Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pengajian Iluni FK'83

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 47 ... 90, 91, 92, 93  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sun Apr 12, 2015 2:19 pm

SEBUTIR KURMA PENUH BERKAH
Sabtu, 04 April 2015, 15:19 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Adi Setiawan, Lc, MEI
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Adi ibn Hatim bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Berlindunglah dari api neraka sekalipun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” Dalam riwayat lain ada tambahan, “Kalau itu pun tidak ada (kurma), maka (sedekah) dengan kata-kata yang baik”. Inilah gambaran konsistensi keimanan seseorang untuk senantiasa beramal saleh. Konsisten sedekah walaupun sedikit adalah awal untuk bersedekah yang lebih banyak. Ibnu Hajar mengatakan, “Tidak boleh meremehkan dan memandang rendah orang yang bersedekah dengan sedikit hartanya, sedikitnya saja sudah bisa menghindarkannya dari api neraka”. Kata “sebutir kurma” dalam hadis di atas merupakan mubalaghah fil qillah, kiasan tentang amal-amal yang ringan, bahkan paling ringan di mata manusia, namun bernilai tinggi di mata Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya". (QS al-Zalzalah: 7) Bersedekah tidak mesti selalu banyak, bersedekah juga bisa dengan memberi sekali banyak dan sesekali ala kadarnya. Inilah yang dicontohkan oleh Siti Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, ia biasa memberi makan fakir miskin yang setiap hari menemuinya. Yang menarik, terkadang ia memberikan semua makanannya, terkadang hanya memberi sebutir anggur. Bersedekah tidak mesti dengan harta. Kita tidak mampu bersedekah dengan harta, maka dengan kata-kata yang baik pun dijamin oleh Rasulullah Saw sebagai sedekah. Kalimat yang baik akan menjadi sedekah jika bermanfaat bagi yang mengucapkan sendiri dan orang lain yang mendengarnya. Bagi diri sendiri akan terasa damai, tentram dan tenang jika kita senantiasa berkata dengan baik. Tidak menyindir orang lain, tidak melukai orang lain. Dengan begitu tidak akan pernah mempunyai musuh.

Bersedekah membimbing jiwa untuk menjadi pemurah, dan jauh dari serakah. Cukuplah kisah Qarun menjadi pelajaran berharga. Pemuda dari bani Israil yang memperoleh kelapangan rizki, hingga kunci gudang hartanya saja tidak mampu dibawa oleh para pekerjanya seorang diri. Setiap kali kaumnya memohon bantuan dan kemurahnnya ia tolak. Setap kali penasehatnya memberi nasehat, tidak bertambah kecuali Qarun semakin sombong. Dan tidak berapa lama Allah SWT pun melenyapkan seluruh kenikmatan itu, harta lenyap dan istana pun ditelan bumi. Bersedekah berarti mengimplementasikan doa sapu jagat yang sering diucapkan selesai shalat. Berharap bahagia di dunia, kemudian dilanjutkan dengan kebahagiaan di akhirat. Kejahatan yang sering terjadi, hilangnya rasa aman di jalanan, pembegalan dimana-mana, pencurian di perumahan-perumahan mewah dan kejahatan lainnya. Itu semua bukan saja karena kemiskinan harta akan tetapi bisa juga dikarenakan kemiskinan struktural yang disebabkan oleh korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan keenganan berbagi. Sedekah menjadi instrument penting untuk antisipasi kejahatan yang mungkin terjadi, sebab dalam sedekah ada ikatan yang terjadi antara yang kaya dan yang miskin. Memberi makan orang yang membutuhkan berarti memberikan jaminan kesejahteraan bagi yang diberi dan keamanan bagi yang memberi karena tidak akan diganggu keamanannya oleh yang diberi. Dan sebagai langkah awal adalah dengan melakukan edukasi yang tepat mengenai konsep sedekah sehingga muncul kesadaran akan pentingnya mengeluarkan zakat, infak dan dana sosial keagamaan lainnya. Wallahua’lam.


Last edited by gitahafas on Fri Apr 17, 2015 4:45 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sun Apr 12, 2015 2:22 pm

BATASI NIKMAT DUNIA
Kamis, 02 April 2015, 12:58 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bahagia
Dunia hanya tempat persinggahan singkat umat manusia sebelum menuju alam kubur dan menunggu hari pengadilan. Di alam kubur, kita akan tahu tempat yang akan diberikan kepada kita kelak pada saat hari kiamat tiba. Penantian di alam kubur ini yang sangat menyakitkan, sebab bergantung pada apa yang dilakukan di dunia. Pada saat di alam kubur, tak luput kemungkinan kuburan terasa sempit dan mendapatkan siksaan. Meski demikian, kita belum takut dengan tindakan kita yang menambah dosa. Untuk mengingatkan akan kematian dan menambah kuatnya nilai iman maka sangat perlu mendatangi orang yang meninggal dan berziarah ke makam. Terkadang, ini yang tidak diketahui. Kerap kali, kuburan atau ziarah ke alam kubur dianggap sebatas berkunjung dan tidak menambah nilai iman. Ada juga yang menggunakan kuburan untuk mendapatkan rezeki, jodoh, dan lain sebagainya. Ada juga yang menganggap dengan datang ke kuburan justru mendapatkan wangsit pada malam harinya. Ini perilaku zalim pada umat kita yang menyebabkan rendahnya nilai iman itu. Satu hal yang membuat manusia terus melupakan ibadah karena tidak bisa melawan nafsu sehingga berlebihan dalam mencintai dunia. Manusia yang mengejar dunia secara terus menerus tanpa memikirkan akhirat mengakibatkan manusia lupa dengan hidup yang begitu singkat ketika di dunia sehingga berakhirnya hidup di dunia, tetapi ibadah yang didapatkan sangat sedikit. Bekal apa yang harus dibawa ketika kembali kepada Allah jika waktu itu terkuras untuk memenuhi nafsu perut saja, yaitu dunia. Padahal, dunia itu menipu kita, terlihat seperti manis, tetapi menyebabkan kita semua larut dalam dunia.

Salah satu ciri manusia yang cinta dunia, yaitu manusia yang terus menumpuk hartanya menjadi lebih banyak lagi. Tidak pernah rasa puas dengan apa yang telah didapatkannya. Apalagi, jalan yang ditempuh untuk mendapatkan dunia dengan jalan korupsi sehingga dapatlah harta yang bukan lagi haknya. Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Celakalah orang yang mengabdi kepada dinar, orang yang mengabdi kepada dirham, dan orang yang mengabdi kepada perut. Jika diberi ia merasa puas dan seneng, jika tidak diberi ia merasa jengkel. Dia benar-benar celaka dan terjungkir serta tidak mampu mencungkil duri yang menancap ditubuhnya (yakni selalu tersiksa batinnya). Sungguh beruntung orang yang memegang tali kudanya dalam berjihad di jalan Allah dengan rambutnya yang kusut dan tubuh berdebu. Apabila ia ditugaskan digaris depan ia menjalankan tugasnya dengan baik dan apabila ia ditugaskan di garis belakang, ia pun melaksanakan tugasnya dengan baik pula. Apabila minta izin, ia tidak dizinkan dan apabila minta tambahan pasukan untuk menemaninya, permintaannya tidak dikabulkan (meskipun demikian ia tetap terus bertempur karena Allah)." Kemudian dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Anak adam itu akan menua, namun masih terasa muda dalam dua hal, yaitu keinginan terhadap usia (yang panjang) dan keinginan (banyak) harta. ( HR At Tirmidzi). Hadis di atas memberikan makna, ibadah itu tetap utama dilakukan di atas segala-galanya, termasuk kehidupan dunia. Dalam beribadah juga tidak hitung-hitungan, apalagi menghitung berapa banyak yang harus dibayar dalam bentuk uang. Hasil dari ini tidak lagi berkah hasilnya. Banyak di antara kita menjadi pejabat, tetapi bertujuan untuk mendapatkan dua hal, yaitu jabatan untuk mendapatkan uang. Buktinya, pejabat tidak akan mau jika tidak dibayar, tetapi anehnya sudah dibayar sebagai pejabat juga tidak amanah dalam menjalankan tugas. Wallahu a'lam.


Last edited by gitahafas on Fri Apr 17, 2015 4:48 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri Apr 17, 2015 4:39 pm

DURHAKAKAH ANDA
Selasa, 14 April 2015, 23:14 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,Durhaka kepada kedua orang tua (uquq al-walidain), menurut Syekh Muhammad Ibrahim al-Hamad dalam bukunya yang berjudul Uquq al-Walidain; Asbabuhu, Mazhahiruhu, Subul al-Ilaj, adalah tindakan yang tercela. Rasulullah SAW di banyak sabdanya melarang dan mengecam tindakan ini. Durhaka adalah salah satu dosa besar. Oleh karena itu, seperti ditegaskan dalam riwayat Bukhari, hindarilah. Konsekuensi yang bakal diterima oleh anak durhaka, sangat banyak. Anak yang durhaka kepada kedua orangtuanya, terancam tidak akan masuk surga. Ini seperti tertuang di hadis riwayat Umar bin Khatab. Pendurhaka orang tua juga divonis terhalang dari nikmat melihat Allah SWT. Penegasan itu tertuang di riwayat Abdullah bin Umar. Perlakuan durhaka bisa berbalik ke anak kelak, lantaran doa kuat seorang tua yang terzalimi oleh anak durhaka. Doa orang tua yang dizalim, termasuk kategori doa yang mustajab. Kekuatan doa orang tua itu, seperti tercatat di hadis riwayat Abu Hurairah. Ia mengatakan manivestasi durhaka terhadap orang tua sangat banyak. Ini bisa terwujud antara lain dengan membuat sedih mereka akibat tingkah laku anak yang menyimpang, seperti sikap kasar dan berontak. Berkata “uf’ saja, sebagaimana penegasan surah al-Israa’ ayat ke-23 saja tidak boleh, apalagi melawan keduanya. Terlebih, membuat air mata keduanya terurai. Tanda-tanda durhaka antaralain bersikap masam, menatap keduanya dengan raut wajah marah atau sinar mata yang tajam penuh benci, memerintah keduanya layaknya seorang pembantu, menyepelekan nasihat, atau tidak mengakui hubungan kerahiman dengan keduanya. Entah karena malu ataupun gengsi. Termasuk durhaka pula jika menitipkan mereka ke panti jompo karena sebab yang tak kuat. Banyak sekali bentuk durhaka yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Paling parah, bila sang anak mengharapkan kematian keduanya atau salah satu dari mereka agar segera mewarisi harta warisan atau karena alasan sakit dan kemiskinan yang mengimpit. “Jangan sampai hal itu terjadi,”katanya mewanti-wanti. Durhaka, ungkapnya, timbul karena beberapa faktor penyebab. Di antaranya paling mendasar adalah ketidaktahuan akan dampak dan dosa yang diakibatkan durhaka. Ini bisa dipicu oleh pola pendidikan yang salah dalam keluarga. Pendikan yang ideal dalam keluarga adalah pengokohan pondasi agama. Sebab berikutnya, ialah hilangnya keteladanan orang tua, pengalaman durhaka oleh orangtua sendiri, dan perceraian. Inti solusinya, sebut Syekh Muhammad ialah mengembalikan sendi-sendi keluarga yang telah rapuh. Ciptakan suasana Islami dalam keluarga. Keteladanan yang kuat dari orang tua dan terapkan pendidikan Islam kepada anak-anak. “Jangan semberono mendidik anak,”tulisnya mengingatkan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri Apr 17, 2015 4:43 pm

6 WATAK DINUL ISLAM
Jumat, 17 April 2015, 15:06 WIB Oleh: Moch Hisyam
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai penganut agama Islam, sudah selayaknya sikap dan perbuatan kita dalam keseharian kita mencerminkan watak atau tabiat kita sebagai seorang Muslim. Itu karena dinul Islam memiliki watak yang khas yang sejatinya tecermin dari kepribadian setiap pemeluknya. Watak agama Islam adalah tabiat atau karakteristik yang melekat pada agama Islam. Hal ini ada dalam agama Islam karena ia merupakan agama aplikatif bukan hanya sekadar konsep. Oleh karena itu, hendaknya kita berupaya untuk mengetahui, memahami, dan merealisasikan watak dari agama Islam ini. Bila kita mampu mengetahui, memahami, dan merealisasikan tabiat dari agama Islam yang kita peluk maka kita akan menjadi pribadi Muslim yang sejati yang akan membuat hidup kita terarah dan selalu menepati jalan yang dikehendaki oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Di antara watak dari agama Islam yang harus kita ketahui, pahami, dan kita realisasikan, antara lain,

Pertama, keikhlasan dan sesuai dengan fitrah.
Watak agama Islam ini membentuk setiap Muslim memiliki pribadi yang mukhlis dan hanif (lurus). Di dalam Alquran surat Az-Zumar (39) ayat 2, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya, Kami menurunkan kepadamu Kitab (Alquran) dengan (membawa) kebenaran. Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

Kedua, penuh dengan nilai-nilai dan konsepsi.
Watak dari agama Islam ini akan membentuk kita menjadi pribadi yang bermutu dan ber-manhaj. Allah SWT berfirman, “Dan, sesungguhnya Alquran itu dalam induk Al Kitab (Lohmahfuz) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS Az-Zukhruf [43] : 4).

Ketiga, hukum dan akhlak atau moral.
Watak ini membentuk diri kita menjadi pribadi Muslim yang berakhlak mulia dan bijaksana. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat.” (QS An-Nisa [4] : 105).

Keempat, kebersihan dan kesucian.
Watak agama Islam ini membentuk pribadi Muslim yang bersih dan suci. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan, Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS At-Taubah [9] : 108).

Kelima, ilmu dan amal.
Watak ini membentuk seorang Muslim menjadi pribadi yang berilmu dan aktif bekerja. Allah SWT berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka, tidakkah kamu berpikir? (QS al-Baqarah [2]: 44).

Keenam, harakah dan minhaj.
Watak agama ini akan membentuk pribadi Muslim yang mutaharik (aktif bergerak) dan minhaji (berpedoman). Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl [6] : 125).

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada kita untuk mampu memiliki kepribadian sesuai dengan watak dinul Islam yang kita anut sehingga kita menjadi pribadi yang Islami. Amin. Wallahu'alam.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Mon Apr 20, 2015 12:52 pm

BAHAGIA DALAM KESULITAN
Senin, 20 April 2015, 12:08 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muslimin
Kebahagiaan merupakan milik semua orang yang menginginkannya. Namun, kita perlu merawat dan memeliharanya, kemudian mengoptimalkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual- agar kita selalu meraih kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan. Para pakar kebahagiaan telah mengungkapkan apa pun defenisi kebahagiaan itu, yang jelas dan pasti, semua orang dapat hidup dalam bingkai kebahagiaan dan kesejahteraan. Akan tetapi, terkadang kita malah mengharapkan kebahagiaan yang berjarak, berada di luar diri kita. Salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan ini adalah mempunyai jiwa yang selalu berbahagia. Karena dalam bingkai kebahagiaan, perjalanan hidup seseorang menjadi lebih produktif dan kreatif. Para peneliti kebahagiaan mengatakan kebahagiaan adalah seni yang perlu dipelajari. Jika mempelajarinya, kita akan mendapatkan berkah dalam hidup ini. Sebenarnya, prinsip dasar meraih kebahagiaan adalah dengan memiliki kemampuan dalam menahan kepedihan dan beradaptasi dalam situasi apa pun. Oleh karena itu, kita tidak perlu larut dalam kesedihan dan tertekan dengan hal-hal sepele. Sebab, bila dilandasi dengan kejernihan hati, seseorang akan bersinar merona sekalipun di tempat yang paling gelap. Ketika kita melatih diri untuk bersikap sabar dan berbesar hati, kesulitan dan malapetaka apa pun akan dengan mudah kita atasi. Tatkala Allah menurunkan penderitaan kepada umat manusia, janganlah ditafsirkan Allah sudah tidak lagi sayang dan peduli kepada hambanya. Sebagaimana dalam surah al-Baqarah dikatakan, “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS al-Baqarah [Sapi Betina] [2]: 286). Bahkan, Allah memberikan jalan keluar sehingga kita bisa mengatasi setiap kesulitan dan penderitaan hidup. Pepatah juga mengatakan, "If God close the door, He will open the windows." (Jika satu jalan tertutup, masih ada jalan yang lain). Sayangnya, kebanyakan kita kurang terlatih dan peka menangkap pelajaran dari Allah. Pelajaran dari Allah sepertinya tersembunyi nun jauh di sana. Padahal, kalau kita berusaha sedikit bersusah payah memahami eksistensi Allah, tentu kita akan merasa dekat dengan Allah. Sebagaimana yang dikemukakan Allah, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam Kebenaran.” (QS al-Baqarah [Sapi Betina] [2]:186). Jadi, kita tidak perlu berkecil hati! Ada banyak pintu yang dapat kita masuki untuk merasakan kehadiran Allah. Di antaranya, membantu orang-orang yang kekurangan, ketuklah pintu rumah Allah pada sepertiga malam saat yang sangat mustajab untuk mengadu atas semua penderitaan yang kita alami. Berkaitan dengan hal ini, orang bijak pernah mengemukakan; “Serahkanlah sepenuhnya apa pun yang menjadi milikmu secara keseluruhan, tenaga, pikiran, perasaan, emosi, jiwa, raga, kekuatan, dan kelemahanmu kepada Allah.” Sebab, dalam hadis disebutkan, “Tiadalah sesuatu yang menimpa seorang mukmin, hingga duri yang menusuk, melainkan Allah menuliskan dengannya satu kebaikan atau dihapuskan darinya satu kesalahan (dosa).” (HR Mut-tafaqun Alaih) Allah yang Maha, sangat memahami perilaku kita sebagai bagian dari Bani Adam. Sebagian besar di antara kita memiliki prilaku sangat malas hijrah dari cangkang comfort zone (kawasan aman risiko). Boleh jadi karena itulah, Allah mendidik kita dengan cobaan agar kita tersadar dari kemalasan, bangkit dari keterpurukan, dan tidak lagi menjadi bangsa yang kerdil seraya menunggu keberuntungan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed Apr 22, 2015 8:28 pm

HIKMAH SAKIT
Selasa, 24 Maret 2015, 05:59 WIB Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Subhanallah sahabatku shalehku, mari kembali kita renungi tentang hikmah sakit. Sakit Itu adalah ujian-Nya. Kemuliaan baginya karena sabar dan membuat malaikat yg selalu sehat takjub. Sakit adalah jalan kenabian Ayub yang menyejarah. Kesabarannya yang lebih dari batas (disebut dalam sebuah hadits 18 tahun menderita penyakit aneh) diabadikan jadi teladan semesta.
Imam As-Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu; Imam Malik lumpuh tangannya dizalimi penguasa; Nabi tercinta kita pun pernah sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup melalui celah gigi yang patah di perang Uhud. Bukankah setelah akhirnya sakit, semuanya semakin mulia di mata Allah bahkan juga di mata sejarah manusia.

Sakit itu zikrullah.
Yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

Sakit itu istighfar,
dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit.
Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

Sakit itu menguatkan tauhid.
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kita semakin sadar bahwa hanya Allah Maha Penolong.

Sakit itu muhasabah.
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri

Sakit itu jihad.
Dia yg sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.

Bahkan sakit itu ilmu.
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

Sakit itu nasihat.
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya.

Sakit itu silaturrahim.
Saat jenguk, bukankah keluarga yg jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah. Sakit itu gugur dosa, anggota badan yg sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

Sakit itu mustajab doa.
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yg sakit.

Sakit itu salah satu keadaan yg menyulitkan syaitan;
diajak maksiat tak mampu-tak mau; dosa lalu malah disesali kemudian diampuni. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis, satu sikap keinsyafan yg disukai Nabi dan para makhluk langit.

Sakit meningkatkan kualitas ibadah;
rukuk-sujud lebh khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama. Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati.
Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed Apr 22, 2015 8:30 pm

SOMBONG, PENYAKIT JIWA YANG TAK TERASA
Rabu, 18 Maret 2015, 16:01 WIB Oleh: Prof H Dadang Kahmad
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam mengajarkan pemeluknya memiliki sifat tawadhu (rendah hati), mengakui terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Sifat tawadhu menyadarkan seseorang selalu memohon ampun kepada Allah dengan beristighfar. Rasulullah SAW mencontohkan istighfar paling sedikit sebanyak 100 kali setiap hari. Merasa diri suci merupakan kesombongan, merasa paling berkuasa termasuk ketakaburan, merasa paling benar ialah kebodohan. Kesombongan cenderung merendahkan, menyalahkan orang lain, dan merasa dirinya yang paling benar. Sombong dan ria merupakan penyakit jiwa yang tidak terasa. Bahaya laten yang menyelinap di setiap hati manusia. Jika saja tidak diawasi oleh kebeningan hati dan dibimbing oleh iman yang kuat, niscaya akan bersemayam di hati dan menjadi kepribadian yang susah dihilangkan. Secara teologis sombong merupakan salah satu sifat yang diwariskan setan kepada manusia. Setan dilaknat Tuhan karena menolak perintah untuk bersujud kepada Adam karena merasa lebih mulia kedudukannya. Bila Adam tercipta dari tanah, dirinya berasal dari api. Bagi setan api lebih mulia dari tanah. Padahal di hadapan Allah, semua makhluk sama dan yang membedakannya, yaitu derajat ketakwaan. Firaun yang mengaku dirinya Tuhan karena merasa paling berkuasa. Qarun sombong karena merasa dirinya paling kaya. Kesombongan menguasai jiwa dan pikiran manusia karena “merasa paling kaya, cantik, tampan, berkuasa, gagah, suci, benar” dan segala pikiran yang merasa “lebih” dibandingkan orang lain. Padahal, segala simbol kehidupan yang disebutkan tadi semuanya milik Allah semata, hanyalah titipan sementara untuk dipergunakan beribadah kepada-Nya. Namun, semua perhiasan duniawi itu kerap membuat manusia lupa diri. Dalam Alquran surah al-A’raf ayat 48, Allah SWT mengingatkan bahwa segala hal yang disombongkan itu tidak ada manfaatnya sama sekali. “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.”

Dalam teladan kenabian kita melihat, Nabi Daud yang berkuasa tetap rendah hati, Nabi Sulaiman yang kaya raya tetap tawadhu, Nabi Musa yang pintar tetap merasa kurang, Nabi Muhammad SAW yang paling taat dan suci tetap beristighfar lebih dari 100 kali setiap hari. Itu semua karena mereka menyadari kekurangannya dan menghindari kesombongan dalam jiwa mereka. Hidup di dunia ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah di perjalanan. Umur manusia bagaikan orang yang menyeberang jalan. Keabadian itu ada pada kehidupan yang akan datang. “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS al-Qashash [28]: 83). Mesti disadari bahwa dalam segala aspek kehidupan terdapat kesempatan untuk ria dan sombong, bahkan dalam ibadah sekalipun sombong bisa hadir dalam bentuknya yang lain. Misalnya, ingin dipuji orang, dipandang saleh, alim, dan suci. Semua itu termasuk jebakan yang harus diwaspadai. Ikhlas dalam beribadah merupakan penangkalnya, kontinu terus-menerus ialah obatnya, tak terganggu oleh kemeriahan, harapan mendapat pujian dan penilaian dari orang lain. Harta hanyalah alat untuk beribadah. Jabatan merupakan amanah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada sesama. Ditakdirkan mempunyai paras cantik atau tampan untuk lebih bersyukur kepada Zat Pencipta, seperti diteladankan oleh Nabi Yusuf AS, bukan untuk dipertontonkan apalagi diperjualbelikan. Semua termasuk ujian agar manusia tetap beriman, beribadah, dan berakhlak mulia dalam hidup keseharian. Janganlah bersifat tinggi hati karena hal itu hak Allah SWT. Ia murka kepada orang yang menyaingi-Nya dan menyindirnya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung,” (QS al-Isra [17]: 37). Wallâhu’alam.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed Apr 22, 2015 8:35 pm

7 PERBUATAN PENGHANCUR AMAL
Rabu, 04 Maret 2015, 16:03 WIB Oleh: Imam Nur Suharno
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap Muslim berharap dapat beramal saleh sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Amal saleh yang banyak dan baik bisa menjadi bekal keselamatan dunia dan akhirat. Namun, patut diketahui segala amal saleh bisa lenyap nilainya dari Allah SWT jika seorang Muslim melakukan satu dari tujuh perbuatan yang dilarang. Astaghfirullah.Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan umatnya untuk menjauhi tujuh perbuatan ini. Apa saja itu? Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah tujuh dosa penghancur (amal).” Para sahabat Nabi bertanya, “Apa yang tujuh itu?” Nabi menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah larang kecuali dengan hak (hukum), memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri saat pertempuran berkecamuk, menuduh (zina) wanita mukminah yang memelihara kehormatannya.” (HR Bukhari).

Larangan untuk berbuat syrik tertuang dalam firman Allah SWT (QS al-Furqan [25]: 23). Bukan sekadar menghancurkan amal saleh, perbuatan syirik juga tidak terampuni apabila pelakunya belum sempat bertobat sampai ajal menjemput (QS an-Nisa’ [4]: 48), keluar dari Islam dan menjadi halal darah dan hartanya (QS at-Taubah [9]: 5), dan pelakunya haram masuk surga (QS al-Maidah [5]: 72).

Kedua, sihir.
“Barang siapa yang mengikat suatu ikatan (buhul), lalu ia meniupnya maka sungguh ia telah menyihir. Barang siapa yang menyihir maka sungguh ia telah berbuat syirik. Barang siapa menggantungkan diri kepada sesuatu maka ia akan diserahkan kepada sesuatu itu.” (HR an-Nasa’i).

Ketiga, membunuh tanpa hak.
“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS al-Maidah [5]: 32). Keempat, memakan riba. Dari Jabir, Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, nasabah riba, juru tulis, dan dua saksi transaksi riba. Nabi bersabda, “Mereka itu sama.” (HR Muslim).

Kelima, memakan harta anak yatim.
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke api yang menyala-nyala (neraka).” (QS an-Nisa’ [4]: 10).

Keenam, lari dari peperangan.
Melarikan diri saat perang sedang berkecamuk itu sebagai perbuatan dosa besar dan bagi pelakunya akan mendapat dua ancaman, yaitu murka Allah dan siksa api neraka. (QS al-Anfal [8]: 15-16).

Ketujuh, menuduh wanita berzina.
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali cambukan, dan janganlah kamu terima kesaksian yang mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS an-Nur [24]: 4). Semoga Allah membim bing kita agar terhindar dari tujuh dosa yang menghancurkan amal. Aamiin.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed Apr 22, 2015 8:37 pm

8 KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR'AN
Senin, 23 Februari 2015, 13:43 WIB Oleh: Ahmad Syaiful Anam
Siapa pun yang berinteraksi dengan Alquran dengan baik pasti akan mendapatkan pahala yang besar dan balasan yang berlipat-lipat. Orang yang membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT. Berikut ini beberapa keutamaan membaca Alquran.

Pertama, menjadi perniagaan yang tidak akan merugi.
Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." (QS al-Fathir: 29).

Kedua, merupakan amal yang terbaik.
Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya." ( HR Bukhari).

Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.
Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Alquran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang).
Rasulullah bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Alquran kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya)." (HR Muslim).

Kelima, mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT.
Rasulullah bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang sibuk dengan Alquran dan zikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. Keutamaan kalamullah (Alquran) atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya." (HR Tirmidzi)

Keenam, seperti buah utrujah yang wangi dan lezat.
Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, mendapat kebaikan berlipat ganda.
Rasulullah bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Kedelapan, memberikan syafaat ketika hari kiamat kelak.
Rasulullah bersabda: " Bacalah Alquran, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).

Dengan memahami beberapa keutamaan membaca Alquran di atas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam menjaga rutinitas kita dalam membaca Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan wasilah Alquran yang kita baca.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Wed Apr 22, 2015 8:43 pm

CERDAS MENGHADAPI KEMATIAN
Senin, 16 Februari 2015, 05:50 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Iu Rusliana
Rasanya terlalu cepat ketika kematian datang tiba-tiba kepada anak, istri, orang tua, dan keluarga. Tak ada yang pernah menginginkannya. Kalau mungkin meminta, nanti sajalah ketika semua nafsu duniawi telah terpenuhi. Begitulah keinginan manusia, namun dapat berbeda dengan ketetapan Sang Pencipta. Dalam Alquran surah Ali Imran ayat 145, Allah SWT berfirman, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya.” Dengan demikian, kehidupan dan kematian telah ditetapkan oleh-Nya. Hanya saja apabila kelahiran selalu dirayakan dengan penuh kebahagiaan, kematian selalu diiringi tangis kesedihan. Bukan sehari dua hari, berbulan, atau bahkan bertahun-tahun. Jangankan kita manusia biasa, Rasulullah SAW sempat menitikkan air mata saat istri tercinta, Siti Khodijah, meninggal. Ketika paman terkasih yang melindunginya, Abu Tholib, meninggal saat perjuangan menegakkan Islam masih berat, Baginda Rasul pun sangat bersedih. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, bersedih itu boleh, tapi sewajarnya saja. Jangan meratapi terus-menerus sehingga semangat hidup hilang dan berputus asa. Ingatlah, bukan hanya harus beriman kepada Allah, malaikat, kitab, Rasul, dan hari pembalasan, melainkan kita juga harus beriman kepada ketetapan untuk setiap makhluk-Nya (qada/ qadar). Kekuatan imanlah yang menguatkan dan mengingatkan semua yang ada dalam kehidupan dunia ini hanyalah titipan. Amanah Tuhan, yang kapan saja bila Dia berkehendak, akan diambilnya. Keikhlasan dan kesabaran menjalaninya sebagai obat terbaik. Kemarahan, mencari-cari alasan, berandai-andai kita bisa menyelamatkan diri dari kematian, hanyalah pintu setan untuk menanggalkan iman.

Ini soal antrean saja, bisa lebih dahulu anak, istri, suami, orang tua, dan orang terkasih kita lainnya. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS an-Nisa [4]:78). Kematian sangatlah menakutkan bagi mereka yang banyak dosa. Dalam Alquran surah al-Jumu’ah ayat 7 dinyatakan, “Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.” Tapi bagi orang beriman, kematian sangatlah membahagiakan karena pintu terbuka untuk bertemu Yang Maha Penyayang. Bagi yang ditinggalkan terlalu banyak hikmah dan hidayah dari-Nya apabila kita sanggup menangkapnya. Ketika ikhlas menghiasi jiwa, petunjuk Tuhan akan dengan mudah diterima. Kekuatan jiwa untuk menerima ujian semakin meningkat dan kualitas ibadah akan semakin baik. Berserah diri kepada Allah SWT dan jadilah manusia cerdas sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas ra, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang memperhatikan wajah manusia, didapati orang tersebut sedang bergelak tawa. Maka berkata Izrail, ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus Allah SWT untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak tawa.” Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah lalu menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas (HR Ibnu Majah, Thabrani dan Al Haitsami). Wallahu’alam.
Back to top Go down
 
Pengajian Iluni FK'83
View previous topic View next topic Back to top 
Page 91 of 93Go to page : Previous  1 ... 47 ... 90, 91, 92, 93  Next
 Similar topics
-
» Halalkah anjing dimakan??????
» Memutar Kaset Rekaman Pengajian Sebelum Salat Wajib.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: RENUNGAN-
Jump to: