akibat dari semakin banyak berdirinya fakultas kedokteran di daerah yang kurang bermutu. Menurut Ketua PB IDI Zaenal Abidin, pada tahun ini saja pihak IDI tengah melakukan pendampingan bagi sekitar 2.500 lulusan dokter yang belum mendapatkan sertifikasi kompetensi lantaran gagal lulus uji kompetensi yang digelar kolegium kedokteran, IDI dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). "Diantara yang kita bimbing bahkan ada yang harus mengulang uji sertifikasi kompetensi sampai 19 kali. Kalau ada kasus seperti ini, kualitas fakultas kedokteran bersangkutan kita pertanyakan," sebut Zaenal di sela acara Indomedica Expo dan Seminar Urun Rembug Nasional Rangkaian Hari Bakti Dokter Indonesia 2013, di Jakarta, Senin (26/Cool. Sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan PB IDI merupakan syarat bagi para lulusan dokter untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Usai mendapatkan kedua surat tersebut, dokter bersangkutan dapat mengajukan Surat Izin Praktik (SIP) pada IDI cabang setempat. Kendati banyak para lulusan dokter yang mengulang berkali-kali (retaker), Zaenal tidak menyalahkan para lulusan dokter tersebut atas ketidaklulusan uji kompetensi mereka. Menurut dia, kualitas mereka buruk lantaran materi kuliah yang diberikan fakultas juga buruk. Zaenal mengatakan pascaotonomi daerah, fakultas kedokteran di berbagai daerah tumbuh bak cendawan di musim hujan. Saat ini diperkirakan terdapat 72 fakultas kedokteran milik pemerintah dan swasta. Sayangnya, sambung dia, sebagian besar mutu fakultas kedokteran swasta di daerah sangat buruk. Zaenal menyebutkan ada fakultas kedokteran di daerah yang tidak memiliki rumah sakit sendiri untuk praktik calon lulusan dokter. "Ada fakultas yang tidak perlu saya sebut namanya, hanya memiliki 100 dosen tetapi setiap tahun menerima lebih dari 600 mahaiswa baru," bebernya. Bahkan baru-baru ini, KKI mengadu ke PB IDI bahwa mereka menemukan mahasiswa kedokteran berasal dari jalur IPS. Setelah dicek, laporan itu benar adanya. "Mahasiswa itu sudah duduk di semester 6. Kita sudah minta pada Dirjen Dikti Kemendikbud untuk mencabut izin kuliah mahasiswa itu," tambahnya. PB IDI, lanjut Zaenal, mendesak Kemendikbud agar segera membenahi praktik fakultas kedokteran kelas abal-abal. Kalau hal ini didiamkan, lama-lama kepercayaan masyarakat pada para dokter muda Indonesia bakal semakin luntur. Terlebih, pendirian fakultas kedokteran baru ini tersebut condong lebih mengarah pada kepentingan bisnis. "Per semester mereka menarik bayaran Rp60 juta. Padahal ambil spesialis di UI saja per semesternya hanya Rp6 juta," pungkas Zaenal. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:31 am

UNIVERSITAS MALAHAYATI AKUI TERIMA LULUSAN STM JADI MAHASISWA FK
Selasa, 27 Agustus 2013 | 19:57 WIBid.wikipedia.orgTERKAIT
Metrotvnews.com, Bandarlampung: Manajemen Universitas Malahayati mengakui ada mismanajemen dalam rekrutmen mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK). Sehingga, mahasiswa FK dari Universitas Malahayati bisa berlatar belakang lulusan SMA jurusan ilmu sosial, STM, atau dari Madrasah. Namun, seiring aturan yang berlaku, Malahayati terus melakukan pembenahan. "Dulu ya. Tapi, sekarang Malahayati tidak lagi merekrut mahasiswa dari jurusan IPS apalagi Madrasyah," kata Wakil Rektor Bidang Akademik Marshal Usman di Bandarlampung, Selasa (27/Cool. Penerimaan mahasiswa FK dari jurusan IPS hanya berlaku sebelum ada edaran Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang melarang lulusan IPS mengikuti pendidikan dokter. "Edaran itu mulai berlaku 2012. Sejak saat itu, kami 100% menerima mahasiswa baru dari jurusan IPA. Sebelumnya memang ada mahasiswa berasal dari jurusan IPS, tapi jumlahnya hanya 5% dari total penerimaan," ujarnya. Terkait kuota mahasiswa baru, Usman mengaku FK Universitas Malahayati mematuhi rekomendasi KKI. Dalam rekomendasi itu disebutkan kuota mahasiswa baru disesuaikan dengan perbandingan antara tenaga pendidik dan jumlah mahasiswa, yakni 1 dosen berbanding 10 mahasiswa. Dia menyebutkan, FK Universitas Malahayati saat ini memiliki 157 tenaga pendidik. Dengan demikian, jumlah ideal mahasiswa yang dapat dikelola mencapai 1.570 orang. "Peminatnya bisa 2.000-an per tahun, dan 80% dari luar Lampung. Namun, tiap tahun kami hanya menerima 200-300 mahasiswa baru," kata dia. Jika berpedoman pada surat edaran Dirjen Pendidikan Tinggi tentang kuota penerimaan mahasiswa baru pada Fakultas/Program Studi Kedokteran, FK Universitas Malahayati yang berakreditasi C dengan hasil uji kompetensi dokter 60%-70%, maksimal hanya bisa menerima 80 mahasiswa baru. Surat edaran tersebut berlaku mulai tahun akademik 2014-2015. Seperti diberitakan Harian Lampung Post-Media Group, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati (FK Unimal) Bandarlampung bermasalah. Meski sudah berusia 19 tahun, fakultas yang diharapkan menelorkan sarjana kedokteran yang handal, ternyata bobrok. Seluruh jurusan sekolah menengah derajat, baik SMA dengan semua jurusan, STM bahkan Madrasyah ditampung menjadi mahasiswa perguruan tinggi itu. Sejak berdiri, status akreditasi FK Universitas Malayahati mentok di peringkat C. Lulusan FK universitas yang tergolong tua juga harus memilih tempat praktik di luar kota Lampung. Karena sejumlah rumah sakit di Lampung tidak mau menerima magang praktik dokter dan lulusan FK Universitas Malahayati Lampung. Seperti diungkapkan Humas RS Urip Sumoharjo Slamet Sukarno, pihaknya belum pernah menerima lulusan FK Universitas Malahayati maupun mahasiswa praktik kerja lapangan (PKL). "Kami belum pernah menerima mahasiswa PKL maupun lulusan dari FK Malahayati. Belum pernah ada," kata dia. Slamet menambahkan, FK yang masih mengantongi akreditasi C secara umum kualitasnya kurang memenuhi standar. Dari sejumlah informasi terkait FK Universitas Malahayati, ia menilai ada yang salah dalam manajemen universitas tersebut. Dia menyarankan FK Universitas Malahayati agar jangan hanya mencari keuntungan sesaat agar lulusannya bisa meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sekitar. "Secara keseluruhan ada yang salah dalam manajemen Malahayati dan perlu dibenahi. Jangan hanya mencari keuntungan," kata dia. Pembantu Rektor III FK Universitas Malahayati Endro Lukito menjelaskan informasi yang beredar seputar FK Universitas Malahayati tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ia pun mempersilakan tim investigasi gabungan dari institusi pendidikan dan Inspektorat untuk mengecek langsung ke kampus. "Kami bersedia dan siap jika memang ada tim investigasi dari pihak mana pun," ujarnya. (Ahmad Novriwan)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 8:33 am

MENKES: BOLAK BALIK GAGAL UJI KOMPETENSI DOKTER, JADI BUPATI SAJA
Selasa, 27 Agustus 2013 | 20:03 WIBANTARA/Reno Esnir/boTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyarankan bagi para lulusan fakultas kedokteran yang berkali-kali gagal menjalani uji kompetensi agar melupakan saja cita-cita untuk menjadi dokter. “Kalau berkali-kali para dokter muda itu gagal uji kompetensi, lebih baik mereka jangan dikasih kesempatan untuk pegang pasien. Bisa-bisa pasien jadi mati. Lebih baik mereka menjadi pengusaha atau mencalonkan jadi bupati saja,” tandas Nafsiah di Jakarta, Selasa (27/Cool. Komentar Nafsiah tersebut untuk menanggapi keluhan PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) soal rendahnya mutu lulusan dokter. Buruknya para dokter muda tersebut akibat dari tumbuhnya berbagai fakultas kedokteran swasta di daerah yang tidak berkualitas sehingga melulusan para lulusan yang tidak bermutu. Sebelumnya, Ketua PB IDI Zaenal Abidin mengeluhkan pada tahun ini mereka harus melakukan pendampingan pada 2.500 dokter baru lulus yang berkali-kali tidak lulus uji kompetensi. Zaenal bahkan mengungkapkan ada beberapa lulusan yang gagal uji kompetensi setelah mencoba hingga 19 kali. Uji kompetensi merupakan syarat bagi para dokter untuk mendapatkan Sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan PB IDI. Sertifikasi itu merupakan syarat untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Usai mendapatkan kedua surat tersebut, dokter bersangkutan dapat mengajukan Surat Izin Praktik (SIP) pada IDI cabang setempat agar bisa melakukan praktik kedokteran. Nafsiah mengamini buruknya lulusan dokter pada saat ini merupakan buah dari menjamurnya fakultas kedokteran kelas abal-abal di berbagai daerah. “Saya bahkan mendengar ada sebuah fakultas kedokteran yang menerima mahasiswa dari jalur IPS (ilmu pengetahuan sosial). Kami sudah melaporkan hal ini ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk diambil tindakan,” bebernya. Guna membenahi fakultas kedokteran abal-abal, pemerintah telah mengeluarkan UU Pendidikan Kedokteran (Dikdok) yang baru disahkan pada Juli 2013. Di situ, sambung Nafsiah, diatur syarat pendirian fakultas kedokteran seperti, harus memiliki rumah sakit, terakreditasi, dan tidak boleh merekrut mahasiswa di luar kemampuan (kuota). “Fakultas yang melanggar akan diberi sanksi oleh Kemendikbud. Bentuknya mulai dari teguran sampai kalau perlu ditutup.” (Cornelius Eko Susanto)


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 8:36 am

KEMENDIKBUD: UJI KOMPETENSI DOKTER UNTUK JAGA KUALITAS
Selasa, 27 Agustus 2013 | 20:15 WIBMI/Panca Syurkani/boTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan untuk menjaga kualitas pendidikan dokter pihaknya telah membuat program khusus yakni berupa uji kompetensi dan program internship. "Justru karena itu, kami telah mengadakan program internship dan ada juga ujian kompetensi setelah tamat Fakultas Kedokteran (FK)," kata Wamendikbud Musliar Kasim saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (27/Cool, terkait keluhan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang menurunnya kualitas pendidikan dokter di Indonesia saat ini. Menurut Musliar, dua bentuk kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kualitas assurance. Internship, kata Musliar, adalah semacam program magang di rumah sakit setelah tamat selama satu tahun, dan diber gaji. "Sedangkan uji kompetensi, untuk menjaga kualitas. Kalau tidak lulus, mereka tidak bisa praktik dokter," tegas mantan Rektor Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat itu. Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Djoko Santoso menyatakan, uji kompetensi dokter harus ditegakkan. "Saya sedang melakukan berbagai investigasi tentang keluhan dan berbagai informasi yang masuk ke direktorat kami terkait masalah aturan dan kualitas atau mutu pendidikan kedokteran dewasa ini. Salah satu intinya, untuk menjaga mutu lulusan dokter harus ditegakkan aturan yaitu berupa uji kompetensi," tegasnya. Selain itu, kata dia, penerapan kuota juga harus diberlakukan sesuai aturan. "Semua perguruan tinggi negeri (PTN) termasuk Fakultas Kedokteran semuanya harus mengikuti aturan yang berlaku," ujar mantan Rektor ITB itu. (Syarief Oebaidillah)


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:41 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 9:14 am

PEMERINTAH BAKAL ELIMINASI CALON DOKTER TIDAK BERMUTU
Selasa, 27 Agustus 2013 | 20:09 WIBANTARA/Widodo S. Jusuf/boTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah kemungkinan akan membuat aturan baru bagi lulusan Fakultas Kedokteran muda untuk mengikuti uji kompetensi untuk membatasi calon dokter tidak bermutu. Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Selasa (27/, mengatakan berkaca dari laporan buruknya kualitas lulusan Fakultas Kedokteran, terkait uji kompetensi bakal dibuat sistem peraturan baru. Aturan itu seperti, uji kompetensi susulan diperbolehkan sebanyak dua kali dan yang bersangkutan tidak perlu membayar lagi ongkos uji kompetensi sebesar Rp350 ribu sekali tes. Selain itu, bila gagal pada tahap awal uji kompetensi, dokter muda itu diserahkan kembali ke fakultas untuk dibimbing kembali agar bisa lulus mengikuti ujian kompetensi susulan. “Dengan mewajibkan fakultas melakukan pembimbingan, artinya fakultas diberi beban tanggung jawab akan mutu lulusan mereka,” tuturnya. Bagi lulusan yang sudah berkali-kali gagal ikut uji kompetensi walau sudah dibimbing, Ghufron merekomendasikan lebih baik melupakan mimpi jadi dokter. “Kami sarankan mereka mengambil pendidikan untuk menjadi profesi lain yang masih terkait bidang medis, seperti menjadi aktuaris asuransi kesehatan, manajer rumah sakit, PNS Dinas Kesehatan, dan sebagainya,” tutup Ghufron. (Cornelius Eko Susanto)


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 9:20 am

DIKTI DIMINTA TEGAS TERHADAP FAKULTAS KEDOKTERAN ABAL ABAL
Kamis, 29 Agustus 2013 | 08:14 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendesak Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud agar bersikap tegas pada fakultas kedokteran abal-abal yang kerap menghasilkan dokter tidak bermutu. “Saat ini ada sejumlah fakultas kedokteran yang beroperasi melanggar aturan. Karena pembenahan bidang pendidikan urusan Kemendikbud, kita berharap Dikti bersikap tegas pada fakultas-fakultas ini,” ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemenkes Untung Suseno Sutarjo, Rabu (28/Cool. Ucapan Untung merujuk pada kasus yang terjadi di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Lampung. Universitas itu disinyalir melanggar sejumlah ketentuan yang tercantum dalam UU Pendidikan Kedokteran (Dikdok). Contoh pelanggaran seperti merekrut mahasiswa jauh melampaui kuota lantaran memasukan 400-an orang padahal kuotanya hanya 80. Fakultas itu juga hanya berakreditasi C dan belum memiliki rumah sakit (RS) pendidikan. Tempat magang praktik dokter pun jauh berada di luar provinsi. Tidak hanya itu, fakultas itu juga menerima calon mahasiswa dari siswa SMA jurusan IPS dan SMK. Menurut Untung, kasus di Malahayati juga terdapat di sejumlah fakultas swasta serupa. Dia menyebutkan kejadian seperti Malahayati juga ada di Aceh. Sedangkan di tempat lain, kasus yang paling jamak terjadi adalah fakultas menerima mahasiswa dengan jumlah di luar kuota dan belum memiliki rumah sakit pendidikan. Imbasnya lulusan dokter yang dihasilkan jadi kurang bermutu. “Kemenkes sebagai user akhirnya harus menerima lulusan dokter yang tidak bermutu,” keluh Untung. Untuk membenahi masalah tersebut, Kemenkes telah banyak memberi masukan pada Dikti untuk melakukan pembenahan. Untung menyebutkan bahwa kementeriannya telah banyak memberi masukan pada proses kelahiran UU Dikdok. “Kemenkes, RS, kolegium kedokteran sejatinya berada di posisi hilir pada bidang pendidikan kedokteran. Dikti yang berada di bagian hulu harus segera membenahi masalah fakultas kedokteran tidak bermutu ini,” tambahnya. Dengan adanya UU Dikdok yang disahkan pada Juli tahun ini, kini Dikti sudah memiliki pegangan untuk melakukan pembenahan. Ke depannya, lanjut Untung, soal kuota dan kewajiban memiliki RS pendidikan bakal lebih diperketat. Sebelumnya PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) mengeluhkan soal rendahnya mutu lulusan dokter pada saat ini. Buruknya para dokter muda tersebut akibat dari tumbuhnya berbagai fakultas kedokteran swasta di daerah yang tidak berkualitas sehingga melulusan para lulusan yang tidak bermutu. Ketua PB IDI Zaenal Abidin mengeluhkan pada tahun ini mereka harus melakukan pendampingan pada 2.500 dokter baru lulus yang berkali-kali tidak lulus uji kompetensi. Zaenal bahkan mengungkapkan ada beberapa lulusan yang gagal uji kompetensi setelah mencoba hingga 19 kali. Uji kompetensi merupakan syarat bagi para dokter untuk mendapatkan Sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan PB IDI. Sertifikasi itu merupakan syarat untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Usai mendapatkan kedua surat tersebut, dokter bersangkutan dapat mengajukan Surat Izin Praktik (SIP) pada IDI cabang setempat agar bisa melakukan praktik kedokteran. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Aug 30, 2013 11:29 am

KEMENDIKBUD UTUS TIM INVESTIGASI KE UNMAL
Kamis, 29 Agustus 2013 | 21:43 WIBMI/Panca Syurkani/ipTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kemendikbud menyiapkan tim investigasi terkait dugaan pelanggaran di FK Unmal Bandarlampung. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menurunkan tim investigasi terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malahayati. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim mengatakan tim yang terdiri dari orang-orang Kementerian dan Inspektorat Jendral (Irjen) Kemendikbud akan mulai diturunkan mulai minggu depan. Ditemui Media Indonesia pada Kamis (29/Cool, Wamendikbud mengatakan tim tersebut akan menyelidiki fakta-fakta di lapangan dan memverifikasi apakah hal tersebut memang melanggar peraturan. "Perguruan Tinggi itu otonom. Begitu diberikan Surat Izin Operasi maka mereka yang tentukan sendiri pelaksanaan teknisnya," jelasnya. Menurut Wamendikbud, selama ini Kemendikbud belum pernah menerima laporan mengenai pelanggaran yang dilakukan Fakultas Kedokteran di Universitas Malahayati Bandarlampung, Lampung. Ditanya mengenai ketiadaan Rumah Sakit (RS), Musliar mengatakan sepengetahuannya justru kampus ini sudah memiliki RS sendiri. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) saja, ungkapnya, belum semuanya memiliki RS sendiri. Terkait sanksi, ia mengaku belum bisa memastikan sanksi apa yang akan dijatuhkan jika memang ditemukan pelanggaran. "Yang pasti tidak akan sampai ditutup," ungkapnya. Sebagaimana diketahui dalam beberapa hari Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati diberitakan melanggar UU Pendidikan Kedokteran. Contoh pelanggarannya adalah merekrut mahasiswa hingga 400 orang padahal kuotanya hanya 80 orang. Selain itu FK Universitas Malahayati juga diduga belum memiliki RS. (Vera Erwaty Ismainy)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 8:31 am

KEMENKES AKUI PEMBUATAN KUESIONER VULGAR
Jum'at, 06 2013 | 19:34 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membenarkan pihaknya yang membuat soal kuesioner ‘vulgar’ yang diedarkan ke sekolah-sekolah. Namun kuesioner itu bukan ditujukan untuk menyeleksi siswa baru atau untuk mengenalkan soal kesehatan reproduksi pada remaja. Menurut Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes Dedi Kuswenda, soal kuesioner itu sejatinya untuk mengetahui adanya kelainan hormon yang mempengaruhi pertumbuhan organ kelamin dan organ seks sekunder di kalangan remaja. Sifat dari kuesioner ini, lanjut dia juga sangat rahasia. “Di Dinas Kesehatan sudah kita beri tahu tata cara pembagian kuesionernya. Tetapi di tingkat puskesmas nampaknya petugas main bagi-bagi saja,” ujar Dedi, di Jakarta, Jumat (6/9). Dedi menambahkan, kuesioner tersebut sejatinya merupakan bagian dari program Penjaringan Anak Sekolah Lanjutan yang disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes dan susdah disebarkan ke seluruh Dinas Kesehatan sejak 2010. Tujuan dari dilakukannya program tersebut, lanjut Dedi, untuk mengukur kesehatan siswa secara menyeluruh, khususnya untuk menngatisipasi kelainan hormon sejak dini di kalangan siswa SMP-SMA yang duduk di kelas I. Metode yang digunakan mengacu pada Skala Tanner yang disusun bersama-sama antara Kemenkes dan praktisi kesehatan. Lantaran yang coba diketahui adalah tingkat perkembangan hormon, maka yang ditanyakan dalam kuesioner bermacam-macam, tidak hanya terbatas soal alat kelamin saja, tetapi seluruh tubuh, mulai dari perkembangan mata sampai kaki. Terkait soal pemberian gambar ilustrasi dalam kuesioner, Dedi mengatakan hal itu untuk mempermudah siswa. Pasalnya tidak semua siswa mau secara terbuka untuk berkonsultasi. Jawaban soal yang diberikan oleh siswa pun, lanjut Dedi tidak boleh diketahui oleh umum. Begitu selesai, petugas puskesmas segera membawanya ke kantor untuk dipelajari. Dari kuesioner bila terjaring anak yang mengalami kelainan hormon dan pertumbuhan, maka puskesmas akan memanggil keluarga agar anaknya diobati. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:01 am

KUESIONER KESEHATAN REPRODUKSI KEMENKES TEAH DI UJI COBA DI 6 PROVINSI
Nurvita Indarini - detikHealth Sabtu, 07/09/2013 14:50 WIB
Jakarta, Sejak 2010 Kemenkes melakukan uji coba kuesioner 'Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Sekolah Lanjutan' sebelum memberlakukannya di seluruh Indonesia. Kuesioner yang antara lain berisi tentang kesehatan reproduksi ini telah diujicobakan di 6 provinsi. "Kita sudah melakukan uji coba di 6 provinsi yakni Sumatera Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan," ujar Direktur Bina Kesehatan Anak, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc dalam jumpa pers yang digelar di Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/9/2013). Nantinya kegiatan ini akan dilakukan di seluruh Indonesia melalui program Upaya Kesehatan Sekolah (UKS), di mana metodenya di SD dengan pemeriksaan oleh petugas atau guru UKS. Sedangkan di SMP dan SMA, pemeriksaan dilakukan oleh petugas atau guru UKS serta kuesioner. "Jadi nanti anak yang akan menilai sendiri seperti apa kondisi tubuh mereka. Ini formulir yang rahasia, dikumpulkan oleh petugas dan nanti akan diketahui mana saja yang agak bermasalah, sehingga dirujuk ke Puskesmas. Semua akan dicek. Ini tujuannya baik, agar bisa terdeteksi secara dini," papar dr Jane. Pada masa remaja, sambung perempuan berkacamata ini, bisa terjadi kelainan pubertas prekos dan delay puberty. Pubertas prekos adalah kondisi di mana anak-anak mengalami pubertas dini, yang mana hal ini dialami oleh satu dari 5.000 anak. Angka kejadian kondisi ini dialami 10 kali lebih banyak pada anak perempuan. Sedangkan delay puberty terjadi pada 3 persen populasi anak. "Keterlambatan pubertas maupun pubertas dini akan mempengaruhi kehidupan psikososial remaja," lanjut dr Jane. Bagaimana hasil penjaringan tahun-tahun sebelumnya? "Data masih terserak, tapi pasti akan dilihat sejauh mana keberhasilannya," kata dr Jane. Penjaringan, lanjutnya, dilakukan untuk anak-anak kelas 1. Nah petugas dua kali dalam setahun akan melakukan peninjauan sebagai salah satu tindak lanjut pemantauan kesehatan siswa. Tujuan umum penjaringan kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah. Sedangkan tujuan khususnya adalah mendeteksi secara dini kesehatan peserta didik, tersedianya data/ informasi untuk menilai perkembangan peserta didik, dan termanfaatkannya data untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi program pembinaan peserta didik. Di bagian kesehatan reproduksi, kuesioner itu menanyakan berbagai hal seputar masa puber. Di antaranya tentang nyeri menstruasi dan keputihan pada remaja putri, maupun mimpi basah pada remaja putra. Soal ukuran kelamin, kuesioner tersebut meminta para remaja baik putra maupun putri untuk melingkari gambar yang paling sesuai dengan kondisinya. Tersedia 5 pilihan gambar, berurutan sesuai tahap perkembangan fisik semasa pubertas. Pada pilihan untuk remaja putri misalnya, gambar nomor 1 menampilkan bentuk dada yang belum memiliki payudara. Nomor 2 mulai ada tonjolan kecil pada payudara, lalu tumbuh terus hingga paling besar ada di nomor 5. Hal yang sama juga berlaku untuk gambar alat kelamin remaja putra. Gambar nomor 1 menampilkan ukuran penis paling pecil dengan rambut pubis (rambut kemaluan) yang masih tipis, sedangkan nomor 5 berukuran paling besar dengan rambut pubis paling lebat. Nah kemunculan gambar-gambar yang sebenarnya mendasarkan pada skala tanner itu memunculkan kehebohan di masyarakat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Sep 08, 2013 10:02 am

KUESIONER KEMENKES YANG TAMPILKAN GAMBAR PAYUDARA DAN KELAMIN AKAN DIHAPUS?
Nurvita Indarini - detikHealth Sabtu, 07/09/2013 13:19 WIB
Jakarta, Kehebohan mencuat kala muncul gambar payudara dan alat kelamin pria dalam kuesioner 'Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan' untuk anak SMP di Sabang, Aceh. Agar kehebohan itu tidak berlarut-larut apakah kuesioner itu akan dihapuskan? "Tidak bisa semudah itu. Kita akan evaluasi, akan kita undang semua. Mari kita sama-sama evaluasi ini semua, termasuk yang di Aceh," ujar Direktur Bina Kesehatan Anak, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc dalam jumpa pers yang digelar di Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/9/2013). Terkait masalah koordinasi dengan kementerian lain dalam menggelar kuesioner penjaringan itu, dr Jane menegaskan, koordinasi telah dilakukan. Hanya saja koordinasi terkesan tidak jalan karena pergantian pejabat atau petugas. "Kadang karena ganti orang, bisa saja seperti itu," ucap dr Jane. Pemuatan ilustrasi payudara dan alat kelamin yang merupakan alat reproduksi sekunder adalah berdasar skala tanner. Menurut dr Jane, skala tanner sudah digunakan di berbagai negara di seluruh dunia sejak 1970. Nah, di Indonesia, pemunculan ilustrasi ini malah disorot negatif, jadi akankah skala tanner tidak akan lagi digunakan? "Ini nanti akan kita evaluasi juga. Minggu depan akan kami undang semua (pihak) untuk melakukan evaluasi," kata perempuan berkacamata ini. Skala tanner mengidentifikasi proses pertumbuhan fisik selama masa pubertas, secara rinci dalam beberapa tahap. Beberapa perubahan yang diamati dalam skala ini adalah payudara pada remaja putri, ukuran alat vital pada laki-laki dan rambut kemaluan pada laki-laki maupun perempuan.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 08, 2013 10:18 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
View previous topic View next topic Back to top 
Page 22 of 24Go to page : Previous  1 ... 12 ... 21, 22, 23, 24  Next
 Similar topics
-
» Kenapa saya (seorang Kristen) suka topik mualaf
» pentingnya sikap tawadhu (rendah hati)
» Kapan puasa pertama kali dimulai..?
» benarkah Nabi Adam as manusia pertama dibumi ini???
» "SUNDA" ... ADALAH "AGAMA" PERTAMA DIDUNIA..!!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: