Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Pengajian Iluni FK'83

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 46 ... 89, 90, 91, 92, 93  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Mon Dec 16, 2013 5:20 am

ALASAN DIBALIK PERINTAH HIDUP BERPASANGAN
Senin, 16 Desember 2013, 04:08 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Manusia hidup dengan aturan dari Tuhan, tidak bisa seenaknya. Dalam hal apa pun manusia harus mengikuti peraturan Allah SWT, termasuk berpasangan. Memang benar, hak untuk menentukan pasangan itu ada. Tidak ada paksaan. "Tetapi tetap tidak bisa seenaknya," jelas Ketua Takmir Majid Agung al-Azhar Jakarta, Dr Shabahussurur. Dalam khitbah, misalnya, laki-laki diberi hak melihat perempuan calon pasangannya. Tidak boleh ayah si perempuan langsung menetapkan calon pasangan adalah si laki-laki. Perempuan juga begitu. Dalam sebuah riwayat, seorang perempuan akan dinikahkan oleh seorang laki-laki. Si perempuan kemudian mengadu kepada Rasulullah karena tidak suka dengan calon suaminya, lalu diputuskan tidak jadi. Si perempuan kemudian menikah dengan laki-laki lain. Pernikahan, jelasnya, harus disepakati kedua belah pihak, yaitu pihak laki-laki dan perempuan. Itu dibuktikan juga ketika misalnya terjadi pernikahan, tetapi salah satu pihak tidak sependapat, maka harus berpisah, dan laki punya hak, seperti juga perempuan. Artinya, ada hak yang sama. Terkait pasangan, Shabah menyatakan pasti berbeda jenis. "Tumbuhan dan binatang saja bereproduksi dengan berbeda jenis," paparnya. Tidak ada cerita pasangan sesama jenis. Semua itu, menurutnya diatur Allah untuk dijadikan pelajaran. Pasangan yang berbeda jenis saja, paparnya, diatur lagi sehingga tidak boleh sembarangan. Pasangan tidak boleh yang bersaudara kandung, tidak boleh orang tua, dan lainnya.  Memang, papar Shabah, setiap orang memiliki hak menentukan pasangannya. Namun, menurut Islam, baiknya ada ketentuan yang berlaku. HAM dalam Islam tidak semata-mata diukur oleh logika, tetapi dalil syar'i. Hak yang diperbolehkan diukur oleh teks agama. "Itu jadi perbedaan mencolok antara HAM dalam Islam dan Barat," imbuhnya. Wakil Rektor Universitas Ibnu Khaldun Dr Nirwan Syafrin menyatakan, berpasang-pasangan  adalah tabiat manusia. Tumbuhan saja, jelasnya, tidak mungkin menikah sesama jenis. Jika ada yang menikah sejenis, itu melawan hukum alam. “Itu tabiat alam,” paparnya.   Berbeda dengan Islam yang percaya bahwa hak setiap orang diatur oleh Tuhan. Seseorang tidak bisa seenaknya karena selain hak individu, ada juga hak masyarakat dan negara. Jika nikah sejenis terjadi, maka apakah masyarakat sekitar dan negara membolehkan? "Harus diingat, hak masyarakat itu lebih didahulukan daripada hak individu," jelas Nirwan. Direktur Lembaga Pengkajian dan Penerapan Tauhid Universitas Djuanda, Bogor, Dr Amir Mahrudin mengatakan, pernikahan sesama jenis memang sudah dilakukan Barat. Namun, Indonesia sebagai bangsa Timur tidak bisa membenarkan hal itu. "Kita punya etika. Rasio bukan segalanya," ketus Amir. Lebih jauh dia menjelaskan, dalam Alquran Allah selalu menegaskan diri-Nya menciptakan segala hal berpasang-pasangan. Antara satu dan lainnya saling mengisi dan menyempurnakan. Listrik menyala antara negatif dan positif. Ada langit dan bumi, air dan api. Ada gelap dan terang, hujan dan kemarau, dan lainnya. Demikian pula dengan manusia. Allah menciptakan mereka berpasang-pasangan, yaitu lelaki dan perempuan. Mereka kemudian menikah dan hidup bersama agar tenteram. Mereka hidup dalam kasih sayang. Keduanya menenteramkan lahir dan batin. ”Bagaimana ketenteraman terwujud bila kriteria itu tak terpenuhi?” kata dia. Amir pun mengajak agar masyarakat Indonesia mempertahankan budaya dan undang-undang pernikahan tersebut. Sehingga, HAM tidak dipahami sebagai bebas mutlak dan berseberangan dengan norma serta aturan agama.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:14 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Mon Dec 16, 2013 5:21 am

SI DIA BERBEDA AGAMA, BAGAIMANA INI?
Selasa, 10 Desember 2013, 15:07 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Di sekitar kita, apalagi jika kerap menonton tayangan infotainment di televisi, pernikahan sepasang kekasih yang berbeda agama cukup sering terjadi. Untuk bisa menikah, mereka rela bersusah-payah terbang ke luar negeri lalu menikah di negeri orang. Padahal, dari sisi psikologi dan agama, menikah dengan pasangan yang beda agama, sangat berisiko. Apa saja risikonya? Dalam pandangan psikolog anak dan perkawinan, Anna Surti Ariani Psi, ada sejumlah risiko yang harus dihadapi pasangan beda agama. Tahukah Anda, risiko itu bahkan sudah muncul jauh hari sebelum memasuki jenjang pernikahan. Saat masih pendekatan misalnya, perbedaan keyakinan itu seringkali menimbulkan masalah. Contoh kecil saja, ketika memilih makanan di sebuah restoran. Pilihan makanan mereka mungkin sekali berbeda karena dalam Islam ada makanan halal-haram, sedangkan di agama lain belum tentu ada aturan itu. Memasuki jenjang pernikahan , lanjut alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, tantangan akan kembali muncul, terutama dari pihak orangtua dan keluarga. Ini karena banyak orangtua yang tidak ikhlas jika anaknya mendapatkan suami atau istri yang berbeda agama. ''Mereka merasa lebih save kalau calon menantunya memiliki agama yang sama,'' kata psikolog yang biasa disapa Nina ini. Dari sisi hukum yang berlaku di Indonesia, negara kita ini tidak mengenal perkawinan beda agama. Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974 menyatakan,''Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu''. Karena ada aturan seperti ini, maka pasangan berbeda keyakinan biasanya memilih melangsungkan pernikahan di luar negeri atau hanya dicatat di Catatan Sipil. Andaikan pasangan berbeda agama ini sudah bisa menembus jenjang pernikahan, menurut Nina, bukan berarti jalan mereka aman-aman saja. Justru, perbedaan itu akan semakin tajam, utamanya jika tidak ada ekstra toleransi dan komunikasi yang lancar di antara mereka. ''Kalau tidak ada ekstra toleransi dan saling menghargai, masalah akan terus-menerus muncul dan ujung-ujungnya cerai,'' kata Nina. Risiko lain yang penting diperhatikan oleh pasangan beda keyakinan adalah nasib anak-anak mereka. Melihat orangtua mereka yang beda agama, kata Nina, awalnya anak-anak pasti bingung. Mereka akan bertanya-tanya,''Kok ibadah ayah dan ibu berbeda.'' Misalkan saja, ayahnya ke gereja, sementara si ibu shalat. Lalu, bagaimana dengan agama yang akan dianut anak-anak? Apakah dibagi dua, satu anak ikut agama si ibu dan anak yang lain ikut agama si ayah. Atau mereka dibebaskan dulu, sehingga kadang ikut ke tempat ibadah si ayah, juga ke tempat ibadah si ibu. ''Pendek kata, kalau tidak ada persiapan yang matang tentang keyakinan si anak, nantinya kasihan si anak,'' tegas Nina. Apalagi, ada orangtua yang menyepelekan soal agama ketika anak-anak masih kecil. Baru, setelah dewasa dipersilakan memilih sesuai keinginannya. ''Cara seperti ini berbahaya, karena si anak tidak mempunyai identitas diri.'' Kalaupun si anak sudah ditentukan ikut agama ayah atau ibu, lanjut Nina, gesekan masih mungkin timbul. Sebab, kadangkala ada upaya dari ayah atau ibu untuk memengaruhi si anak supaya ikut agamanya. Hal-hal seperti ini sangat berpotensi menimbulkan masalah. Apalagi, kalau salah satu pihak mulai memaksakan keyakinannya kepada si pasangan.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:16 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Mon Dec 16, 2013 5:22 am

BAHAYA PERNIKAHAN BEDA AGAMA
Senin, 02 Desember 2013, 15:13 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Islam memandang penting soal perkawinan. Lantaran itulah Islam pun mengatur bagaimana perkawinan agar tercapai keluarga sakinah. Satu di antara aturan itu adalah kedua pasangan itu harus beragama Islam. Namun, bagaimana dengan pasangan yang berbeda agama? Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan mengatakan, di dalam Islam terdapat ayat yang menyatakan seorang pria Muslim boleh mengawini wanita ahlul kitab. Namun, menurutnya, ada dua pendapat dari para ulama menyangkut masalah ahlul kitab tersebut. Pendapat pertama menyatakan bahwa ahlul kitab sudah tidak ada lagi sekarang ini. Sementara pendapat kedua menyebut bahwa ahlul kitab adalah wanita penganut Nasrani dan Yahudi (sama-sama agama samawi) dan mereka boleh dinikahi pria Muslim. Terlepas dari silang pendapat itu, Amidhan menggarisbawahi perlunya mewaspadai motif dari pernikahan beda agama yang tampaknya masih saja berlangsung. ''Kalau motifnya untuk mengagamakan salah satu ke agama yang lain, maka hal itu jelas bertentangan dengan tujuan suci pernikahan oleh agama,'' tandas Amidhan. Ketua Umum Gerakan Muslimat, Irena Handono, tak menampik hal tersebut. Mantan biarawati yang memeluk Islam ini mengakui, bergulirnya kristenisasi di Indonesia karena kelemahan umat Islam sendiri. Pemuka agama Hussein Umar menjelaskan, Islam menjunjung dan menempatkannya sebagai sesuatu yang mulia. Ia beralasan, dalam Alquran banyak istilah khusus untuk melukiskan pernikahan. Misalkan, 'sebuah peristiwa agung dan mulia di antara hamba-hamba Allah.' Dengan demikian, menurutnya, nikah ini harus dilakukan laki-laki dan wanita sesama Muslim demi mewujudkan keluarga yang beriman. Mudharat pernikahan campuran, menurutnya, berdampak pada perkembangan jiwa anak. ''Memang pada beberapa keluarga beda agama mungkin ada yang membebaskan kepada anak-anaknya untuk memilih memeluk agama ibu atau bapaknya. Namun, tetap saja ada beberapa hal yang sulit dipahami anak mengapa orang tuanya punya keyakinan berbeda,'' tambah Hussein. Mengingat segi mudharat lebih menonjol dari nikah beda agama tersebut, Hussein mengimbau, kepada keluarga Muslim untuk menanamkan pendidikan agama kepada anak-anaknya sedari dini. Demikian pula kepada lembaga, organisasi keagamaan Islam supaya meningkatkan dakwah dan arahan kepada masyarakat Muslim mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai keimanan.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:17 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sat Dec 21, 2013 5:31 am

BERDOA DENGAN RASA CINTA
Kamis, 19 Desember 2013, 08:16 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Toto Tasmara
Cinta adalah kekuatan batiniah yang merupakan fitrah esensial yang dianugerahkan Ilahi. Cinta adalah tema sentral di mana segala sesuatu berangkat dan berlabuh pada muara cinta. Apabila seluruh kehidupan dinisbatkan kepada cinta, niscaya damailah dunia. Cinta atau di dalam bahasa Arab disebut dengan hubb adalah inti atau nucleus dari hubungan antara Abid dengan Ma'budnya. Dalam getaran cinta itu ada isy yaitu suasana keterpikatan dan kerinduan yang teramat sangat. Asyik adalah kerinduan sang Perindu yang terus menerus mengharap Sang Ma'syuk (yang dirindukannya) dengan penuh keterpesonaan . Ibarat kemegahan seorang Raja, mahkotanya adalah cinta yang berhiaskan mutiara keikhlasan, intan kesabaran, jamrud kerinduan. Raja yang tidak bermahkota, bagaikan penguasa tanpa wibawa. Itulah sebabnya, bila seseorang mencintai Allah, akan tampak dari prilakunya yang ikhlas mengikuti jejak akhlaq Rasulullah SAW, sebagaimana Allah berfirman, "Katakanlah, jika engkau mencintai Allah , ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu, mengampunkan dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang."  (3 : 31). Rasa cintanya, telah menepis segala jalan kecuali jalan yang ditetapkan Ilahi yang disebut sirathal mustaqim, jalan yang di penghujungnya ada gerbang ridha Ilahi. Pintu yang akan menghantarkan hamba-Nya memasuki taman–taman surga. Dalam cintanya itu, ada kedamaian (muthmainah). Rasa rindunya melahirkan kekuatan (al quwwah) yang membakar gairah untuk selalu berjuang (mujahadah) sehinga terbukalah jalan menuju perjumpaan batin dengan Sang Ilahi. Ini juga disebut mukasyafah tersingkapnya jalan menuju penyaksian (musyahadah) sehingga ia tenggelam dalam khlawatnya dengan Dia Yang dirindukannya. Karena ia yakin, ia akan kembali keharibaan-Nya dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya, sebagaimana firman-Nya. "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku." ( 89 : 27- 30 ) . Pada saat berdoa, pandangan batinnya begitu tajam sehingga merasakan kehadiran dirinya di hadapan Sang Ilahi. Ia merasakan, betapa Sang Kekasih menatap tajam pada lubuk hatinya. Inilah yang dimaksudkan dengan ihsan. Rasulullah SAW bersabda, ”Beribadahlah seakan–akan engkau melihat Allah, dan bila tidak, rasakan bahwa Allah melihatmu." Karena Allah SWT senantiasa menatap kalbu, maka jadikanlah setiap desah nafas kita adalah doa!


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:18 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sat Dec 21, 2013 5:31 am

WANITA SURGA
Rabu, 18 Desember 2013, 17:06 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hj Siti Mahmudah MPd
Tidak ada kekayaan yang lebih berharga di dunia ini melainkan wanita yang salihah. (HR Ahmad). Jika demikian, wahai wanita salihah, rawat dan jagalah dirimu dari noda-noda yang dapat mengotorimu. Mengapa wanita salihah diibaratkan sebagai harta kekayaan yang berharga? Karena, wanita salihah menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang mulia. Itulah sosok wanita mulia yang selalu dirindukan surga.
Sifat-sifat wanita ahli surga itu,

Pertama, selalu taat kepada Allah SWT.
“Sebab itu, maka wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS an-Nisa’ [4]: 34).

Kedua, menghormati dan memuliakan suaminya.
“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya dari bidadari surga berkata, “Janganlah kamu menyakitinya. Atau, Allah akan membunuhmu. Sesungguhnya, dia padamu adalah orang asing yang sebentar lagi akan meninggalkanmu dan pergi kepada kami.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, selalu taat kepada suaminya.
“Tiga golongan yang shalatnya tidak akan diangkat dari atas kepalanya walaupun sejengkal, yaitu lelaki yang mengimami suatu kaum yang mereka membencinya; wanita yang tinggal (di rumah) dan suaminya marah kepadanya; dan dua saudara yang saling bermusuhan.” (HR Ibnu Majah).

Keempat, tidak keluar rumah kecuali seizin suaminya.
“Tidak dibolehkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah untuk meminta izin ketika berada di rumah suaminya, saat dia (suaminya) benci, atau keluar saat dia benci, atau menaati orang lainya di hadapannya, tidak menjauh dari tempat tidurnya, tidak memukulnya. Jika dia berbuat zalim maka temuilah sampai dia ridha. Jika dia menerimanya maka bahagialah dia. Allah akan menerima permintaan maafnya dan memperlihatkan hujjah-nya dan tidak ada dosa bagimu. Jika dia tidak menerimanya maka permintaan maafnya sudah sampai kepada Allah.” (HR Hakim).

Kelima, tidak berhias kecuali untuk suaminya.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya...(QS an-Nur [24]: 31).

Keenam, ridha dengan yang telah Allah berikan untuknya.
Rasul SAW bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri suaminya padahal dia sangat membutuhkannya.” (HR Nasa’i).

Semoga Allah membimbing kita, para istri, dan anak-anak putri kita agar selalu berhias dengan sifat-sifat wanita yang berkarakter surga. Amin.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:21 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri Jan 24, 2014 10:14 am

MANUSIA YANG BANGKRUT SAAT KIAMAT
Kamis, 23 Januari 2014, 16:32 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bertanya, ''Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?'' Mereka (para sahabat) menjawab, ''Orang yang tidak mempunyai uang dan harta.'' Rasulullah SAW menerangkan, ''Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakatnya, namun dia dahulu di dunianya telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah si itu, dan telah memukul orang lain (dengan tidak hak), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain), maka kesalahan orang yang dizalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke api neraka.'' (HR Muslim). Di dunia ini, mungkin banyak orang yang merasa kuat dapat membebaskan diri mereka dari jeratan hukum akibat perbuatan zalim mereka terhadap orang lain. Mungkin dia pernah berutang dan tidak pernah membayar, atau membunuh tanpa alasan yang dibenarkan Allah, atau bahkan mencaci maki orang lain, baik secara disengaja atau tidak.  Saat itu, dia tidak menyadari bahwa hukum dan keadilan Allah akan ditegakkan di hari kiamat kelak. Pada saat itu tidak seorang pun yang dapat membebaskan diri dari kesalahannya selama di dunia, yang dia tak pernah bertobat dan menyesalinya.  Dalam mahkamah Allah, hukum akan ditegakkan seadil-adilnya. Kesalahan dan kebaikan sebesar biji bayam pun, tak akan luput dari perhitungan-Nya. Orang yang menzalimi saudaranya di dunia, sedangkan dia belum bertaubat dari kezaliman tersebut dengan meminta maaf atau mengembalikan haknya, maka dia harus membayarnya dengan kebaikannya. Karenanya, Rasulullah SAW berwasiat kepada umatnya dengan sabdanya, ''Barangsiapa yang melakukan perbuatan zalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta dimaafkan sekarang sebelum datang hari yang tidak berlaku pada saat itu emas atau perak. Sebelum diambil darinya kebaikannya untuk membayar kezalimannya terhadap saudaranya, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka dibebankan kepadanya keburukan saudaranya itu kepadanya.'' (HR Bukhari). Karena itu, mari kita membebaskan diri dari menzalimi orang lain, penuhilah setiap yang mempunyai hak akan haknya, dan jangan menunggu hari esok karena tidak seorang pun yang mengetahui akan keberadaannya di esok hari.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:23 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Fri Jan 24, 2014 10:17 am

MENGAPA KITA MENGALAMI KESEMPITAN HIDUP?
Minggu, 19 Januari 2014, 04:31 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, ''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta''. (QS 20:124) Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud waman a'radla an dzikri yaitu sikap menolak perintah Allah dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, kemudian mengambil aturan/hukum selain dari petunjuk Allah. Sedangkan maisyatan dlanka adalah kesempitan hidup di dunia, tidak memperoleh kebahagiaan, dada mereka sempit karena kesesatannya. Mungkinkah apa yang terjadi di negeri ini sekarang merupakan wujud nyata peringatan Allah itu? Yang jelas, krisis multidimensi seolah tak berujung. Nilai rupiah semakin terpuruk. Pengangguran semakin meningkat drastis. Utang menumpuk. Harga kebutuhan naik. Pendidikan semakin mahal dan sebagainya. Padahal negeri ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah ruah, dengan penduduk yang mayoritas Muslim. Berkait dengan ayat di atas, jangan-jangan kesempitan hidup saat ini karena kita meninggalkan aturan Islam dalm seluruh aspek kehidupan. Dalam kehidupan politik, para elite mengikuti paradigma Machiavelli yaitu meraih tujuan dengan menghalalkan segala cara. Mereka tidak lagi memikirkan kehidupan umat. Produk hukum Islam dilecehkan dan lebih senang dengan hukum buatan sendiri. Sistem ekonomi didasarkan atas riba. Dan sistem sosialnya mentah-mentah meniru sistem barat, dan sebagainya. Keadaan seperti ini yang pernah diungkapkan Sayyid Quthub: Al Islamu syaiun wal muslimu syaiun akhor (Islam adalah sesuatu dan kaum muslimin sesuatu yang lain, tidak menyatu). Oleh karena itu, solusi terbaik untuk mengatasi kesempitan hidup ini adalah kembali menyatukan kaum Muslim dengan ajaran Islam. Kembali kepada Alquran dan Sunnah, serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya pribadi. Niscaya Allah akan menghilangkan kesempitan hidup ini, dan Dia akan melimpahkan keberkahan. ''Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan limpahkan kepada mereka keberkahan dari atas langit dan dari perut bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.''(QS 7:96).


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:29 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sun Aug 24, 2014 2:25 pm

TAAT PADA SUAMI
Republika.co.id Kamis, 21 Agustus 2014, 20:49 WIB Oleh: Mochammad Hisyam
Seorang lelaki datang menghampiri Rasulullah SAW. Sekonyong-konyong, Muadz, nama lelaki itu, menghampiri kaki Baginda Nabi Muhammad dan bersujud di hadapannya. Maka, Rasulullah pun menegur Muadz. “Apa yang kau lakukan ini, wahai Muadz?” Dia lantas menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW pun melarang Muadz. “Jangan engkau lakukan hal itu karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya.” Hadis yang diriwayatkan dari sahih Ibnu Majah dan sahih Ibnu Hibban dari Abdullah Ibnu Abi Auf RA tersebut menggambarkan betapa seorang istri harus taat kepada suami. Islam meninggikan kedudukan seorang suami sebagai imam sehingga istri harus patuh. Ketaatan seorang istri kepada suami merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang istri. Ketaatan kepada suami menunujukkan kesalehan seorang istri. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 34. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” Ketika seorang istri taat dan patuh kepada suaminya, akan menjadi sebab bagi sang istri mendapatkan surga. Sebaliknya, pembangkangan seorang istri terhadap suaminya akan berakibat mendapatkan laknat Allah dan di akhirat masuk neraka. Dalam saahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” Dalam hadis lain, “Jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan dan istri menolak, lalu suami marah kepadanya sepanjang malam, para malaikat melaknat istri itu sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim) Dengan demikian, bisa dikatakan, bila surganya anak itu terletak pada telapak kaki (keridaan) ibu, surganya istri itu terletak pada telapak kaki (keridaan) suami. Dari Ummu Salamah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridoa kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”(HR Tirmidzi) Untuk itu, seorang istri yang ingin dimasukkan ke surga, hendaknya ia selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari keridaan suami dengan cara taat dan patuh kepada suaminya. Ketaatan sepanjang suaminya itu tidak memerintahkan dan mengajak kepada kemaksiatan dan kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khalik (Allah).” Wallahu’alam.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sun Aug 24, 2014 2:29 pm

SINYAL SINYAL KEMATIAN
Kamis, 21 Agustus 2014, 13:10 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Makmun Nawawi
Suatu hari, Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, melihat bulu jenggotnya sudah putih. Ia pun berucap: “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari perkara (petaka atau kematian) secara mendadak. Kulihat kematian sudah menuntutku dan aku tak bisa mengelak darinya.” Kemudian, ia pun keluar menemui masyarakatnya, seraya berseru: “Wahai kaum Bani Tamim, aku sungguh sudah memberikan masa mudaku untuk kalian maka hendaknya kalian memberikan untukku di masa tuaku. Mengapa kalian tak bisa memperlihatkan kepadaku perihal krusial dan mendesaknya kebutuhan; kematian ini begitu dekat denganku.” Kemudian, ia mengibaskan surbannya, menyendiri, lalu meminta izin kepada kaumnya untuk fokus beribadah kepada Rabb-nya, dan tidak melibatkan diri dalam percaturan kekuasaan, hingga meninggal. Sinyal-sinyal dari kerentaan usia, yang sekaligus merupakan salah satu indikasi dari dekatnya seseorang akan kematian, kerap hadir di hadapan kita. Misalnya, anak-cucu yang sudah beringsut dewasa, kulit yang sudah mengeriput, gigi yang sudah mulai tanggal satu demi satu, tulang mengalami osteoporosis yang selanjutnya mengakibatkan nyeri, menurunnya daya pendengaran, indra pengecap, dan daya ingat (memori). Demikian pula dengan tumbuhnya uban di bulu-bulu kita. Melalui narasi di atas, bagaimana Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, begitu cerdas menangkap sinyal-sinyal kematian itu dengan hadirnya uban di jenggotnya. Maka, berbahagialah kita yang tersadarkan dengan segenap fase kehidupan yang mau tidak mau mesti kita jalani, sehingga babak kehidupan kita pun berakhir dengan indah. Sebaliknya, hati-hatilah, jika semua itu sama sekali tidak menorehkan keinsyapan pada kita, sehingga “makin tua justru makin jadi”. Allah berfirman: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54). Sedang, Nabi SAW bersabda: “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam, walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR Ibnu Hibban).
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Pengajian Iluni FK'83   Sun Apr 12, 2015 2:16 pm

TIAP UMAT MEMPUNYAI BATAS WAKTU
Rabu, 01 April 2015, 16:57 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suatu hari, seorang kakek berjalan menuju masjid. Ia melewati sekelompok anak yang sedang bermain bola. Tiba-tiba permainan itu menerbangkan debu-debu jalanan, lalu sang kakek berteriak menghentikan permainan mereka. Ketika sang kakek mempercepat langkahnya untuk menghindari debu-debu jalanan, tiba-tiba salah seorang dari anak-anak itu bertanya, “Mau lari ke mana kamu wahai Kakek? Sebentar lagi debu-debu ini akan menyelimuti tubuhmu di kuburan.” Sang kakek tersinggung sedikit bercampur heran dengan perkataan si anak itu. Ia pun segera berhenti, seraya berkata, “Mendekatlah kepadaku.” Tatkala anak itu sudah mendekat, sang kakek pun bertanya, “Apakah kamu memiliki cara untuk menghindari debu atau tanah kuburan itu?” Anak itu menjawab, “Aku tahu jawabannya, tapi tanyakanlah kepada orang selain aku.” Sang kakek menukas, “Lalu, aku harus menanyakan kepada siapa?” Si anak menjawab, “Tanyakanlah kepada akal pikiranmu.” Mendengar jawaban tersebut sang kakek meneteskan air mata karena takut kepada Allah. Kemudian ia meneruskan perjalanannya menuju masjid dan melaksanakan shalat dengan khusyuk. Itulah sepenggal kisah yang memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang nasihat kematian. Sejatinya, nasihat ini tidak hanya untuk seseorang yang sudah lanjut usia, tetapi juga untuk kita semua, baik yang tua, muda, anak-anak, kaya, miskin, pejabat, rakyat biasa, yang sehat, sakit, dan untuk siapa saja yang bernyawa. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran [3]:185). Kematian merupakan sebuah kepastian. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak, menghindar, tidak ada tawar-menawar, dan tidak ada pula pemajuan maupun penundaan. Dan, setiap orang memiliki jatah hidupnya masing-masing. “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS al-A’raf [7]: 34). Karena itu, Rasulullah SAW berpesan, “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (yaitu kematian).” (HR Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah). Dengan mengingat kematian, seseorang akan terdorong untuk mempersiapkan bekal dengan amal kebaikan dan berusaha membersihkan kesalahan dan dosa dengan segera bertobat kepada-Nya. Jangan berlari dari kematian sebab di manapun seseorang berada kematian itu akan menjemputnya (QS an-Nisa’ [4]: 78) dan persiapkan bekal yang cukup, yaitu ketakwaan (QS al-Baqarah [2]: 197). Selain itu, juga berbekal dengan amal saleh (HR Tirmidzi). Semoga Allah membimbing kita untuk banyak mengingat kematian, mempersiapkan segala amal kebajikan, dan meraih husnul khotimah. Aamiin. Teruntuk Olga Syahputra, selamat jalan


Last edited by gitahafas on Sun Apr 19, 2015 2:27 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
Pengajian Iluni FK'83
View previous topic View next topic Back to top 
Page 90 of 93Go to page : Previous  1 ... 46 ... 89, 90, 91, 92, 93  Next
 Similar topics
-
» Halalkah anjing dimakan??????
» Memutar Kaset Rekaman Pengajian Sebelum Salat Wajib.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: RENUNGAN-
Jump to: