Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

Go down 
Go to page : Previous  1 ... 12 ... 20, 21, 22, 23, 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue May 28, 2013 2:16 pm

DOKTER SPESIALIS AKAN DITEMPATKAN DI 341 PUSKESMAS
Senin, 13 Mei 2013 | 18:45 WIBANTARA/M Agung RajasaTERKAIT
Metrotvnews.com: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI akan menempatkan dokter spesialis di sebanyak 44 Puskesmas Kecamatan dan 297 Puskesmas Kelurahan. Hal itu dilakukan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan puskesmas yang ada di wilayah DKI Jakarta. Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), di Balai Kota DKI Senin (13/5), mengatakan, Pemprov DKI telah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk meningkatkan kompetensi puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Peningkatan kompetensi dua instansi layanan kesehatan bagi warga Jakarta tersebut dilakukan supaya kedua instansi bisa sejajar dengan kompetensi RSCM. “Kita ingin mencapai Jakarta Sehat kan. Nanti itu ada promotif dan preventif. Kalau kuratifnya kita baru kerja sama. Ke depannya kita mau tingkatkan program dokter spesialis di puskesmas yang ada di Jakarta,” ujar Ahok. Menurut dia, sudah ada beberapa puskesmas yang memiliki dokter spesialis. Akibatnya, jumlah surat rujukan ke rumah sakit pun sudah berkurang. Karena sudah banyak warga yang mau di rawat di puskesmas. “Makanya sekarang jumlah surat rujukan banyak berkurang. Sebab, di puskesmas warga sudah mau di opname karena ada dokter spesialisnya. Lalu di RSUD untuk operasi anak dan segala macam tidak perlu lagi kirim ke RSCM. Karena bisa dilaksankan di RSUD maupun di Puskesmas. Itu pun ada dokter RSCM yang turun ke kedua instansi tersebut,” paparnya. (MI/SSR)


Last edited by gitahafas on Sat Jun 01, 2013 3:28 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue May 28, 2013 2:16 pm

KEMAMPUAN KOMUNIKASI DOKTER DI INDONESIA LEMAH
Selasa, 07 Mei 2013 | 23:31 WIBDok.MI/fzTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengakui sebagian dokter di Indonesia belum memiliki tingkat profesionalisme yang memadai. Salah satu kelemahan yang paling mencolok dari dokter di dalam negeri adalah kemampuan menjalin komunikasi dengan pasien. "Kalau bicara skill, kemampuan dokter Indonesia sudah diakui di dunia. Namun ketika berbicara soal komunikasi pada pasien, kemampuan dokter kita rendah sekali," ujar Ketua PB IDI Zaenal Abidin saat dihubungi, Selasa (7/5). Namun lemahnya komunikasi antara dokter dan pasien bukan semata-mata kesalahan para dokter semata. Sistem pelayanan kesehatan yang buruk di dalam negeri berperan besar menciptakan suasana komunikasi yang buruk pada pasien. Sistem kebijakan yang buruk, lanjut Zaenal, juga merupakan buah tangan ciptaan pemerintah/pelaku kebijakan. Dia mencontohkan kasus membludaknya pasien akibat kebijakan politik kesehatan gratis tanpa kaidah asuransi kesehatan dan sistem rujukan yang jelas disejumlah daerah. Lantaran terlalu banyak pasien, walhasil dokter sulit menjalin komunikasi yang rapi dengan pasien. "Situasi praktik dokter di Indonesia sudah seperti penjual karcis tol di loket. Belum apa-apa, antrean mobil di belakang sudah mengklakson minta segera dilayani." Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan pentingnya kesalamatan pasien. Hal itu penting untuk menghindarkan kejadian tidak diinginkan yang dapat menimpa pasien WHO menyatakan idealnya dokter maksimal hanya boleh memeriksa 20-30 pasien secara terus menerus. Sedangkan dokter gigi sebanyak 12-15 pasien. Pasalnya pemeriksaan yang dilakukan kurang dari 15 menit dapat menimbulkan resiko dampak kejadian yang tidak diinginkan pada pasien semakin meningkat. Praktik medis di Indonesia pada saat ini, lanjut Zaenal, masih jauh dari kriteria minimal WHO. Dia mencontohkan ketika awal-awal Kartu Jakarta Sehat (KJS) diterapkan di Jakarta, dalam sehari orang yang diperiksa di puskesmas/RS bisa mencapai 300-500 orang. IDI, lanjut dia, tidak pernah lelah untuk meningkatkan profesionalisme dokter. Namun tanpa perbaikan sistem kesehatan yang baik, walhasil upaya tersebut bakal sia-sia. Zaenal juga berharap agar publik Indonesia menjadi pasien yang cerdas, yang mengetahui hak dan kewajibannya sebagai orang pasien. Dihubungi terpisah, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjayarta mengatakan untuk meningkatkan profesionalisme dokter, negara kita harus memiliki standar profesi dan standar pelayanan medis yang berlaku baku di semua rumah sakit. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Jul 17, 2013 9:33 am

DOKTER, KOK SAYA TIDAK DIPERIKSA?
Penulis : Dr. Irsyal Rusad. Sp.PD | Selasa, 16 Juli 2013 | 15:29 WIB
KOMPAS.com — Beberapa hari yang lalu, saya visite bersama sejawat dokter internship. Seorang dokter wanita yang cantik. Tentu masih sangat muda belia, dan saya yakin ilmunya masih segar.  Secara teoretis, barangkali bisa melebihi Saya. Tetapi, seperti diketahui kedokteran tidak  hanya sekadar Ilmu, “science”,  tetapi juga “art”, seni.  Bagaimana seorang dokter berhubungan dengan pasiennya, mulai dari cara si dokter menyapa, berbicara, mendengarkan atau berkomunikasi, memeriksa, tidak hanya dapat membantu menegakkan kemungkinan diagnosis, tetapi juga kepuasan dan kesembuhan pasien. Sehubungan dengan itu, karena ingin melihat pendekatannya kepada pasien, saya minta dia memeriksa pasien yang baru saja dirawat karena sesak napas. Agar tidak gugup, sambil memeriksa pasien lain, saya amati dari jarak agak jauh apa yang dilakukannya terhadap pasien. Saya lihat sejawat ini mengeluarkan steteskopnya dan langsung menempelkannya di beberapa tempat di daerah jantung pasien. Tak berapa lama setelah itu, ia kembali mendampingi saya. Saat saya tanyakan, "apa yang Anda dapatkan?" "Suara jantungnya tidak normal dokter”, jawabnya. "Ya, Saya tahu itu, tetapi apa itu cukup? Coba Anda periksa lagi!"…. Hmmmm, si dokter yang cantik ini kelihatan agak gugup dan kembali memeriksa pasien itu. Saya lihat Ia masih melakukan hal yang sama, tetapi sedikit lebih lama, kemudian saya lihat Ia berdiri cukup lama  membaca foto rontgen dada pasien yang baru saja datang. Tidak berapa lama setelah itu ia kembali  mendekati saya. ”Jantungnya membesar dokter”, katanya spontan. “Dari mana Anda tahu?”, tanya Saya lagi “Dari gambaran foto dadanya dok “, jawab dokter yang cantik ini. Ok, jantungnya memang membesar, akibat hipertensi yang dideritanya sudah cukup lama dan tidak terkontrol dengan baik. Tetapi yang saya harapkan adalah, sebelum sampai ke kesimpulan itu,  bagaimana Anda melakukan pemeriksaan yang benar kepada pasien, mulai dari anammesis, tanya jawab tentang keluhannya, riwayat penyakitnya, sampai dengan  melihat, mengamati, memeriksa Pasien secara keseluruhan. Saya berharap Anda akan memegang tangannya, memeriksa nadinya, mata, hidung, telinga dan boleh dikatakan seluruh tubunhya. Jadi tidak hanya dengan steteskop, itu, apalagi hanya melihat hasil rontgen pasien, tetapi dengan tangan Anda sendiri. Saya lihat tadi Anda tidak melakukannya, perkusi (mengetok pasien dengan jari), palpasi (meraba daerah tertentu dengan telapak tangan), tidak anda kerjakan sama sekali, auskultasi (mendengarkan suara jantung, paru, usus dengan steteskop) juga hanya  Annda lakukan pada daerah jantung pasien. “Ya, dok, saya gugup, seharusnya saya kerjakan semuanya”, ungkapnya.

“Ya, Saya bisa memahaminya, barangkali Anda gugup atau capek. Dari pagi menurut perawat, Anda sudah keliling bangsal. Tetapi, saya lihat, tidak hanya Anda yang memeriksa Pasien seperti itu sekarang, memeriksa pasien ala metro mini- istilah Alm Prof Iwan, teman sejawat lain juga seperti itu, bahkan kadang-kadang Saya pun demikian, memeriksa pasien seperlunya saja. Coba Anda lihat dalam pengobatan massal menjelang Pilkada, atau kegiatan sosial lainnya, pasien duduk di kursi dekat meja dokter, baju dibuka sedikit bahkan kadang-kadang tidak sama sekali, mungkin sedikit ada pertanyaan dari dokternya, apa keluhan pasien, lalu steteskop ditempelkan pada daerah tertentu di dada Pasien.  Di poliklinik rawat jalan pemandangan yang hampir sama juga dapat Anda lihat”. Saya mencoba memberikan contoh. “Ya, Dokter. Barangkali karena pasiennya banyak. Sekarang siapapun kan bisa berobat, yang tidak sakit, atau hanya sakit flu, pilek, pegel linu saja ingin berobat dan maunya ke dokter Spesialis lagi. Di samping itu dokter, siapapun dapat menggunakan Jamkesmas, apalagi Jamkesda, asal diurus pasti surat Jamkesdanya keluar. Bahkan, pasien kelas satu yang sudah dirawat 3 hari lalu sekarang menggunakan Jamkesda, ini kan berpengaruh terhadap kepuasan dokter yang melayaninya”, dokter ini berupaya memberikan alasan mengapa sebagian dokter sekarang jarang memeriksa Pasien sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Nah, itu yang juga saya rasakan. Dua anak saya yang sedang menjalani PTT dan internship di daerah juga mengungkapkan hal yang sama. Pasien banyak sekali, rata-rata di atas 100 Pasien sehari. Bayangkan, “apa yang dapat dilakukan seorang dokter, apalagi dokter yang belum banyak pengalaman, melayani Pasien sebanyak  itu?” Padahal, mendengarkan keluhan pasien, melihat, memeriksanya secara seksama, tidak hanya akan membimbing seorang dokter kepada kemungkinan suatu diagnosa, atau penyakit seorang pasien.  Saya ingat waktu kuliah kedokteran umum dulu, seorang guru besar waktu itu mengatakan, dari cara berjalan pasien saja sudah dapat membantu, kira-kira apa yang dialami seorang yang datang ke tempat praktek dokter. Sekitar 60-80 % penyakit seorang pasien bakan dapat ditegakkan, hanya berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisiknya. Hanya sebagian kecil pasien yang memerlukan pemeriksaan penunjang yang canggih. Dan, selain itu, mendengarkan keluhan pasien, memeriksanya dengan hati dan hati-hati adalah modal awal proses penyembuhan pasien. Oleh karena itu, apa pun alasannya, apakah karena pasiennya banyak, dokternya capek, tidak puas, jasa yang kecil-itu pun tidak jelas kapan keluarnya, Anda harus tetap berupaya melayani setiap pasien  dengan baik. Berikanlah perhatian yang maksimal walau dalam keterbatasan yang ada. Sempatkanlah untuk memdengarkannya, memeriksanya, walau hanya dengan sedikit sentuhan, rabaan, dan bagi seorang yang sakit ini akan sangat berarti, dan paling tidak akan mengurangi keluhan-keluhan pasien, “Saya kok tidak Diperiksa, Dokter?”
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 7:54 am

KUALITAS DOKTER TENTUKAN MUTU PELAYANAN
Selasa, 27 Agustus 2013 | 06:48 WIB
KOMPAS.com — Dokter memiliki andil besar dalam mewujudkan layanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Walau distribusi dokter belum merata, pendapatan antardokter sangat senjang, serta munculnya ancaman keberadaan dokter dan fasilitas kesehatan asing, dokter Indonesia seharusnya tetap berpihak kepada rakyat. Hal itu dikemukakan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dalam pembukaan Indomedica Expo dan Seminar Urun Rembug Nasional 2013 di Jakarta, Senin (26/Cool. ”Dokter punya potensi membangun sistem kesehatan yang manfaatnya bisa dinikmati masyarakat dalam layanan yang bermutu dan terjangkau,” katanya. Agung berharap dokter Indonesia menjadi mitra pemerintah untuk mencapai sejumlah indikator Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang belum tercapai, seperti penurunan angka kematian ibu melahirkan, menekan laju peningkatan pengidap HIV, penyediaan air bersih, hingga layanan keluarga berencana. Besarnya peran dan harapan terhadap dokter belum disertai kualitas dokter-dokter muda yang akan menjadi tumpuan pembangunan kesehatan ke depan. Dalam seminar tersebut, sejumlah dokter senior mengkhawatirkan keterampilan dan kecakapan dokter-dokter muda dalam menangani pasien. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zaenal Abidin mengatakan, ada sekitar 2.500 lulusan fakultas kedokteran sebelum tahun 2013 yang gagal mengikuti ujian kompetensi dokter Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya sudah mengikuti ujian hingga 19 kali. ”IDI akan membimbing mereka,” ujarnya. Hal itu dilakukan karena kegagalan itu bukan semata kesalahan mereka, melainkan juga akibat proses pendidikan yang kurang memperhatikan kualitas calon mahasiswa dan mutu pendidikan. Akibatnya, IDI sebagai organisasi profesi yang menaungi calon dokter harus menanggung beban. Sejak tahun 2008, jumlah fakultas kedokteran melonjak dari 52 menjadi 73 fakultas. Saat ini, antrean izin pendirian fakultas kedokteran masih panjang walau pemerintah menghentikan sementara pemberian izin fakultas kedokteran baru. Pendidikan kedokteran sering dijadikan sumber keuangan universitas. Akibatnya, sejumlah universitas menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan ketersediaan dosen tetap dan sarana prasarana pendukung. ”Pemerintah harus berani menutup fakultas kedokteran yang proses pendidikannya tidak berkualitas,” kata Zaenal. Untuk meningkatkan kepercayaan diri lulusan fakultas kedokteran, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menegaskan, para sarjana kedokteran wajib mengikuti program internship (pemagangan). Selama magang, mereka akan didampingi dokter senior dan mendapat insentif khusus.

Pemerintah daerah
Nafsiah mengingatkan, peningkatan mutu layanan kesehatan juga bergantung pada kepedulian pemerintah daerah. Selama ini, pemerintah daerah terlalu fokus pada upaya kuratif (penyembuhan) sehingga abai dengan upaya promosi, prevensi (pencegahan), dan rehabilitasi. ”Pemerintah daerah adalah penanggung jawab kesehatan di daerah. Apa guna otonomi kalau mereka tetap bergantung kepada pemerintah pusat,” ujarnya. Pemerintah daerah juga membangun paradigma keliru tentang pembiayaan kesehatan dengan membangun jargon politik berobat gratis. Janji kampanye itu sebagian diwujudkan melalui program jaminan kesehatan daerah yang diberikan kepada semua warga tanpa pandang bulu. ”Tiap orang berhak mendapat layanan kesehatan memadai, tapi dia juga wajib berkontribusi untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi itu,” kata Nafsiah. Prinsip sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang akan dilaksanakan mulai 1 Januari 2014 adalah gotong royong. Semua peserta wajib membayar iuran, sedangkan iuran orang miskin dibayar pemerintah. (MZW)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:04 am

MUTU DOKTER DAN PERAWAT TENTUKAN KESELAMATAN PASIEN
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 28 Agustus 2013 | 16:59 WIB
Kompas.com - Upaya meningkatkan keterampilan petugas kesehatan, baik dokter atau perawat, agar lebih disiplin dan berorientasi pada keselamatan pasien dapat menurunkan angka kematian pasien gawat darurat medis. Menurut Barbara McLean, nurse intensivist dan critical care specialist dari Amerika Serikat, kesalahan diagnosis yang bisa berujung pada peningkatkan biaya pengobatan bahkan kematian pasien, sebenarnya bisa dihindari dengan peningkatan mutu dan keterampilan petugas kesehatan. "Petugas kesehatan harus bisa mengenali mana pasien yang beresiko tinggi dan perlu perawatan intensif," kata McLean dalam acara konferensi pers Pelatihan Tenaga Kesehatan untuk Memaksimalkan Keselataman Pasien yang diadakan oleh Philips Healthcare di Jakarta (28/8/13). Secara umum ia menyebutkan beberapa langkah yang bisa dilakukan petugas kesehatan untuk menurunkan angka kematian pasien. Antara lain mengumpulkan data setelah pasien masuk ke rumah sakit untuk memahami kondisi-kondisi yang beresiko terhadap kondisi pasien. Selain itu setiap petugas kesehatan seharusnya memiliki pengetahuan bahwa pasien yang masuk ke rumah sakit, terutama setelah operasi, akan mengalami penurunan kondisi. Dengan demikian bisa dilakukan langkah-langkah antisipasi. Barbara menambahkan, ada beberapa kondisi yang seringkali menyebabkan kematian pada pasien, yakni keterlambatan memahami keparahan kondisi pasien, keterlambatan komunikasi antar dokter dan perawat, serta keterlambatan dokter untuk datang melihat pasien. "Di rumah sakit yang sudah memiliki tenaga kesehatan terlatih seharusnya dibentuk rapid response team sehingga siap menghadapi kondisi kritis," katanya. Ditambahkan oleh dr.Dewi Indriani dari WHO Indonesia, keselamatan pasien saat ini menjadi isu serius yang dihadapi banyak negara, baik negara maju atau negara berkembang. "WHO sudah membuat panduan yang harus dilakukan petugas kesehatan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Standar keselamatan pasien juga sudah dimasukkan dalam program akreditasi rumah sakit," kata Dewi dalam kesempatan yang sama. Dalam panduan tersebut juga termasuk higienitas rumah sakit dan petugas kesehatan untuk menurunkan infeksi di rumah sakit. "Infeksi di rumah sakit adalah masalah besar yang bisa dicegah dengan mencuci tangan secara reguler, baik petugas kesehatan atau pengunjung rumah sakit," katanya.


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:41 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:06 am

MALAS CUCI TANGAN BISA FATAL BAGI PASIEN RUMAH SAKIT
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Kamis, 29/08/2013 08:03 WIB
Jakarta, Di beberapa rumah sakit, kerap terjadi kasus yang berakibat fatal pada pasien. Beberapa faktor pun ditengarai menjadi penyebab terjadinya hal kasus yang bahkan mengakibatkan pasien meninggal dunia. "Salah diagnosa, penanganan yang tidak tepat, salah obat, dan alat yang digunakan untuk menangani pasien tidak bersih hingga terjadi infeksi," kata Dr Dewi Indriani dari WHO. Infeksi yang terjadi, menurut Dr Dewi juga umumnya disebabkan dari rumah sakit itu sendiri. Maka dari itu, diperlukan perubahan perilaku dar paramedis maupun pengunjung rumah sakit yakni dengan mencuci tangan dengan disinfektan. Paramedis bisa mencuci tangan sebelum menggunakan alat kesehatan dan sebelum melakukan kontak langsung dengan pasien. Begitu pula pengunjung, harus tetap menjaga kesterlian tangannya terutama setelah ia berada di luar rumah sakit. Pemaparan tersebut diberikan Dr Dewi saat menjadi pembicara di konferensi pers dan mini hospital tour phillip patient care and clinical informatic yang diadakan di Hotel Mulia, Jl. Asia Afrika, Jakarta, seperti ditulis Kamis (29/8/2013). "Cuci tangan teratur terutama yang dilakukan petugas medis terbukti bisa menurunkan infeksi pada pasien di rumah sakit. Oleh karena itu, beberapa rumah sakit termasuk di indonesia juga sudah memiliki patient safety guideline termasuk cuci tangan tadi," tutur Dr Dewi. Selain itu, WHO juga sudah membuat rekomendasi dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.

Pertama, tenaga medis harus mengidentifikasi pasien dengan benar sehingga bisa memahami penanganan apa yang dibutuhkan pasien.

Kedua, terjalinnya komunikasi yang efektif antara pasien dengan tenaga medis.

Ketiga, waspada terhadap penggunaan obat yang berbahaya bagi pasien.

Keempat kurangi risiko pasien jatuh, misalnya saat tidur.

Kelima, kurangi risiko infeksi yang ada di rumah sakit.

Terakhir, jika melakukan operasi, pastikan tempat operasi, prosedur operasi, dan pasien yang akan di operasi tepat.


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:38 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:11 am

PANDUAN WHO DEMI KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 28 Agustus 2013 | 17:38 WIB
Kompas.com - Isu mengenai pentingnya keselamatan pasien belakangan ini telah menjadi perhatian utama di rumah sakit di seluruh dunia. Di Indonesia, Kementrian Kesehatan juga mendorong agar keselamatan pasien lebih diperhatian sehingga kasus kesalahan medik bisa dihindari. Salah satu upaya untuk memastikan hal tersebut adalah mensyaratkan standar keselamatan pasien dalam program akreditasi rumah sakit. "Indonesia sudah mengadopsi standar keselamatan pasien sesuai standar global," kata dr.Dewi Indriani, dari WHO Indonesia dalam acara konferensi pers Pelatihan Tenaga Kesehatan untuk Keselamatan Pasien yang diadakan oleh Philips di Jakarta (28/8/13). Dewi memaparkan ada 6 panduan yang diberikan WHO untuk meningkatkan keselamatan pasien.

1. Mengidentifikasi pasien dengan benar
Dengan memastikan nama lengkap pasien sehingga tidak sampai salah pasien karena banyaknya nama yang sama.

2. Meningkatkan komunikasi yang efektif antara dokter dan perawat
Terutama dalam pemberian instruksi penanganan atau pemberian obat.

3. Kewaspadaan penggunaan obat berbahaya.
Khusus untuk obat, ketepatan obat, dosis, cara pemberian, dan waktu pemberian harus dijamin.

4. Memastikan tindakan bedah dilakukan sesuai prosedur yang benar, pasien yang benar, dan di tempat yang benar.

5. Mengurangi risiko infeksi di rumah sakit
Hal ini bisa dicegah dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setiap akan atau setelah selesai melakukan tindakan. Kebiasaan mencuci tangan bukan hanya bagi petugas kesehatan tapi juga pengunjung rumah sakit.

6. Mencegah pasien terluka akibat terjatuh, terutama pasien anak.


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:23 am

MUTU DOKTER LULUSAN BARU BARU INI DINYATAKAN JEBLOK
Selasa, 27 Agustus 2013 | 06:10 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengeluhkan mutu lulusan dokter belakangan ini yang terus menurun. Jebloknya lulusan dokter dewasa ini akibat dari semakin banyak berdirinya fakultas kedokteran di daerah yang kurang bermutu. Menurut Ketua PB IDI Zaenal Abidin, pada tahun ini saja pihak IDI tengah melakukan pendampingan bagi sekitar 2.500 lulusan dokter yang belum mendapatkan sertifikasi kompetensi lantaran gagal lulus uji kompetensi yang digelar kolegium kedokteran, IDI dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). "Diantara yang kita bimbing bahkan ada yang harus mengulang uji sertifikasi kompetensi sampai 19 kali. Kalau ada kasus seperti ini, kualitas fakultas kedokteran bersangkutan kita pertanyakan," sebut Zaenal di sela acara Indomedica Expo dan Seminar Urun Rembug Nasional Rangkaian Hari Bakti Dokter Indonesia 2013, di Jakarta, Senin (26/Cool. Sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan PB IDI merupakan syarat bagi para lulusan dokter untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Usai mendapatkan kedua surat tersebut, dokter bersangkutan dapat mengajukan Surat Izin Praktik (SIP) pada IDI cabang setempat. Kendati banyak para lulusan dokter yang mengulang berkali-kali (retaker), Zaenal tidak menyalahkan para lulusan dokter tersebut atas ketidaklulusan uji kompetensi mereka. Menurut dia, kualitas mereka buruk lantaran materi kuliah yang diberikan fakultas juga buruk. Zaenal mengatakan pascaotonomi daerah, fakultas kedokteran di berbagai daerah tumbuh bak cendawan di musim hujan. Saat ini diperkirakan terdapat 72 fakultas kedokteran milik pemerintah dan swasta. Sayangnya, sambung dia, sebagian besar mutu fakultas kedokteran swasta di daerah sangat buruk. Zaenal menyebutkan ada fakultas kedokteran di daerah yang tidak memiliki rumah sakit sendiri untuk praktik calon lulusan dokter. "Ada fakultas yang tidak perlu saya sebut namanya, hanya memiliki 100 dosen tetapi setiap tahun menerima lebih dari 600 mahaiswa baru," bebernya. Bahkan baru-baru ini, KKI mengadu ke PB IDI bahwa mereka menemukan mahasiswa kedokteran berasal dari jalur IPS. Setelah dicek, laporan itu benar adanya. "Mahasiswa itu sudah duduk di semester 6. Kita sudah minta pada Dirjen Dikti Kemendikbud untuk mencabut izin kuliah mahasiswa itu," tambahnya. PB IDI, lanjut Zaenal, mendesak Kemendikbud agar segera membenahi praktik fakultas kedokteran kelas abal-abal. Kalau hal ini didiamkan, lama-lama kepercayaan masyarakat pada para dokter muda Indonesia bakal semakin luntur. Terlebih, pendirian fakultas kedokteran baru ini tersebut condong lebih mengarah pada kepentingan bisnis. "Per semester mereka menarik bayaran Rp60 juta. Padahal ambil spesialis di UI saja per semesternya hanya Rp6 juta," pungkas Zaenal. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:31 am

UNIVERSITAS MALAHAYATI AKUI TERIMA LULUSAN STM JADI MAHASISWA FK
Selasa, 27 Agustus 2013 | 19:57 WIBid.wikipedia.orgTERKAIT
Metrotvnews.com, Bandarlampung: Manajemen Universitas Malahayati mengakui ada mismanajemen dalam rekrutmen mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK). Sehingga, mahasiswa FK dari Universitas Malahayati bisa berlatar belakang lulusan SMA jurusan ilmu sosial, STM, atau dari Madrasah. Namun, seiring aturan yang berlaku, Malahayati terus melakukan pembenahan. "Dulu ya. Tapi, sekarang Malahayati tidak lagi merekrut mahasiswa dari jurusan IPS apalagi Madrasyah," kata Wakil Rektor Bidang Akademik Marshal Usman di Bandarlampung, Selasa (27/Cool. Penerimaan mahasiswa FK dari jurusan IPS hanya berlaku sebelum ada edaran Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang melarang lulusan IPS mengikuti pendidikan dokter. "Edaran itu mulai berlaku 2012. Sejak saat itu, kami 100% menerima mahasiswa baru dari jurusan IPA. Sebelumnya memang ada mahasiswa berasal dari jurusan IPS, tapi jumlahnya hanya 5% dari total penerimaan," ujarnya. Terkait kuota mahasiswa baru, Usman mengaku FK Universitas Malahayati mematuhi rekomendasi KKI. Dalam rekomendasi itu disebutkan kuota mahasiswa baru disesuaikan dengan perbandingan antara tenaga pendidik dan jumlah mahasiswa, yakni 1 dosen berbanding 10 mahasiswa. Dia menyebutkan, FK Universitas Malahayati saat ini memiliki 157 tenaga pendidik. Dengan demikian, jumlah ideal mahasiswa yang dapat dikelola mencapai 1.570 orang. "Peminatnya bisa 2.000-an per tahun, dan 80% dari luar Lampung. Namun, tiap tahun kami hanya menerima 200-300 mahasiswa baru," kata dia. Jika berpedoman pada surat edaran Dirjen Pendidikan Tinggi tentang kuota penerimaan mahasiswa baru pada Fakultas/Program Studi Kedokteran, FK Universitas Malahayati yang berakreditasi C dengan hasil uji kompetensi dokter 60%-70%, maksimal hanya bisa menerima 80 mahasiswa baru. Surat edaran tersebut berlaku mulai tahun akademik 2014-2015. Seperti diberitakan Harian Lampung Post-Media Group, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati (FK Unimal) Bandarlampung bermasalah. Meski sudah berusia 19 tahun, fakultas yang diharapkan menelorkan sarjana kedokteran yang handal, ternyata bobrok. Seluruh jurusan sekolah menengah derajat, baik SMA dengan semua jurusan, STM bahkan Madrasyah ditampung menjadi mahasiswa perguruan tinggi itu. Sejak berdiri, status akreditasi FK Universitas Malayahati mentok di peringkat C. Lulusan FK universitas yang tergolong tua juga harus memilih tempat praktik di luar kota Lampung. Karena sejumlah rumah sakit di Lampung tidak mau menerima magang praktik dokter dan lulusan FK Universitas Malahayati Lampung. Seperti diungkapkan Humas RS Urip Sumoharjo Slamet Sukarno, pihaknya belum pernah menerima lulusan FK Universitas Malahayati maupun mahasiswa praktik kerja lapangan (PKL). "Kami belum pernah menerima mahasiswa PKL maupun lulusan dari FK Malahayati. Belum pernah ada," kata dia. Slamet menambahkan, FK yang masih mengantongi akreditasi C secara umum kualitasnya kurang memenuhi standar. Dari sejumlah informasi terkait FK Universitas Malahayati, ia menilai ada yang salah dalam manajemen universitas tersebut. Dia menyarankan FK Universitas Malahayati agar jangan hanya mencari keuntungan sesaat agar lulusannya bisa meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sekitar. "Secara keseluruhan ada yang salah dalam manajemen Malahayati dan perlu dibenahi. Jangan hanya mencari keuntungan," kata dia. Pembantu Rektor III FK Universitas Malahayati Endro Lukito menjelaskan informasi yang beredar seputar FK Universitas Malahayati tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ia pun mempersilakan tim investigasi gabungan dari institusi pendidikan dan Inspektorat untuk mengecek langsung ke kampus. "Kami bersedia dan siap jika memang ada tim investigasi dari pihak mana pun," ujarnya. (Ahmad Novriwan)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Aug 29, 2013 8:33 am

MENKES: BOLAK BALIK GAGAL UJI KOMPETENSI DOKTER, JADI BUPATI SAJA
Selasa, 27 Agustus 2013 | 20:03 WIBANTARA/Reno Esnir/boTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyarankan bagi para lulusan fakultas kedokteran yang berkali-kali gagal menjalani uji kompetensi agar melupakan saja cita-cita untuk menjadi dokter. “Kalau berkali-kali para dokter muda itu gagal uji kompetensi, lebih baik mereka jangan dikasih kesempatan untuk pegang pasien. Bisa-bisa pasien jadi mati. Lebih baik mereka menjadi pengusaha atau mencalonkan jadi bupati saja,” tandas Nafsiah di Jakarta, Selasa (27/Cool. Komentar Nafsiah tersebut untuk menanggapi keluhan PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) soal rendahnya mutu lulusan dokter. Buruknya para dokter muda tersebut akibat dari tumbuhnya berbagai fakultas kedokteran swasta di daerah yang tidak berkualitas sehingga melulusan para lulusan yang tidak bermutu. Sebelumnya, Ketua PB IDI Zaenal Abidin mengeluhkan pada tahun ini mereka harus melakukan pendampingan pada 2.500 dokter baru lulus yang berkali-kali tidak lulus uji kompetensi. Zaenal bahkan mengungkapkan ada beberapa lulusan yang gagal uji kompetensi setelah mencoba hingga 19 kali. Uji kompetensi merupakan syarat bagi para dokter untuk mendapatkan Sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan PB IDI. Sertifikasi itu merupakan syarat untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Usai mendapatkan kedua surat tersebut, dokter bersangkutan dapat mengajukan Surat Izin Praktik (SIP) pada IDI cabang setempat agar bisa melakukan praktik kedokteran. Nafsiah mengamini buruknya lulusan dokter pada saat ini merupakan buah dari menjamurnya fakultas kedokteran kelas abal-abal di berbagai daerah. “Saya bahkan mendengar ada sebuah fakultas kedokteran yang menerima mahasiswa dari jalur IPS (ilmu pengetahuan sosial). Kami sudah melaporkan hal ini ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk diambil tindakan,” bebernya. Guna membenahi fakultas kedokteran abal-abal, pemerintah telah mengeluarkan UU Pendidikan Kedokteran (Dikdok) yang baru disahkan pada Juli 2013. Di situ, sambung Nafsiah, diatur syarat pendirian fakultas kedokteran seperti, harus memiliki rumah sakit, terakreditasi, dan tidak boleh merekrut mahasiswa di luar kemampuan (kuota). “Fakultas yang melanggar akan diberi sanksi oleh Kemendikbud. Bentuknya mulai dari teguran sampai kalau perlu ditutup.” (Cornelius Eko Susanto)


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
Back to top 
Page 21 of 24Go to page : Previous  1 ... 12 ... 20, 21, 22, 23, 24  Next
 Similar topics
-
» Inikah Tulisan Dari Seorang Katolik ?!?!?!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: