Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 12 ... 20, 21, 22, 23, 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Mar 31, 2013 6:45 pm

DOKTER BERPERAN BENTUK KEBIASAAN SEHAT MASYARAKAT
Penulis : Lusia Kus Anna | Sabtu, 30 Maret 2013 | 10:14 WIB
Kompas.com - Upaya pencegahan penyakit bukan saja menghemat biaya kesehatan, tapi juga menghindari penularan penyakit yang lebih luas. Dokter umum merupakan kelompok strategis untuk melakukan kampanye promotif dan preventif kepada masyarakat. Hal tersebut ditegaskan Dr.Dyah Agustina Waluyo, anggota presidium Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) dalam acara jumpa pers simposium ilmiah Musyawarah Kerja Nasional dan Pertemuan Ilmiah PDUI bekerja sama dengan PT.Unilever Indonesia di Jakarta (28/3/13). Saat ini Indonesia memiliki sekitar 80.000 dokter umum. Angka tersebut menurut Dyah sudah mendekati ideal namun penyebarannya memang belum merata. "Dengan diberlakukannya sistem jaminan sosial nasional tahun depan, peran dokter sebagai penyedia layanan primer sangat besar. Karenanya kompetensi dokter harus ditingkatkan, termasuk dalam hal soft skill berupa kemampuan berkomunikasi dengan pasien," katanya. Ia menambahkan, dokter berkewajiban memberikan konseling serta arahan untuk mengubah perilaku pasien menjadi lebih sehat. "Pengobatan tidak melulu dengan terapi obat tapi juga mengedukasi gaya hidup sehat," imbuhnya. Prof.Umar Fahmi Achmadi, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menjelaskan, sampai saat ini dokter masih menjadi sumber informasi kesehatan yang paling kuat di masyarakat. "Kata-kata dokter seperti resep obat yang harus diikuti," katanya. Karena itu menurut Umar dokter umum seharusnya menjadi lini terdepan dalam upaya pencegahan penyakit. Upaya pencegahan penyakit bisa dilakukan melalui banyak hal, mulai dari imunisasi, perbaikan lingkungan hidup, konsumsi makanan sehat, hingga menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Pelaksaan perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain dengan mencuci tangan dengan sabun pada saat-saat penting, telah terbukti mencegah penyebaran penyakit infeksi. Hasil riset menunjukkan, cuci tangan pakai sabun bisa mengurangi kejadian diare sampai 50 persen dan kejadian infeksi saluran pernapasan atas sampai 45 persen.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Apr 11, 2013 7:39 pm

PENTINGNYA "SECOND OPINION" KE DOKTER LAIN
Penulis : Dr. Widodo Judarwanto Sp.A | Kamis, 11 April 2013 | 15:57 WIB
KOMPAS.com - Kesalahan diagnosis dan perbedaan penatalaksaan pengobatan dokter yang satu berbeda dengan dokter lainnya sering terjadi di belahan dunia manapun. Di negara yang paling maju dalam bidang kedokteran pun, para dokter masih saja sering melakukan overdiagnosis, overtreatment atau terjadi wrong diagnosis pada penanganan pasiennya. Begitu juga di Indonesia, perbedaan pendapat para dokter dalam mengobati penderita adalah hal yang biasa terjadi. Perbedaan dalam penentuan diagnosis dan penatalaksanaan mungkin tidak menjadi masalah serius bila tidak menimbulkan konsekuensi yang berbahaya dan merugikan bagi penderita. Tetapi bila hal itu menyangkut kerugian biaya yag besar dan ancaman nyawa maka akan harus lebih dicermati. Sehingga, sangatlah penting untuk melakukan second opinion terhadap dokter lain tentang permasalahan kesehatan tertentu yang belum pernah terselesaikan. Dengan semakin meningkatnya informasi dan teknologi, maka semakin terbuka wawasan ilmu pengetahuan dan informasi tentang berbagai hal dalam kehidupan ini. Demikian juga dalam pengetahuan masyarakat tentang wawasan dan pengetahuan tentang permasalahan kesehatannya. Terdapat manfaat yang besar bila masyarakat bisa memahami pemasalahan kesehatan yang dialami. Tetapi sebaliknya, bila informasi yang diterima tidak akurat atau salah dalam menginterpretasikan informasi, maka juga akan membahayakan penanganan permasalahan kesehatannya. Bahkan seringkali karena informasi yang sepotong-sepotong atau salah dalam menginterpretasikan informasi seorang pasien berani menggurui dokter dan terlalu cepat memvonis bahwa dokter salah dan tidak becus. Pasien kelompok demikian ini selalu keras kepala dalam mempertahankan informasi yang didapat tanpa mempertimbangkan masukan dari dokter tentang fakta yang sebenarnya terjadi.

Second opinion
Second opinion atau mencari pendapat kedua yang berbeda adalah merupakan hak seorang pasien dalam memperoleh jasa pelayanan kesehatannya. Hak yang dipunyai pasien ini adalah hak mendapatkan pendapat kedua (second opinion) dari dokter lainnya. Di Indonesia misalnya, ada Undang Undang no. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bagian empat pasal 32 poin H tentang hak pasien menyebutkan: "Setiap pasien memiliki hak meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit". Untuk mendapatkan pelayanan yang optimal, pasien tidak usah ragu untuk mendapatkan "second opinion" tersebut. Memang biaya yang dikeluarkan akan menjadi banyak, tetapi paling tidak bermanfaat untuk mengurangi risiko kemungkinan komplikasi atau biaya lebih besar lagi yang akan dialaminya. Misalnya, pasien sudah divonis operasi caesar atau operasi usus buntu tidak ada salahnya melakukan masukan pendapat dokter lain. Dalam melakukan "second opinion" tersebut sebaiknya dilakukan terhadap dokter yang sama kompetensinya. Misalnya, tindakan operasi caesar harus minta "second opinion" kepada sesama dokter kandungan bukan ke dokter umum. Atau, bila pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan dokter sangat banyak dan mahal, tidak ada salahnya minta pendapat ke dokter lainnya.

Permasalahan kesehatan penting yang memerlukan second opinion :

1. Keputusan dokter tentang tindakan operasi, di antaranya operasi usus buntu, operasi amandel (tonsilektomi), operasi caesar, operasi hordeolum (bintitan), operasi ligasi ductus lacrimalis (mata belekan dan berair terus)dan tindakan operasi lainnya.
2. Keputusan dokter tentang pemberian obat jangka panjang lebih dari 2 minggu, misalnya pemberian obat TBC jangka panjang, pemberian antibiotika jangka panjang, pemberian obat anti alergi jangka panjang dan pemberian obat-obat jangka panjang lannya
3. Keputusan dokter dalam mengadviskan pemberian obat yang sangat mahal : baik obat minum, antibiotika atau pemberian susu
4. Kebiasaan dokter memberikan terlalu sering antibiotika berlebihan pada kasus yang tidak seharusnya diberikan : seperti infeksi saluran napas, diare, muntah, demam virus, dan sebagainya. Biasanya dokter memberikan diagnosis infeksi virus tetapi selalu diberi antibiotika.
5. Keputusan dokter dalam mengadviskan pemeriksaan laboratorium dengan biaya sangat besar dan tidak sesuai dengan indikasi penyakit yang diderita
6. Keputusan dokter tentang suatu penyakit yang berulang diderita misalnya : penyakit tifus berulang, pada kasus ini sering terjadi overdiagnosis tidak mengalami tifus tetapi diobati tifus karena hasil pemriksaan laboratorium yang menyesatkan
7. Keputusan diagnosis dokter yang meragukan : biasanya dokter tersebut menggunakan istilah "gejala" seperti gejala tifus, gejala ADHD, gejala demam berdarah, gejala usus buntu. Atau diagnosis autis ringan, ADHD ringan dan gangguan perilaku lainnya.
8. Keputusan pemeriksaan dan pengobatan yang tidak direkomendasikan oleh institusi kesehatan nasional atau internasional dan tidak memiliki dasar evidance base medicine (kejadian ilmiah berbasis bukti penelitian di bidang kedokteran): seperti pengobatan dan terapi bioresonansi, pemeriksaan alergi IGG4 dikirim ke Amerika, pemeriksaan alergi melalui rambut dan terapi bandul.

Tips melakukan second opinion :

1. Cari second opinion kepada dokter yang sesuai kompetensinya atau keahliannya. Seringkali pasien mendapatkan informasi hanya dari internet tanpa harus diketahui akurasi kebenarannya secara ilmiah. Selain itu, seringkali pasien mendapatkan informasi tidak benar dari teman atau saudaranya yang berprofesi sebagai dokter tetapi tidak sesuai kompetensinya dengan masalah yang dihadapi. Misalnya, saran berbeda dari dokter umum atau dokter penyakit dalam dalam penanganan anaknya yang berusia 1 bulan yang sedang mengalami masalah kegawatan di ruangan NICU. Seringkali opini yang belum tentu benar tersebut membuat pasien bingung dan tidak mempercayai dokter ahli yang merawat bayinya. Bila masalah rumit tersebut terjadi, sebaiknya pasien mencari informasi atau second opinion kepada dokter yang berkompenten misalnya dokter anak ahli neonatologi.

2. Rekomendasi atau pengalaman keberhasilan pengobatan teman atau keluarga terhadap dokter tertentu dengan kasus yang sama sangat penting untuk dijadikan referensi. Karena, pengalaman yang sama tersebut sangatlah penting dijadikan sumber referensi.

3. Carilah informasi sebanyak-banyaknya di internet tentang permasalahan kesehatan tersebut. Jangan mencari informasi sepotong-sepotong, karena seringkali akurasinya tidak dipertanggung jawabkan. Carilah sumber informasi internet dari sumber yang kredibel seperti : WHO, CDC, IDAI, IDI atau organisasi resmi lainnya.

4. Bila keadaan emergensi atau kondisi tertentu maka keputusan second opinion juga harus dilakukan dalam waktu singkat hari itu juga, seperti : operasi usus buntu.

5. Mencari second opinion terhadap dokter yang dapat menjelaskan dengan mudah, jelas, lengkap dan dapat diterima dengan logika. Biasanya dokter tersebut akan menjelaskan tidak berbelit-belit dan mudah diterima. Dokter yang cerdas dan bijaksana biasanya tidak akan pernah menyalahkan keputusan dokter sebelumnya atau tidak akan pernah menjelek-jelekkan dokter sebelumnya atau menganggap dirinya paling benar.

6. Bila melakukan second opinion sebaiknya awalnya jangan menceritakan dulu pendapat dokter sebelumnya atau mempertentangkan pendapat dokter sebelumnya, agar dokter terakhir tersebut dapat obyektif dalam menangani kasusnya. Kecuali dokter tersebut menanyakan pengobatan yang sebelumnya pernah diberikan atau pemeriksaan yang telah dilakukan.

7. Bila sudah memperoleh informasi tentang kesehatan, jangan menggurui dokter yang anda hadapi karena informasi yang anda dapat belum tentu benar. Tetapi sebaiknya anda diskusikan informasi yang anda dapat kemudian mintakan pendapat dokter tersebut tentang hal itu.

8. Bila pendapat kedua dokter tersebut berbeda, maka biasanya penderita dapat memutuskan salah satu keputusan tersebut berdasarkan argumen yang dapat diterima secara logika. Atau, dalam keadaan tertentu ikuti advis dari dokter tersebut bila terdapat perbaikan bermakna dan sesuai penjelasan dokter maka keputusan tersebut mungkin dapat dijadikan pilihan. Bila hal itu masih membingungkan, tidak ada salahnya melakukan pendapat ketiga. biasanya dengan berbagai pendapat tersebut penderita akan dapat memutuskannya. Bila pendapat ketiga tersebut masih sulit dipilih biasanya kasus yang dihadapi adalah kasus yang sangat sulit.

9. Keputusan second opinion terhadap terapi alternatif sebaiknya tidak dilakukan karena pasti terjadi perbedaan pendapat dengan pemahaman tentang kasus yang berbeda dan latar belakang ke ilmuan yang berbeda.

10. Kebenaran ilmiah di bidang kedokteran tidak harus berdasarkan senioritas dokter atau gelar profesor yang disandang. Tetapi berdasarkan kepakaran dan landasan pertimbangan kejadian ilmiah berbasis bukti penelitian di bidang kedokteran (evidance base medicine).
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun May 26, 2013 5:28 pm

PRAKTIK LEBIH DARI 8 JAM/HARI BISA JADI PENYAKIT BAGI DOKTER
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Senin, 20/05/2013 10:31 WIB
Jakarta, Menjadi dokter adalah panggilan, banyak yang menjalaninya dengan sepenuh hati sampai lupa istirahat. Namun, dokter disarankan tidak berpraktik lebih dari 8 jam/hari jika tak ingin kena unsocial sickness. Meski disebut-sebut sebagai profesi yang mulia, seorang dokter rupanya juga harus tunduk pada rekomendasi ILO (International Labour Organization) khususnya terkait jam kerja. Seperti karyawan pada umumnya, jam kerja dokter pun disarankan tidak lebih dari 8 jam perhari. "Itu sudah baku, nggak boleh melebihi kapasitasnya. Kapan dia istirahat? Kalau sudah lebih dari 8 jam, itu sudah unsocial sickness namanya. Penyakit yang tidak manusiawi," kata Dr HB Junaz, ketua umum Aliansi Praktik Dokter Mandiri Indonesia (APDMI) di sela-sela Dialog Terbuka tentang BPJS/SJSN 2014, di Gedung Stovia, Jl Abdurahman Saleh, Jakarta, dan ditulis pada Senin (20/5/2013). Dr Junaz mengatakan, dokter juga memiliki kewajiban untuk menjalani kehidupan sosialnya dengan normal. Bekerja lebih dari 8 jam perhari menurutnya sangat tidak manusiawi. Dari 24 jam, bekerja cukup 8 jam dan sisanya adalah untuk istirahat dan bersosialisasi. Dengan berpatokan pada jam kerja tersebut, Dr Junaz menilai idealnya seorang dokter hanya menangani 32 pasien perhari dengan perhitungan tiap pasien dilayani selama masing-masing selama 15 menit. Kenyataannya, saat ini banyak dokter yang dalam sehari bisa melayani 100-200 pasien. Mengenai dokter-dokter yang berpraktik di banyak tempat, Dr Junaz menilai tidak ada masalah dengan jumlah tempat praktik. Ia hanya mengingatkan, kewajiban untuk menjalani aktivitas sosial dengan normal tetap harus dipenuhi dengan tetap membatasi jam kerja. "Boleh saja praktik di berbagai tempat, terutama dokter yang nggak (praktik) mandiri. Tapi dia nggak boleh mengorbankan perilaku sosialnya, aktivitas sosialnya. Misalnya pagi di sini, malam di sini, itu sudah nggak. Banyak yang seperti itu," pungkas Dr Junaz.


Last edited by gitahafas on Sat Aug 31, 2013 8:18 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue May 28, 2013 2:16 pm

DOKTER SPESIALIS AKAN DITEMPATKAN DI 341 PUSKESMAS
Senin, 13 Mei 2013 | 18:45 WIBANTARA/M Agung RajasaTERKAIT
Metrotvnews.com: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI akan menempatkan dokter spesialis di sebanyak 44 Puskesmas Kecamatan dan 297 Puskesmas Kelurahan. Hal itu dilakukan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan puskesmas yang ada di wilayah DKI Jakarta. Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), di Balai Kota DKI Senin (13/5), mengatakan, Pemprov DKI telah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk meningkatkan kompetensi puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Peningkatan kompetensi dua instansi layanan kesehatan bagi warga Jakarta tersebut dilakukan supaya kedua instansi bisa sejajar dengan kompetensi RSCM. “Kita ingin mencapai Jakarta Sehat kan. Nanti itu ada promotif dan preventif. Kalau kuratifnya kita baru kerja sama. Ke depannya kita mau tingkatkan program dokter spesialis di puskesmas yang ada di Jakarta,” ujar Ahok. Menurut dia, sudah ada beberapa puskesmas yang memiliki dokter spesialis. Akibatnya, jumlah surat rujukan ke rumah sakit pun sudah berkurang. Karena sudah banyak warga yang mau di rawat di puskesmas. “Makanya sekarang jumlah surat rujukan banyak berkurang. Sebab, di puskesmas warga sudah mau di opname karena ada dokter spesialisnya. Lalu di RSUD untuk operasi anak dan segala macam tidak perlu lagi kirim ke RSCM. Karena bisa dilaksankan di RSUD maupun di Puskesmas. Itu pun ada dokter RSCM yang turun ke kedua instansi tersebut,” paparnya. (MI/SSR)


Last edited by gitahafas on Sat Jun 01, 2013 3:28 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue May 28, 2013 2:16 pm

KEMAMPUAN KOMUNIKASI DOKTER DI INDONESIA LEMAH
Selasa, 07 Mei 2013 | 23:31 WIBDok.MI/fzTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengakui sebagian dokter di Indonesia belum memiliki tingkat profesionalisme yang memadai. Salah satu kelemahan yang paling mencolok dari dokter di dalam negeri adalah kemampuan menjalin komunikasi dengan pasien. "Kalau bicara skill, kemampuan dokter Indonesia sudah diakui di dunia. Namun ketika berbicara soal komunikasi pada pasien, kemampuan dokter kita rendah sekali," ujar Ketua PB IDI Zaenal Abidin saat dihubungi, Selasa (7/5). Namun lemahnya komunikasi antara dokter dan pasien bukan semata-mata kesalahan para dokter semata. Sistem pelayanan kesehatan yang buruk di dalam negeri berperan besar menciptakan suasana komunikasi yang buruk pada pasien. Sistem kebijakan yang buruk, lanjut Zaenal, juga merupakan buah tangan ciptaan pemerintah/pelaku kebijakan. Dia mencontohkan kasus membludaknya pasien akibat kebijakan politik kesehatan gratis tanpa kaidah asuransi kesehatan dan sistem rujukan yang jelas disejumlah daerah. Lantaran terlalu banyak pasien, walhasil dokter sulit menjalin komunikasi yang rapi dengan pasien. "Situasi praktik dokter di Indonesia sudah seperti penjual karcis tol di loket. Belum apa-apa, antrean mobil di belakang sudah mengklakson minta segera dilayani." Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan pentingnya kesalamatan pasien. Hal itu penting untuk menghindarkan kejadian tidak diinginkan yang dapat menimpa pasien WHO menyatakan idealnya dokter maksimal hanya boleh memeriksa 20-30 pasien secara terus menerus. Sedangkan dokter gigi sebanyak 12-15 pasien. Pasalnya pemeriksaan yang dilakukan kurang dari 15 menit dapat menimbulkan resiko dampak kejadian yang tidak diinginkan pada pasien semakin meningkat. Praktik medis di Indonesia pada saat ini, lanjut Zaenal, masih jauh dari kriteria minimal WHO. Dia mencontohkan ketika awal-awal Kartu Jakarta Sehat (KJS) diterapkan di Jakarta, dalam sehari orang yang diperiksa di puskesmas/RS bisa mencapai 300-500 orang. IDI, lanjut dia, tidak pernah lelah untuk meningkatkan profesionalisme dokter. Namun tanpa perbaikan sistem kesehatan yang baik, walhasil upaya tersebut bakal sia-sia. Zaenal juga berharap agar publik Indonesia menjadi pasien yang cerdas, yang mengetahui hak dan kewajibannya sebagai orang pasien. Dihubungi terpisah, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjayarta mengatakan untuk meningkatkan profesionalisme dokter, negara kita harus memiliki standar profesi dan standar pelayanan medis yang berlaku baku di semua rumah sakit. (Cornelius Eko Susanto)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Jul 17, 2013 9:33 am

DOKTER, KOK SAYA TIDAK DIPERIKSA?
Penulis : Dr. Irsyal Rusad. Sp.PD | Selasa, 16 Juli 2013 | 15:29 WIB
KOMPAS.com — Beberapa hari yang lalu, saya visite bersama sejawat dokter internship. Seorang dokter wanita yang cantik. Tentu masih sangat muda belia, dan saya yakin ilmunya masih segar.  Secara teoretis, barangkali bisa melebihi Saya. Tetapi, seperti diketahui kedokteran tidak  hanya sekadar Ilmu, “science”,  tetapi juga “art”, seni.  Bagaimana seorang dokter berhubungan dengan pasiennya, mulai dari cara si dokter menyapa, berbicara, mendengarkan atau berkomunikasi, memeriksa, tidak hanya dapat membantu menegakkan kemungkinan diagnosis, tetapi juga kepuasan dan kesembuhan pasien. Sehubungan dengan itu, karena ingin melihat pendekatannya kepada pasien, saya minta dia memeriksa pasien yang baru saja dirawat karena sesak napas. Agar tidak gugup, sambil memeriksa pasien lain, saya amati dari jarak agak jauh apa yang dilakukannya terhadap pasien. Saya lihat sejawat ini mengeluarkan steteskopnya dan langsung menempelkannya di beberapa tempat di daerah jantung pasien. Tak berapa lama setelah itu, ia kembali mendampingi saya. Saat saya tanyakan, "apa yang Anda dapatkan?" "Suara jantungnya tidak normal dokter”, jawabnya. "Ya, Saya tahu itu, tetapi apa itu cukup? Coba Anda periksa lagi!"…. Hmmmm, si dokter yang cantik ini kelihatan agak gugup dan kembali memeriksa pasien itu. Saya lihat Ia masih melakukan hal yang sama, tetapi sedikit lebih lama, kemudian saya lihat Ia berdiri cukup lama  membaca foto rontgen dada pasien yang baru saja datang. Tidak berapa lama setelah itu ia kembali  mendekati saya. ”Jantungnya membesar dokter”, katanya spontan. “Dari mana Anda tahu?”, tanya Saya lagi “Dari gambaran foto dadanya dok “, jawab dokter yang cantik ini. Ok, jantungnya memang membesar, akibat hipertensi yang dideritanya sudah cukup lama dan tidak terkontrol dengan baik. Tetapi yang saya harapkan adalah, sebelum sampai ke kesimpulan itu,  bagaimana Anda melakukan pemeriksaan yang benar kepada pasien, mulai dari anammesis, tanya jawab tentang keluhannya, riwayat penyakitnya, sampai dengan  melihat, mengamati, memeriksa Pasien secara keseluruhan. Saya berharap Anda akan memegang tangannya, memeriksa nadinya, mata, hidung, telinga dan boleh dikatakan seluruh tubunhya. Jadi tidak hanya dengan steteskop, itu, apalagi hanya melihat hasil rontgen pasien, tetapi dengan tangan Anda sendiri. Saya lihat tadi Anda tidak melakukannya, perkusi (mengetok pasien dengan jari), palpasi (meraba daerah tertentu dengan telapak tangan), tidak anda kerjakan sama sekali, auskultasi (mendengarkan suara jantung, paru, usus dengan steteskop) juga hanya  Annda lakukan pada daerah jantung pasien. “Ya, dok, saya gugup, seharusnya saya kerjakan semuanya”, ungkapnya.

“Ya, Saya bisa memahaminya, barangkali Anda gugup atau capek. Dari pagi menurut perawat, Anda sudah keliling bangsal. Tetapi, saya lihat, tidak hanya Anda yang memeriksa Pasien seperti itu sekarang, memeriksa pasien ala metro mini- istilah Alm Prof Iwan, teman sejawat lain juga seperti itu, bahkan kadang-kadang Saya pun demikian, memeriksa pasien seperlunya saja. Coba Anda lihat dalam pengobatan massal menjelang Pilkada, atau kegiatan sosial lainnya, pasien duduk di kursi dekat meja dokter, baju dibuka sedikit bahkan kadang-kadang tidak sama sekali, mungkin sedikit ada pertanyaan dari dokternya, apa keluhan pasien, lalu steteskop ditempelkan pada daerah tertentu di dada Pasien.  Di poliklinik rawat jalan pemandangan yang hampir sama juga dapat Anda lihat”. Saya mencoba memberikan contoh. “Ya, Dokter. Barangkali karena pasiennya banyak. Sekarang siapapun kan bisa berobat, yang tidak sakit, atau hanya sakit flu, pilek, pegel linu saja ingin berobat dan maunya ke dokter Spesialis lagi. Di samping itu dokter, siapapun dapat menggunakan Jamkesmas, apalagi Jamkesda, asal diurus pasti surat Jamkesdanya keluar. Bahkan, pasien kelas satu yang sudah dirawat 3 hari lalu sekarang menggunakan Jamkesda, ini kan berpengaruh terhadap kepuasan dokter yang melayaninya”, dokter ini berupaya memberikan alasan mengapa sebagian dokter sekarang jarang memeriksa Pasien sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Nah, itu yang juga saya rasakan. Dua anak saya yang sedang menjalani PTT dan internship di daerah juga mengungkapkan hal yang sama. Pasien banyak sekali, rata-rata di atas 100 Pasien sehari. Bayangkan, “apa yang dapat dilakukan seorang dokter, apalagi dokter yang belum banyak pengalaman, melayani Pasien sebanyak  itu?” Padahal, mendengarkan keluhan pasien, melihat, memeriksanya secara seksama, tidak hanya akan membimbing seorang dokter kepada kemungkinan suatu diagnosa, atau penyakit seorang pasien.  Saya ingat waktu kuliah kedokteran umum dulu, seorang guru besar waktu itu mengatakan, dari cara berjalan pasien saja sudah dapat membantu, kira-kira apa yang dialami seorang yang datang ke tempat praktek dokter. Sekitar 60-80 % penyakit seorang pasien bakan dapat ditegakkan, hanya berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisiknya. Hanya sebagian kecil pasien yang memerlukan pemeriksaan penunjang yang canggih. Dan, selain itu, mendengarkan keluhan pasien, memeriksanya dengan hati dan hati-hati adalah modal awal proses penyembuhan pasien. Oleh karena itu, apa pun alasannya, apakah karena pasiennya banyak, dokternya capek, tidak puas, jasa yang kecil-itu pun tidak jelas kapan keluarnya, Anda harus tetap berupaya melayani setiap pasien  dengan baik. Berikanlah perhatian yang maksimal walau dalam keterbatasan yang ada. Sempatkanlah untuk memdengarkannya, memeriksanya, walau hanya dengan sedikit sentuhan, rabaan, dan bagi seorang yang sakit ini akan sangat berarti, dan paling tidak akan mengurangi keluhan-keluhan pasien, “Saya kok tidak Diperiksa, Dokter?”
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 7:54 am

KUALITAS DOKTER TENTUKAN MUTU PELAYANAN
Selasa, 27 Agustus 2013 | 06:48 WIB
KOMPAS.com — Dokter memiliki andil besar dalam mewujudkan layanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Walau distribusi dokter belum merata, pendapatan antardokter sangat senjang, serta munculnya ancaman keberadaan dokter dan fasilitas kesehatan asing, dokter Indonesia seharusnya tetap berpihak kepada rakyat. Hal itu dikemukakan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dalam pembukaan Indomedica Expo dan Seminar Urun Rembug Nasional 2013 di Jakarta, Senin (26/Cool. ”Dokter punya potensi membangun sistem kesehatan yang manfaatnya bisa dinikmati masyarakat dalam layanan yang bermutu dan terjangkau,” katanya. Agung berharap dokter Indonesia menjadi mitra pemerintah untuk mencapai sejumlah indikator Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang belum tercapai, seperti penurunan angka kematian ibu melahirkan, menekan laju peningkatan pengidap HIV, penyediaan air bersih, hingga layanan keluarga berencana. Besarnya peran dan harapan terhadap dokter belum disertai kualitas dokter-dokter muda yang akan menjadi tumpuan pembangunan kesehatan ke depan. Dalam seminar tersebut, sejumlah dokter senior mengkhawatirkan keterampilan dan kecakapan dokter-dokter muda dalam menangani pasien. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zaenal Abidin mengatakan, ada sekitar 2.500 lulusan fakultas kedokteran sebelum tahun 2013 yang gagal mengikuti ujian kompetensi dokter Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya sudah mengikuti ujian hingga 19 kali. ”IDI akan membimbing mereka,” ujarnya. Hal itu dilakukan karena kegagalan itu bukan semata kesalahan mereka, melainkan juga akibat proses pendidikan yang kurang memperhatikan kualitas calon mahasiswa dan mutu pendidikan. Akibatnya, IDI sebagai organisasi profesi yang menaungi calon dokter harus menanggung beban. Sejak tahun 2008, jumlah fakultas kedokteran melonjak dari 52 menjadi 73 fakultas. Saat ini, antrean izin pendirian fakultas kedokteran masih panjang walau pemerintah menghentikan sementara pemberian izin fakultas kedokteran baru. Pendidikan kedokteran sering dijadikan sumber keuangan universitas. Akibatnya, sejumlah universitas menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan ketersediaan dosen tetap dan sarana prasarana pendukung. ”Pemerintah harus berani menutup fakultas kedokteran yang proses pendidikannya tidak berkualitas,” kata Zaenal. Untuk meningkatkan kepercayaan diri lulusan fakultas kedokteran, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menegaskan, para sarjana kedokteran wajib mengikuti program internship (pemagangan). Selama magang, mereka akan didampingi dokter senior dan mendapat insentif khusus.

Pemerintah daerah
Nafsiah mengingatkan, peningkatan mutu layanan kesehatan juga bergantung pada kepedulian pemerintah daerah. Selama ini, pemerintah daerah terlalu fokus pada upaya kuratif (penyembuhan) sehingga abai dengan upaya promosi, prevensi (pencegahan), dan rehabilitasi. ”Pemerintah daerah adalah penanggung jawab kesehatan di daerah. Apa guna otonomi kalau mereka tetap bergantung kepada pemerintah pusat,” ujarnya. Pemerintah daerah juga membangun paradigma keliru tentang pembiayaan kesehatan dengan membangun jargon politik berobat gratis. Janji kampanye itu sebagian diwujudkan melalui program jaminan kesehatan daerah yang diberikan kepada semua warga tanpa pandang bulu. ”Tiap orang berhak mendapat layanan kesehatan memadai, tapi dia juga wajib berkontribusi untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi itu,” kata Nafsiah. Prinsip sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang akan dilaksanakan mulai 1 Januari 2014 adalah gotong royong. Semua peserta wajib membayar iuran, sedangkan iuran orang miskin dibayar pemerintah. (MZW)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:04 am

MUTU DOKTER DAN PERAWAT TENTUKAN KESELAMATAN PASIEN
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 28 Agustus 2013 | 16:59 WIB
Kompas.com - Upaya meningkatkan keterampilan petugas kesehatan, baik dokter atau perawat, agar lebih disiplin dan berorientasi pada keselamatan pasien dapat menurunkan angka kematian pasien gawat darurat medis. Menurut Barbara McLean, nurse intensivist dan critical care specialist dari Amerika Serikat, kesalahan diagnosis yang bisa berujung pada peningkatkan biaya pengobatan bahkan kematian pasien, sebenarnya bisa dihindari dengan peningkatan mutu dan keterampilan petugas kesehatan. "Petugas kesehatan harus bisa mengenali mana pasien yang beresiko tinggi dan perlu perawatan intensif," kata McLean dalam acara konferensi pers Pelatihan Tenaga Kesehatan untuk Memaksimalkan Keselataman Pasien yang diadakan oleh Philips Healthcare di Jakarta (28/8/13). Secara umum ia menyebutkan beberapa langkah yang bisa dilakukan petugas kesehatan untuk menurunkan angka kematian pasien. Antara lain mengumpulkan data setelah pasien masuk ke rumah sakit untuk memahami kondisi-kondisi yang beresiko terhadap kondisi pasien. Selain itu setiap petugas kesehatan seharusnya memiliki pengetahuan bahwa pasien yang masuk ke rumah sakit, terutama setelah operasi, akan mengalami penurunan kondisi. Dengan demikian bisa dilakukan langkah-langkah antisipasi. Barbara menambahkan, ada beberapa kondisi yang seringkali menyebabkan kematian pada pasien, yakni keterlambatan memahami keparahan kondisi pasien, keterlambatan komunikasi antar dokter dan perawat, serta keterlambatan dokter untuk datang melihat pasien. "Di rumah sakit yang sudah memiliki tenaga kesehatan terlatih seharusnya dibentuk rapid response team sehingga siap menghadapi kondisi kritis," katanya. Ditambahkan oleh dr.Dewi Indriani dari WHO Indonesia, keselamatan pasien saat ini menjadi isu serius yang dihadapi banyak negara, baik negara maju atau negara berkembang. "WHO sudah membuat panduan yang harus dilakukan petugas kesehatan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Standar keselamatan pasien juga sudah dimasukkan dalam program akreditasi rumah sakit," kata Dewi dalam kesempatan yang sama. Dalam panduan tersebut juga termasuk higienitas rumah sakit dan petugas kesehatan untuk menurunkan infeksi di rumah sakit. "Infeksi di rumah sakit adalah masalah besar yang bisa dicegah dengan mencuci tangan secara reguler, baik petugas kesehatan atau pengunjung rumah sakit," katanya.


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:41 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:06 am

MALAS CUCI TANGAN BISA FATAL BAGI PASIEN RUMAH SAKIT
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Kamis, 29/08/2013 08:03 WIB
Jakarta, Di beberapa rumah sakit, kerap terjadi kasus yang berakibat fatal pada pasien. Beberapa faktor pun ditengarai menjadi penyebab terjadinya hal kasus yang bahkan mengakibatkan pasien meninggal dunia. "Salah diagnosa, penanganan yang tidak tepat, salah obat, dan alat yang digunakan untuk menangani pasien tidak bersih hingga terjadi infeksi," kata Dr Dewi Indriani dari WHO. Infeksi yang terjadi, menurut Dr Dewi juga umumnya disebabkan dari rumah sakit itu sendiri. Maka dari itu, diperlukan perubahan perilaku dar paramedis maupun pengunjung rumah sakit yakni dengan mencuci tangan dengan disinfektan. Paramedis bisa mencuci tangan sebelum menggunakan alat kesehatan dan sebelum melakukan kontak langsung dengan pasien. Begitu pula pengunjung, harus tetap menjaga kesterlian tangannya terutama setelah ia berada di luar rumah sakit. Pemaparan tersebut diberikan Dr Dewi saat menjadi pembicara di konferensi pers dan mini hospital tour phillip patient care and clinical informatic yang diadakan di Hotel Mulia, Jl. Asia Afrika, Jakarta, seperti ditulis Kamis (29/8/2013). "Cuci tangan teratur terutama yang dilakukan petugas medis terbukti bisa menurunkan infeksi pada pasien di rumah sakit. Oleh karena itu, beberapa rumah sakit termasuk di indonesia juga sudah memiliki patient safety guideline termasuk cuci tangan tadi," tutur Dr Dewi. Selain itu, WHO juga sudah membuat rekomendasi dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.

Pertama, tenaga medis harus mengidentifikasi pasien dengan benar sehingga bisa memahami penanganan apa yang dibutuhkan pasien.

Kedua, terjalinnya komunikasi yang efektif antara pasien dengan tenaga medis.

Ketiga, waspada terhadap penggunaan obat yang berbahaya bagi pasien.

Keempat kurangi risiko pasien jatuh, misalnya saat tidur.

Kelima, kurangi risiko infeksi yang ada di rumah sakit.

Terakhir, jika melakukan operasi, pastikan tempat operasi, prosedur operasi, dan pasien yang akan di operasi tepat.


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:38 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Wed Aug 28, 2013 9:11 am

PANDUAN WHO DEMI KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 28 Agustus 2013 | 17:38 WIB
Kompas.com - Isu mengenai pentingnya keselamatan pasien belakangan ini telah menjadi perhatian utama di rumah sakit di seluruh dunia. Di Indonesia, Kementrian Kesehatan juga mendorong agar keselamatan pasien lebih diperhatian sehingga kasus kesalahan medik bisa dihindari. Salah satu upaya untuk memastikan hal tersebut adalah mensyaratkan standar keselamatan pasien dalam program akreditasi rumah sakit. "Indonesia sudah mengadopsi standar keselamatan pasien sesuai standar global," kata dr.Dewi Indriani, dari WHO Indonesia dalam acara konferensi pers Pelatihan Tenaga Kesehatan untuk Keselamatan Pasien yang diadakan oleh Philips di Jakarta (28/8/13). Dewi memaparkan ada 6 panduan yang diberikan WHO untuk meningkatkan keselamatan pasien.

1. Mengidentifikasi pasien dengan benar
Dengan memastikan nama lengkap pasien sehingga tidak sampai salah pasien karena banyaknya nama yang sama.

2. Meningkatkan komunikasi yang efektif antara dokter dan perawat
Terutama dalam pemberian instruksi penanganan atau pemberian obat.

3. Kewaspadaan penggunaan obat berbahaya.
Khusus untuk obat, ketepatan obat, dosis, cara pemberian, dan waktu pemberian harus dijamin.

4. Memastikan tindakan bedah dilakukan sesuai prosedur yang benar, pasien yang benar, dan di tempat yang benar.

5. Mengurangi risiko infeksi di rumah sakit
Hal ini bisa dicegah dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setiap akan atau setelah selesai melakukan tindakan. Kebiasaan mencuci tangan bukan hanya bagi petugas kesehatan tapi juga pengunjung rumah sakit.

6. Mencegah pasien terluka akibat terjatuh, terutama pasien anak.


Last edited by gitahafas on Thu Aug 29, 2013 9:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
View previous topic View next topic Back to top 
Page 21 of 24Go to page : Previous  1 ... 12 ... 20, 21, 22, 23, 24  Next
 Similar topics
-
» benarkah Nabi Adam as manusia pertama dibumi ini???
» Karena Puasa, Seorang Pendeta Amerika Masuk Islam
» pentingnya belajar bahasa arab
» Kalimat Syahadat Menurut Hadis Muslim..
» Rumah Ditinggal Pergi ke Gereja, Nasib Jadi Apes

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: