Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pengajian Iluni FK'83

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 47 ... 91, 92, 93  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed Apr 22, 2015 8:45 pm

SYUKUR NIKMAT
Kamis, 12 Februari 2015, 16:49 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mujiyanto
Pernahkah kita berpikir untuk apa segala kenikmatan yang kita cari setiap hari dengan membanting tulang? Tanpa peduli siang dan malam, sampai-sampai meninggalkan keluarga? Akankah semua itu akan menyertai kita selamanya? Fakta menunjukkan, tak ada yang abadi di dunia ini. Segala kenikmatan bisa lenyap seketika. Kekayaan, kedudukan, kecantikan, ketampanan, ketenaran, kecerdasan, dan sebagainya bisa diambil kembali oleh Sang Maha Pemberi, Allah SWT. Pinjaman Allah itu akan diminta kembali bila Sang Pemilik ingin mengambilnya. Sayang, banyak orang yang terpedaya dengan kehidupan dunia. Seolah-olah dunia merupakan segalanya. Saking terpananya dengan bayangan dunia, sampai-sampai banyak orang melupakan tempat untuk masa depannya yang abadi, yakni akhirat. Mereka melupakan dan menyia-nyiakan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Padahal, Allah kelak akan mempertanyakan semua kenikmatan yang telah diberikan kepada hamba-Nya. “Kemudian, kamu pada hari itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh kenikmatan (yang telah diberikan kepadamu).” (QS at-Takatsur [102]: Cool Nantinya akan ditanyakan untuk apa nikmat-nikmat yang Allah SWT berikan, seperti umur, waktu, harta, jabatan, kecantikan, kecerdasan, ilmu, dan lain-lain digunakan? Untuk taat kepada-Nya atau justru untuk melanggar ketentuan-Nya? Semua itu akan dipertanyakan oleh Sang Maha Pemberi. Mungkin, semasa di dunia manusia bisa berdalih. Namun, di akhirat? Mulut manusia dikunci, tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Justru, tangan berbicara. Kemudian, kaki-kaki menjadi saksi di hadapan Allah SWT atas seluruh tindakan yang pernah kita lakukan di dunia (QS Yasin [36]: 65). Tidak ada sedikit pun kebohongan di hadapan-Nya. Maka, orang yang berhasil mengelola kenikmatan dari Allah SWT merupakan orang yang pandai bersyukur. Sebab, pada hakikatnya syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempatnya serta sesuai dengan kehendak pemberi. Sebaliknya, terdapat pula orang yang kufur nikmat, yaitu menyia-nyiakan dan melupakan nikmat Sang Maha Pemberi. Alhasil, kenikmatan bisa menjadi ladang pahala bagi orang-orang yang menyadari hakikat pemberian Sang Khalik kepadanya. Mereka akan menggunakan nikmat itu dalam koridor perintah dan larangan-Nya. Tak mungkin orang yang paham terhadap hakikat kenikmatan dunia akan mengejar jabatan yang haram untuk diduduki, menggunakan kecerdasannya untuk korupsi, serta memamerkan auratnya untuk mencari rezeki. Tidak mungkin pula orang seperti itu menggunakan mulutnya untuk mengucapkan janji palsu dan kata-kata kotor kepada manusia lainnya, serta menggunakan kedudukannya untuk menzalimi rakyat, dan sebagainya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed Apr 22, 2015 8:49 pm

10 CARA RASULULLAH MENJEMPUT RAHMAT ALLAH
Selasa, 03 Februari 2015, 16:23 WIB Oleh: Suprianto
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suatu hari Baginda Nabi Muhammad SAW didatangi Jibril, kemudian berkata, “Wahai Muhammad, ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun di atas sebuah bukit yang berada di tengah-tengah lautan. Di situ Allah SWT mengeluarkan sumber air tawar yang sangat segar sebesar satu jari, di situ juga Allah SWT menumbuhkan satu pohon delima, setiap malam delima itu berbuah satu delima. Setiap harinya, hamba Allah tersebut mandi dan berwudhu pada mata air tersebut. Lalu ia memetik buah delima untuk dimakannya, kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat dan dalam shalatnya ia berkata: “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan bersujud dan supaya badanku tidak tersentuh oleh bumi dan lainnya, sampai aku dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud”. Maka Allah SWT menerima doa hambanya tersebut. Aku (Jibril) mendapatkan petunjuk dari Allah SWT bahwa hamba Allah itu akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud. Maka Allah SWT menyuruh: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”. Maka Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”. Untuk yang ketiga kalinya Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut pun berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”. Maka Allah SWT menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah SWT tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah SWT berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu. (HR Sulaiman Bin Harom, dari Muhammad Bin Al-Mankadir, dari Jabir RA). Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah SWT, bukan karena banyaknya amal ibadah. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal ibadah yang kita lakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, puasa, dan amalan-amalan lainnya tidak ada arti? Jangan salah persepsi. Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia, amal ibadah adalah sebuah proses atau alat untuk menjemput rahmat Allah SWT. Karena rahmat Allah tidak diobral begitu saja kepada manusia. Akan tetapi, harus diundang dan dijemput. Rasulullah SAW mengajarkan kepala umatnya beberapa cara agar rahmat Allah itu bisa diraih.

Pertama, berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah SWT dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya dan merasa diperhatikan (diawasi) oleh Allah (QS al-A'raf [7]: 56).

Kedua, bertakwa kepada-Nya dan menaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (QS al-A'raf [7]: 156-157).

Ketiga, kasih sayang kepada makhluk-Nya, baik manusia, binatang. maupun tumbuhan.

Keempat, beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah (QS al-Baqarah [2]: 218).

Kelima, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah SAW (QS an-Nur [24]: 56).

Keenam, berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-nama-Nya yang Mahapengasih (ar-Rahman) lagi Mahapenyayang (ar-Rahim). Firman Allah SWT, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS al-Kahfi [18]: 10).

Ketujuh, membaca, menghafal, dan mengamalkan Alquran (QS al-An'am [6]: 155).

Kedelapan, menaati Allah SWT dan Rasul-Nya (QS Ali Imran [6]: 132).

Kesembilan, mendengar dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan Alquran (QS al-A'raf [7]: 204).

Kesepuluh, memperbanyak istigfar, memohon ampunan dari Allah SWT. Firmannya, “Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS an-Naml [27]: 46).
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sun Apr 26, 2015 12:50 pm

7 KALIMAT MUSTAJAB
Minggu, 26 April 2015, 08:39 WIB Oleh: A Khotimi Bahri
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua orang mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi, memaknai sebuah kebahagiaan bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Bagi kaum materialis, bahagia adalah jika sudah terpenuhinya segala kebutuhan fisik. Hanya, kebutuhan fisik tidak akan pernah ada batasannya. Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa'adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak. Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.

Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu.
Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya.

Kedua, membaca hamdalah (alhamdulillah) ketika selesai mengerjakan sesuatu.
Hamdalah adalah kalimat pujian seorang hamba atas kemudahan dan kemurahan Allah yang menyertai pekerjaannya.

Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut.
Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT.

Keempat, mengucapkan “insya Allah” ketika ingin berbuat sesuatu.
Rasulullah Muhammad SAW pernah diingatkan oleh Allah agar mengucapkan kalimat tersebut jika menjanjikan sesuatu. Ini terkait dengan janji Beliau untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kaum Quraisy.

Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil 'aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.
Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya.

Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji'un” jika sedang tertimpa musibah.
Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja' ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.

Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah” sepanjang hari, petang dan malam.
Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak. Wallahu a'lam bishawab.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Mon Apr 27, 2015 1:38 pm

ENGGAN MENGIKUTI IMAM YANG BER QUNUT SUBUH?
Senin, 27 April 2015, 11:41 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,Seringkali kita menyaksikan saudara kita yang tengah shalat shubuh berjamaah tidak mengikuti imam yang sedang berqunut. Alih-alih mengikuti gerakan imam, justru di tidak ikut berqunut. Bolehkah yang demikian dilakukan? Padahal ia sedang ikut shalat berjamaah? Komite Tetap Kajian dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi menyatakan, jika makmum yang beranggapan tidak ada qunut di Shalat Shubuh, sementara ia shalat Shubuh di belakang imam yang berqunut, maka hendaknya ia mengikuti gerakan imam. Ini karena, keputusan imam untuk berqunut, juga memiliki sandaran dalil. Sekalipun, komite ini berpandangan hukum berqunut saat shubuh tidak dianjurkan. Komite ini mengutip pendapat dari Ibnu Taimiyah, dalam Majmu’ al-Fatawa. Sosok berjuluk Syaikh al-Islam itu, menegaskan hendaknya makmum mengikuti gerakan apapun dari imam, selama masih berada dalam ranah ijtihad. Jika imam berqunut, maka ikutlah berqunut. Sebaliknya, bila imam tidak berqunut maka jangan sekali-kali berqunut sendiri. Ini penting. Karena, keberadaan imam itu untuk ditaati.”Seorang imam (shalat) ditunjuk supaya diikuti,” demikian sabda Rasulullah SAW. Pandangan ini juga diungkapkan oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi, dalam kitab al-Mughni. Ia menyebutkan, jika seorang imam berqunut maka hendaknya makmum mengamininya. Para ulama sepakat mengatakan demikian. Ini juga pandangan yang dirujuk oleh Imam Ahmad, Ishaq, dan imam lainnya. Ibnu Qudamah menambahkan, dirinya belum mendapati satupun ulama yang secara tegas melarang ikut qunut dan mengamininya, jika sang imam berqunut. Uraian yang sama juga ditegaskan oleh Syekh Ibn Qasim dalam kitab Hasyiyah ar-Raudh.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Thu Apr 30, 2015 8:07 pm

KESEMPURNAAN IMAN
Rabu, 29 April 2015, 21:22 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof H Dadang Kahmad
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang yang menjauhkan diri dari yang tidak berguna dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri mereka dan budak belian yang mereka miliki; maka sesungguhnya dalam hal seperti itu tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang yang memelihara amanat, memelihara janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah yang akan mewarisi surga firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS al Mukminun [23]: 1-11).

Ayat di atas menjelaskan adanya relasi simbiosis antara iman (akidah) dan perilaku (amal) seorang manusia. Seorang mukmin akan khusyuk dalam shalat dan menjauhkan diri dari kehidupan yang sia-sia. Ia akan selalu meninggalkan perbuatan buruk dan melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya serta lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda, “Dari kebaikan orang Islam adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (HR HR Tirmidzi dam Ibnu Majah). Oleh karena itu, tidak pantas bila seorang mukmin menyia-nyiakan waktu, masa muda, kesehatan, kekayaan, dan setiap peluang dalam hidupnya. Namun, tak sedikit dari kita menyia-nyiakan masa muda karena salah mengartikan apa itu masa muda. Prinsip yang kurang benar masa muda tidak akan kembali dipegang kuat sehingga seluruh aktivitas hidupnya diisi dengan foya-foya dan melayangkan angan tak nyata. Orang yang percaya penuh pada Allah SWT akan senantiasa melaksanakan perintah-Nya, hidup hati-hati, menjaga shalat, membayar zakat, dan menjauhkan diri dari maksiat sehingga kehidupannya tetap terpelihara.

Orang beriman sadar betul kehidupan ini sementara dan segala amal akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, orang beriman selalu berprinsip keinginan dan nafsu syahwat itu kalau diperturutkan akan mengakibatkan kesengsaraan jasmani maupun ruhani. Orang yang imannya sempurna selalu memegang janji dan menjaga amanah yang dibebankan padanya. Hifdzul amanah (menjaga amanah) adalah salah satu pekerjaan mulia dan sulit. Banyak orang yang diberi amanah jabatan dan amanah kepercayaan, namun mengkhianatinya. Timbulnya krisis ekonomi yang menimpa suatu bangsa disebabkan kurangnya para pemimpin memelihara amanah yang diemban. Kondisi ini mengakibatkan banyak terjadi penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya menimbulkan krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpin. Akhlak orang beriman akan selalu berdampak baik bagi dirinya dan lingkungan sekitar. Ia selalu mengadakan hubungan baik dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk Allah seluruhnya. Ia juga selalu takut pada Allah. Ketakutan ini merupakan ketakutan yang positif. Seperti yang tercermin di dalam firman-Nya, “Padahal, Allah-lah yang berhak kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS at-Taubah [9]: 13). Oleh karena itu, keimanan yang kuat harus dimiliki siapa saja. Sebab, keimanan bisa mengatur manusia untuk selalu mengisi kehidupan di muka bumi dengan segenap kebajikan. Keimanan membuat orang-orang secara tulus dan ikhlas melakukan hubungan dengan sesama manusia berdasarkan kerangka Ilahiah. Segala gerak hidupnya, baik dalam rangka bekerja atau berniaga, berpolitik atau memimpin dan bermuamalah, selalu merujuknya pada pembenaran iman pada Allah SWT. Wallahua’lam bis-shawab.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Thu Apr 30, 2015 8:18 pm

KEKUATAN IMAN
Selasa, 28 April 2015, 06:30 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Saufa A Taqiyya
Dalam kitab al-Mustadrak, Imam hakim meriwayatkan sebuah hadis dari 'Aisyah RA yang berkisah tentang peristiwa setelah Isra' Mi'raj. Orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar as-Shiddiq. Mereka mengatakan, “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad SAW)!” Abu Bakar berkata, “Apa yang beliau ucapkan?” Orang-orang musyrik berkata, “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam.” Abu Bakar berkata, “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur.” Orang-orang musyrik kembali bertanya, “Mengapa demikian?” Abu Bakar menjawab, “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” Karena peristiwa itulah kemudian Abu Bakar mendapat gelar as-Shiddiq yang artinya orang yang membenarkan. Ketika banyak orang meragukan apa yang dikatakan Rasulullah SAW, dengan penuh keyakinan Abu Bakar membenarkan peristiwa yang mungkin sulit dicerna akal sehat dan logika. Tapi, kekuatan iman membuat Abu Bakar yakin akan setiap perkataan rasul, bahkan untuk hal-hal yang tak masuk akal. Dalam banyak kisah, iman menjadi generator utama dalam diri seorang Muslim yang dapat membangkitkan kekuatan luar biasa. Kekuatan iman dapat mengalahkan kuatnya logika. Kekuatan iman pula yang dapat menjadikan kepedihan yang teramat sangat menjadi kenikmatan. Dan, yang lebih luar biasa lagi, iman dapat menjadikan kesabaran seseorang menjadi berlapis-lapis. Kisah lain yang dapat menegaskan betapa besar kekuatan iman adalah kisah Bilal bin Rabah, muazin Rasulullah SAW. Dalam kitab Rijalun Haularrasul, Khalid bin Muhammad Khalid mengisahkan keteguhan seorang Bilal memegang keimanannya. Bilal yang pada mulanya seorang budak disiksa tuannya dengan batu panas agar ia meninggalkan Islam. Dalam kesakitan yang luar biasa, jangankan meninggalkan Islam, ia justru menjawab “... ahad... ahad,” Allah yang Maha Tunggal. Imannya sama sekali tak goyah. Keimanan pada Allah SWT memberi kekuatan yang mengalahkan rasa sakitnya. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari, iman juga telah memberikan kita kekuatan. Iman membuat seorang Muslimah mau menutup rapat auratnya di tengah iming-iming fashion saat ini. Logika sederhana, tanpa hijab seorang wanita terlihat lebih cantik karena rambut merupakan salah satu kebanggan kaum hawa. Atau, mungkin memakai hijab bagi sebagian orang membuat gerah, terlebih di siang hari yang panas. Namun, iman memberi mereka kekuatan untuk tetap menjalankan syariat-Nya. Mereka tetap memakai hijab dengan tantangan iman yang sedemikian hebatnya dewasa ini. Begitulah, iman membangkitkan kekuatan kita dalam menghadapi cobaan hidup. Logika jadi tak penting karena logis bukan syarat keimanan, seperti yang terjadi saat Isra' Mi'raj. Kepedihan pun menjadi terasa ringan, begitu juga cobaan hidup yang datang setiap saat. Iman menjadikan kita tegar dalam hidup.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sun May 03, 2015 6:23 am

MEMAKNAI AKIDAH TAUHID
Sabtu, 02 Mei 2015, 16:31 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhbib Abdul Wahab
Dari segi bahasa, akidah berakar pada kata aqada-ya’qidu ‘aqdan wa aqidah yang mengandung arti: mengikat (as-syadd), berjanji (al-ahd), membenarkan (al-tashdiq), kemestian (al-luzum), dan kepastian (al-ta’kid). Atas dasar makna leksikal inilah, akidah dalam Islam dimaknai sebagai keimanan atau keyakinan yang pasti (tidak ada keraguan sedikitpun) kepada masalah-masalah gaib dan dasar-dasar ajaran Islam (ushuluddin) yang diberitakan oleh ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Akidah Islam tercermin dalam rukun Iman (iman kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, hari akhir, qadha’ dan Qadar). Esensi akidah Islam adalah tauhid, diformulasikan dalam dua kalimat syahadat: asyhadu an la ila illa Allah; wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Akidah yang tidak sesuai dengan la ilaha illa Allah berarti menyimpang dari akidah Islam. Karena itu, Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, antara lain, untuk meluruskan akidah umat terdahulu yang sudah mengalami penyimpangan, seperti: anggapan kalangan Yahudi, Uzair anak Allah; dan keyakinan kaum Nashrani, Nabi Isa AS anak Allah, padahal Isa putra Maryam. Berakidah tauhid pada dasarnya merupakan fitrah manusia karena ketika di alam arham semua manusia pernah berjanji setia dan berkomitmen kepada Allah untuk bertauhid: mengenal dan mengesakan Allah. Sejak ruh ditiupkan (istilah komputernya: di-install), manusia telah memiliki sifat lahut (ketuhanan), sehingga ia selalu berusaha mendekati-Nya. Selain itu, manusia memiliki ketergantungan dan kebutuhan spiritual kepada-Nya, karena manusia tidak bisa hidup tanpa pertolongan-Nya. Manusia juga membutuhkan petunjuk dan peta jalan kehidupan yang benar, baik, indah, dan membahagiakan, karena ia merupakan bagian integral dari makrokosmos ciptaan Allah. Manusia hidup karena ada yang Mahahidup dan menghidupkan, yaitu Allah. Manusia harus tunduk dan patuh kepada syariat-Nya, karena jalan terbaik dalam hidup ini adalah meneladani sifat-sifat dan Asma’ul Husna-Nya. Dengan meneladani sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya, menusia dapat mengotimalkan potensi dirinya untuk hamba yang shalih dan mushlih (innovatif, reformis, konstruktif, tidak berbuat kerusakan di muka bumi).

Akidah tauhid harus dimaknai secara komprehensif dan menjadi komitmen teologis Muslim sebagaimana tercermin dalam Iyyaka na’budu wa iyyaka nas’ta’in (Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau pula kami memohon pertolongan). Komitmen berimplikasi mendasar bahwa Muslim tidak boleh melakukan perselingkuhan teologis (syirik). Misalnya saja kita rajin shalat, tetapi dalam waktu bersamaan kita masih percaya kepada selain-Nya seperti: tempat-tempat yang diyakini kramat, klenik, benda-benda tertentu yang diyakini bias membawa peruntungan, dan sebagainya. Akidah tauhid harus ditindaklanjuti dalam bentuk ibadah yang ikhlas hanya kepada Allah dan ibadah ini dipahami sebagai tujuan utama penciptaan manusia (QS az-Dzariyat/51: 56). Oleh karena itu, Mukmin harus meyakini diterima dan tidaknya amal, sangat bergantung pada tauhidnya. Kesempurnaan amal juga bergantung pada kesempurnaan tauhidnya. Allah berfirman: “Dan orang-orang kafir itu amal mereka bagaikan fatamorgana di tanah datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi jika air itu didatangi, dia tidak mendapatinya sedikitpun…” (QS an-Nur/24: 39). Jadi, akidah tauhid menjadi fondasi dan sebab berpahala tidaknya amal seseorang di mata Allah SWT.

Akidah tauhid juga dapat menentukan hubungan antara hamba dan Tuhannya, baik dari segi ma’rifah, tauhid, maupun ibadah. Kebahagiaan hidup di dunia ini dapat terwujud jika dilandasi pengetahuan tentang Allah, kebutuhan hamba kepada Allah harus melebihi segala kebutuhannya kepada yang lain. Ma’rifat (mengenal dan memahami) Allah merupakan sumber ketenangan dan kedamaian hati. Akidah tauhid juga membuat orientasi hidup Muslim jelas, terarah, dan mantap, tidak bimbang, ragu-ragu, dan setengah-setengah. Akidah yang benar merupakan kunci kemenangan dan keberuntungan dalam hidup di dunia dan akhirat. Dengan akidah yang benar dan kuat, Mukmin hanya takut kepada Allah. Selain-Nya, semua itu kecil dan hina; yang Maha Besar dan Kuasa hanyalah Allah. Dengan demikian, berakidah tauhid (mengikatkan iman dalam hati, pikiran, lisan, dan perbuatan hanya kepada Allah), perlu dibuktikan dengan amal shalih dengan dilandasi oleh ilmu yang memadai. Iman tanpa ilmu tidak akan membuahkan amal. Karena itu, iman, ilmu, dan amal merupakan trilogi, satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Akidah tauhid akan terawat dengan baik jika dikawal dengan istikamah (komitmen dan konsistensi) dalam berislam dan berihsan. Suatu hari Nabi SAW pernah dimintai seseorang: “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku sebuah ajaran Islam yang setelah itu aku tidak bertanya lagi!” Nabi menjawab: “Katakanlah, aku beriman, kemudian beristiqamahlah” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, “Sebaik-baik amal adalah yang konsisten/terus-menerus walaupun hanya sedikit.” (HR. Abu Dawud). Jadi, akidah tauhid harus dimaknai dengan dirawat, dipupuk, dikembangkan dan dioptimalkan agar tidak berkurang, defisit, atau bahkan hilang sama sekali. Caranya, antara lain dengan memperbanyak: istighfar, dzikir, pikir, tadabbur, syukur, ibadah ritual dan sosial, dan beramal shalih secara personal, sosial, maupun kultural dengan penuh ketulusan, kesadaran, dan konsistensi.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri May 08, 2015 6:41 am

HADIAHKAN BACAAN AL QUR'AN
Kamis, 07 Mei 2015, 23:02 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Menghadiahkan bacaan Alquran untuk orang yang telah meninggal, apakah pahala bacaan yang telah dialamatkan itu akan sampai ke pihak yang dituju? Persoalan ini memang cukup mengundang perdebatan di kalangan ulama. Tapi yang pasti, ini adalah masalah //khilafiyah// (perbedaan) dan tidak termasuk ushul (pokok) agama. Para ulama berbeda pendapat. Menurut salah satu pendapat, hukum membaca Alquran untuk orang yang telah meninggal hukumnya makruh. Pahalanya pun tidak bisa diterima oleh almarhum. Opsi ini dirujuk oleh generasi awal ulama Mazhab Maliki dan sebagian Mazhab Syafii. Pendapat ini menjadi rujukan pula oleh Komisi Tetap Kajian dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Bahkan, menurut Syekh Abdullah bin Baz, tindakan tersebut disebutnya sebagai bidah. Kelompok ini mengemukakan bahwa, Islam menganut konsep individualis dalam hal ganjaran pahala atau siksa. Ini seperti tertuang di surah al-An’am 164 dan an-Najm ayat 39. Kedua ayat ini menegaskan, amalan apapun baik kebaikan ataupun keburukan yang dilakukan oleh orang lain tak akan berimplikasi apapun bagi almarhum. Hanya saja, seperti yang dinukilkan sunah, ada beberapa amalan seperti shalat, puasa, haji, sedekah, dan doa. Selain yang pernah disebutkan, maka tidak perlu dianalogkan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sat May 09, 2015 8:04 pm

PETUAH SEORANG AYAH
Republika.co.id Sabtu, 09 Mei 2015, 19:24 WIB Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA
Tugas utama dan terbesar seorang ayah adalah mendidik istri dan anak-anaknya untuk taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya menyiapkan waktu khusus untuk shalat shubuh berjamaah di rumah dilanjut dengan ta’lim. Alhamdulillah, nilai-nilai akidah tauhid, ibadah dan akhlak (adab) mulai tertanam dan tumbuh perlahan, laksana sebatang pohon. Namun, akar pohon akidah tersebut masih dangkal dan rapuh. Ia mudah goyah dan terserabut oleh badai dan gelombang, angin kencang dan hujan deras, panas terik dan cuaca dingin yang menyengat. Pohon kepribadian itu mesti dijaga, dirawat, disirami dan dipupuki agar terlindungi dari bala bencana dan penyakit yang mematikan. Tugas besar inilah yang menjadi tugas si ibu yang sangat penting dalam pendidikan keluarga. Ayah yang menanamkan bibit pohon dan akar iman (tauhid), lalu bersama ibu merawat batang dan dahannya (ibadah) agar berbuah sepanjang musim (akhlak karimah). Inilah Mukmin sejati seperti pohon yang baik (QS.14:24-25). Sang Ayah yang diabadikan namanya karena upaya pendidikan keluarga yang luas biasa adalah Lukman al-Hakim. Ungkapannya yang santun dan menyentuh hati yaitu Yaa bunayya (wahai anakku) diulang tiga kali. Petuahnya untuk bertauhid, berbakti kepada orang tua, melakukan kebaikan sekecil apapun, mendirikan shalat, sabar, amar ma’ruf nahi mungkar dan jangan meremehkan manusia diabadikan dalam Surah Lukman ayat 12-19 agar kita mengambil hikmahnya. Begitu pun sang ayah, Nabi Ibrahim As dan Nabi Ya’kub As menyapa dengan tutur kata yang lembut Yaa baniyya,(wahai anak-anaku) untuk menanamkan akidah tauhid (QS.2:132). Nabi Yakub As juga menyapa anaknya Nabi Yusuf As dengan panggilan Yaa bunayya (QS.12:5,67,87). Di penghujung hidupnya, ia mengevaluasi proses pendidikan tersebut dengan bertanya, maa ta’buduuna min ba’dii” (apa yang kalian sembah setelah aku mati)? Mereka menjawab dengan tegas yakni menyembah Tuhan Yang Esa, Allah SWT. (QS.2:133). Beliau pun tersenyum hingga ajal menjemput. Bukankah banyak di antara orang tua justru bertanya, maa ta’kuluuna min ba’dii” (apa yang akan kalian makan setelah aku mati)? Sang ayah, Nabi Nuh As juga memberi pelajaran berharga kepada para setiap ayah di kemudian hari yang sudah berjuang sungguh-sungguh mendidik anak lahir batin, namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan, bahkan memilih jalan kesesatan. Konon, ketika banjir bandang yang sudah menenggelamkan daratan semakin dahsyat, ia masih memanggil penuh harap dan sayang kepada anaknya, Kan’an, ''Yaa bunayya, masuklah ke dalam perahu bersama kami....”. Namun Kan'an tetap tak mau mengikuti seruan ayahnya hingga tenggelam dihantam ombak besar dalam kekafiran (QS.11:42-44). Beliau memberi pelajaran berharga, yakni walau anak menjadi fitnah dan musuh yang menyesakkan dada, namun tak boleh berputus asa. Bagi para ayah yang merasa belum mampu memberi tausiah, tujuh petuah berikut ini bisa jadi rujukan.

Pertama, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi terarah? Agama. Karena agama laksana petunjuk jalan menelusuri kehidupan.''

Kedua, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi mudah? Ilmu. Karena ilmu laksana cahaya yang menyinari di kegelapan malam.''

Ketiga, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi meriah? Harta. Karena harta laksana hiburan menyenangkan dalam pertunjukan.''

Keempat, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi berkah? Berbagi. Karena berbagi (sedekah) itu laksana air yang mengaliri pepohonan lalu berbuah dan dimakan oleh yang membutuhkan.''

Kelima, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi gairah? Cinta. Karena cinta laksana sekuntum bunga dalam hati yang diliputi kerinduan.''

Keenam, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi indah? Seni. Karena seni laksana simponi keindahan Ilahi dalam jiwa.

Ketujuh, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi gagah? Beradab. Karena adab (akhlak) laksana mahkota kemuliaan tanpa memandang keturunan.'' Wallahu a’lam bish-shawab.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sat May 09, 2015 8:06 pm

KEDUDUKAN SHOLAT SANGAT TINGGI
Sabtu, 09 Mei 2015, 10:57 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Bidang Dakwah Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Abdul Muhith Murtadho mengungkapkan, kedudukan shalat dalam Islam, sangat tinggi. ‎Shalat merupakan rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. ''Banyak uraian yang disampaikan Allah SWT dalam Alquran dan Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan para sabat dan tabiin, akan pentingnya ibadah shalat,'' kata Ustaz Abdul Muhith Murtadho kepada Republika, Sabtu (9/5). Ia lalu mengutip hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, ''Islam dibangun atas lima perkara, yaitu bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan bersaksi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah.'' Menurut Ustaz Abdul Muhith Murtadho, Allah SWT sangat mencela orang yang melalaikan dan bermalas-malas melaksanakan ibadah shalat. "Allah SWT sangat mencela orang yang lalai melaksanakan ibadah shalat,'' kata Ustaz Abdul Muhith. Ia lalu mengutip surat Al-Ma'un ayat 4-5 yang artinya, ''Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya dan Allah memuji orang yang mengerjakan shalat (dengan khusyu`), bahkan Allah membanggakan orang yang menunaikan serta memerintahkan keluarganya agar juga melaksanakannya.''

Menurut Ustaz Abdul Muhith, shalat adalah tiang Agama, Agama Islam tidaklah tegak kecuali dengan shalat. Dalam hadits Mu’adz disebutkan,‎ ''Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.” Ia juga menyebutkan, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab pada diri seorang hamba. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi." Hadis riwayat Abu Daud. Lebih lanjut Ustaz Abdul Muhith mengungkapkan, shalat termasuk diantara wasiat terakhir Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam, seperti yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. “Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak kalian.” (HR. Ibnu Majah). Ia menjelaskan, shalat adalah ibadah yang diperintahkan untuk dilaksanakan dalam segala situasi, baik dalam perjalanan atau pun tidak, dalam situasi aman atau situasi khauf (perang) sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Albaqarah ayat 238-239 dan an-Nisa ayat 102-103. Shalat adalah perkara terakhir yang hilang dari manusia, jika shalat telah hilang, hilang pula agama secara keseluruhan.‎ Rasulullah SAW bersabda, ''Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).
Back to top Go down
 
Pengajian Iluni FK'83
View previous topic View next topic Back to top 
Page 92 of 93Go to page : Previous  1 ... 47 ... 91, 92, 93  Next
 Similar topics
-
» Halalkah anjing dimakan??????
» Memutar Kaset Rekaman Pengajian Sebelum Salat Wajib.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: RENUNGAN-
Jump to: