Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 13 ... 24  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Feb 23, 2010 12:46 pm

MENKES BUKA PINTU UNTUK DOKTER ASING
Jumat, 20 November 2009 | 15:12 WIB
PALEMBANG, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan kerjasama dengan lembaga kesehatan internasional adalah hal yang penting. Untuk itu, pihaknya mempersilahkan sebanyak 3.500 dokter asing yang dalam waktu dekat melakukan penelitian di Indonesia. Kebijakan pemerintah di bidang kesehatan salah satunya adalah membangun kerjasama dengan lembaga kesehatan lokal dan luar negeri. Sehingga Indonesia pun harus mengikuti kesepakatan dibidang kesehatan internasional, kata Menkes saat menjawab pertanyaan seorang dokter peserta Muktamar ke-27 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Palembang, Jumat (20/11). Menurutnya, tenaga kesehatan asing diperbolehkan melakukan penelitian di Indonesia dan bekerjasama dengan pemerintah, tetapi mereka harus mengikuti aturan yang telah disiapkan pemerintah. Dokter asing tersebut harus bekerja profesional dan mematuhi ketentuan yang diatur pemerintah Indonesia, tambahnya.

Ia mengatakan, kerjasama dibidang kesehatan tersebut sangat dibutuhkan Indonesia untuk mencapai sasaran "MDGs" yang telah ditargetkan pemerintah. Sebab kerjasama yang dengan dokter asing tersebut ditargetkan akan menguntungkan rakyat Indonesia, sehingga mereka pun dipersilahkan datang dan bekerja di negera kita, katanya. Dia menjelaskan, pada prinsipnya Depkes akan mengedepankan kepentingan masyarakat untuk merealisasikan rakyat Indonesia yang sehat sehingga berbagai program berjalan optimal. Depkes pun terus berusaha menjadikan rumah sakit sebagai sarana promotif, preventif dan edukatif tidak hanya menjadi tempat bagi warga yang sakit, ujarnya.

Sementara itu, seorang dokter peserta Muktamar ke-27 IDI di Palembang tersebut menganggap diizinkannya 3.500 dokter dari luar negeri masuk ke Indonesia itu membuktikan kalau pemerintah mulai mengurangi kepercayaan terhadap tenaga kesehatan lokal. Padahal dokter di Indonesia pun tidak kalah kualitas dengan luar negeri sehingga kalau ada program-program penelitian semestinya Menkes mengajak serta tenaga kesehatan lokal bukan dari asing, kata dokter yang enggan disebut namanya tersebut.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:19 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Mar 05, 2010 5:58 am

SERBUAN DOKTER ASING?
Senin, 1 Februari 2010 | 06:21 WIB
KOMPAS.com - Dengan diberlakukannya perdagangan bebas China-ASEAN, banyak pihak khawatir Indonesia akan dibanjiri oleh produk China, mulai dari produk pertanian, tekstil, furnitur, mainan anak, otomotif, hingga obat. Namun, satu hal yang mungkin juga patut diperhitungkan adalah datangnya dokter asing ke Indonesia. Dewasa ini Indonesia telah dijadikan pasar jasa layanan kedokteran, dalam bentuk pasien Indonesia berobat di luar negeri. Konon jumlah devisa yang terbuang untuk berobat ini mencapai jutaan dollar AS. Salah satu bentuk yang mungkin akan terjadi adalah dokter asing datang dan berpraktik di Indonesia. Sekarang ini sudah cukup banyak rumah sakit yang modalnya berasal dari luar negeri dan rumah sakit tersebut mungkin saja akan menjadi jembatan untuk penampungan dokter asing.

Layanan kedokteran di Indonesia tampaknya masih lemah. Citra yang terbentuk adalah layanan kedokteran kita mutunya rendah, biayanya tinggi, dan kurang komunikatif. Masyarakat beranggapan layanan di negara maju lebih baik daripada Indonesia. Namun menurut saya, tidak semua layanan di negara maju lebih baik daripada di Indonesia. Untuk penyakit-penyakit tertentu jarang didapat di negara maju, jadi pengalaman mereka kurang. Menurut pendapat saya, pengalaman dan keterampilan dokter akan menunjang ketepatan diagnosis dan keberhasilan terapi. Namun tidak seluruh masyarakat memahami hal itu sehingga perlu pembentukan citra yang benar mengenai layanan kedokteran kita.

Hanya sayang, lembaga swadaya masyarakat di Indonesia lebih suka menyorot kekurangan layanan dan kurang memerhatikan kelebihan layanan rumah sakit dan dokter Indonesia. Apakah belum saatnya untuk bersama membentuk citra bahwa layanan kedokteran di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia? Sampai di mana persiapan profesi kedokteran dan perhimpunan rumah sakit di Indonesia? Apakah pihak regulator juga telah menyadari hal ini, karena tampaknya sekarang regulator kita amat lemah dalam mengawasi iklan dan kegiatan dokter asing di Indonesia. Mohon tanggapan dokter.

(M di J)

Jawaban
Saya sebenarnya dokter klinis. Namun, sedikit banyak saya mengikuti sejak tahun 2000 telah timbul kesadaran di kalangan kesehatan bahwa kita harus mampu bersaing dengan negara lain, terutama negara-negara di kawasan Asia. Dalam menghadapi isu perdagangan bebas, bahkan pernah dibentuk tim untuk mengantisipasi dan memberikan rekomendasi dalam bidang pelayanan kesehatan. Dampak perdagangan bebas mau tak mau juga akan berdampak pada layanan kesehatan, khususnya layanan kedokteran. Dokter asing tak dapat lagi kita tolak kehadirannya hanya karena mereka dokter asing. Perlu aturan yang sama untuk dokter asing dan dokter Indonesia. Jika mereka memenuhi persyaratan untuk berpraktik di Indonesia, kita tak dapat melarangnya begitu saja. Karena itulah, persyaratan tersebut harus dikaji dengan baik, misalnya salah satu yang mungkin disyaratkan adalah kemampuan berbahasa Indonesia di samping kompetensi.

Sistem pendidikan kedokteran di luar negeri juga mungkin berbeda dengan di Indonesia. Masyarakat kita mempunyai kecenderungan untuk berobat ke dokter spesialis dan konsultan dan kurang menghargai dokter umum. Anda benar, sebagian masyarakat kita juga masih beranggapan dokter asing mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan dokter Indonesia. Tampaknya informasi tentang kemampuan layanan kedokteran kita tenggelam dalam hiruk-pikuk pemberitaan tentang kekurangan rumah sakit atau kelalaian dokter.

Jumlah dokter di Indonesia mencapai sekitar 80.000 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Negeri kita pernah dijadikan salah satu contoh layanan kesehatan yang merata. Namun dengan semakin berkurangnya tenaga dokter yang bekerja di puskesmas di daerah terpencil, maka pemerataan kesehatan kita semakin berkurang. Banyak daerah terpencil yang belum menikmati layanan dokter. Mutu pendidikan kedokteran kita sebenarnya cukup baik. Banyak mahasiswa asing yang menjalani pendidikan kedokteran di fakultas kedokteran di Indonesia. Jika tak dibatasi, setiap tahun jumlah mereka semakin besar. Jika mahasiswa kedokteran atau dokter kita mendapat pendidikan atau pelatihan di luar negeri, biasanya prestasi mereka juga dapat dibanggakan.

Namun, sistem pelayanan kesehatan kita masih harus disempurnakan. Kecenderungan masyarakat berobat ke dokter spesialis menyebabkan dokter spesialis tertentu kebanjiran pasien yang berpotensi mengurangi ketelitian dokter-dokter tersebut dan sudah tentu juga mengurangi kesempatan berkomunikasi. Masyarakat seharusnya pandai memilih rumah sakit atau dokter berdasarkan kemampuannya bukan karena ketenarannya. Selain itu, sistem pembiayaan kesehatan kita juga harus semakin diperkuat sehingga masyarakat tak harus membayar langsung dari kantong mereka jika sakit.

Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bersatu untuk ikut memajukan layanan kesehatan kita. Kita semua harus mempunyai rasa memiliki dan memelihara rumah sakit kita agar dapat tetap berfungsi dengan baik, terjamin kebersihan dan kenyamanannya. Kesadaran untuk meningkatkan mutu layanan rumah sakit telah menjadi tekad rumah sakit swasta maupun pemerintah. Jika berkunjung ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Anda akan merasakan perubahan, baik di poliklinik maupun di ruang perawatan. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada gedung baru atau renovasi gedung, tetapi juga pada tanggung jawab pelayanan. Setiap pasien yang dirawat di rumah Sakit Cipto Mangunkusmo mempunyai dokter penanggung jawab yang merupakan dokter spesialis yang sesuai dengan penyakitnya. Waktu layanan poliklinik lebih panjang dan dokter penanggung jawab memeriksa pasien yang dirawat secara teratur.

Tidak hanya di kota besar, sekarang banyak rumah sakit daerah yang juga sudah berubah. Lihatlah Rumah Sakit Wahab Syahrani di Samarinda atau Rumah Sakit Madiun. Rumah sakit daerah tersebut juga telah mampu memberikan layanan yang baik dan nyaman serta terjangkau. Jika kita terus-menerus meningkatkan kemampuan dan kenyamanan ini, kita sebenarnya tak perlu khawatir dengan kehadiran dokter asing. Namun, seperti juga di bidang lain, masyarakat kita harus mempunyai rasa keberpihakan pada produk dan jasa anak negeri. Janganlah membeli produk luar negeri sekadar karena lebih murah, kita harus mengutamakan produk dalam negeri. Instansi pemerintah sebagai tokoh panutan dapat menjadi pelopor dalam menggalakkan penggunaan produk dalam negeri.

Mudah-mudah bank-bank badan usaha milik negara tidak lagi menjanjikan hadiah mobil mewah buatan luar negeri atau wisata ke luar negeri, tapi memberikan hadiah yang lebih bermanfaat bagi masyarakat serta hadiah tersebut hendaknya buatan dalam negeri pula. Penduduk kita yang 240 juta jiwa merupakan pasar yang potensial, marilah kita adakan pasar tersebut untuk menggerakkan industri dalam negeri. Kita perlu mengubah sikap dari bangsa yang hanya pandai memakai dan membeli menjadi bangsa yang mampu memproduksi sendiri kebutuhan masyarakat kita. Semoga ancaman serbuan dokter asing tidak akan menimbulkan ketakutan, tapi sebaliknya merangsang kita untuk menumbuhkan jasa layanan kesehatan di Indonesia yang baik dan terjangkau.

DR Samsuridjal Djauzi


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:47 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Mar 05, 2010 9:33 am

AFTA ( ASEAN FREE TRADE AGREEMENT )
AFTA atau kesepakatan perdagangan bebas antar negara ASEAN telah disepakati dan ditanda tangani. Berbagai tantangan diberbagai bidang muncul, termasuk didunia kesehatan. Persaingan kompetensi profesi dan teknologi menjadi tantangan utama dan harus segera menemukan jawaban di era yang terbuka ini.

Sebagai badan otonom yang mengawasi praktik kedokteran, yang bisa dilakukan KKI adalah melindungi masyarakat dan meningkatkan kemampuan dokter Indonesia agar mereka memiliki kemampuan yang sama dengan dokter negara lain, terutama ASEAN, sehingga berani berkompetisi. Positifnya, itu akan memotivasi dokter Indonesia dalam meningkatkan kapasitas diri menjadi profesi yang mampu bertahan dan berkompetisi. Sayangnya jenjang karier dan kesejahteraan dokter Indonesia belum terlayani dengan baik sehingga dokter harus bertarung secara individual. Bila terus begini ditakutkan akan terjadi perdagangan profesi oleh beberapa oknum.

Pengetahuan dan keterampilan dokter Indonesia sebetulnya tidak kalah dengan dokter asing. Sayangnya, didalam AFTA tidak hanya dokter asing saja yang masuk, melainkan juga sistem, rumah sakit dan alat / teknologi. Sementara, tidak semua dokter Indonesia tertampung dalam sistem atau rumah sakit asing yang memiliki kecanggihan sarana dan teknologi. Itu akan meragukan masyarakat terhadap kemampuan dokter kita.

Jika dokter Indonesia juga menginginkan sarana dan teknologi yang sama canggihnya dengan mereka demi perkembangan ilmunya, ditakutkan para dokter akan meninggalkan tempat yang memiliki sarana dan teknologi terbatas. Maka hanya rumah sakit asing dengan modal yang cukuplah yang akan memiliki dokter berkualitas baik.

KKI mempunyai kebijakan yaitu dengan memberikan syarat bagi dokter asing yang akan masuk ke Indonesia, yaitu:
1. Dokter asing yang boleh masuk adalah yang secara kompetensi benar benar belum dimiliki dokter Indonesia.
2. Harus dinyatakan okeh profesi kedokteran Indonesia bahwa dokter tersebut benar benar dibutuhkan dan berkompetensi sehingga keberadaannya juga diketahui dan dikenal oleh perhimpunan profesinya di Indonesia.
3. Harus membawa surat jaminan dari perhimpunan profesi negara asal dan memiliki letter of good standing dari konsil kedokteran negara asal.
4. Bersedia ditempatkan didaerah yang membutuhkan.

Dengan adanya AFTA selain dokter Indonesia yang harus berkompetisi, masyarakat Indonesia akan terbebani dengan biaya kesehatan yang tidak lagi murah karena biaya mesti disesuaikan pada standar mutu dan pelayanan. Tantangan semakin berat, terutama karena masyarakat kita belum seratus persen dilindungi oleh asuransi kesehatan.

Sumber: Dokter Kita Edisi 3 Tahun V Maret 2010
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Mar 12, 2010 9:25 pm

DOKTER ASING HANYA SEBAGAI KONSULTAN
Senin, 6 Desember 2010 | 14:22 WIB
PURWOKERTO, KOMPAS.com - Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) Kementerian Kesehatan Bambang Giatno Raharjo mengatakan, hingga saat ini belum ada dokter asing yang buka praktik di Indonesia. "Kalau ada dokter asing (yang buka praktik di Indonesia), saya harus katakan dia itu ilegal. Karena sampai sejauh ini, Kementerian Kesehatan dan Konsil Kedokteran Indonesia sebagai otoritas yang menerbitkan surat tanda registrasi (STR), belum pernah menerbitkan STR untuk dokter asing," ungkap Giatno di Purwokerto, Senin.

Ia mengemukakan hal itu usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Kedokeran Indonesia "Strategi Peningkatan Kualitas Kesehatan Bangsa Indonesia dalam Menyambut Komunitas ASEAN 2015". Dengan demikian, jika ada dokter asing yang bekerja di Indonesia, kata dia, maka mereka itu adalah ilegal. Kecuali, lanjut Giatno Raharjo, jika dokter asing itu tidak bekerja di Indonesia melainkan hadir sebagai konsultan. "Artinya jika sebagai konsultan, dia tidak merawat pasien. Dia membimbing dokter-dokter spesialis dalam cabang ilmu tertentu dan tidak membuka praktik," katanya.

Menurut Giatno, dokter asing yang hadir sebagai konsultan tidak dapat diklasifikasikan sebagai dokter asing yang berpraktik di Indonesia. Ia mengatakan, regulasi mengenai dokter asing telah diatur di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 317 Tahun 2010 tentang Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing di Indonesia. "Jadi ada persyaratan. Dokter asing bukannya tidak boleh beroperasi di Indonesia, tetapi sampai saat ini belum ada yang mengajukan persyaratan," katanya.

Menurut dia, seorang dokter asing yang akan bekerja atau membuka praktik di Indonesia harus memiliki STR maupun rekomendasi ikatan dokter di negeri asalnya yang menyebutkan bahwa yang bersangkutan merupakan dokter yang baik. Selain itu, kata dia, dokter tersebut telah bekerja di negara asal minimal lima tahun. "Misalnya, kalau ada mahasiswa Malaysia dan sekolah (kedokteran) di Indonesia. Dia harus pulang dulu ke Malaysia, berpraktik di Malaysia, berkelakuan baik sehingga mendapat rekomendasi, baru mendaftar ke Indonesia," katanya.

Terkait upaya Kementerian Kesehatan seiring penerapan kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (ACFTA) , dia mengatakan, hal itu telah dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain melalui Permenkes Nomor 317/2010, pengiriman tenaga kesehatan Indonesia ke luar negeri, maupun uji kompetensi. "Intinya kita siap. Kita tidak mengharamkan dokter asing untuk bekerja di Indonesia sejauh memenuhi syarat," katanya.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:14 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Mar 12, 2010 9:27 pm

PEMERINTAH TEGUR DOKTER ASING TANPA IZIN
Kamis, 18 Februari 2010 | 06:32 WIB
Jakarta, Kompas - Kementerian Kesehatan menegur penyelenggara sebuah rumah sakit di Tangerang, Banten, lantaran mempekerjakan konsultan onkologi asing tanpa surat registrasi dan izin praktik. ”Kami sudah memanggil direksi rumah sakit itu,” ujar Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan Farid W Husein, Rabu (17/2) di Jakarta. Kementerian Kesehatan juga meminta agar rumah sakit tersebut mengumumkan layanan dari konsultan asing itu tidak lagi tersedia. Sebelumnya, rumah sakit tersebut sempat mengiklankan layanan itu di media massa. Pemerintah akan memberikan sanksi kepada tenaga asing yang menjalankan praktik kedokteran tanpa izin dan registrasi itu. Kementerian Kesehatan mewajibkan tenaga kesehatan asing, termasuk dokter, mengantongi izin dan teregistrasi di Indonesia. Unit kesehatan juga dilarang menggunakan tenaga asing tanpa izin dari pemerintah.

Ketentuan penggunaan tenaga kesehatan warga negara asing diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 441/Menkes/Per/XI/1980 tentang Pembatasan Penggunaan Tenaga Kesehatan WNA pada Unit Kesehatan di Indonesia. Aturan terkait lainnya ialah Permenkes Nomor 512/Menkes/Per/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Aturan tersebut guna menjamin kualitas layanan kepada masyarakat. Selain itu, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Menaldi Rasmin mengatakan, tenaga asing yang hendak bekerja di Indonesia juga harus registrasi ke KKI guna mendapatkan surat tanda registrasi (STR). Farid juga menyatakan, pemerintah akan menertibkan penggunaan label internasional pada rumah sakit. Hanya rumah sakit yang telah mendapatkan akreditasi internasional yang dapat menggunakannya. Akreditasi internasional didapatkan melalui Joint Comission International.(INE)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 9:11 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Mar 13, 2010 9:51 pm

PROGRAM IMPLEMENTASI KODEKI
Perubahan sosio-ekonomi masyarakat yang diikuti dengan meningkatnya pendidikan masyarakat telah merubah sistem nilai dan perilaku di masyarakat. Perubahan sistem nilai dan perilaku para dokter yang pada gilirannya telah mengurangi pengamalan profesi kedokteran. Hal tersebut terlihat bahwa pada saat ini banyak kritik masyarakat terhadap implementasi KODEKI. Kritik masyarakat terhadap implementasi KODEKI tersebut tentunya tidak terlepas dari adanya enam sifat dasar yang harus membuktikan keluhuran dan kemurnian profesi dokter yaitu keTuhanan, keluhuran budi, kemurnian niat, kesungguhan kerja, kerendahan hati dan integritas ilmiah dan sosial. Oleh karena itu program implementasi KODEKI sangatlah penting. Dengan adanya program implementasi diharapkan adanya kejelasan arah dan tujuan implementasi KODEKI yang pada akhirnya diharapkan meningkatkan citra dokter Indonesia yang pada saat ni sedang menurun.\

Proses implementasi KODEKI terdiri dari :

1. FASE PERSIAPAN
Pada fase persiapan ini yang diperlukan adalah standarisasi dan pedoman. Fase persiapan mi diharapkan dilaksanakan di Pengurus Besar IDI (IDI Pusat) dan IDI Wilayah. Langkah-langkah yang dilakukan pada fase persiapan sebagai berikut :

A. Pengurus Besar IDI melalui MKEK Pusat diharapkan dapat menyusun standarisasi pendidikan Fakultas Kedokteran yang berkaitan dengan KODEKI. Dengan adanya standarisasi diharapkan semua mahasiswa Kedokteran di Indonesia mendapat bekal KODEKI yang sama sehingga dalam melakukan implementasi juga sama. Standarisasi pendidikan tersebut meliputi:

* Sillabi etik profesi
* Buku ajar KODEKI dan Keprofesian
* Sillabi kursus
* Buku pedoman untuk kursus
* Kualifikasi tenaga pengajar
* Modul etik

B. mengingat budaya masing-masing wilayah tidak sama maka standarisasi pendidikan Fakultas Kedokteran yang berkaitan dengan KODEKI perlu ditindakianjuti oleh IDI Wilayah untuk membuat pedoman-pedoman yang disusun oleh IDI Wilayah diharapkan dapat membantu dan memperjelas implementasi KODEKI di wilayah.

2. FASE PELAKSANAAN
Agar dapat melaksanakan implementasi KODEKI dengan baik maka harus dimulai sejak menjadi mahasiswa kedokteran sampai menjadi dokter dan melaksanakan kegiatan sebagai profesi dokter. Berdasarkan hal tersebut, pelaksanaan implementasi KODEKI sebagai berikut :

A. Pendidikan undergraduate di Fakultas Kedokteran (S1)
Pengenalan, penghayatan dan pemahaman KODEKI perlu dilakukan sediri mungkin, yaitu melalui pendidikan under graduate di Fakultas Kedokteran. Dengan dimulainya pengenalan diri diharapkan para dokter dapat mengetahui, memahami, menghayati dan mengamalkan 6 sifat dasar yang membuktikan keluruhan dan kemuliaan profesi dokter.

B. Kursus terstruktur, tatap muka dan jarak jauh oleh Lembaga Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) IDI. Agar KODEKI dapat terus diingat oleh para dokter maka perlu ada pelatihan/kursus yang terstruktur mengenai KODEKI. Kursus dapat menggunakan sistem tatap muka tetapi juga dapat dengan sistem jarak jauh. Dengan sistem jarak jauh diharapkan cakupan pesertanya dapat lebih banyak dan dengan hasil yang tidak berbeda dengan sistem tatap muka. Misalnya melalui Tele Conference, Tele Seminar.

C. Kuliah etik pada tiap PKB/Pertemuan ilmiah tak dipungkiri PB IDI maupun IDI Wilayah sering mengadakan pertemuan ilmiah atau menyelenggarakan PKB. Pertemuan ilmiah dan PKB tersebut dapat merupakan wahana yang baik untuk melakukan sosialisasi KODEKI secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Disarankan atau agar dibuat kebijakan oleh PB IDI bahwa sebelum PKB/pertemuan llmiah dilaksanakan perlu diawali dengan Kultum (Kuliah Tujuh Menit) mengenai KODEKI.

D. Kursus Etik bagi anggota MKEK di dalam struktur organisasi IDI, MKEK mempunyai pengenalan, penghayatan dan pemahaman yang sama mengenai KODEKI maka anggota MKEK wajib mengikuti Kursus Etik. Disarankan MKEK Pusat membuat Kursus Etik bagi MKEK Wilayah, sedangkan MKEK Wilayah membuat Kursus Etik bagi MKEK Cabang.

E. Melaksanakan dan mengembangkan fungsi-fungsi dalam struktur organisasi MKEK.

F. Pemberdayaan panitia etik/Komite Etik di rumah sakit dalam membuat kebijakan. Untuk menangani masalah etik di rumah sakit, maka setiap rumah sakit wajib mempunyai panitia etik/komite etik. Kewajiban ini telah tertuang dalam standar akreditasi rumah sakit. Harus diakui panitia etik/komite etik di Rumah Sakit (RS) pada saat ini belum berfungsi optimal dan kurang diberdayakan. Agar implementasi KODEKI di RS dapat berjalan dengan baik maka pengawasan secara berkesinambungan perlu dilakukan. Panitia etik/komite di RS diharapkan dapat melaksanakan kegiatan tersebut.

G. Koordinasi dengan profesi kesehatan lain dan institusi lain terkait.
Implementasi KODEKI sangatlah dipengaruhi oleh profesi kesehatan lain dan institusi lain terkait oleh karena itu dalam melaksanakan implementasi KODEKI perlu melakukan koordinasi dengan profesi kesehatan lain dan institusi lain terkait. Sebagai contoh kerja sama dokter dengan penusahaan farmasi dapat diantisipasi dengan melakukan koordinasi dengan profesi farmasi, dengan dilaksanakan kode etik kedokteran dan kode etik farmasi diharapkan dapat meminimalkan pelanggaran etik profesi tersebut. Di lain pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menganggap kerja sama dokter dan perusahaan farmasi bukanlah merupakan pelanggaran etika tetapi merupakan pelanggaran hukum, IDI dan SF1 harus melakukan koordinasi dengan institusi terkait untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

3. PENGAWASAN/EVALUASI
Sudah menjadi sifat manusia, apabila tidak diawasi maka berani melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, implementasi KODEKI perlu diikuti dengan sistem pengawasan/evaluasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Hal-hal yang perlu dilakukan pada pengawasan/evaluasi adalah sebagai benikut:

A. MKEK melaksanakan pengawasan secara aktit dan pasif
Agar ada kejelasan siapa, kapan dan bagaimana melakukan pengawasan/ evaluasi maka PB IDI melalui MKEK Pusat diharapkan dapat membuat pedoman pengawasan/evaluasi yang merupakan acuan umum, sedangkan IDI Wilayah melalui MKEK Wilayah membuat petunjuk teknis pengawasan/evaluasi yang merupakan penjabaran pedoman yang disusun PB IDI melalui MKEK Pusat sesuai dengan budaya, situasi dan kondisi wilayah.

B. Panitia Etik RS sebagai pemantau di RS
Seperti disebutkan diatas bahwa RS wajib mempunyai panitia etik maka panitia etik di RS ini diharapkan dapat secara optimal melakukan pengawasan secara aktif maupun pasif implementasi KODEKI. Oleh karena itu panitia etik RS diharapkan mempunyai prosedur tetap pengawasan/evaluasi KODEKI serta pencatatan dan pelaporan masalah etik.

C. Perlu adanya pelaporan kasus etik secara berkala dan berjenjang.
Perlu dikembangkan format laporan kasus etik dan tata cara pelaporan secara berkala dan berjenjang.


4. PENEGAKAN IMPLEMENTASI ETIK
Penegakan implementasi etik dilakukan secara berjenjang sebagai berikut:
a. Panitia etik RS memecahkan masalah etik di rumah sakit
b. Panitia etik RS merujuk pelanggaran etik yang tidak bisa diselesaikan di RS ke MKEK/MAKERSI (Majelis Kehormatan Etika Rumah Sakit).
c. MKEK menangani kasus etik pengaduan dan masyarakat.
e. Dalam penanganan masalah etik harus memperhatikan ketentuan hukum dan etika lain yang berlaku.


Sumber: KODEKI
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Apr 06, 2010 12:29 pm

PRAKTIK KEDOKTERAN INDONESIA
1. Menghormati martabat manusia ( Respect For Person ).
- Setiap individu harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi ( hak untuk menentukan nasib diri sendiri ).
- Setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang, perlu mendapat perlindungan.

2. Berbuat baik ( Beneficence ).
Dokter harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya ( Patient Welfare ).
Pengertian "berbuat baik" diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban.

3. Tidak berbuat yang merugikan ( Non Maleficence ).
Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil resikonya dan paling besar manfaatnya.
Pernyataan kuno "do no harm" tetap berlaku dan harus diikuti.

4. Keadilan ( Justice ).
Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan serta perbedaan jender, tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Prinsip dasar ini juga mengakui adanya kepentingan masyarakat sekitar pasien yang harus dipertimbangkan.

Sumber: Buku Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik Di Indonesia


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 9:07 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Apr 06, 2010 1:06 pm

HUBUNGAN DOKTER - PASIEN
Pada hakikatnya praktik kedokteran bukan hanya interaksi antara dokter dengan pasien saja, akan tetapi lebih luas, mencakup aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang sesuai standar profesi seorang dokter pada saat memberi pelayanan. Masalah niscaya tidak akan timbul apabila dokter memiliki etik dan moral yang tinggi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran.

Untuk mencapai pelayanan kedokteran yang efektif berdasarkan saling percaya dan saling menghormati, perlu ada komunikasi yang baik antara pasien dan dokter.Hubungan yang baik antara dokter dengan pasien berdasarkan saling percaya dan saling menghormati, maka dokter harus:
a. Bertindak sopan, penuh perhatian, hati hati dan jujur, serta mengutamakan kepentingan pasien.
b. Menghormati privasi dan harga diri pasien.
c. Menghormati hak pasien untuk menolak berperan serta dalam proses pendidikan dan penelitian.
d. Menghormati hak pasien untuk mendapatkan opini kedua.
e. Selalu siap dihubungi pasien berkaitan dengan penyakit pasien, sesuai perjanjian.

Komunikasi yang baik meliputi:
a. Mendengarkan keluhan, menggali informasi dan menghormati pandangan serta kepercayaan pasien yang berkaitan dengan keluhannya.

b. Memberikan informasi yang diminta atau yang diperlukan secara jelas tentang kondisi, diagnosis, terapi dan prognosis pasien, serta rencana perawatannya dengan menggunakan cara yang bijak dan bahasa yang dimengerti oleh pasien. Termasuk informasi tentang tujuan pengobatan, pilihan obat yang diberikan, cara pemberian serta pengaturan dosis obat dan kemungkinan efek samping obat yang mungkin terjadi. Senantiasa berusaha mengurangi risiko yang bisa menimpa pasien.

c. Memberikan informasi tentang pasien serta tindakan kedokteran yang dilakukan kepada keluarganya, setelah mendapat persetujuan pasien.

Jika seorang pasien mengalami kejadian yang tidak diharapkan selama dalam perawatan dokter, dokter harus menjelaskan keadaan yang terjadi, akibat jangka pendek, akibat jangka panjang dan rencana tindakan kedokteran selanjutnya yang akan dilakukan, secara jujur dan lengkap serta menunjukkan empati. Jika pasien tidak mampu menerima penjelasan dokter, maka penjelasan harus diberikan kepada keluarga yang bertanggung jawab terhadap pasien tersebut. Jika seorang pasien meninggal, sesuai pengetahuannya dokter harus menjelaskan sebab dan keadaan yang berkaitan dengan kematian tersebut kepada orangtua, keluarga dekat dan mereka yang mempunyai tanggung jawab terhadap pasien, kecuali jika pasien berwasiat lain.

Sumber: Buku Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik Di Indonesia
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Apr 27, 2010 6:01 am

DOKTER INDONESIA: KUALITAS DAN KUANTITAS
Kamis, 16 September 2010 | 03:56 WIB
Saat melantik 17 anggota Konsil Kedokteran Indonesia masa bakti 2009-2014, 2 September 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpesan agar komunitas kedokteran Indonesia memerhatikan dua aspek, yaitu etika dan kompetensi. Perhatian Presiden terhadap kedua aspek itu tentu bukan tidak beralasan dan menjadi penting diperhatikan karena komunitas kedokteran justru diperhatikan di dua dari beberapa hal yang selalu mereka junjung tinggi sendiri. Pendidikan kedokteran di Indonesia adalah cikal bakal pendidikan, yang merupakan pendidikan tinggi tertua, paling banyak menjalani pengalaman dan tetap akan menjadi pendidikan tinggi yang sangat menantang karena harus terus berkompetisi terhadap kecepatan perkembangan global, baik ilmu pengetahuan kedokteran maupun permasalahan kesehatan, dengan varian-varian baru. Pendidikan Dokter Jawa pada tahun 1849 merupakan awal pendidikan kedokteran itu. Meski istilah dokter di situ tidak tepat, semangat yang dibangun itulah yang terus mendorong perkembangan pendidikan kedokteran di Indonesia. Dokter Jawa dicetak dalam masa pendidikan dua tahun dengan tugas utama sebagai ujung tombak menghadapi berbagai kasus penyakit dan wabah yang ditakuti pemerintah penjajahan Belanda. Tentu makin disadari pentingnya keberadaan dokter di tengah masyarakat sehingga secara bertahap pendidikan dibuat semakin terstruktur dan semakin mendekati bentuk struktur pendidikan yang dianut negara Belanda. Lama pendidikan pun terus mengalami penyesuaian. School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Nederlands Indische Artsen School (NIAS) menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, serta Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, merupakan tiga fakultas kedokteran yang menjadi contoh pengembangan fakultas kedokteran lain sehingga saat ini ada 70 program studi/fakultas kedokteran di seluruh Indonesia. Pertambahan ini tentu baik untuk meningkatkan daya saing juga guna memenuhi jumlah dokter yang dibutuhkan masyarakat. Dengan rasio umum pada setiap 4 juta penduduk dibangun sebuah fakultas kedokteran, jumlah fakultas kedokteran yang ada sekarang sudah cukup. Laju produksi keseluruhan adalah sekitar 5.000 dokter per tahun sehingga jumlah (kuantitas) yang dibutuhkan sesuai rasio akan tercapai pada 2014.

Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, diikuti program Departemen Pendidikan Nasional tentang Paradigma Baru Pendidikan Kedokteran di Indonesia, maka Indonesia kembali mengalami pengembangan, antara lain, dengan dibentuknya Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) sebagai badan regulator serta pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), juga Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), surat tanda registrasi (STR), dan program pemandirian (internship). Sebenarnya semua itu merupakan proses penjaminan mutu (quality assurance) serta kendali mutu (quality control) profesi kedokteran. Ini bukan masalah baru, tetapi justru yang amat melekat pada profesi kedokteran. Profesi kedokteran sangat sadar bahwa dokter yang baik tidak cukup dari aspek akademik saja, tetapi juga harus mencakup aspek emosional dan spiritual. Pembinaan itu harus terus-menerus dilakukan selama pendidikan, bahkan sepanjang hayat setelah menjadi dokter. Kita umumnya tahu betapa ketat seleksi masuk mahasiswa kedokteran. Demikian ketatnya profesi ini sehingga di Jepang hanya dua profesi yang dipanggil dengan sebutan sensei, yaitu guru dan dokter. Kini kembali disadari bahwa jati diri seorang dokter secara naluriah harus sudah terbentuk, bahkan sejak sebelum seseorang masuk ke fakultas kedokteran. Hal ini dapat saja memicu pertanyaan, seolah ada sebuah keistimewaan. Hal yang berbeda jika dilihat dari aspek sebaliknya, yaitu tanggung jawab.

Perjalanan panjang pendidikan kedokteran di Indonesia ini telah membuktikan bahwa dari segi ilmu pengetahuan serta keterampilan, dokter Indonesia tidak perlu diragukan. Dokter lulusan Indonesia cukup banyak yang diterima melanjutkan pendidikan di negara maju, bahkan bekerja di sana. Cukup banyak pula dokter Indonesia diminta mengajar dan melakukan tindakan konsultatif di negara lain, termasuk negara dengan sistem kedokteran yang amat maju. Sejak 2007 sampai dengan Juli 2010, tercatat 108 dokter Indonesia dibekali letter of good standing dari KKI untuk memenuhi undangan melakukan tindakan kedokteran konsultatif di mancanegara. Pendidikan saat ini yang berbasis kompetensi seyogianya semakin memperkuat citra itu karena pendidikan saat ini amat memerhatikan rasio dosen terhadap mahasiswa, kompetensi harus dicapai secara utuh sebelum naik mencapai kompetensi berikutnya. Jika demikian, mengapa aspek etika dan kompetensi menjadi pesan khusus? Tampaknya ini berasal dari meningkatnya berita atau keluhan masyarakat tentang pengalaman mereka saat mencari layanan kesehatan. Meski layanan kesehatan tidak semata tanggung jawab dokter, secara positif harus dilihat bahwa keluhan masyarakat adalah tanda kecintaan dan harapan yang besar dari masyarakat kepada profesi dokter.

Rasio dosen dengan mahasiswa, jumlah dan variasi kasus yang harus dikuasai, serta ujian di setiap tahapan merupakan aspek yang amat diperhatikan. Uji Kompetensi Dokter Indonesia juga merupakan bagian utuh sehingga lulusan tidak hanya mampu mengonstruksi masalah serta tata laksana (yang disederhanakan dalam bentuk soal ujian) pada sekolahnya sendiri, tetapi juga dalam skala nasional. Baik fakultas kedokteran swasta maupun negeri sama-sama harus menjalani semua tahapan ini, termasuk tahap pemandirian segera setelah mereka angkat sumpah. Aspek etika diberikan dalam bentuk mata ajaran (ceramah, diskusi), pencontohan (role modeling), serta pengamatan dan pembinaan sepanjang seorang dokter beraktivitas profesi. Profesi kedokteran bahkan memiliki mahkamah yang menilai pelaksanaan standar kedokteran serta etika kedokteran. Dengan demikian, aspek kualitas secara nyata merupakan hal yang terus diperhatikan dan ditingkatkan secara saksama. Setidaknya aspek kualitas ini dijaga oleh KKI, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), selain oleh masyarakat sendiri melalui kontrol sosial. Jelas profesi kedokteran sejak dahulu dan tidak akan henti melakukan pembinaan menyeluruh sendiri dengan amat ketat dan terpola. Namun, ada hal di luar ini yang akan dengan cepat memberikan pengaruh langsung ataupun tidak langsung terhadap profesi kedokteran serta layanan kesehatan itu sendiri. Jika sistem jaminan nasional kesehatan dilaksanakan, banyak hal akan tertata jauh lebih baik, misalnya terwujudnya jenjang rujukan layanan kesehatan. Hal tersebut akan berdampak besar terhadap pembiayaan kesehatan yang akan bergeser ke pencegahan ketimbang pengobatan.

Sampai akhir Juni 2010, di KKI tercatat 70.663 dokter berpraktik umum, tetapi hanya sekitar 7.000 dokter mengisi 9.000 puskesmas di seluruh Indonesia. Tidak adanya jaminan keselamatan dan kesejahteraan membuat banyak dokter ragu untuk bekerja di wilayah perbatasan, terpencil, dan kepulauan. Pemerintah daerah berperan besar untuk mengatasi hal ini. Dokter dan masyarakat adalah aset sebuah wilayah yang apabila dipadukan secara sinergi niscaya mampu mengakselerasi pembangunan wilayah. Maka, sebenarnya mencapai tingkat layanan kesehatan masyarakat yang prima berbasis pelayanan kedokteran yang berkualitas merupakan tanggung jawab semua pihak. Menjadi tanggung jawab semua dokter untuk berbuat terbaik sebagai komunikator, pelayan kesehatan, dan pengambil keputusan dalam melaksanakan manajemen kesehatan serta menjadi pemimpin masyarakat (The Five Stars Doctor; WHO). Namun, sistem, peraturan perundangan, serta suasana lingkungan yang dibangun akan memberikan banyak pengaruh terhadap harapan kita semua. Namun, percayalah, dokter Indonesia sampai saat ini tetap taat membina dirinya dan berkontribusi membangun Indonesia sebagai sebuah negara yang besar dengan rakyatnya yang sehat.

MENALDI RASMIN Konsil Kedokteran Indonesia


Last edited by gitahafas on Mon Jul 30, 2012 9:15 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Apr 29, 2010 5:42 am

TENAGA KESEHATAN DISTANDARKAN
JAKARTA (SI)-Pemerintah berencana membuat standardisasi untuk lulusan tenaga kesehatan. Wakil Menteri Pendidikan Nasional ( Wamendiknas ) Fasli Djalal mengatakan, rencananya pemerintah akan menggelar program Health Profesional Education Quality Project.

Melalui program ini, diharapkan lima tahun kedepan standar kompetensi lulusan dokter, perawat, dokter gigi dan kebidanan di Indonesia akan sama.
Program tersebut melibatkan organisasi profesi seperti IDI, PDGI, Asosiasi RS Pendidikan, Asosiasi Perawat dan Kebidanan.
Sebagai tindak lanjut, kata Fasli, pemerintah akan memberikan berbagai dukungan.

Sumber: Seputar Indonesia Kamis 29 April 2010
Back to top Go down
 
Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 24Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 13 ... 24  Next
 Similar topics
-
» Kenapa saya (seorang Kristen) suka topik mualaf
» pentingnya sikap tawadhu (rendah hati)
» Kapan puasa pertama kali dimulai..?
» benarkah Nabi Adam as manusia pertama dibumi ini???
» "SUNDA" ... ADALAH "AGAMA" PERTAMA DIDUNIA..!!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: