Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pengajian Iluni FK'83

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 48 ... 91, 92, 93
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Tue May 12, 2015 10:44 am

KETIKA MUSLIMAH MENYENTUH AL QUR'AN SAAT HAID
Selasa, 12 Mei 2015, 01:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,Mufti (anggota Majelis Fatwa) Arab Saudi, Syaikh bin Baz mengatakan, haram bagi orang berhadas menyentuh mushaf Alquran secara langsung. “Boleh bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Alquran, menurut pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ulama, karena tidak ada dalil yang melarang. Namun, mereka tidak boleh menyentuh mushhaf. Mereka boleh memegangnya dengan penghalang seperti kain yang bersih atau selainnya. Mereka juga boleh memegang kertas yang ada tulisan Alquran (dengan menggunakan penghalang) ketika diperlukan,” jelas Bin Baz dalam kumpulan fatwanya (24/344). Disamping ulama yang mengharamkan menyentuh mushaf bagi orang yang berhadas, ada juga pendapat ulama yang membolehkannya. Seperti dibahas dalam kitab Sahih Fiqh Sunnah oleh Abu Malik Kamal disebutkan, tidak mengapa bagi orang yang berhadasi kecil maupun besar untuk menyentuh mushaf Alquran. Kitab Sahih Fiqh Sunnah ini juga dita'liq (dievaluasi) Mufti besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Ditambah lagi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani juga ikut menguatkan buku ini. Dalam Sahih Fiqh Sunnah disebutkan, maksud dari ayat, "Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci" bukanlah berbicara mengenai mushaf Alquran. Hal ini dapat diketahui ketika membaca ayat-ayat sebelumnya. Firman Allah SWT, "Dan (ini) sesungguhnya Alquran yang sangat mulia [77]. Dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh)[78]. Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan [79]." (QS al-Waaqi'ah [56]: 77-79). Ayat ini sama sekali tidak berbicara tentang mushaf Alquran. Jika melihat ayat sebelumnya, ayat ini menceritakan tentang Lauh Mahfuzh, yaitu kitab kejadian yang mencatat seluruh apa yang terjadi di alam semesta mulai dari awal penciptaan hingga kejadian akhir di hari kiamat. Tak ada yang bisa menyentuh lauh Mahfudz kecuali hamba Allah yang disucikan, yakni malaikat. Apakah manusia bisa disebut suci? tentu saja tidak, karena manusia penuh dengan dosa. Hanya malaikat saja dalam konteks ini yang disebut hamba-hamba yang disucikan. Para ulama kontemporer memandang, pendapat kedua yang membolehkan menyentuh mushaf Alquran dalam kondisi berhadas inilah pendapat yang paling kuat. Pendapat ini lebih relevan dengan kondisi kekinian dan model penafsiran yang lebih rasional. Tidak ada salahnya menyentuh mushaf Alquran, baik dalam kondisi berhadas besar seperti junub, haid, atau nifas. Apalagi hanya berhadas kecil karena tidak berwudlu. Wallahu'alam.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed May 13, 2015 8:05 pm

4 RIDHA YANG DIPERINTAH DALAM AL QUR'AN
Selasa, 12 Mei 2015, 17:40 WIB Oleh: Doni Rahman
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ridha, artinya rela, puas, dan senang terhadap ketentuan Allah SWT. Orang yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimistis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu, ia senantiasa memandang baik, sempurna, dan penuh hikmah. Sedikitnya, Alquran dan hadis menyebutkan empat hal ridha yang diperintahkan dan dua hal ridha yang dilarang. Ridha yang diperintahkan, yaitu

Pertama, ridha seseorang terhadap Allah sebagai Rabbnya, agama Islam sebagai dinnya, dan Nabi Muhammad sebagai rasulnya.
Dari ‘Abbas bin Abdul Muththalib, Rasulullah SAW bersabda, “Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai nabi dan rasulnya." (HR Muslim). Mereka yang ridha kepada Allah maka Allah pun meridhai mereka (QS al-Mujadalah: 22).

Kedua, ridha orang tua terhadap anaknya.
Ridha Allah SWT bergantung pada ridha orang tua sesuai sabda Rasulullah SAW, "Ridha Allah SWT tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah SWT tergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim).

Ketiga, ridha suami kepada istrinya.
"Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya maka ia masuk surga." (HR at-Tirmidzi).

Keempat, ridha dalam transaksi jual beli.
Disebutkan dalam firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan ridha di antaramu." (QS an-Nisaa: 29).

Adapun, ridha yang dilarang,
pertama, ridha terhadap dunia.
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa ridha dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan itu) dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan.” (QS Yunus: 7-Cool.

Kedua, ridha bersama-sama orang yang menyelisih Nabi.
Konteks saat ini adalah menyelisihi dan meninggalkan sunah Nabi SAW, balasannya adalah Allah SWT akan mengunci hati mereka dari kebenaran. (QS at-Taubah: 93). Sudah selayaknya setiap mukmin berusaha mengamalkan ridha yang diperintahkan. Allah memuliakan status orang-orang yang ridha dengan surga. “Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan meraka pun ridha kepadanya." (QS al-Bayyinah: Cool. Wallahu a’lam bis shawab.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri May 15, 2015 2:12 pm

CIRI UMAT RASULULLAH YANG CERDAS
Jumat, 15 Mei 2015, 13:40 WIB Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
REPUBLIKA.CO.ID, SENTUL -- Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. Sahabatku, hidup di dunia ini adalah kesempatan satu-satunya dan terakhir kalinya. Memang sebentar tetapi menentukan keadaan kita selama-lamanya. Sungguh setiap detik yang berlalu tidak akan pernah mampu kita ulangi lagi. Padahal kita akan hidup di akhirat selama lamanya, dan waktu untuk mengumpulkan bekal di akhirat terlalu sebentar. Lantas bisa kah main-main? Ingat, menyesal di akhirat tidak ada gunanya. Kalau ingin menyesal, sekarang mumpung hidup masih ada. Karenanya taatilah Allah, segera sungguh-sungguh bertaubat, jangan lambat, karena kematian selalu datang secara tiba-tiba! Sahabatku, seandainya malam ini Perusahaan Listrik Negara mengumumkan besok pagi listrik akan dipadamkan selama 3 hari penuh karena ada perbaikan, itu sudah cukup membuat kita panik, waktu terbatas untuk persiapan, lilin jadi rebutan, ember dan bak-bak air pun dipenuhi. Lalu pernahkah kita berpikir akan gelapnya alam kubur, bagaimana dengan mereka yang telah bertahun-tahun di alam kubur. Rasulullah bersabda, "Umatku yang paling cerdas, paling mulia, paling sukses adalah umatku yang paling banyak "dzikirul maut" ingat mati, lalu mempersiapkan diri menghadapi kematian". Subhanallah, itulah membuat hamba beriman selalu taat, selalu jaga wudhu, selalu berzikir, selalu berbuat baik, semangat berdakwah dan berani menegakkan yang hak bahkan menghancurkan kebatilan dengan segala resikonya. Rasa-rasanya tidak ada persoalan yang paling dahsyat kecuali saat sakaratul maut tiba, suasana sendirian di alam kubur, hebatnya hari kiamat dan tegangnya Hari Pertanggung-jawaban di akhirat kelak. Allahumma ya Allah tetapkanlah hati kami dalam kesungguhan taqwa kepadaMu, dan wafatkanlah kami dalam beriman kepadaMu... Aaamiin.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri May 15, 2015 2:14 pm

TIRU CARA RASULULLAH SAAT HADAPI MUSIBAH
Jumat, 15 Mei 2015, 13:58 WIB Ustadz Erick
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pimpinan lembaga dakwah kreatif iHAQi Ustaz Erick Yusuf memberikan tausiyah dan motivasi kepada keluarga korban gempa bumi di Nepal,yang terletak di daerah Dago Bandung. Seperti diketahui, sampai saat ini keluarga belum menerima kabar bagaimana kondisi terakhir anggota keluarganya. Dalam tausiyahnya, ustaz Erick memaparkan betapa pentingnya setiap Muslim mengambil hikmah dari setiap kejadian, baik yang langsung kita alami atau orang lain yang mengalaminya. Karena sesungguhnya setiap yang terjadi pada seorang Muslim yang taat maka itu adalah yang terbaik menurut Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Al-baqarah ayat 155-157 Allah berfirman yang artinya “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali).Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. “Jadi, kalimat istirja (Innaa Lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun) ini bukan hanya di hususkan bila kita mendengar kematian seseorang, tapi tatkala setiap apa yang terjadi pada kita berupa musibah maka katakanlah Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, setelah itu lalu bersabarlah,” kata Kang Erick. Sabar disini bukan berarti kita pasrah menerima apa aja terhadap apa yang menimpa kita,tapi terus berusaha dan dibarengi dengan doa kepada Allah. Contohnya tatkala kita diberi sakit,lalu kita berkata, “Ya sudah kita terima saja sakit ini, ini sudah ketentuan Allah. Ini adalah pengertian yang salah,seharusnya kita terima ini sebagai ketetapan Allah lalu dibarengi dengan usaha berobat agar sembuh serta dibarengi dengan Doa.” “Tidaklah seseorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari) Rasulullah SAW mengajarkan kita sebuah doa yang selayaknya kita panjatkan setiap waktu: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun Alloojumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khoiron minhaa” (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kami kembali, Ya Allah ! Berikanlah aku pahala karena musibah yang kuderita dan gantikan yang lebih baik darinya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sat May 23, 2015 8:09 pm

ARTI KEHIDUPAN DUNIA
Jumat, 22 Mei 2015, 17:11 WIB Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
REPUBLIKA.CO.ID, SENTUL -- Dalam rehat di jam keluarga, seorang jamaah merapat. “Ustaz, tolong jelaskan arti kehidupan di dunia ini agar hidup saya terarah jelas,” katanya. Ditemani pisang goreng yang masih ngebul, sore yang sejuk itu Arifin pun berbagi hikmah dari pertanyaan jamaah yang setiap kesempatan selalu menemani Arifin tersebut. Sahabatku, orang yang paling berbahagia adalah orang yang paham untuk apa hidup di dunia ini. Sadar atau tidak, kehidupan di dunia ini adalah kesempatan satu-satunya namun sekaligus juga terakhir kalinya. Memang sebentar, tetapi menentukan keadaan kita selama-lamanya. Sungguh, setiap detik yang berlalu tidak akan pernah mampu kita ulangi lagi. Kepastiannya adalah kita akan hidup di akhirat selama-lamanya! Sementara, waktu untuk mengumpulkan bekal di akhirat terlalu sebentar. Lantas bisakah main-main? Sahabatku, sekali gagal dalam kesempatan yang sebentar maka akan gagal selamanya. Ingat, menyesal di akhirat tidak akan pernah ada gunanya. Kalau ingin menyesal, sekarang mumpung hidup masih ada! Karena itu taatilah Allah, segera sungguh-sungguh bertaubat, jangan lambat, karena kematian selalu datang secara tiba-tiba! Maknakan dan selami arti hidup ini. Ketahuilah, tujuan hidup hanya mencari ridha Allah.
“Padahal, mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaatinya….” (baca QS al-Bayyinah, 98:5)
Peranan hidup adalah sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. “Dan, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan (manusia sebagai) khalifah di muka bumi.'” (baca QS al-Baqarah, 2:30).
Tugas hidup adalah semata mengabdi hanya kepada Allah. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku,” (QS Adz Dzariyat, 51: 56).
Adapun pedoman hidup adalah Alquran. Untuk dan demi tertibnya hidup yang berdurasi singkat ini maka memiliki pedoman adalah sebuah keniscayaan. Dan, pedoman yang paling haq itu adalah Alquran. (baca QS al-Baqarah, 2:2).
Teladan hidup adalah sosok tercinta yang dirindukan, yaitu Nabi Muhammad SAW. “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu….” (QS al-Ahzab, 33:21).
Teman hidup adalah orang-orang beriman (QS al-Hujarat, 49:10).
Alat hidup adalah harta, takhta, dan semua potensi (QS al-Qashash, 28:77).
Adapun musuh hidup adalah setan dan seluruh pengikutnya (QS Yasin, 36:60).
Sementara, orientasi hidup adalah keselamatan di akhirat, “Sesungguhnya kehidupan di dunia ini adalah kesenangan sementara dan sesungguhnya kehidupan akhirat adalah daarul qaraar , rumah selama-lamanya.” (QS al-Mu'min, 40:39).
Subhaanallah, kini sudah jelas untuk apa hidup sesaat ini, sahabatku! “Semoga Allah menancapkan kekuatan iman di hati kita dan kesenangan taat di tengah glamour godaan dunia ini. Aamiin.” Wallahu a'lam.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri May 29, 2015 7:21 am

TIDAK SEORANGPUN MASUK SURGA KARENA AMALNYA
Jumat, 29 Mei 2015, 00:15 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap Muslim harus senantiasa mengevaluasi amalan-amalannya. Itulah yang disampaikan oleh Prof. Hamdani Anwar saat menjelaskan hadits yang menyatakan tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Dalam hadits Bukhari-Muslim, Rasulullah bersabda, "Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya, “Sekali pun engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku.” "Hadits ini merupakan sarana evaluasi bagi kita, termasuk dalam beriman, beribadah, dan dalam pergaulan. Untuk apa kita melakukan semua perbuatan baik itu?" tutur professor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Kamis (28/5). Prof. Hamdani Anwar melanjutkan, jangan-jangan amal saleh yang selama ini kita lakukan niatnya tidak lurus. Amalannya secara dzohir tampak baik, tapi niatnya tidak. Ini berkait dengan hadits nabi yang lain. Innamal a'malu bi niat, bahwa setiap amalan itu ditentukan oleh niatnya. "Termasuk dalam bersyahadat," lanjut Hamdani. Kita perlu mengevaluasi syahadat. Jangan sampai kita seperti orang munafik yang mengaku beriman, tapi berpaling ketika kembali ke kelompoknya. Hadits ini mengajak umat untuk selalu mawas diri dan meniatkan sesuatu hanya untuk mencari ridho Allah. Puncaknya, seperti diungkap dalam surah Al Insaan ayat 9. Seorang Muslim memberi bantuan semata-mata untuk mencari ridho Allah, tidak mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih dari sesama manusia. Orang yang ikhlas, semata-mata 'li wajhillah' atau mengharap wajah Allah. "Allah lalu berfirman, wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Itu di ayat-ayat terakhir surah Al Fajr. Kita sudah ikhlas dan Allah ridho. Ridho Allah inilah yang membawa kita pada surga-Nya," ujar Hamdani. Ia menambahkan, hadits tersebut memang perlu dipahami secara hati-hati. Tahun lalu, pernyataan Quraish Shihab terkait hadits itu sempat menimbulkan kontroversi dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri May 29, 2015 7:25 am

KEUTAMAAN BULAN SYABAN YANG BANYAK DIABAIKAN UMAT ISLAM
Rabu, 27 Mei 2015, 08:40 WIB Oleh: Muhbib Abdul Wahab
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aisyah RA menuturkan: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau banyak melakukan puasa di luar Ramadhan kecuali pada bulan Sya'ban." (HR Muttafaq 'alaih) Hadis tersebut menunjukkan bahwa Sya'ban merupakan bulan "pemanasan puasa" atau prakondisi Ramadhan. Puasa, sebagai amalan yang sangat dianjurkan dilakukan, di bulan Sya'ban, merupakan latihan persiapan yang diharapkan dapat memantapkan kualitas puasa Ramadhan. Jika diibaratkan bercocok tanam, Sya'ban itu bulan menyemai benih, mulai merawat pertumbuhan "tanaman kebaikan", sedangkan Ramadhan merupakan bulan memanen. Artinya, kita tidak mungkin dapat memanen kebaikan kalau tidak pernah menanam dan merawat tanaman itu. Pesan lain yang dapat dipetik adalah bahwa ibadah Ramadhan menjadi lebih sempurna dan lebih produktif jika didahului dengan latihan-latihan spiritual (riyadhah ruhiyyah) yang terprogram secara berkelanjutan. Karena ibadah dalam Islam pada umumnya menuntut adanya konsistensi (istiqamah) dan keberlanjutan, bukan hanya dilakukan sekali dan langsung paripurna, kecuali ibadah haji. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW pernah bersabda: "Sya'ban itu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Bulan ini banyak diabaikan oleh umat manusia, padahal dalam bulan ini (Sya'ban) amal-amal hamba itu diangkat (diterima oleh Allah). Aku ingin amalku diterima oleh Allah di bulan Sya'ban dalam keadaan aku berpuasa." (HR Baihaqi)

Keutamaan Sya'ban juga dijelaskan oleh Nabi SAW bahwa pada malam pertengahan itu (nishfu Sya'ban) Allah SWT turun ke langit dunia untuk "memonitor" semua makhluk, lalu mengampuni hamba-hamba-Nya (yang beristighfar), kecuali orang musyrik dan orang yang saling bermusuhan (HR Ibn Majah). Jadi, sebagai persiapan mental-spiritual, kita perlu bermuhasabah dengan qiyamulail (shalat Tahajud), bertobat, beristighfar, bermunajat kepada Allah sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Selain itu, pada Sya'ban juga Allah menetapkan perubahan arah kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, Palestina, ke Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah. Perubahan arah kiblat ini membawa hikmah besar bagi Nabi SAW sendiri maupun umat Islam, yaitu peneguhan akidah tauhid dan signifikansi persatuan umat. Pemaknaan Sya'ban sebagai bulan pemantapan iman, persiapan mental-spiritual prakondisi Ramadhan, dan persatuan umat menjadi sangat relevan dengan arti dan konteks historis Sya'ban itu sendiri. Menurut sejarah, dinamai "Sya'ban" karena orang-orang Arab pada waktu itu banyak berpencar untuk mencari mata air sehingga terpencar dan bercerai-berai. Mencari air di padang pasir mengandung makna berjuang mati-matian untuk menmpertahankan hidup dan meraih masa depan yang lebih baik. Jadi, bulan Sya'ban juga harus dimaknai dan diisi dengan memperbanyak amalan-amalan sunah yang dapat me-refresh spiritualitas dan moralitas kita sehingga ketika memasuki Ramadhan kita benar-benar siap untuk berpuasa lahir batin. Tidak ada salahnya pula jika di bulan Sya'ban ini kita banyak berdoa: "Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban ini, dan antarkanlah kami sampai (berpuasa) di bulan Ramadhan." Meski doa ini tidak berasal dari Nabi SAW, spirit untuk menyambut dan memasuki bulan Ramadhan itu sangat penting. Wallahu a'lambishawab
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri Jun 12, 2015 10:49 am

3 HIKMAH MENYEGERAKAN BERBUKA
Kamis, 11 Juni 2015, 06:08 WIB Oleh: Imam Nur Suharno
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan kembali menyapa. Di antara keberkahan itu ialah setiap amal ibadah orang yang berpuasa dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas dengan 10 hingga 700 kali lipat. Dan khusus pahala puasa, Allah SWT sendiri yang langsung membalasnya (HR Muslim). Dalam hadis yang lain, suatu amal kebajikan (sunah) di bulan Ramadhan nilai pahalanya seperti menunaikan amalan wajib (fardhu) di bulan yang lain dan menunaikan amalan wajib nilai pahalanya sama dengan mengerjakan 70 kali amalan wajib di bulan lain. (HR Ibnu Khuzaimah). Allahu Akbar. Dan salah satu amalan ibadah sunah yang hendaknya mendapatkan perhatian serius dari orang yang berpuasa adalah menyegerakan berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan selalu baik selama mereka cepat berbuka.” (HR Muttafaq alaih). Dalam sunah amaliyah Rasulullah SAW, seperti yang telah diriwayatkan oleh Anas RA bahwa beliau berbuka puasa dengan memakan beberapa buah kurma setengah matang. Jika tidak ada, beliau memakan beberapa buah kurma masak. Jika tidak ada, beliau hanya meneguk beberapa tegukan air sebelum melaksanakan shalat Maghrib. (HR Ahmad). Rasul SAW tidak pernah menunaikan shalat Maghrib (pada bulan Ramadhan) sebelum berbuka puasa, meskipun beliau hanya berbuka dengan meminum air putih. (HR Abu Ya'la). Hal ini menunjukkan pentingnya menghidupkan sunah menyegerakan buka puasa. Ada hikmah besar di balik perintah untuk menyegerakan berbuka puasa.

Pertama, untuk menghidupkan sunah Nabi SAW.
Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, telah berkata Imam Syafii, “Mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan yang disunahkan dan mengakhirkannya bukanlah perbuatan yang diharamkan kecuali apabila menganggap bahwa mengakhirkan berbuka puasa terdapat keutamaan di dalamnya.”

Kedua, sebagai pembeda dengan pemeluk agama lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Agama Islam akan selalu menang selama para pemeluknya mempercepat berbuka (puasa) karena orang Yahudi dan Nasrani selalu mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud).

Ketiga, dapat menyegarkan badan.
Hal ini pernah dikatakan oleh Imam Al-Muhallib, “Hikmah dari menyegerakan berbuka puasa adalah agar orang yang berpuasa itu tidak semakin berat dengan menahan lapar lebih lama. Selain itu, agar badan segar kembali sehingga lebih kuat dalam beribadah di malam hari.” Hal ini tampak dari doa berbuka puasa yang telah diajarkan oleh Rasul SAW. “Dzahabadz dzama'u wabtalatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” (Rasa dahaga telah hilang, urat kerongkongan telah basah, dan pahala ditetapkan, insya Allah). (HR Abu Dawud). Agar waktu berbuka puasa semakin bertambah berkah, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkannya untuk berdoa. Sebab, di antara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah waktu menjelang berbuka puasa. Dari Abdullah bin Amar berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang berpuasa tatkala berbuka doanya tidak akan ditolak.” (HR Ibnu Majah). Dalam hadis yang lain, “Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak ialah doa pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang teraniaya.” (HR Tirmidzi). Dalam riwayat yang lain, “Dan doa orang yang berpuasa sehingga ia berbuka.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat melestarikan amalan-amalan sunah di bulan Ramadhan. Amin.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri Jun 12, 2015 10:52 am

KEUTAMAAN DAN HIKMAH BERDOA
Rabu, 10 Juni 2015, 16:27 WIB Oleh: Ahmad Habibi Syahid
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ud’uni astajib lakum, berdoalah maka niscaya akan Aku kabulkan. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah al-Mu'min ayat 60 di atas mengisyaratkan kepada manusia untuk selalu menyandarkan sesuatu perkara hanya kepada Allah. Manusia pada hakikatnya adalah satu-satunya makhluk yang Allah berikan akal untuk berpikir dan berusaha. Akan tetapi, di balik kemampuan itu, tentunya ada kekuasaan Allah. Rasulullah SAW dalam sabdanya menyatakan, tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah kecuali doa. “Laisa syaiun akroma ‘ala Allahi Ta’ala min ad-du’au.” (HR Tarmidzi). Jika ibadah digambarkan ke dalam struktur tubuh manusia maka doa merupakan bagian otaknya ibadah. Doa berperan merencanakan, memulai, dan mengevaluasi. Saat seseorang hendak melakukan pekerjaan dengan berdoa, berarti dia sedang merencanakan sesuatu. Hal ini juga serupa jika doa diibaratkan dengan sebuah pekerjaan yang mendapatkan imbalan. Seseorang yang melakukan pekerjaan pada sebuah perusahaan tentunya akan mendapatkan imbalan atas pekerjaannya. Orang yang berdoa pun akan mendapatkan imbalan, baik imbalan pahala atas apa yang dikerjakan ataupun imbalan berupa terkabulnya doa. Kesimpulannya, doa merupakan bagian dari ibadah. Makin banyak doa dipanjatkan maka makin banyak imbalan atau pahala yang akan didapatkan. Lebih dahsyatnya, dari keutamaan berdoa bagi kehidupan manusia adalah menolak qadar. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya yang diriwayatkan Ibnu Majah bahwa tidak dapat menolak qadar kecuali dengan doa, “wa la yaruddu al-qadar illa ad-du’a.” (HR Ibnu Majah). Ada pun hikmah yang dapat diambil dari amalan ibadah dengan berdoa banyak sekali di antara hikmah yang paling utama dari berdoa adalah dekat dengan Allah. Berdoa didefinisikan sebagai satu amalan ibadah dengan tujuan berzikir kepada Allah (mengingat Allah). Mengingat Allah dengan memperbanyak amalan ibadah melalui doa adalah cara terbaik. “Maka, sesungguhnya Aku adalah dekat.” definisi dekat dikorelasikan dengan bagaimana seorang hamba mau berdoa, meminta, dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena sesungguhnya Allah itu dekat. Allah menjelaskan dalam firman-Nya bahwa orang-orang yang taat melakukan ibadah senantiasa mengadakan pendekatan kepada Allah dengan memanjatkan doa yang disertai keikhlasan hati yang mendalam. Tentunya, doa yang terkabul adalah doa yang disertai dengan keikhlasan hati serta bersifat kontinu. Hal ini banyak ditegaskan dalam ayat Alquran, di antaranya, “Berdoalah kepada Tuhan-mu dengan berendah diri (tadharu’) dan suara yang lembut. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut akan tidak diterima dan penuh harapan untuk dikabulkan. Sesungguhnya, rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Ar’af : 55-56). Wallahu a'lambishawab.
Back to top Go down
 
Pengajian Iluni FK'83
View previous topic View next topic Back to top 
Page 93 of 93Go to page : Previous  1 ... 48 ... 91, 92, 93
 Similar topics
-
» Halalkah anjing dimakan??????
» Memutar Kaset Rekaman Pengajian Sebelum Salat Wajib.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: RENUNGAN-
Jump to: